
Part 85
Di dalam mobil Zafran
"Nyonya mau diantar ke mana?" Tanya Zafran kepada Asaka yang duduk di kursi belakang.
Zafran menoleh ke belakang, melihat ekspresi kaget wajah mamanya. Hati Zafran berkata tak tega, Namun, dia bersikap cuek dan tak perduli. Jika ingin merubah karakter mamanya.
"Ma! Maaf aku," batin Zafran dalam hati.
"Nyonya? Kamu panggil mama dengan sebutan Nyonya?" sangat jelas kalau Asaka kecewa.
"Iya. Aku akan memanggilmu Nyonya, sampai ingatanku pulih kembali."
Seraya kembali ke posisi awal, Zafran membuang pandangannya,.beralih ke depan, dia takut kebohongannya terbaca oleh Asaka.
"Zafran! Aku ini mamamu. Kenapa kamu masih meragukan mama." Akasa berusaha meyakinkan Zafran dan meminta pembelaan Rayzad.
"Untuk saat sekarang, aku tidak bisa mempercayai siapapun, kecuali dia." Zafran menoleh ke arah Kayesa, begitu juga Kayesa menatap ke arahnya. Zafran sengaja mengatakan itu, agar Asaka tahu, kalau hanya Kayesa yang ada dipikirannya sekarang.
Terdengar Asaka mendengus kesal, lalu dia menatap punggung Kayesa, di dalam hati terucap sumpah serapah, mengapa harus wanita murahan itu yang diingat dan dipercayai Zafran.
"Jadi, kalau Nyonya mau kuanggap sebagai mama, Nyonya harus mengikuti apapun kataku, hingga aku kembali pulih, jika tidak, Nyonya boleh pergi keluar dari mobil ini."
Ucapan Zafran kali ini, membuat Asaka berubah pikiran, dia semakin percaya, kalau Zafran amnesianya sangat parah. Zafran berani mengancam dan mengusirnya, Zafran menganggapnya orang lain, walaupun sudah berkali Asaka mengingatkannya. Namun, Zafran tetap pada pendiriannya.
"Rayzad apa kamu tahu rumah Nyonya yang ikut di mobil kita?" tanya Zafran seraya menoleh ke arah Rayzad.
"Tahu. Tuan!"
"Antarkan dia ke rumahnya. Aku tidak mau dia ikut bersamaku dan membuat kekacauan di rumah Kayesa." Titah Zafran.
Mendapat perintah dari Zafran, Rayzad membelokkan mobil ke arah kiri menuju apartement Zafran, seperlima menit kemudian Rayzad pun sampai ke apartemen, Rayzad memarkir mobil, lalu turun, membuka pintu mobil untuk Asaka.
"Silahkan turun Nyonya," ujar Rayzad.
Setengah hati Asaka menjulurkan kakinya, lalu turun dari mobil. Sebenarnya Asaka ingin ikut Zafran, agar tahu di mana rumah Kayesa, tapi demi menjaga kestabilan emosi Zafran, dia pun menirut. Sementara Zafran sedikit pun tidak menoleh ke belakang. Dia sengaja melakukan itu, agar mamanya paham, kalau apa yang dikatakannya tidak main-main.
Setelah Asaka keluar, Rayzad menutup kembali pintu mobil, memutar masuk ke dalam mobil, duduk kembali di posisi awal. Menekan pedal gas dan meluncur meninggalkan Asaka yang sedang berdiri menatap kepergian mobil Rayzad.
Kedatangan Asaka ke apartement, tidak luput dari pantauan Mayumi. Mayumi sengaja pulang, agar di saat Kayesa datang ke rumah sakit, tidak bertemu dengannya, karena Mayumi belum ingin mengenalkan dirinya sebagai oma Zafran. Untuk sekarang biarlah Kayesa mengenalnya hanya sebatas rekan kerja.
"Sudah pulang?" Tanya Mayumi, saat Asaka masuk ke apartement.
"Iya! Aku ke kamar dulu, mau rehat," ujar Asaka lalu masuk ke kamarnya, Asaka malas bicara dengan mamanya, karena ending pembicaraan selalu berakhir dengan perdebatan.
__ADS_1
Melihat Asaka pulang sendiri tanpa Alena, membuat Mayumi bertanya-tanya. Karena biasanya dua wanita itu tak terpisahkan.
"Nanti saja ku cari info pada Rayzad," batin Mayumi, dia pun kemudian masuk ke kamar untuk beristirahat.
*****
Di rumah Rizwan.
"Bunda," teriak Kiano, begitu melihat Kayesa turun dari mobil. Kiano berlari ke arah Kayesa, lalu merentangkan tangannya meminta digendong Kayesa.
"Ayah."
Spontan Kiano meluncur turun dari gendongan bundanya, dan setengah berlari mendapati Zafran. Zafran ingin sekali berteriak memanggil Kiano, memeluk dan menggendongnya karena rindu yang menggebu pada darah dagingnya. Tapi itu tak dilakukannya, karena dia sedang berperan lupa ingatan. Jadi dia hanya menatap Kiano dengan perasaan kacau.
"Ma-maaf Tuan. Ini putra saya, dari awal kenal dengan Tuan, dia memanggil Tuan dengan sebutan ayah." Kayesa menjelaskan.
"Oh! Putramu ganteng banget. Aku ingin sekali jadi ayah. Apa boleh?" Tanya Zafran, seraya membingkai wajah Kiano.
Zafran tidak perlu menunggu jawaban dari Kayesa, dia memeluk Kiano kecil, lalu menciuminya berkali-kali, kemudian mengangkat tubuh Kiano dan berputar-putar. Seperti biasa Kiano akan tertawa terbahak-bahak.
"Kiano sayang! Sini ikut bunda. Ayah belum sehat. Biar ayah istitahat dulu ya."
Kayesa mengambil Kiano dari gendongan Zafran. Namun, Zafran menolaknya, rasa rindunya belum terobati. Dia masih ingin berlama-lama dengan Kiano.
"Aku sudah sehat. Biarkan aku bermain dengan putra kita," bisik Zafran di telinga Kayesa.
"Putra kita," gumam Kayesa.
"Putraku," Kayesa membalas bisikan Zafran.
"Putramu, putraku juga," ujar Zafran tak terima, dia pun membalas bisikan Kayesa.
Mendengar keriuhan, Ratih dan putrinya ke luar ingin melihat siapa yang datang. Melihat Ratih menggandeng tangan Dea, Kiano turun dari gendongan Zafran, lalu menarik tangan Zafran mendekati gadis kecil itu. Zafran mengerti, kalau Kiano ingin mengenalkannya pada anak perempuan itu.
"Cantik siapa namanya?" Tanya Zafran seraya berjongkok mensejajari tinggi Dea.
"Aiba Dea Putli (putri). Om, bisa di panggil Aiba, Dea atau putli (putri)" jawab Dea dengan suara cadel yang menggemaskan.
Saat Dea menyebut nama panjangnya, Kayesa baru teringat, awal dia naik ke rumah ini, kala mencari kosan. Ratih mengenalkan padanya dengan panggilan Aiba.
"Pantas kemaren kakak bilang nama si cantik ini Aiba," celetuk Kayesa.
"Emang kita pernah ketemu sebelumnya?" Tanya Ratih seraya mengingat-ingat.
Kayesa pun menjelaskan, kalau beberapa bulan lalu dia pernah ditemani Iyan menemui Ratih. Setelah mendengar penjelasan Kayesa, barulah ingatan Ratih sedikit jelas.
__ADS_1
"Ayok sini sama Om. Kita main dengan abang Kia," ujar Zafran seraya meraih tubuh Dea mengambil dari gendongan ibunya. Anehnya si Dea kecil dengan mudah ikut Zafran yang sok akrab.
"Kak! Aku ajak Dea ke taman bermain ya," Zafran meminta ijin membawa Dea.
Ratih memandang ke arah Kayesa, ada keraguan di hatinya, membiarkan Dea pergi dengan orang asing yang baru di kenalnya.
"Ayah! Kia mau ikut."
"Yee... Pastinya anak ayah ikut," ujar Zafran seraya merengkuh tubuh mungil Kiano. Sekarang kedua anak kecil itu berada dalam gendongan Zafran.
"Ayah? Apa laki-laki itu..."
"Maeka! Tolong jaga dan awasi Kiano dan Dea, mereka mau pergi ke taman bermain, bersama tuan Zafran dan Rayzad," ujar Kayesa meminta Maeka ikut serta.
Ratih menghentikan ucapannya, karena Kayesa menyela, tidak memberi celah kepadanya untuk meneruskan pertanyaan.
"Tuan Zafran itu bos di kantor tempat aku bekerja dulu. Dia memang suka dengan anak-anak dan mengijinkan Kiano memanggilnya ayah." Kayesa menjelaskan pada Ratih agar tak ada kesalah pahaman.
"Tuan Zafran baik ya. Bisa akrab dengan karyawan dan anaknya. Tidak semua bos bisa bersikap seperti itu."
"Tapi, sekilas kakak lihat Kiano dan tuan Zafran ada kemiripan."
"Mirip? Mirip dari mananya?" Tanya Kayesa.
Ratih orang kesekian kalinya mengatakan Zafran dan Kiano mirip. Kayesa tidak pernah memperhatikan secara deteil, kemiripannya itu dibagian mana. Karena penasaran Kayesa mengambil ponselnya, kemudian memperhatikan foto Kiano sedang di gendong Zafran.
"Ya Tuhan. Hidung, mata dan dagu Kiano sama persis dengan milik Zafran. Pantas saja orang-orang bilang mereka berdua sangat mirip. Ini pasti hanya kebetulan saja," batin Kayesa, dia tidak mau berspekulasi.
"Pasti hanya kebetulan saja. Kak!" Ucap Kayesa pada Ratih.
"Atau itu tanda, kalau kamu berjodoh dengan tuan Zafran," celetuk Ratih menggoda adik iparnya, tak ayal godaan Ratih membuat wajah Kayesa merah padam.
Tawa Kayesa berderai mendengar celetukan Ratih. Dia berusaha menutupi debaran jantungnya, karena salah tingkah dengan ucapan kakak iparnya. Entahlah! Kayesa masih ambigu dengan pikiranya sendiri. Mungkinkah dia bisa berjodoh dengan Zafran? Laki-laki berkasta itu, sementara dia hanya rakyat jelata.
"Di dunia ini tidak ada yang mustahil. Jika Tuhan berkehendak, pasrahkan saja semua sama Tuhan," ujar Ratih lagi seakan tahu, apa yang sedang dipikirkan Kayesa.
"Kalau Shaga. Bagaimana menurutmu?" tiba-tiba Ratih menyeletuk soal Shaga.
Walapun baru mengenal Shaga, tapi Ratih melihat, kalau Shaga, laki-laki yang baik, sopan dan ramah.
"Maksud kakak?" Kayesa balik bertanya.
"Apa Shaga termasuk tipe cowok idamanmu?"
"Heee..." belum sempat Kayesa menuntaskan ucapannya, terdengar suara langkah kaki masuk.
__ADS_1
"Shaga!" Sapa Kayesa sedikit kaget. Orang yang dibicarakannya, tiba-tiba muncul.