Pernikahan Semalam

Pernikahan Semalam
Di Hotel


__ADS_3

Part 54.


Rizwan kembali menggeleng. Memang dipernikahan Kayesa dia yang menjadi wali nikah. Tapi dia menyerah ke penghulu untuk menikahkan Kayesa.


"Kalau begitu sulit melacak siapa ayah Kiano sebenarnya," ucap Shaga.


"Apa abang juga tidak mengantongi surat keterangan tentang nikah siri Kayesa?" Tanya Shaga lagi.


Lagi dan lagi Rizwan menggeleng lemah.


"Bodohnya aku. Semua bukti tentang pernikahan itu aku tak punya." batin Rizwan.


Rizwan mencoba mengingat kembali peristiwa lima tahun lalu, saat dia mencari pinjaman pada seorang teman, temannya itu mengenalkannya pada pemilik bar dan pemilik bar itu, yang menawarkan seorang pria, yang bisa meminjaminya uang dengan persyaratan seorang gadis perawan yang mau menikah semalam denganya.


Tanpa pikir panjang, Rizwan menyetujuinya. Bahkan Rizwan menandatangai surat pernyataan pernikahan siri itu, sebelum meminta ijin pada Kayesa.


"Hanya surat perjanjian itu yang ada padaku. Tapi surat perjanjian itu sudah ku bakar, karena aku tidak ingin ibu menemukan dan mengetahui nya," ujar Rizwan seraya menyesap keringat di dahinya.


Mendengar cerita Rizwan. Shaga hanya bisa menarik nafas panjang. Naasnya nasib Kiano, begitu rumit umtuk menemuikan sosok ayah kandungnya.


"Apa Abang mengenali penghulu yang menikahkan Kayesa?" Shaga kembali bertanya.


"Pemghulu? Aku ingat penghulunya siapa? Dan di mana tinggalnya. Tapi..." Rizwan tidak meneruskan ucapannya.


"Tapi kenapa Bang?"


"Di dalam perjajian nikah siri itu. Setelah pernikahan semalam terjadi, tidak ada tuntutan apa pun, dan kami saling melupakan," jawab Rizwan putus asa. Shaga hanya bisa menatap intens ke wajah Rizwan, lalu kembali menghembuskan nafas.


"Kalau begitu kita lupakan saja siapa ayah Kiano." gumam Shaga.


"Iya! Aku tidak perduli, siapapun ayah Kiano. Sekarang aku hanya ingin menemukan Kayesa dan membawanya pulang," ujar Rizwan lagi, di berharap akan segera menemukan adik perempuannya itu.


Setelah berbincang cukup lama, Rizwan dan Shaga saling bertukar nomor ponsel, mereka berdua sepakat mencari Kayesa. Kemudian berpisah masuk ke dalam mobil masing-masing dan meluncur meninggalkan pemakaman umum.


*****


Atas perintah Mayumi melalui perantara Rayzad, pagi-pagi sekali mobil Tono sudah meluncur menuju rumah Badru, menjemput Kayesa yang akan melakukan perjalanan ke Jakarta.


"Bunda pergi dulu. Kiano tidak boleh nakal, nurut sama kakak, nenek dan kakek," ujar Kayesa seraya mengusap kepala Kiano, lalu mencium puncak kepalanya. Kiano hanya menganggukkan kepala.


Ini kali kedua Kayesa meninggalkan Kiano bersama Maeka. Kamaren dia juga pernah pergi ke kota mengurus produk halal, tidak membawa Kiano, karena tak selesai satu hari, terpaksa dia menginap dan Kiano dijaga Maeka.


"Mae! Aku titip Kia."


"Siap! Nyonya tidak usah khawatir. Kia aman sama aku dan paman," ujar Maeka.


Maeka begitu menyayangi Kiano, tak akan membiarkan siapapun yang menyakiti anak asuhnya itu. Bagi Maeka, Kiano bukan sekedar anak asuh, tapi sudah separoh nyawanya.

__ADS_1


Setelah berpamitan dengan Badrun dan istrinya. Kayesa masuk ke kamar, meraih ponsel, lalu mengambil tas tangan dan paperbag berisi dua stel pakaian.


"Hati-hati nduk," pesan Badrun pada Kayesa, Badrun yang sudah menganggap Kayesa seperti putri kandungnya.


"Iya. Paman! Kay titip Kiano," ujar Kayesa lagi, lalu beranjak ke luar, diiringi oleh Badrun dan istrinya yang sudah sepuh sampai ke teras. Di sana Tono sudah menunggunya.


Begitu melihat Kayesa keluar. Tono segera membuka pintu mobil dan menyilakan Kayesa masuk. Kayesa menurunkan kaca jendela mobil, melambaikan tangan ke arah Kiano yang berada dalam gendongan Maeka. Mobil pun meluncur meninggalkan rumah Badrun.


Tidak ada perbincangan serius di perjalanan. Kayesa lebih memilih tidur agar perjalanan jauhnya tak terasa melalahkan.


Lima jam kemudian, tepatnya pukul dua belas lewat sepuluh menit, mobil yang dikendarai Tono memasuki sebuah rumah makan. Tono menghentikan mobil dan memarkir. Kayesa terbangun dari tidurnya, kala merasa mobil berhenti.


"Esa! kita makan siang dan istirahat sebentar di sini," ujar Tono, seraya membuka pintu dan turun.


Kayesa mencantolkan tas tangan di bahunya, lalu menarik handle dan menguakkan pintu mobil, perlahan dia mengulurkan kaki turun dari mobil, setelah menutup pintu mobil, dia beranjak masuk ke rumah makan.


Kayesa memindai ruangan yang dipenuhi beberapa meja dan kursi. Tono memilih meja yang paling sudut sebelah kiri. Tono melambaikan tangan ke arah Kayesa. Namun, Kayesa memberinya isyarat, kalau dia mau ke kamar kecil dulu.


Sepeninggalan Kayesa. Tono menelepon Rayzad, mengabari kalau dia dan Kayesa istirahat sebentar untuk makan siang. Rayzad memperingatinya agar mengantarkan Kayesa dengan selamat sampai ke hotel.


"Iya! Beres," ujar Tono seraya mengakhiri sambungan teleponnya, kala melihat Kayesa sedang menuju kearahnya.


"Pilih! Mau menu apa" Tono menyodorkan daftar menu.


"Terserah Abang saja. Aku ngikut," ujar Kayesa menyerahkan kembali daftar menu.


Tak banyak cerita, Tono memesan dua porsi menu kesukaannya dan dua gelas jeruk peras dingin. Selesai makan dan istirahat beberapa menit, Tono dan Kayesa kembali ke mobil, melanjutkan perjalanan.


Tono memarkir mobil kemudian turun dan membuka pintu untuk Kayesa. Kayesa pun turun dari mobil, lalu mengikuti langkah Tono masuk ke loby hatel. Tono menemui resepsionis, setelah berbincang sesaat, resepsionis menyerahkan kunci kamar. Tono mengantar Kayesa ke kamar.


"Kamu istirahat dulu. Besok pagi akan melanjutkan perjalanan," ujar Tono.


"Emang besok ke mana?"


"Abang juga kurang tahu. Kamu besok akan dijemput oleh asisten oma Mayumi," jelas Tono lagi.


"Sudah! Masuk sana! Istirahat." titah Tono.


"Abang mau ke mana?"


"Pulang! Kamu hati-hati ya, kunci pintunya," pesan Tono, lalu dia beranjak meninggalkan Kayesa.


Sepeninggalan Tono, Kayesa masuk ke kamar mandi. Dia mencuci wajah dan membersihkan diri, setelah keluar dari kamar mandi. Kayesa mengganti baju dengan piyama yang dibawanya, lalu dia pun naik ke atas tempat tidur, berbaring, mengistirahatkan diri dan tertidur.


Kayesa terbangun kala jam menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit, dia bergegas menyambar handuk, masuk ke kamar mandi, membiarkan air hangat mengguyur tubuhnya. Lima menit kemudian ritual mandinya pun selesai.


Setelah menggunakan kembali piyamanya dan melaksanakan shalat subuh. Kayesa naik kembali ke tempat tidur, sambil menunggu jam sarapan, dia berbaring seraya menelepon putranya.

__ADS_1


"Pagi ganteng bunda," sapa Kayesa, saat wajah Kiano yang baru bangun tidur nongol di layar ponselnya.


Setelah berbincang beberapa saat, dengan Kiano dan Maeka. Kayesa memutuskan video callnya, karena ada panggilan masuk dari Mayumi.


"Pagi Oma!" Sapa Kayesa setelah mengucap salam.


"Esa! Pagi ini kamu rehat saja dulu. Nanti habis tengah hari, ada asisten oma, jemput ke hotel."


"Baik. Oma," ujar Kayesa, lalu sambungan teleponpun berakhir.


Setelah sambungan telepon terputus. Kayesa kembali menelepon Kiano. Hampir dua jam Kayesa video call dengan Kiano, dari Kiano mandi sampai selesai sarapan.


"Okay. Bunda tutup dulu teleponnya," ujar Kayesa seraya melambaikan tangan ke arah Kiano.


Setelah mengakhiri sambungan telepon, Kayesa memasukkan ponsel ke dalam dompet, dia menatap jam dinding yang tergantung satu meter dari lemari rias, jarum panjangnya sudah menunjukkan pukul delapan lewat.


Kayesa beranjak dan turun dari tempat tidur, menarik handle dan menguakkan daun pintu. Kayesa ke luar dari kamar, setelah memastikan pintu sudah terkunci, Kayesa berjalan menuju In-Room Dining untuk sarapan.


"Esa!"


Kayesa mengurungkan niat mengambil piring, dia menoleh kebelakang, mencari suara seseorang yang memanggil namanya.


"Hay! Malika!"


Kayesa memutar tubuh dan berjalan dua langkah, dia dan Malika saling berpelukan.


"Kamu resign kok nggak bilang-bilang," ujar Malika seraya mengurai pelukan.


"Kejutan resignnya," ujar Kayesa tertawa kecil menanggapi ucapan Malika.


"Ngomong-ngomong kamu ngapain di sini?" Tanya Malika seraya menyelidik.


"Aku lagi melakukan perjalanan rahasia, hehe."


"Kamu sendiri ngapain di sini?" Malika bertanya balik.


"Kita ambil sarapan dulu yuk, baru kita lanjutkan bincang-bincangnya," ajak Malika seraya mengambil piring dan menyendok nasi goreng. Kayesa mengikuti di belakang.


Setelah mengambil menu sarapan dan teh hangat, Kayesa dan Malika beranjak mencari tempat duduk yang sedikit jauh dan tidak berisik. Sambil menyantap sarapan mereka pun mulai mengobrol kembali.


Malika berada di hotel ternyata dapat job selama lima hari. Kantor Zafran ikut serta pameran dalam rangka memeriahkan ulang tahun salah satu perusahaan rekan bisnis Zafran. Dan Malika dipercaya dari kantor untuk mewakili menjaga stand pameran yang di adakan di lantai empat. Dan hari ini sudah merupakan hari ketiga.


"Esa! Sejak kamu resign dari perusahaan ini. Tuan Zafran jarang masuk kantor, semua pekerjaan selalu dihendel Ruhi dan Rayzad," ujar Malika memulai gosipnya.


"Ah! Masa sich!" Ungkap Kayesa.


"Mungkin tuan Zafran punya kesibukan lain. Bukan gara-gara aku resign. Kamu ini hanya menghuburku kan," ujar Kayesa menanggapi obrolan Malika seraya tertawa kecil.

__ADS_1


"Kamu tahu nggak ? Ada berita paling heboh?" Tanya Malika antusias, hingga menghentikan tawa Kayesa.


"Apa?" tanya Kayesa penasaran.


__ADS_2