Pernikahan Semalam

Pernikahan Semalam
Pernikahan Zafran


__ADS_3

Part 50


Pesta besar-besaran segera digelar di sebuah hotel bintang lima. Alena beserta keluarga besarnya tersenyum bahagia, karena sebentar lagi, Alena akan menjadi nyonya Zafran CEO perusahaan terbesar di kota ini.


"Putri mama sangat cantik," puji Sarla kala melihat Alena yang sudah memakai kebaya warna putih. Kebaya itu dikenakan hanya untuk proses ijab qabul.


Senyum Alena tambah mengembang dapat pujian dari mamanya. Hari ini dia adalah wanita tercantik dari sekian wanita yang ada.


"Siapa dulu mamanya," ujar Alena bergelayut manja di lengan Sarla.


Setelah semuanya selesai dan memastikan kalau penampilan Alena sangat sempurna. Sarla menggenggam erat putrinya, lalu membawa Alena keruangan yang didekor untuk acara ijab qabul. Semua mata yang hadir tertuju pada wajah cantik Alena, banyak yang berdecak mengagumi kecantikan putri kedua Sarla itu.


Penghulu dan dua orang saksi telah berada di tempat acara. Alena dan keluarga besarnya duduk manis menunggu ke datangan rombongan mempelai laki-laki. Seperlima menit kemudian dua mobil yang berhiaskan pita dan rangkaian bunga berhenti di depan gedung.


Dua orang laki-laki berpakaian hitam putih membuka pintu mobil yang baru datang, dari dalam mobil turun Zafran, Asaka, oma Mayumi, dua orang asisten dan empat orang bodyguard.


Semua keluarga Alena berdiri menyambut kedatangan Zafran dan keluarganya. Seorang asisten keluarga Alena menjemput Zafran dan mendudukkannya di ruang nikah di depan sebuah meja kecil yang sudah dirias sedemikian rupa.


"Abang sangat tampan," bisik Alena begitu Zafran duduk di sampingnya.


Sekilas Zafran melirik wanita itu. Alena yang sudah dirias oleh mua profesional memang terlihat sangat cantik dan anggun. Bohong jika Zafran mengatakan Alena biasa-biasa saja. Namun, entah kenapa Zafran memilih untuk tidak mengagumi wanita yang sebentar lagi akan dinikahinya. Pada lima tahun lalu, jika dia ditawari wanita secantik Alena. Pasti kelepek-kelepek tak sadarkan diri.


Kini Alena dan Zafran duduk berdampingan, sebuah selendang berwarna putih ditutupkan di kepala kedua calon pengantin. Itu artinya sebentar lagi prosesi ijab qabul akan segera dilaksanakan.


Ayah Alena menjabat tangan penghulu, dan dia menyerahkan kepada penghulu untuk menikahkan putrinya. Setelah selesai penyerahan, penghulu menjabat tangan Zafran, prosesi ijab qabul pun dimulai. Penghuhu mengucapkan ijab dengan lantang dan jelas, begitu juga Zafran mengucapkan qabul tanpa ragu. Ini merupakan pernikahannya yang kesepuluh.


"Sah?"


"Sah!" Ujar para saksi.


Prosesi pernikahan pun selesai. Kini Alena sudah sah menjadi nyonya Zafran. Dia tersenyum bahagia, karena setelah ini hidupnya akan bergelimangan harta. Dan hutang-hutang ayahnya pun akan segera terbayar.


Setelah menandatangani surat nikah. Alena segera menyodorkan tangannya meraih tangan Zafran dan mencium punggungnya. Dan Zafran membalas dengan mencium puncak kepala Alena setelah diberi isyarat oleh Asaka.


"Selamat ya sayang." Asaka memeluk menantu idamannya.


"Terima kasih. Tante."


"Jangan panggil tante lagi."

__ADS_1


"Eh. I-iya. Mama," ujar Alena membalas pelukan mertuanya, lalu cipika, cipiki.


"Alhamdulillah. Jeng! Akhirnya kita jadi besan." Sarla menyalami Asaka, lalu dua sahabat itu berpelukan, keduanya terlihat sangat bahagia atas pernikahan Alena dan zafran. Sekarang Sarla dan Asaka bukan sahabatan saja, tapi sudah jadi besan dan satu keluarga.


Setelah prosesi ijab qabul dan bersalaman, kedua mempelai digiring ke ruang ganti, untuk bertukar pakaian. Alena tersenyum sumbringah seraya menggamit lengan Zafran menuju ruang ganti.


Sambil menunggu Zafran dan Alena berpakaian, keluarga Zafran yang hanya ada sembilan orang, termasuk oma Mayumi di bawa ke ruang keluarga untuk menyicipi hidangan ringan dan ngobrol keakraban antar keluarga.


"Silakan Oma," ujar Sarla seraya menyodorkan sebuah menu pembuka ke arah Mayumi.


Tiga puluh menit kemudian kedua mempelai sudah berganti pakai dan keluar menuju pelaminan. Tamu undangan pun satu persatu berdatangan.


Asaka ikut berbaur dengan tamu yang lain. Sementara oma Mayumi yang terkenal memiliki banyak perusahaan tambang dan batu bara itu ke luar dari gedung acara, dia merasa bosan di dalam, dengan alasan ingin mencari udara segar dia pun berpamitan pada Asaka dan Sarla.


Diusia menjelang tujuh puluhan, Mayumi masih terlihat cantik dan gesit, gerakannya masih seperti orang berumuran empat puluh tahunan. Bahkan banyak yang tidak percaya kalau Mayumi telah berusia tujuh puluh tahun.


Di saat para tamu mulai ramai berdatangan. Mayumi menyelinap meninggalkan keramaian, dia duduk di sebuah cafe yang ada di hotel itu. Selain dia, di situ juga banyak penikmat kopi yang sedang duduk santai.


Mayumi mencari meja yang paling sudut, karena dia tidak terlalu menyukai suasana berisik. Mayumi yang berpenampilan biasa saja, dengan santai menarik sebuah kursi dan mendudukkan bokongnya. Semua orang yang ada di cafe itu tak ada yang mengenalnya.


"Hay! Tuan Tono. Anda ke sini menghadiri pernikahan tuan Zafran juga." Tiba-tiba terdengar seseorang menyapa laki-laki yang duduk bersebelahan dengan meja Mayumi.


"Iya! Mana berani aku tidak hadir, bisa-bisa tuan Zafran menghentikan karjasamanya," ujar lawan bicara Tono.


"Hay! Kamu tahu nggak, sebenarnya tuan Zafran tidak mencintai nona Alena." Tono bergumam kecil, tapi cukup jelas di telinga Mayumi.


"Bagaimana bisa tuan Zafran tidak mencintai nona Alena, diakan begitu cantik."


"Yang saya dengar Tuan Zafran menikahi Alena karena permintaan nyonya Asaka ibunya."


Kedua laki-laki itu, terus saja bercerita tentang Zafran, Alena dan Asaka. Mereka tidak tahu, kalau Mayumi yang duduk di meja sebelah Tono, mencuri dengar semua pembicaraannya.


"Aku harus menanyakan kebenaran ini pada Rayzad," batin Mayumi, lalu dia beranjak dari duduknya seraya mengulik layar ponselnya mencari nomor kontak Rayzad.


Mayumi sangat menyayangi Zafran. Dia tidak mau kalau hidup cucunya tak bahagia hanya gara-gara Asaka yang keras kepala itu. Mayumi tahu betul bagaimana watak Asaka dan bagaimana katakter Zafran cucunya


"Temui aku di loby hotel. Ada yang ingin ku bicarakan," ujar Mayumi, begitu sambungan teleponnya terhubung ke Rayzad. Mayumi pun segera menuju lift, turun ke lantai dasar.


Seperlima menit kemudian, Rayzad datang menemui Mayumi.

__ADS_1


"Bawa aku ke tempat yang tidak ada satu orang pun menganggu kita. Aku ingin bicara serius padamu," ujar Mayumi.


"Sekarang. Nyonya?"


"Iya! Sekarang."


"Apa tidak menunggu pesta tuan Zafran usai?"


"Tidak! Aku mau sekarang," ujar Mayumi, dia sudah tidak perduli dengan pernikahan cucunya itu.


Rayzad kemudian mengajak Mayumi kembali ke atas. Rayzad sengaja memboking sebuah kamar di hotel itu untuknya beristirahat. Jika selesai acara nanti dia kelelahan, bisa istirahat di kamar hotel dulu, tidak harus buru-buru pulang ke apartement.


"Silakan Nyonya," ujar Rayzad menguakkan daun pintu.


Sejenak Mayumi memindai ruangan di dalam kamar, setelah memastikan tidak ada siapapun, dia masuk menyeret kakinya menuju sofa dan mendudukkan bokong kesalah satunya.


"Apa yang ingin Nyonya bicarakan?" Tanya Rayzad seraya berdiri di depan Mayumi.


"Katakan padaku. Apa benar cucuku Zafran tidak mencintai Alena?" Tanya Mayumi seraya menatap intens pada Rayzad.


"Sa-saya tidak tahu. Nyonya," jawab Rayzad tergagap.


Tentu saja pertanyaan Mayumi membuat Rayzad terkejut, dia sama sekali tidak menduga, kalau Mayumi akan menanyakan itu.


"Di mana oma Mayumi tahu tentang hal ini," batin Rayzad.


"Jujur akan lebih baik dari pada kamu berbohong," ujar Mayumi dengan suara datar, tanpa tekanan, tapi cukup menakutkan.


"Serius Nyonya. Saya tidak tahu apa-apa." Rayzad masih menutupi yang sebenarnya.


"Kau berbohong! Dan kau tahu apa resikonya jika membohongiku," Mayumi beranjak dari duduknya, maju dua langkah ke depan, lalu menarik kerah baju Rayzad.


Seluruh tubuh Rayzad bergetar. Dua pilihan yang sama sulitnya bagi Rayzad. Jika dia berkata jujur, Zafran pasti akan menghajarnya dan jika dia tetap berbohong. Maka tamatlah riwayatnya sekarang. Siapa yang tidak tahu kekejaman Mayumi pada orang-orang yang tak disukainya.


"Apa kau sudah bosan hidup!" Ancam Mayumi dengan berbisik, lalu melepaskan cengkraman di kerah baju Rayzad.


Bagai petir di siang bolong. Ancaman Mayumi, membuat Rayzad mematung dan bergeming, keringat mulai membasahi tubuhnya, karena dilanda rasa takut yang berlebihan.


"Ya Tuhan! Apa yang harus ku katakan," batin Rayzad.

__ADS_1


"Pilihanmu cuman ada dua. Hidup atau mati," Mayumi kembali berbisik.


__ADS_2