
Part 108
Suasana dikediaman Rizwan menjadi kacau, terdengar suara serinei mobil polisi Beberapa para undangan segera meninggalkan tempat resepsi, dan sebagian lagi masih ada yang bertahan.
"Kasian Kayesa pernikahannya gagal dan calon suaminya tertembak," ucap salah satu tetangga Ratih.
Seteleh penembakan itu. Alena ditangkap, dan bahkan dua orang terangga Ratih yang kesal dan geran pada Alena, menyempatkan diri menampar dan memaki wanita pembawa malapetaku itu.
"Dasar perempuan jahat," Alena diteriakan ibu-ibu sambil meleparnya dengan sandal.
Alena yang merasa dirinya terancam, hanya mampu melindungi menghindar, sementara kedua tangannya sudah diborgol dan dia siap dibawa ke kantor polisi.
"Ingat Kayesa! Ini belum berakhir! Aku akan datang lagi untuk membalas semua perbuatanmu," teriak alena, kala dirinya digiring polisi ke mobil pateoli.
"Jangan banyak bacot. Kamu akan membusuk di penjara selamanya," ujar Rayzad seraya mendorong tubuh Alena.
Sementara Kayesa tak memperdulikan ancaman Alena, dia masih sibuk menangisi musibah yang menimpa Shaga. Rizwan dan beberapa tetangga mengangkat tubuh Shaga, masuk ke dalam mobil.
Zafran dan Rayzad, mengangkat tubuhbAsaka dimasukkan ke dalam mobil. Zafran memangku kepala Asaka yang sudah tak sadarkan diri, Zafran meminta Rayzad memacu mobil dengan kecepatan tinggi.
Di mobil Rizwan, Kayesa yang menemani Shaga tak hentinya berdoa, agar Shaga bisa bertahan, sepanjang perjalanan, Kayesa menggenggam erat tangan Shaga, dia berusaha memberi kekutan pada Shaga.
"Shaga! Maafkan aku, gara-gara aku, kamu terluka," ujar Kayesa seraya menggenggam erat tangan Shaga yang terasa gemetar, karena menahan sakit.
Separoh bagian dada, baju pengantin yang Shaga pakai penuh bercak darah. Kayesa yang memangku kepala Shaga menangis terisak, mengingat pengorbanan Shaga padanya.
"Ah..." terdengar Shaga mengeluh kesakitan.
"Apa terasa sakit?" tanya Kayesa, seraya mengusap dahi Shaga yang penuh keringat dingin
Wajah Shaga terlihat sangat pucat, pasti efek darah yang keluar sudah terlalu banyak. Shaga mulai kesusahab menarik nafas.
"Shaga! Ini salahku, seharusnya kamu tidak perlu menolongku," ujar Kayesa seraya terisak, dia tak tega melihat Shaga yang meringis kesakitan.
"Jangan menangis. Aku akan baik-baik saja," ujar Shaga lirik, seraya mempererat genggaman tangannya.
Kayesa tahu, ucapan Shaga hanya ingin membuatnya tenang. Dan Shaga dengan sekuat tenaga menahan rasa sakit, hingga tubuhnya terasa menggigil. Shaga berusaha terlihat kuat dengan memberi senyuman pada wanita yang dicintainya itu.
"Dalam keadaan seperti ini. Kamu masih bilang baik-baik saja," ucap Kayesa kesal, seraya mengusap air matanya yang sempat menetes ke wajah Shaga.
"Kenapa kamu begitu bodoh, kenapa tidak kamu biarkan saja peluru itu menenbus dadaku," cerca Kayesa lagi, tangisnya semakin pecah.
__ADS_1
"Hay! Bicara apa kamu. Aku akan gila bila melihatmu yang terluka," ujar Shaga lirih. Walaupun harus terluka Shaga bahagia, dia rela melakukan itu, asal bisa menyelamatkan wanita yang dicintainya.
"Apa kamu kira aku akan baik-baik saja, melihatmu begini," ujar Kayesa lagi seraya menatap Shaga intens.
"Andai saja kamu tidak melindungi. Pastilah timah panas itu bersarang di tubuhku, bukan di tubuhmu."
Shaga tersenyum menanggapi ucapan Kayesa. Rasa sakit yang menderanya tak begitu terasa lagi, mendengar khawatiran Kayesa padanya.
"Uhuk...uhuk."
Tiba-tiba Shaga terbatuk, nyeri di dadanya terasa menusuk-nusuk, tanpa sadar terdengar ringisan kesakitan Shaga.
"Kamu yang kuat ya, sebentar lagi kita sampai," ujar Kayesa dia terus memberi kekuatan pada laki-laki itu. Dia tidak ingin lagi menyalahkan Shaga. Pastilah Shaga melakukan itu, karena Shaga sangat mencintainya.
Begitu mobil Rizwan yang membawa Shaga memasuki halaman rumah dan berhenti. Rizwan turun, beberapa perawat rumah sakit yang sudah menunggu kedatangan mereka, membantu dan mengangkat Shaga ke atas brankar. Brankar di dorong masuk ruang IGD.
Sementara Asaka yang lebih duluan sampai sudah berada di dalam IGD dan sedang di tangani dokter. Begitu melihat kedatangan Kayesa, Zafran mendekat dan spontan memeluknya.
"Esa! Maaf, atas kekacauan ini," ujar Zafran seraya mengurai pelukannya, lalu menyesap sisa air mata yang masih membekas di pipi Kayesa. Kayesa berusaha menepis tangan Zafran. Di dalam mobil tadi, Kayesa sudah memutuskan akan menikah dengan Shaga dan melupakan Zafram untuk selamanya.
"Esa! Kamu marah padaku?"
"Haruskah ku jawab pertanyaanmu? Kurasa tidak! Kamu pasti sudah tahu jawabannya," ucap Kayesa ketus, dia beranjak ingin menjauh. Namun, dengan cepat Zafran meraih tangannya.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan," ujar Kayesa sekali lagi dia menepis kasar tangan Zafran.
"Tuan Shaga, ingin bertemu nyonya Kayesa dan tuan Zafran," tiba-tiba seorang perawat keluar dari IGD. Suara perawat itu menyadar Kayesa dan Zafran dari perdebatan yang sedang terjadi, spontan keduanya menoleh dan bergerak mendekati sang perawat.
Kayesa dan Zafran mengikuti langkah perawat menuju hostipal bad yang ditempati Shaga, satu kantong darah tergantung ditiang infus dan slangnya terhubung di tangan Shaga.
"Shaga," sapa Kayesa, berjongkok di samping pembaringan Shaga, lalu menyentuh tangan Shaga.
Perlahan Shaga membuka mata, dia menatap sayu ke arah Kayesa, lalu beralih ke Zafran yang berdiri di samping Kayesa. Beberapa saat dia menatapi Kayesa dan Zafran secara bergantian.
"Kay! Aku ingin bicara sesuatu padamu," ujar Shaga dengan suara lirih.
"Bicaralah. Aku akan mendengarnya," ucap Kayesa seraya menarik kursi yang didudukinya lebih mendekat.
Uhuk.. uhuk, tiba-tiba Shaga terbatuk, dia menutup mulutnya dengan tangan dan ada bercak darah di telapak tangan itu.
"Shaga! Kamu kenapa?" Tanya Kayesa panik, saat melihat bercak darah di telapak tangan Shaga.
__ADS_1
Shaga tidak menjawab pertanyaan Kayesa, dia menjangkau tisu yang diletakkan suster di samping kiri tempat tidurnya, lalu mengelap bercak darah di tangganya dan membuang tisu itu ke tong sampah yang sudah disiapkan oleh suster didekatnya.
"Kamu mau ke mana?" Tanya Shaga seraya menahan tangan Kayesa, saat Kayesa ingin beranjak.
"Memanggil dokter," jawab Kayesa.
"Untuk apa? Aku baik-baik saja kok."
"Tapi..."
"Kamu di sini saja, temani Shaga, biar aku yang panggil dokter," Zafran menyela pembicaraan Kayesa.
"Tidak! Kalian di sini saja, uhuk... uhuk...uhuk..." Shaga kembali batuk dan kali ini darah yang keluar dari mulutnya semakin banyak.
Zafran menghentikan langkah, lalu berjongkok di samping Kayesa yang terlihat panik sambil mengambil beberapa lembar tisu dan mengelap bibir Shaga.
"Shaga! Kamu yang kuat ya. Kamu pasti sehat dan kita akan segera menikah," ujar Kayesa, tanpa sadar Zafran menatap intens ke arahnya.
Shaga menahan tangan Kayesa yang ingin kembali mengelap bibirnya. Shaga meraih jemari Kayesa dan Zafran, lalu menyatukan dalam genggamannya.
"Aku ingin kalian menikah sekarang," ujar Shaga suaranya semakin melemah.
"Menikah! Tidak Shaga. Aku hanya akan menikah denganmu." ujar Kayesa meyakinkan.
"Kay! Menurutlah! Aku mohon penuhi permintaan terakhirku," ujar Shaga, seraya genggamannya melemah.
"Tapi Shaga.."
"Sett! Aku tak ingin melihat penolakanmu," ujar Shaga seraya meletakkan jari telunjuk di bibir, memberi isyarat agar Kayesa tidak melanjutkan ucapannya.
"Baiklah. Jika itu mau mu, aku akan menikah dengan Zafran," ujar Kayesa lirih.
Mayumi dan Rayzad datang menbawa penghulu, wali dan saksi nikah. Zafran menikahi Kayesa di samping pembaringan Shaga. Ijab kabulpun berjalan dengan lancar.
"Sah?"
"Sah," jawab para saksi.
"Alhamdulillah," lirih Shaga, dadanya terasa sesak. Setelah itu dia menghembuskan nafas terakhirnya. Kayesa menangisi kepergian Shaga sebagai seorang sahabat.
"Aku akan tetap mengingat pengorbananmu. Shaga!" bisik Zafran dan Kayesa di dalam hati masing-masing.
__ADS_1
TAMAT