Pernikahan Semalam

Pernikahan Semalam
Perasaan yang Sama


__ADS_3

Part 41


Sambil mendudukkan bokongnya di kursi. Sekali lagi Shaga menatap wajah Kiano dari rekaman cctv. Perasaannya mulai ragu ingin menemui Kayesa. Perasaan dan kata hati Shaga berperang. Shaga bangkit dari duduknya, dia berdiri sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Suasan wisma sunyi dan sepi, yang pastinya semua penghuni sudah terbuai mimpi. Shaga yang tadi mondar mandir di depan pintu, meraih handle dan menguakkan daun pintu. Shaga ke luar kamar menuju kamar di mana Kayesa menginap.


Tok... Tok... Tok. Shaga mengetuk pintu kamar pelan, dia berharap Kayesa keluar menemuinya. Walaupun menurutnya itu mustahil terjadi, karena Kayesa sudah pasti terlelap.


Sementara Kayesa di dalam kamar, sudah berulang kali menina bobokkan matanya. Namun, tak berhasil terlelap. Saat mendengar ketukan di pintu, Kayesa menatap jam di pergelangannya, sudah pukul dua belas lewat tiga puluh tiga menit.


"Siapa? Malam-malam bertamu," batin Kayesa hingga dahinya berkerut.


Ketukan pelan terdengar lagi, rasa penasaran Kayesa menyeret langkahnya kedepan pintu, lalu mengintip dari lubang pintu.


"Shaga," batin Kayesa.


Mengetahui Shaga mengetuk pintu, bergegas Kayesa menarik handle dan menguakkan daun pintu. Tentu saja Shaga sangat bahagia, mendapati wajah Kayesa yang muncul di balik pintu.


"Kay! Ikut aku sebentar." Shaga meraih tangan Kayesa, lalu menarik dan membawa ke kamar pribadinya.


"Shaga! Kenapa kamu membawaku ke sini?"


"Aku merindukanmu," ujar Shaga, lalu merengkuh tubuh Kayesa dalam pelukannya. Shaga tak bisa menahan diri.


"Kay! Aku mencintaimu. Semakin aku ingin melupakanmu, semakin aku tak mampu," ujar Shaga lagi, dia mengeratkan dekapannya, seakan tidak ingin Kayesa pergi lagi darinya.


Hati Kayesa berbunga-bunga, cintanya berloncatan, kala mendengar pengakuan Shaga. Kayesa bahagia banget rasanya saat ini. Sejujurnya dia pun sangat merindukan Shaga, sangat mencintai Shaga.


"Tapi. Aku sudah tak mencintaimu," ujar Kayesa, seraya mendorong tubuh Shaga agar pelukannya terurai, bersamaan dengan itu, airmata Kayesa ikut berderai.


"Aku tidak perduli. Kamu cintai atau tidak dengan ku. Aku akan terus mencintaimu sampai kapanpun." Shaga memegang kedua bahu Kayesa dan menatapnya intens.


Air mata Kayesa semakin deras menganak sungai, dia tidak mengerti apakah ini tangisan bahagia, karena Shaga masih sangat mencintainya atau tangisan duka, atas kebohongannya pada Shaga dan pada dirinya sendiri.


"Shaga harus mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku. Aku tidak pantas untuknya," batin Kayesa membuat tangisannya semakin kuat, hingga tubuhnya tergoncang.

__ADS_1


Teriris hati Shaga, kala melihat wanita yang dicintainya menangis terisak. Shaga tahu ada kebohongan di mata berkabut itu, ada sesuatu yang disembunyikan Kayesa padanya.


"Menangislah! Jika itu membuat hatimu lebih tenang." Shaga kembali merengkuh tubuh Kayesa dalam pelukannya. Beberapa menit Kayesa menumpahkan airmatanya di dada laki-laki itu


"Maaf. Air mataku telah membasahi bajumu," ujar Kayesa kala dia sudah mampu menetralkan kembali hati dan perasaannya.


"Kay! Berceritalah padaku, mungkin bisa mengurangi beban hidupmu."


"Beban? Aku tak punya beban, hidupku happy-happy saja," ujar Kayesa seraya menyesap sisa air mata yang masih menempel di pipi, Kayesa berusah tertawa walaupun terdengar sumbang.


"Kenapa kamu tidak pernah jujur. Walau hanya untuk mengakui perasaanmu sendiri?" Shaga memegang dagu Kayesa dan memaksa menatap ke wajahnya. Mata indah Kayesa kembali berkaca-kaca dan dua bulir kristal itu bergulir di sudut netranya.


"Tak usah berkata apapun padaku. Aku sudah tahu jawabannya," ujar Shaga, lalu dengan kedua ibu jari, dia menyeka sisa air mata di pipi Kayesa.


"Kay! Pintu hatiku terbuka untukmu sampai kapanpun. Kembalilah padaku jika kamu tak bahagia. Aku akan menerimamu apa adanya."


"Aku..."


"Seett... Jangan bicara apa pun." Shaga meletakkan jari telunjuknya di bibir, dia tidak ingin Kayesa mengatakan apa pun.


"Yuk kuantar kembali ke kamarmu." Shaga meraih kembali tangan Kayesa. Namun Kayesa bergeming.


"Terima kasih untuk tetap mencintaiku. Maafkan aku karena telah mencintai laki-laki lain," ujar Kayesa, lalu menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Shaga.


"Jangan pernah cari aku lagi," ujar Kayesa, kemudian bergegas keluar kamar Shaga. Nanum Shaga menahan langkah Kayesa dengan mencekal lengannya.


"Aku tahu kamu masih mencintaiku. Walau seribu kali bibirmu mengatakan tidak. Aku tak pernah percaya," bisik Shaga di telinga Kayesa.


"Terserah!" Kayesa menghempaskan lengannya dengan kasar, hingga cekalan Shaga terlepas, bergegas Kayesa keluar dari kamar Shaga dan berlari kecil masuk ke kamarnya.


"Ya Tuhan. Aku sudah tak kuat," batin Kayesa seraya bersandar di daun pintu. Kali ini tangisnya pecah kembali.


Sementara Shaga yang mengikuti dan menyandarkan punggung di daun pintu, mendengar tangisan Kayesa.


"Shaga! Aku juga masih sangat mencintaimu," gumam Kayesa disela isaknya. Dan Shaga mendengar jelas gumaman Kayesa.

__ADS_1


"Nya! Nyonya kenapa." Terdengar suara Maeka yang merasa terusik dengan isakan Kayesa. Maeka turun dari tempat tidur dan memeluk Kayesa yang terlihat sedang putus asa.


"Ceritakan padaku. Mungkin bisa mengurangi beban pikiran Nyonya," ujar Maeka seraya mengurai pelukannya.


Pandangan Kayesa menerawang jauh, haruskah dia menceritakan masalalunya pada Maeka. Sudah terlalu banyak Maeka ikut menanggung deritanya. Maeka yang tahu bagaimana deritanya menahan hinaan orang atas kelahiran Kiano yang tanpa sosok seorang ayah. Maeka mati-matian membelanya, jika ada orang-orang yang membulynya dan Kiano.


"Kenapa Nyonya menatapku begitu. Apa Nyonya sudah menganggapku orang lain?"


Maeka mencoba meyakinkan Kayesa, kalau dia tetaplah Maeka yang dulu, Maeka yang siap membelanya. Jika ada orang-orang yang akan menyakitinya. Maeka bukan saja menganggap Kayesa majikan, tapi sekaligus ibu dan saudaranya.


"Laki-laki itu datang kembali," ujar Kayesa seraya membuang tatapan jengah.


"Siapa laki-laki itu? Apakah ayah kandung Kiano? Atau tuan Zafran?" Tanya Maeka seraya menyentuh kedua bahu Kayesa, lalu menyeka air mata Kayesa dengan ujung jarinya.


"Nyonya! Jangan pernah menangisi laki-laki yang singgah hanya numpang minum, setelah itu pergi meninggalkan Nyonya dan Nyonya yang menanggung semua hasil dari perbuatannya," ujar Maeka lagi mengingatkan Kayesa pada sosok laki-laki yang menyebabkan Kiano terlahir ke dunia.


Kayesa menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya. Rasa sesak di dadanya semakin berat, haruskah dia menceritakan tentang Shaga pada Maeka. Laki-laki yang telah mencuri hatinya, sebelum pernikahan semalamnya terjadi. Haruskah?"


Seraya meraup habis wajah dengan kedua telapak tangannya, Kayesa menghempas nafasnya dengan kuat. Kayesa ingin berteriak meluahkan semua rasa yang bergejolak di dada. Tapi dia tidak tahu kecewanya ditujukan kesiapa. Pada Shaga, pada laki-laki yang telah menikahinya, atau pada dirinya sendiri.


"Aghhh," Kayesa meremas rambutnya kasar. Tubuhnya luruh ke lantai, kali ini tangisan pecah lebih kuat dari tadi.


"Nyonya! Menangislah jika itu membuatmu lebih baik." Maeka berjongkok di depan Kayesa, lalu merengkuh tubuh Kayesa dalam pelukannya.


Sementara Shaga yang masih berdiri di depan pintu, mendengar semua pembicaraan Kayesa dan Maeka. Tangan Shaga bergerak ingin meraih handle pintu, tapi ditahannya saat mendengar Kayesa berujur.


"Dia bukan ayah Kiano. Tapi dia laki-laki masalalu ku, laki-laki yang ku tinggalkan tanpa pesan, karena kehadiran Kiano, hiks, hiks, hiks," ucap Kayesa di sela tangisnya.


"Apa Nyonya menyesali kehadiran Kiano? Yang jadi penyebab Nyonya harus pergi dari laki-laki itu?"


"Tidak Mae! Kiano segalanya bagiku. Walaupun kehadirannya tak pernah kuharapkan, tapi Kiano nyawaku."


"Kalau begitu, berhentilah menangisi laki-laki itu. Jangan pernah menyesali apa yang sudah terjadi."


"Iya Mae! Terima kasih ya. Mungkin ini takdir yang memang harus aku jalani," ucap Kayesa seraya mengurai pelukan Maeka.

__ADS_1


Setelah mencuri dengar percakapan Kayesa dan Maeka. Shaga berinsut melangkah mundur, menjauh dari kamar Kayesa kembali ke kamarnya.


"Aku harus bisa mengambil hati anak laki-laki itu, untuk mendapatkan Kayesa kembali," batin Shaga seraya merebahkan tubuhnya di atas kasur.


__ADS_2