Pernikahan Semalam

Pernikahan Semalam
Asaka diusir


__ADS_3

Part 97


"Apa-apaan ini," batin Asaka yang baru saja mendapat kiriman video dari seseorang.


Mata Asaka membola, kala melihat isu video itu, Zafran sedang memasang cincin di jari manis Kayesa. Mata Asaka semakin membulat saat melihat cincin berlian yang melingkar di jari manis Kayesa yang lain.


"Bagaimana bisa cincin keluarga itu ada di jari wanita itu," batin Asaka.


"Kurang ajar. Wanita miskin itu semakin berani mendekati putraku," maki Asaka sambil berdecak kesal.


Berulang Asaka memutar video yang berdurasi sepuluh detik itu. Memastikan kalau cincin yang ada di jari Kayesa benar cincin dari mendiang mantan suaminya. Cincin yang menjadi ciri khas keluarga Alfaro.


Merasa kurang yakin dengan pandangan matanyq. Asaka memindahkan Video itu ke dalam laptop, dan memutar berulang-ulang. Barulah Asaka yakin, kalau yang di dalam video itu benar Zafran dan Kayesa.


Asaka menjeda video itu, waktu di melihat ada bayangan Mayumi di balik tubuh Kayesa yang sedang berdiri. Asaka menzoom bayangan itu. Tidak diragukan lagi, kalau itu benar-benar Mayumi


"Jadi di sana bukan hanya Zafran dan Kayesa saja. Tapi ada mama juga," batin Asaka.


Asaka kemudian meneliti di mana video itu di ambil. Melihat ranjang tempat duduk Mayumi, ada beberapa alat medis, meyakinkan Asaka, kalau Mayumi berada di rumah sakit.


"Apa yang terjadi dengan mama. Kenapa dia ada di rumah sakit," batin Asaka, karena dia tidak tahu dan tidak diberitahu tentang keadaan Mayumi, setelah dia cekcok dan pergi dari rumah.


Perasaan Asaka menjadi khawatir, walaupun dia sempat marah pada Mayumi, gara-gara surat warisan itu. Namun, bagaimana pun Mayumi tetaplah orang yang telah melahirkannya.


"Apa aku ke rumah sakit saja," pikir Asaka mondar mandir, sambil menimang-nimang ponselnya.


Suasana hati Asaka penuh kebimbangan, jika dia menjenguk Mayumi ke rumah sakit, dia memastikan mamanya itu pasti masih marah padanya, karena dia telah merobek dan melemparkan ke wajah Mayumi, kertas salinan warisan itu. Tapi jika dia tidak ke rumah sakit, Asaka khawatir, Mayumi akan semakin marah dan bahkan bisa jadi mencoret namanya dari daftar warisan.


Mengingat percekcokkannya kemaren, membuat Asaka mendengus kesal. Mayumi selalu membuat hidupnya tidak tenang.


"Apa aku bukan anak kandung mama Mayumi," batin Asaka, kala mengingat beberapa perlakuan keras Mayumi padanya.


"Ya Tuhan. Kenapa aku berpikiran seperti itu," batin Asaka lagi, lalu membuang jauh pikiran negatifnya.

__ADS_1


Bergegas Asaka mencari nomor kontak rumah sakit dari beberapa rekan kerjanya. Begitu dapat, langsung menyimpan nomornya, setelah memastikan sudah tersimpan. Asaka menggeser gagang telepon berwarna hijau.


"Selamat siang! Saya Rina dari rumah sakit kasih bunda. Ada yang bisa saya bantu," sapa resepsionis rumah sakit begitu panggilan terhubung.


"Saya ingin mendapat informasi tentang kesehatan oma Mayumi," ujar Asaka.


"Sebentar saya cek dulu ya. nyonya!" Ujar Rina, lalu meraih mouse di depan meja kerjanya, mengklik layar komputer, mencari data pasien.


Beberapa menit kemudian, Rina kembali mengangkat gagang telepon yang tadi digeletakannya di atas meja kerja.


"Hallo nyonya! Nyonya besar Mayumi sudah ke luar dari rumah sakit."


"Terima kasih atas infonya," ucap Asaka lalu memutuskan panggilan telepon.


"Sebaiknya aku pulang ke apartement Zafran," gumam Asaka.


Asaka meraih tas dan kunci mobil yang tergeletak di atas nakas, dia menarik handle pintu kamar dan ke luar, lalu menyusuri koridor hotel menuju lift. Kemaren setelah dia cekcok dengan Mayumi, Asaka memutuskan tidak pulang ke apartement Zafran dan menginap di hotel untuk menenangkan pikirannya.


Begitu ke luar dari lift, Asaka menuju meja resepsionis, untuk chek out. Setelah menyerahkan kunci kamar dan mengucapkan terima kasih, Asaka beranjak meninggalkan meja resepsionis, memuju pintu ke luar, langsung ke parkir.


Mobil yang dikendarai Asaka meluncur di jalan raya. Sambil menyetir, Asaka memikirkan sesuatu untuk menghadapi mamanya Mayumi yang semalam marah padanya. Selain itu Asaka juga memikirkan bagaimana membuat Zafran ingat kembali.


Dua puluh menit kemudian, Asaka menghentikan mobilnya di depan sebuah toko penjual martabak. Setelah memarkir mobil. Asaka ke luar dan masuk ke toko itu.


"Selamat siang Nyonya. Mau pesan martabak rasa apa?" Tanya seorang pramusaji.


"Spesial jagung manis dan keju," ujar Asaka, dia membeli martabak kesukaan Mayumi dan Zafran.


Setelah membayar dan menerima pesanannya, Asaka beranjak kembali ke mobil, menarik handle pintu dan masuk, duduk di kursi depan stir, setelah memasang sabuk pengaman, Asaka menekan pedal gas dan melanjutkan perjalanannya.


Dua puluh menit kemudian mobil yang dikendarai Asaka, memasuki area parkir apartement. Setelah memarkir mobilnya, Asaka turun dari mobil, lalu melangkah ke pintu utama apartement, berjalan menuju lift. Begitu lift terbuka, Asaka masuk dan menekan tombol lantai tiga.


Hanya hitungan detik, lift melaju membawa tubuh Asaka naik, begitu lift berhenti dan pintunya terbuka, Asaka ke luar dari lift, melangkah menyusuri koridor apartemant. Asaka melewati apartement Zafran, dia menuju ke apartementnya.

__ADS_1


Sudah dua pekan apartementnya tidak berpenghuni. Dulu sebelum Zafran menikah dengan Alena, Alena yang tinggal di apartement itu, begitu Alena menjadi istri Zafran, Alena pindah ke apartement Zafran. Dan dua hari yang lalu, dengan dalil lupa ingatan, Zafran mengusir Alena.


Saat melewati apartement Zafran, Asaka melirik ke arah pintu apartement Zafran yang tertutup rapat.


"Apa Zafran dan mama lagi tak di rumah," batin Asaka, sambil melangkah mendekat ke pintu dan menempelkan telinganya ke daun pintu.


Sayup terdengar suara dari dalam, suara laki-laki yang sedang menerima telepon. Suara itu familiar sekali di telinga Asaka.


Klik... Asaka memutar handle pintu, Zafran yang menyadari ada seseorang yang membuka pintu, spontan mengalihkan pandangannya. Dan saat mengetahui kalau mamanya yang datang, Zafran mengakhiri panggilan teleponnya.


"Mau apa ke sini?" Tanya Zafran seolah-oleh dia masih lupa ingatan.


Mendapat sambutan Zafran yang tidak bersahabat, membuat Asaka kesal. Namun, dia berusaha menetralkan emosinya.


"Mama mau kasih martabak kesukaan kamu sama oma," ujar Asaka seraya beranjak masuk ke ruang tengah sambil membawa dua kotak berisi martabak.


"Stop!" Teriak Zafran meminta Asaka berhenti melangkah.


Bersamaan dengan itu, Mayumi ke luar dari kamarnya.


"Oma! Jangan makan martabak yang dibawa wanita itu. Pasti dia sudah memberi racun, karena dia tidak suka sama Oma," ujar Zafran beranjak melangkah mendekati Mayumi.


"Zafran! Mana mungkin mama meracuni Oma." Mata Asaka membola menatap ke arah Zafran.


"Bisa saja apa yang dikatakan Zafran benar. Karena kamu menginginkan warisanku," ujar Mayumi membela Zafran.


"Sekarang lebih baik kamu pergi dari sini," ujar Mayumi mengibaskan tangan ke wajah Asaka.


Mayumi mengambil dua asay berisi martabak yang tadi diletakkan Asaka di atas meja. Dengan paksa Mayumi meminta Asaka mengambil kembali martabaknya, lalu Mayumi menyeret tangan Asaka membawanya ke pintu ke luar.


"Jika hatimu belum bersih dan berniat mengganggu cucuku. Aku tak akan membiarkan mu masuk ke apartement ini.


Dukk... Mayumi menutup pintu dengan kasar, hingga menimbulkan suara getaran keras, yang mengagetkan Asaka.

__ADS_1


"Ma! Mama! Buka pintunya. Mama tidak boleh begitu sama aku," teriak Asaka sambil menggedor-gedor pintu apartement.


__ADS_2