Pernikahan Semalam

Pernikahan Semalam
Pergi Tanpa Pamit


__ADS_3

Part 39


"Untung belum Mae makan," ujar Maeka menanggapi ucapan Kayesa seraya tertawa.


"Ya udah, ku jumpai pihak hotel dulu." Kayesa menarik handle pintu dan keluar menuju ke ruang resepsionis, setelah meletakkan barang belanjaannya.


Begitu sampai ke resepsionis, Kayesa bicara pada seorang wanita muda yang ada di sana, menanyakan prihal menu makan siang yang terhidang di kamar tempatnya menginap. Tentu saja sang resepsionis tidak tahu hal ini, diapun menanyakan pada rekan kerja. Tapi rekan kerjanya juga tidak tahu, akhirnya resepsionis menghubungi menejar hotel.


"Ayok! ikut saya, menejer hotel ingin bertemu kakak," ujar sang resepsionis setelah mengakhiri panggilan teleponnya.


Kayesa mengikuti langkah resepsionis menuju ke sebuah ruangan. Setelah disilakan masuk, Kayesa duduk di kursi yang menghadap ke sebuah meja. Seorang laki-laki berpenanpilan sangat rapi datang menghampirinya.


"Nyonya Esa! Perkenalkan saya Dalman menejer hotel ini," laki-laki itu mengulurkan tangan ke arah Kayesa.


Kayesa menyambut uluran hangat tangan laki-laki itu, secara seksama Kayesa memperhatikan gaya laki-laki yang bernama Dalman itu berbicara.


"Nyonya mendapat bonus dari hotel kami, menginap dan makan gratis selama nyonya mau," Dalman menjelaskan.


"Maaf Tuan. Saya tidak mengerti maksud Tuan. Bagaimana bisa hotel ini memberi gratisan kepada saya?" Tanya Kayesa, dia heran saja. Kenapa pihak hotel memberi bonus kepadanya.


"Begini nyonya. Hatel kami satu minggu lagi akan merayakan ulang tahun yang ke dua puluh, biasanya sebelum perayaan, diambil sepuluh orang pengunjung dan diundi, kebetulan salah satu Nyonya yang beruntung terpilih," menejer hotel menjelaskan.


"Baiklah, kalau begitu saya mengucap terima kasih pada anda dan pihak hotel," ujar Kayesa, lalu berpamitan.


Sepeninggalan Kayesa Dalman menelepon Rayzad dan mengabari kalau pihak hotel akan memperlakukan Kayesa sesuai dengan permintaan Zafran. Jangankan sehari dua, atau seminggu dua minggu, selamanya pun mereka mau menggratiskan Kayesa, karena Zafran sudah berjanji akan melipat gandakan sahamnya di hotel ini.


Sementara Kayesa, sudah masuk ke kamar menemui Maeka. Mengambil paperbeg warna abu-abu dan menyerahkan pada Maeka.


"Apa ini nyonya?"


"Buka saja."


Maeka membuka paperbag dan mengeluarkan kotak di dalamnya. Mata Maeka berbinar bahagia, sebuah ponsel merek samsung keluaran tarbaru.


"Terima kasih. Nya!" Maeka berlonjak girang dan memeluk Maeka. Maeka mengambil tas tangan, lalu mengeluarkan ponselnya yang rusak bermaksud memindahkan nomornya.


"Pakai nomor ini saja, yang lama tidak usah diaktifkan lagi. Aku tak mau Zafran melacak keberadaan kita lewat nomor lamamu," Kayesa mengambil ponsel di tangan Maeka yang sudah retak seribu dan menyimpan di dalam tasnya


"Tapi. Nya! Di situ banyak nomor pelanggan kita," ujar Maeka keberatan.


"Kita akan pindah jauh dari sini," ujar Kayesa menutup resleting tasnya.


Kayesa sudah memikirkan masak-masak tentang kepergiannya dari kota ini. Dia sendiri belum tahu akan membawa Maeka dan Kiano ke mana. Yang ada dipikirannya, Kayesa akan membawa Kiano dan Maeka ke sebuah desa yang jauh dari kota ini, dan di sana tidak ada satu orangpun yang mengenalnya.


"Bunda!" Terdengar suara panggilan Kiano yang terbangun dari tidurnya, membuyarkan lamunan Kayesa.


"Sayang." Kayesa mendekati Kiano dan memeluknya.


"Kiano lapal (lapar)." dengan polosnya Kiano memegang peeutnya yang kelihatan ramping.


"Kiano cuci muka dulu sama kakak, habis itu kita makan," ujar Kayesa mengurai pelukannya, lalu mengangkat tubuh Kiano turun dari tempat tidur.


Maeka meraih tangan Kiano, membawanya ke kamar mandi. Setelah membasuh muka Kiano dan mengusapnya dengan handuk, Maeka mengangkat tubuh Kiano dan menggendongnya.

__ADS_1


"Kak! Apa tadi ayah datang?" Tanya Kiano seraya menatap intens ke wajah Maeka.


"Settt... Kiano jangan tanya-tanya tentang ayah." Bisik Maeka sambil meletakkan telunjuk di bibirnya.


"Kenapa?"


"Bunda jadi sedih, kalau Kiano tanya-tanya tentang ayah," ujar Maeka lagi.


"Kenapa?" Tanya Kiano untuk kedua kalinya.


"Kiano tidak mau bunda sedihkan?" Maeka balik bertanya. Kiano dengan polosnya mengangguk.


"Janji sama kakak. Jangan tanya-tanya tentang ayah kalau lagi bersama bunda," ujar Maeka seraya mengangkat kelingking dan meminta Kiano menautkan kelingkingnya tanda kesepakatan.


"Mae! Kia! Kok lama kali di kamar mandinya." Terdengar teriakan Kayesa.


Mendengar panggilan Kayesa. Maeka dan Kiano bergegas keluar kamar mandi.


"Kia pup. Jadi lama dech," ujar Maeka berbohong, untung saja Kiano manut dan tidak protes.


Kayesa, Maeka dan Kiano menyantap makan siang yang disajikan pihak hotel. Setelah makan siang, Kayesa beristirahat sejenak, dia merebahkan tubuhnya di atas kasur dan berpikir besok akan membawa Kiano dan Maeka ke mana, akhirnya dia tertidur. Sementara Maeka membawa Kiano bermain ke taman depan di sekitar penginapan.


*****


Di tempat lain, Rizwan beserta Ratih berkeliling-keliling mencari Kayesa di sepanjang jalan, hingga jauh dari kediaman rumah Rizwan.


"Permisi," sapa Rizwan pada Maeka yang sedang duduk di bangku taman seraya mengawasi Kiano bermain.


"Iya. Bang." Kayesa membalas sapaan Rizwan.


Deg... Jantung Maeka berdetak kencang. Sejenak Maeka menatap dengan serius ke layar ponsel Rizwan. Di layar ponsel itu, terpampang foto Kayesa yang masih berseragam putih abu-abu.


"Foto ini mirip sekali dengan nyonya Kayesa," batin Maeka.


"Apa laki-laki ini orang suruhan tuan Zafran?" hati Maeka bertanya-tanya.


"Apa adik pernah melihat?" tanya laki-laki itu membuyarkan lamunan Maeka.


"Hemm, sepertinya saya pernah melihat wanita ini," ujar Maeka seraya memegang kepalanya, seakan sedang berpikir mengingatnya.


"Yang benar dik? Di mana?"


"Dia mengemis di perempatan lampu merah, sebelah selatan," jawab Maeka asal.


"Kapan adik melihatnya?"


"Ta-tadi pagi... iya... tadi pagi," ujar Maeka lagi


Setelah mengucapkan terima kasih, Rizwan bergegas kembali ke mobil. Sepeninggalan Rizwan, Maeka meraih tubuh mungil Kiano dan menggendongnya masuk ke kamar.


"Nya! Nya!" Maeka membangunkan Kayesa dengan menggoyang tubuhnya.


"I-iya. Mae! Ada apa?" Kayesa segera bangkit dari tidurnya.

__ADS_1


"Tadi ada seorang laki-laki mencari nyonya," bisik Maeka.


"Laki-laki. Siapa?" Tanya Kayesa terkejut. Bayangan Zafran langsung melintas di kepala Kayesa.


"Apa Zafran menyuruh seseorang mencarinya. Apa sich maunya laki-laki itu," batin Kayesa.


"Saya tidak tahu. Nya! Saya tidak pernah melihat sebelumnya," ujar Maeka lagi.


"Maeka! Kita harus pergi dari penginapan ini," ujar Kayesa bangkit dari tidurnya.


Kayesa dan Maeka ke luar dari kamar, mereka tidak membawa apapun selain tas tangan, dompet dan ponsel, baju-baju yang tadi dibeli Kayesa juga tidak dibawa, semua itu Kayesa lakukan, agar pihak hotel meganggap mereka masih menginap di situ.


Tepat pukul lima belas lewat lima menit, Kayesa memacu motornya meninggalkan penginapan. Motornya melaju ke jalan raya, Kayesa terus saja mengendarai motornya, hingga senja tiba dan dia berhenti di sebuah masjid. Setelah melaksanakan shalat magrib, Kayesa melanjutkan perjalanan, hingga pukul dua puluh.


"Bunda! Kiano lapal (lapar)," ujar Kiano menepuk pinggang Kayesa.


"Kita cari rumah makan." Kayesa memelankan motornya melihat ke kiri dan ke kanan. Kemudian membelokkan motornya singgah di rumah makan yang tidak terlalu besar.


"Silakan masuk," sapa ramah seorang pelayan rumah makan.


Sambil menggendong Kiano, Kayesa masuk dan mencari tempat duduk lesehan. Lalu menghempaskan bokongnya yang terasa pegal, karena kelamaan duduk di motor. Maeka pun ikut mendudukkan bokongnya di samping Kayesa.


"Bunda! Kita mau ke mana?" Tanya Kiano.


"Apa kita akan ke lumah (rumah) oma dan om?" Tanya Kiano lagi, sebelum Kayesa menjawab pertanyaan pertamanya.


"Iya sayang. Kita akan pergi jauh mencari rumah oma," ujar Kayesa, tanpa disadari dua kristal bening meluncur di pipinya.


"Maafkan bunda sayang. Bunda telah membohongimu. Sampai kapan pun kita tak akan pernah ketemu oma lagi," batin Kayesa, seraya memeluk putranya. Secepat kilat menyesap air matanya.


Rasa lelah terlihat di wajah Kiano, Kayesa dan juga Maeka. Saat menu makan terhidang, mereka menyantapnya sambil mengobrol santai.


"Dik! Di sekitar sini ada homestay atau wisma?" tanya Kayesa pada pelayan yang tadi menyapanya ramah.


"Ada kak, sepuluh meter dari sini," ujar pelayan seraya menunjuk ke sebelah kanan.


Setelah selesai makan dan membayar di kasir. Kayesa dan Maeka ke luar dari rumah makan, menuju motor dan melaju ke arah yang ditunjuk pelayan tadi.


Sepuluh meter meninggalkan rumah makan, ada sebuah wisma sederhana berseberangan dengan sebuah swalayan menjual pakaian dan kebutuhan lain. Kebetulan sekali, sebelum ke wisma, Kayesa singgah dulu ke swalayan membeli beberapa keperluan dan baju ganti untuknya, Maeka dan Kiano. Setelah merasa cukup Kayesa memutar motornya, memasuki area wisma.


"Silakan kakak. Ada yang bisa saya bantu," sapa seorang resepsionis, kala melihat Kayesa masuk.


"Saya mau pesan kamar satu."


"Atas nama siapa kakak?"


"Maeka."


"Baik kakak, ini kuncinya. Kamar nomor 28 B, sebelah kiri ya kakak," ujar resepsionis menyerahkan kunci kamar. Kayesa berpamitan setelah mengucapkan terima kasih.


"Kay!"


Kayesa kaget, saat mendengar seseorang memanggilnya.

__ADS_1


"Semoga saja Kay lain. Bukan aku," batin Kayesa, karena dia berharap tak ada satu orang pun yang tahu keberadaannya di wisma ini. Seperdetik kemudian Kayesa memutar tubuhnya dan natanya membola saat melihat siapa yang berdiri di depannya.


__ADS_2