Pernikahan Semalam

Pernikahan Semalam
Tertangkap


__ADS_3

Part 106


"Esa! Kamu tetap bertahan di sana ya. Sampai aku bawa Zafran menemuimu."Terdengar suara Rayzad dari panggilan telepon.


"Apa tuan sedang bersama tuan Zafran? Kenapa nomor kontaknya tidak bisa dihubungi?" tanya Kayesa.


Rayzad menjelaskan pada Kayesa, kalau Zafran sedang ada pertemuan dengan orang penting, sehingga tidak bisa diganggu.


"Sebegitu pentingnyakah, hingga tak bisa memberi kabar padaku?"


"Esa! Zafran itu orang penting. Jadi kamu harus ngerti, jika dia tidak sempat menghubungimu, bukan berarti kamu tidak berarti baginya," ujar Rayzad.


"Baiklah! Aku paham," jawab Kayesa, seraya menutup panggilan telepon, Dia melangkah masuk kembali dan duduk di kursi yang tadi ditempatinya. Hati Kayesa sedikit lega.


"Kak! Tunggunya di dalam saja, bisa sambil nonton dan rebahan," ujar si pemilik studio.


Kayesa menuju ruangan yang ditunjuk pemilik studio, dia duduk di sofa. Tiga puluh menit sudah Kayesa duduk di situ. Namun, belum ada tanda-tanda kedatangan sosok Zafran. Kayesa mulai merasa bosan, sambil menarik nafas panjang Kayesa meluruskan kaki dan menumpukan kepalanya di sandaran lengan sofa.


Untuk mengusir rasa bosan, Kayesa memainkan layar ponselnya. Beberapa Kali dia menguap, karena rasa katuk mulai menyerangnya, Kayesa pun memejamkan mata, tanpa disadari ponsel di tangannya terlepas dan tergeletak di dadanya. Kayesa tak bisa menghindar, beberapa detik kemudian dia pun tertidur.


Pemilik studio menarik handle dan menutup pintu ruangan, saat melihat Kayesa tertidur. Satu jam kemudian, Kayesa terbangun, karena getaran ponsel yang menggaruk-garuk di dadanya. Sambil menggeliat sempurna, Kayesa membuka matanya.


"Aku ketiduran," batin Kayesa, spontan duduk.


Kayesa mencari-cari ponselnya yang terjatuh di kolong sofa, Kayesa berjongkok dan berusaha menggapai-gapai tangannya, untuk bisa menggapai dan mengambil ponselnya


"Ini dia," batin Kayesa, lalu memeriksa panggilan masuk.


"Kak Ratih," batinnya.


Dengan ibu jari, Kayesa menggeser gagang telepon berwarna hijau, dan memanggil balik nomor kontak Ratih. Begitu terhubung, Ratih menanyakan tentang Zafran.


"Belum kak! Tadi Rayzad telepon aku suruh tunggu di sini sampai mereka datang," jelas Kayesa.


"Kay! Sudah tiga jam lebih kamu di sana. Kamu masih percaya mereka akan datang?"


Ucapan Ratih menyadarkan Kayesa. Dia menatap jam yang ada di layar ponselnya, benar kata Ratih, kalau dia sudah tiga berada di studio itu.

__ADS_1


"Sepertinya aku terlalu bodoh, karena berharap bisa menikah dengan laki-laki tajir seperti Zafran," batin Kayesa, ada rasa perih mengiris-iris ulu hatinya, Kayesa menarik nafas panjang, dan memutuskan untuk pulang.


"Tunggu di sana kakak jemput, sepuluh menit kakak sampai," ujar Ratih seraya menutup panggilan telepon.


Begitu panggilan telepon terputus, mata Kayesa melihat notifikasi pesan whatsapp dari nomor kontak Zafran masuk.


(Jangan mimpi ya. Aku tak akan menikah dengan wanita miskin dan tak berpendidikan seperti kamu. Dasar tak tahu malu!)


Berulang Kayesa membaca pesan yang terkirim dari whatsapp Zafran. Sekali lagi diulangnya mengecek siapa pengirimnya, Kayesa berharap matanya salah lihat, ternyata benar, yang mengirim pesan itu dari whatsapp Zafran.


"Zafran! Aku bersumpah akan membencimu selamanya," ucap Kayesa seraya mengusap wajah dengan kedua tangannya.


Tiba-tiba, debar jantung Kayesa berdetak kencang, dadanya terasa sesak. Kedua kelopak matanya memanas, ada sesuatu yang berdesakan keluar dari netranya. Kayesa menangis terisak sambil membekap wajah dengan kedua tangannya.


"Kay! Kamu kenapa?" Tanya Ratih, begitu sampai ke studio langsung mencari Kayesa, dan dilihatnya Kayesa sedang menangis.


"Kak Ratih! Zafran..." Kayesa tidak melanjutkan ucapannya, dia menyodorkan layar ponselnya yang berisi pesan dari Zafran.


Bergetar tangan Ratih yang sedang memegang ponsel Kayesa, kala membaca pesan whatsapp tersebut. Ratih merengkuh tubuh Kayesa dan membawa dalam pelukannya, dibiarkannya Kayesa menangis beberapa menit.


"Kamu yang sabar. Kay!"


"Iya kak! Aku yang bodoh terlalu mudah percaya pada Zafran."


"Kamu tidak bersalah dalam hal ini. Ini salah Zafran!" Ucap Ratih geram.


Ratih menggamit tangan Kayesa, membawanya ke luar dari ruangan itu. Setelah berpamitan dengan pemilik studio, Ratih dan Kayesa pergi menjauh dari studio itu, langsung menuju tempat parkir.


*****


Sementara Rayzad yang sudah sampai ke kediaman Shaga, dia tidak menemukan Shaga. Rumah Shaga tertutup rapat dan terkunci.


"Sepertinya Shaga tidak ada di rumahnya," ujar Rayzad, lalu dia masuk kembali ke mobil yang diparkirnya di pinggir jalan.


Baru saja Rayzad menyentuh pedal gas, dia melihat sebuah mobil yang sangat familiar di matanya, melewati mobilnya dan sekilas dari kaca mobil yang terbuka separoh, Rayzad melihat nyonya Asaka ada di dalam mobil itu.


"Kenapa nyonya Asaka ada di mobil Alena," batin Rayzad.

__ADS_1


Pedal gas ditarik Rayzad, mobilnya segera meluncur mengikuti mobil yang membawa Asaka dari jarak lima meter. Asaka tidak akan curiga, kalau Rayzad sedang mengikutinya, karena mobil yang dikendarai Rayzad sekarang, bukan mobil yang biasa dibawanya.


"Mau ke mana nyonya Asaka?" Batin Rayzad, saat melihat mobil yang membawa Asaka meluncur ke arah Barat, bukan arah pulang ke apartement Zafran.


Mobil yang membawa Asaka meluncur lagi dan membelok ke jalan sebelah kiri. Rayzad pun menuju jalan yang sama, saat mobil yang membawa Asaka memasuki sebuah pintu gerbang, Rayzad memelankan mobilnya dan berhenti lima meter dari pintu gerbang.


Perlahan Rayzad menurunkan kaca mobilnya, menatap lurus ke pekarangan rumah, dari sela-sela trali pagar, Rayzad melihat Asaka turun dari mobil, diiringi oleh dua orang bodyguard. Setelah berbicara dengan dua laki-laki bertato itu, Asaka masuk ke dalam rumah bercat coklat muda itu dan dua laki-laki itu menghilang di teras samping.


"Yuk turun! Kita lihat! Apa yang sedang Asaka lakukan di rumah itu," ajak Rayzad pada Ruhi dan Malika.


Perlahan Rayzad membuka pintu mobil dan menurunkan kakinya. Sementara Ruhi dan Malika saling berpandangan, ada keraguan di hati kedua wanita itu, ikut turun atau menunggu di mobil saja.


Keraguan Ruhi dan Malika buyar, kala Rayzad mengetuk pintu mobil dan memberi isyarat dengan gerakan tangan, agar mereka berdua turun. Sekali lagi Ruhi dan Malika saling berpandangan, lalu membuka pintu mobil, turun dan mengikuti langkah kaki Rayzad.


Perlahan tapi pasti Rayzad mendekati rumah coklat muda itu. Rayzad memindai pekarangan rumah yang berserakan dengan daun-daun kering, rumah yang sudah terlihat tua, kusam dan tidak terawat, pastilah sudah lama ditinggal oleh pemiliknya.


Sementara Ruhi dan Malika berjalan sambil bergandengan tangan. Kedua melangkah sangat hati-hati, agar tidak menginjak salah satu daun kering dan menimbulkan bunyi.


Rayzad menyusuri jalan samping, di mana kedua bodyguard tadi menghilang. Ruhi dan Malika yang berada satu meter di belakang Rayzad, harap cemas.


"Sini!" Rayzad memberi isyarat dengan gerakan bibirnya dan melambaikan tangan, agar Ruhi dan Malika mendekat.


Ruhi dan Malika berinsut pelan, lalu berdiri di samping Rayzad yang sedang mengintip dari balik kaca yang gordennya tersingkap sedikit. Walaupun hanya bersela seujung jari. Namun, aktifitas di dalam sangat jelas, dan Rayzad membidikkan kamera ponselnya ke dalam ruangan di mana Asaka dan dua orang bodyguardnya sedang beraksi.


Mata Ruhi dan Malika membala, saat menyaksikan Asaka meminta ke dua bodyguardnya, untuk membaluri wajahnya dengan sesuatu, agar terlihat kalau dia habis dihajar dan dipukuli hingga babak belur, lalu kedua bodyguard itu mengikat kedua tangan Asaka.


"Apa yang sedang nyonya Asaka rencanakan dan lakukan?" Tanya Malika berbisik.


"Entah! Aku pun tidak tahu," balas Ruhi, juga berbisik.


Rayzad mengakhiri rekamannya, lalu memasukkan ponsel ke saku celananya. Sementara Ruhi dan Malika masih mengintip ke dalam, Asaka dibawa oleh kedua bodyguardnya menaiki anak tangga.


"Jangan bergerak!" Terdengar suara bentakan.


Tentu saja Rayzad, Ruhi dan Malika terkejut, spontan ketiga menoleh ke arah suara. Dua orang laki-laki bertubuh kekar sedang menodongkan senjata ke arah mereka.


"Tenang!" Bisik Rayzad sambil mengangkat kedua tangannya, tanda dia menyerah.

__ADS_1


__ADS_2