
Part 60
Mendengar ucapan Mayumi. Spontan Kayesa menoleh dan menatap ke arah Mayumi. Mayumi yang menyadari kesalahannya, segera mengalihkan pembicaraan.
"Esa! Ini Ikhsan dan ini Rivan, keduanya merupakan pengusaha muda yang bergerak di bidang kuliner," ujar Mayumi mengenalkan kedua laki-laki muda itu.
"Oma juga sudah mempromosikan nastar buatanmu kepada mereka berdua. Dan mereka berdua sangat terkesan dan ingin mengadakan kerjasama dengan mu," lanjut Mayumi lagi menjelaskan.
"Apa kamu ada membawa tester, seperti yang oma minta?" Tanya Mayumi memgingatkan.
"Ada Oma!" Kayesa mengeluarkan sebuat kotak kecil yang di dalamnya berisi dua puluh nastar dengan lima rasa.
Ikhsan dan Rivan mencoba mencicipi nastar buatan Kayesa. Rasanya sesuai dengan yang Mayumi rekomendasikan. Sungguh nyaman dilidah, tekturnya halus dan lembut.
"Hemm, sangat enak dan lembut. Bagaimana menurutmu Rivan?"
"Saya akan memberikan modal satu milyar anda mengembangkan usaha nastar ini," ujar Ihksan mengejutkan Kayesa.
Saking kagetnya mendapat suntikan dana satu milyar. Kayesa tak dapat berkata-kata, dia menatap Mayumi dan Amora secara bergantian.
"I- ini benaran?" Tanya Kayesa seakan tak percaya.
Kayesa pernah bermimpi punya toko sendiri dengan memperkerjakan ratusan karyawan. Tapi karena kendala keuangan mimpinya itu sulit diwujudkannya. Apa lagi uang sisa penjualan cincin berlian itu pun sekarang sudah menipis, karena dipakainya untuk biaya hidup dan menambah modal kelontong Badrun.
Jika benar dua laki-laki muda ini akan menyuntikkan dana sebesar satu milyar. Maka mimpinya untuk memiliki usaha sendiri akan jadi nyata.
"Ya Tuhan. Semoga saja ini bukan mimpi," gumam Kayesa seraya menepuk-nepuk ke dua pipinya.
"Ini nyata. Sa!"ujar Amora mencubit lengannya dan terasa sakit.
"Iya ini benaran," ucap Ihksan mengusir keraguan Kayesa.
Kayesa menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya dengan pelan, berharap sesak dadanya karena terkejut tadi, kembali normal.
Melihat Kayesa bernafas lega, Ihksan menyodorkan sebuah map berisi berkas-berkas kontrak kerja. Ikhsan mempersilakan Kayesa membacanya terlebih dahulu sebelum menandatangani.
Kayesa membaca kata demi kata yang tertulis di dalam surat perjanjian kerjasama itu. Setelah membaca dengan teliti dan memastikan tidak ada yang terlewatkan. Kayesa menyetuju perjanjian kerjasama itu.
__ADS_1
Kayesa dan Ikhsan secara bersamaan dan di saksikan oleh Mayumi dan Amora menandatangi perjanjian kerjasama itu. Setelah selesai menandatangani surat perjanjian dan berita acara. Ikhsan memberikan satu rangkap kepada Kayesa dan satu rangkap disimpannya.
"Terima Kasih. Tuan Ikhsan dan tuan Rivan yang telah memberikan kepercayaan kepada saya," ujar Kayesa menyalami kedua laki-laki muda itu, yang kini sudah menjadi rekan bisnisnya.
"Senang bisa bekarjasama dengan anda," ujar Ikhsan membalas jabatan tangan Kayesa. Setelah menyimpan berkas penting ke dalam tasnya, Ikhsan dan Rivan berpamitan.
Jam baru menunjukkan pukul sebelas lewat sepuluh menit. Mayumi menjauh dari Kayesa dan Amora, dia menelepon Budi sang supir, ada hal rahasia yang dibicarakannya dengan Budi. Budi hanya menggangguk menanggapi ucapan Mayumi.
Mayumi, Kayesa dan Amora beranjak dari kursi, berjalan menuju pintu utama, melangkah ke parkir.
"Budi! Kamu antar Kayesa kembali ke hotel," titah Mayumi.
"Baik. Oma," ujar Budi seraya membuka pintu mobil untuk Kayesa.
Saat menuju parkir, angin berhembus manja, terasa dingin sampai ketulang. Bekas hujan yang baru saja mengguyur bumi masih meninggalkan sisa gerimis dan genangan air. Untuk membuat kehangatan Kayesa mendekap tubuhnya dengan kedua tangan.
"Sampai ketemu lagi di Jakarta. Nanti penerbanganmu pulang akan diurus oleh Amora," ujar Mayumi.
"Terima kasih untuk semuanya. Oma!" Kayesa merentangkan kedua tangan memeluk wanita yang sangat baik itu.
"Iya sama-sama. Kamu jaga diri baik-baik," ujar Mayumi seraya mengurai pelukannya.
Mobil yang membawa Mayumi dan Kayesa berlawanan arah. Amora membelokkan mobil ke kiri, sementara Budi ke kanan. Pada hal tujuan mereka sama. Hanya saja Mayumi memasuki hotel atas bantuan Tatia, jadi bisa lewat mana saja. Sementara Kayesa lewat pintu utama.
Jalanan tidak sepadat tadi, hingga mobil yang dibawa Budi bisa melenggang manis di jalan. Budi memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia memang pengemudi yang mementingkan keselamatan dan tidak pernah ugal-ugalan di jalan raya.
"Nyonya Esa! Saya berhenti di sini. Kalau saya mengantar nyonya sampai parkir, saya harus mutar lagi, karena berlawanan arah. Nyonya tidak apa-apakan, hanya menyeberangi jalan ini," ujar Budi menoleh ke arah Kayesa.
"Oh. Tidak apa-apa," ujar Kayesa seraya menarik handle dan membuka pintu mobil, sebelum turun Kayesa mengucapkan terima kasih.
Sebenarnya bisa saja Budi mengantar Kayesa sampai di depan hotel. Bahkan di depan pintu hotel pun bisa. Budi hanya mengikuti skenario yang sedang Mayumi sutradarai, Budi menatap punggung Kayesa yang berdiri menghadap ke jalan raya.
Sejenak Kayesa menatap ke sebelah kiri, memastikan tidak ada mobil yang lewat. Bergegas Kayesa berjalan menyeberang, lalu berhenti dipembatas jalan yang dibagi dua. Kali ini dia menoleh ke sebelah kanan, saat memastikan mobil yang lewat masih jauh, Kayesa menyeberangi jalan, lalu melenggang di atas trotoar jalan menuju pintu gerbang hotel yang berada di depannya sekitar sepuluh meter.
Suasana lengang, sudah tidak terlihat orang lalu lalang. Mungkin efek baru turun hujan, dan sudah hampir tengah malam. Kayesa mempercepat langkahnya, Namun, tak di duga, lima meter dari pintu gerbang hotel, tiba-tiba sebuah motor muncul dengan kecepatan tinggi. Secepat kilat penumpang yang diboncengan turun, dan berjalan ke arah Kayesa, lalu menarik tas tangan dengan kasar, hingga Kayesa terjatuh.
"Hay copet." Teriak Kayesa.
__ADS_1
Seseorang laki-laki yang baru keluar dari pintu gerbang melihat kejadian itu, dengan cepat bertindak dan mengejar pencopet yang berlari ke arah temannya.
Brakkk... belum sempat si pencopet naik ke boncengan, sebuah tendangan mengenai bokongnya, hingga tas terjatuh ke aspal. Tidak ingin bebak belur, sipencopet pun memacu motornya dengan kencang.
"Hay kamu tidak apa-apakan?" Tanya laki-laki itu berjongkok, seraya menyerahkan tas yang tadi diselamatkannya.
"Tuan Zafran," ujar Kayesa saat menoleh dan memandang wajah laki-laki yang menolongnya.
Mendengar wanita itu, menyebut namanya. Zafran mengulurkan tangan menarik kacamata yang melekat di wajah Kayesa.
"Esa!" Tanpa sadar Zafran merengkuh wanita itu dengan erat, ada kerinduan sangat dalam yang dirasakan Zafran.
"Auuu. Sakit." Kayesa merintih.
"Maaf! Aku terlalu senang bisa bertemu denganmu," ujar Zafran mengurai pelukannya.
"Hay! Lututmu berdarah," ujar Zafran lagi, seraya membantu Kayesa berdiri.
"Kita dokter ya," ujar Zafran seraya meletakkan tangan Kayesa di pundak dan memapahnya.
"Tidak usah, di kamarku ada obat, kalau hanya luka kecil seperti ini," ujar Kayesa.
"Kamu nginap di hotel ini juga?"
Pertanyaan Zafran dijawab dengan anggukan oleh Kayesa. Ada rasa nyeri di hati Kayesa, saat mengingat kalau Zafran pun menginap di hotel bersama Alena.
"Pasti Zafran dan Alena sedang berbulan madu," batin Kayesa.
Seperti kebetulan saat Zafran masuk ke ruang lobi. Tatia menyambanginya dan bertanya apa yang terjadi, saat melihat kaki Kayesa terluka, Tatia bergegas ke pantry mengambil air hangat dan handuk kecil, lalu berlari mengambil kunci kamar Kayesa di meja resepsionis dan menyusul Zafran yang sudah berdiri di depan pintu kamar.
Tatia membuka pintu kamar dan menyilakan Zafran masuk duluan dan mendudukkan Kayesa di tepi ranjang.
"Tuan! ini air hangat dan handuk kecil untuk mengompes di sekitar lukanya, agar tidak membengkak," ujar Tatia menyerahkan mangkok dan handuk kecil.
"Saya keluar dulu mengambil kotak obat," ujar Tatia lagi melangkah keluar, seraya menutup pintu kamar dan kembali dengan kotak obat di tangan, setelah menyerahkan kotak obat Tatia kembali keluar.
Zafran berjongkok di samping kaki Kayesa yang menjuntai, perlahan Zafran membersihkan darah yang mengalir dari luka gores di lutut Kayesa.
__ADS_1
"Auuu," rintih Kayesa seraya menggigit bibir bawahnya menahan rasa perih.