
Part 78
Di rumah oma Fatma, Kayesa membaca chat terakhir dari Zafran, kalau Zafran akan pulang sore hari. Namun sudah memasuki senja, Kayesa yang menunggu di ruang tamu, mengintip dari balik terai jendela, Zafran belum muncul.
"Apa pekerjaan Zafran belum selesai," batin Kayesa, berkali memeriksa layar ponselnya, mana tahu ada chat Zafran masuk.
Senja merambat menjadi malam, Kayesa pun beranjak masuk ke kamar mengerjakan shalat magrib, setelah itu naik ke tempat tidur, merebahkan tubuhnya.
"Non! Makan malamnya sudah bibik siapkan," terdengar suara Maryam seraya mengetuk pintu kamar.
"Iya bik! Bentar lagi, nunggu tuan pulang," sahut Kayesa dari dalam kamar.
Dengan ekor matanya Kayesa melirik jam yang tergantung di dinding kamar, sudah menunjukkan pukul sembilan belas, tiga puluh delapan menit.
"Kenapa Zafran belum pulang juga," batin Kayesa mualai gelisah, seraya meraih ponselnya, menggeser layar ponsel, masuk ke aplikasi whatsapp, tidak ada pesan masuk dari Zafran.
Kayesa menelepon Zafra, ponselnya aktif, tapi tak diangkat, Kayesa akhirnya berdamai dengan hatinya dan mencoba memaklumi kesibukan Zafran, yang mau menyelesaikan pekerjaan, karena besok Zafran akan mengantarnya pulang jadi tidak bisa ngantor.
Mengusir rasa jenuhnya, Kayesa menelepon Maeka dan Kiano. Kiano yang mendengar bundanya mau pulang bersorak bahagia. Anak laki-laki Kayesa itu semakin ke sini semakin bijak saja. Tak terasa Kayesa menghabiskan waktu dua jam video call dengan Kiano, dari layar ponsel sudah terlihat Kiano menguap berkali-kali.
"Kiano bobok dulu ya. Bunda tutup teleponnya," ujar Kayesa seraya melambaikan tangan, lalu mengakhiri panggilannya teleponnya.
Saat menutup panggilan telepon, tanpa sengaja Kayesa melihat store status whatsapp Zafran. Mata Kayesa membola, kala melihat Zafran begitu mersa di video itu. Berkali-kali Kayesa mengulang, karena takut salah dengar dan salah lihat.
Suara Zafran di video itu, dengan jelas dan sempurna mengatakan "Alena istriku tersayang, i love you so much" lalu Alena menyodorkan pipi kiri dan pipi kanan ke arah Zafran, Zafran dengan hangat menyambut kedua pipi Alena dan mengecupnya dengan mesra.
"Kamu jahat Zafran!" Kayesa *******-***** dan memukul-mukul bantal guling geram.
"Kenapa aku begitu bodoh, masih mempercayai laki-laki seperti Zafran," batin Kayesa, matanya berkaca-kaca.
Hati Kayesa remuk redam, tak dapat berkata-kata, dia menangis tergugu, cukup air mata yang mengalir deras yang mewakili perasaannya sekarang.
Suasa hati Kayesa tak bisa dijelaskan. Marah, benci, dendam menggumpal menjadi satu, ingin rasanya dia berteriak memaki dirinya sendiri, karena terlalu lemah dan bodoh.
"Mana ada seorang Zafran, yang mau mencinta wanita janda, punya anak dan hanya clearning service. Sadar Kayesa! Sadar!" Kayesa mengutuki dirinya sendiri, karena telah berani berharap terlalu tinggi.
"Aku harus kuat. Aku harus pergi dari sini, sebelun Zafran datang dan mentertawakanku," batin Kayesa seraya turun dari tempat tidur dan menyeka air matanya.
Kayesa mengemasi barang-barangnya, memasukkan ke dalam travelbag dan tas tangannya. Sambil menarik travelbag, Kayesa ke luar dari kamar, berjalan menuju ruang tamu.
"Non mau ke mana?" Tanya Maryam, saat melihat Kayesa berjalan ke arah pintu keluar.
__ADS_1
"Mau pulang, terima kasih sudah mengijinkan ku beristirahat di rumah ini," Kayesa menarik handle pintu.
"Non! Kenapa tidak besok pagi saja. Ini sudah malam," ujar Maryam risau, berusaha menahan langkah Kayesa, dia menatap jam dindang yang sudah menunjukkan pukul dua puluh dua lewat tiga puluh lima menit.
Kayesa tidak memperdulikan ucapan Maryam, dia memutar handle dan menguakkan daun pintu. Tanpa berpikir panjang Kayesa menyeret langkah kakinya ke luar dari rumah oma Fatma. Walaupun di luar langit lagi tidak bersahabat, mendung, berangin, dan sesekali terdengar bunyi petir yang diiringi sambaran kilat.
"Non! Tunggu," teriak Maryam mengejar langkah Kayesa yang sudah sampai di pintu gerbang.
"Non! Pakat jaket ini, di luar dingin dan mau hujan," Maryam menyerahkan jaket levis berwarna hitam.
"Terima kasik. Bik!" Kayesa menerima jaket pemberian bibik dan memakainya.
"Hati-hati. Non!"
Maryam menatap kepergian Kayesa, hingga punggungnya menghilang di balik pintu pagar. Saat menyadari Kayesa sudah jauh dari pandangannya, Maryam berlari masuk mengambil ponsel dan menelepon nomor kontak Zafran.
"Tuan! Angkat dong." Maryam menggerutuk tak jelas, karena berkali Zafran dihubungi, ponselnya aktif tapi ada yang angkat.
Sementara Kayesa terseok-seok menyusuri trotoar jalan, sambil menyeret travelbagnya, air matanya terus mengalir deras menganak sungai di pipi, dia tak tahu harus ke mana, yang penting sekarang di harus menjauh dari rumah oma Fatma.
Malam semakin menanjak, jalan pun mulai sepi. Kayesa masih berjalan menyusuri trotoar. Setelah memastikan dia sudah jauh dari rumah oma Fatma, dia pun berhenti sejenak, mengatur nafas yang ngos-ngosan. Begitu merasa capeknya sudah berkurang, Kayesa mengambil ponselnya, dia membuka aplikasi gojek.
Buyurrrr... Baru saja Kayesa ingin mengorder gocar, hujanpun mencurah dengan lebatnya, Kayesa setengah berlari menyeret travelbagnya, mencari tempat berteduh di emperan sebuah toko yang sudah tutup.
Hujan tak juga kunjung reda, jam di layar ponsel Kayesa sudah melewati angka sebelas. Kayesa mencoba mengorder kembali taxi online. Namun tak ada jawaban, mungkin karena sudah terlalu malam dan hujan, hingga tak ada driver yang bersedia.
"Ya Tuhan. Aku harus bagaimana," batin Kayesa memindai keadaan disekelilingnya, sepi tak ada satu orang pun yang terlihat, dia bergedik seram.
Hembusan angin malam dingin terasa membelai kulit wajah Kayesa, hujan sedikit mereda, Kayesa beranjak dari emperan, lalu berdiri dipinggir jalan, dia harus mencari tumpangan, untuk sampai ke penginapan.
Dari kejauhan, terlihat sebuah mobil mendekat, Kayesa melambaikan tangan. Namun, mobil itu melaju melewatinya dan meluncur jauh. Dua puluh meter dari Kayesa, mobil yang melaju tadi berhenti, kemudian memutar arah, berjalan pelan dan berhenti tepat di depan Kayesa.
"Alhamdulillah," batin Kayesa, dia berdoa dalam hati, semoga pemilik mobil mau mengantarnya ke sebuah penginapan atau hotel.
Pintu mobil terbuka, terlihat sepasang kaki menjulur turun, seorang laki-laki memakai jaket warna abu-abu dan masker keluar dari pintu mobil, sambil membuka sebuah payung dan mendekat ke arah Kayesa.
"Kay! Kenapa malam-malam begini kamu berkeliaran di jalan." Sapa laki-laki itu.
Lamat Kayesa menatap laki-laki yang menyebut namanya, keremangan malam ditambah masker yang dipakai laki-laki itu, membuat Kayesa susah mengenalinya. Dan kala laki-laki itu melepaskan maskernya, Kayesa pun terkejut.
"Shaga!" Kayesa membatin, rasa senang membuat Kayesa lupa diri dan spontan memeluk laki-laki itu.
__ADS_1
"Aku..."
"Ayok masuk, nanti saja ceritanya di dalam mobil," ujar Shaga meraih tangan Kayesa.
"Travelbagku," ujar Kayesa menahan langkah Shaga, dan menarik pegangan Shaga hingga terlepas, Kayesa berlari ke emperan toko mengambil travelbagnya.
Shaga menyusul Kayesa dan mengambil alih gagang travelbag dan memasukkan travelbag itu di kursi belakang, lalu meminta Kayesa duduk di sampingnya. Mobil Shaga pun meluncur.
"Kamu dari mana dan mau ke mana?" Tanya Shaga sambil melirik Kayesa dari kaca spion, walau tak terlihat jelas, tapi Shaga tahu kalau wajah Kayesa sembab seperti orang habis menangis.
Kayesa menoleh ke arah Shaga, kala melihat laki-laki itu, debar jantung lima tahun yang lalu, masih sama dia rasakan sekarang, bedanya ada rasa sakit mengiringi debaran itu.
"Antarkan saja aku ke penginapan terdekat," jawab Kayesa, dia tidak akan bercerita pada Shaga, tentang apa yang barusan dia alami. Shaga tidak boleh tahu kesedihannya.
Dua puluh menit kemudian, mobil yang dibawa Shaga memasuki area parkir sebuah hotel. Shaga memarkir mobilnya, lalu turun, mengeluarkan travelbag Kayesa dan dua payung. Hujan yang tadi mulai reda malah lebat kembali.
"Pakailah payung, hujannya lumayan lebat," Shaga menyodor satu payung.
"Terima kasih sudah mengantarku," ujar Kayesa begitu sudah masuk ke lobi hotel, Kayesa meraih gagang travelbagnya. Namun, Shaga mencegahnya, lalu mengajak Kayesa masuk.
"Selamat malam Tuan dan Nyonya," sapa resepsionis ramah.
"Saya mau pesan kamar dua," ujar Shaga.
Shaga yang baru dari luar kota mengurus pekerjaannya, juga ingin istirahat karena dia merasa capek dan memutuskan untuk meneruskan perjalanannya besok pagi.
"Maaf Tuan. Kamar yang ready sisa satu."
"Baiklah, kalau begitu untuk dia saja," ujar Shaga seraya menunjuk ke arah Kayesa.
Setelah melunasi pembayaran, Shaga mengantar Kayesa, sampai di depan pintu kamar, Shaga membuka pintu, masuk seraya menyeret travelbag dan meletakkan di samping tempat tidur.
"Ceritakan padaku. Apa yang terjadi?" Tanya Shaga seraya menyentuh bahu Kayesa dan menatap intens wajahnya.
"Bisakah kamu pergi sekarang. Aku capak dan ingin istirahat," pinta Kayesa, dia tak menjawab pertanyaan Shaga.
"Aku akan pergi. Simpan nomor ponselku," ujar Shaga.
Kayesa merogoh tas tangannya, mengambil ponsel, lalu mengetik angka-angka yang disebut Shaga. Setelah Shaga memastikan Kayesa telah menyimpan nomor ponselnya. Shaga meminta Kayesa miscal ke nomornya, agar dia juga mendapatkan nomor ponsel Kayesa.
"Telepon aku, jika kamu butuh sesuatu, sekarang rehatlah" ujar Shaga, seraya melangkah menuju pintu kamar.
__ADS_1
"Jika kamu capek dan lelah, pintu hatiku masih terbuka lebar untukmu. Kamu boleh beristirahat di dalamnya," ujar Shaga lagi, lalu dia pamit dan melangkah pergi.