Pernikahan Semalam

Pernikahan Semalam
Kehilangan lagi


__ADS_3

Part 79


Kayesa menatapi kepergian Shaga, dengan perasaan yang tak bisa diterjemahkan, hingga punggung Shaga menghilang di balik tikungan koridor hotel.


"Shaga! Kenapa kamu masih bagitu baik padaku, setelah kamu kuperlakukan dengan buruk," guman Kayesa menarik nafas panjang. Kayesa menutup pintu dan menyandarkan punggungnya ke daun pintu seraya meraup habis wajah dengan kedua tangannya.


Diluar hujan masih turun dengan lebat, sama derasnya air mata Kayesa, Kayesa sudah berusaha menahan agar kristal-kristal bening itu tak lagi bergulir. Namun, tetap saja menetes. Kali ini dia tidak tahu, air matanya untuk siapa, untuk Shaga yang masih terus mencintainya, atau untuk Zafran yang telah menggores luka di hatinya.


Lama dia terisak, membiar air mata bercucuran membasahi bajunya. Setelah merasa puas menangis, barulah Kayese menyeka wajahnya dengan ke dua tapak tangan. Perlahan Kayesa beranjak masuk ke kamar mandi, membasuh muka dengan air dingin, lalu berdiri di depan cermin, pantulan wajah terbias dari cermin, sembab dan kusut, karena dia terlalu banyak mengeluarkan air mata.


"Key! Kenapa kamu serapuh ini sekarang? Kamu bisa Kay! Pasti bisa," batin Kayesa menyemangati dirinya sendiri.


Setelah membersihkan diri, Kayesa keluar dari kamar mandi, mengganti bajunya yang terasa lembab dengan yang lebih kering. Kayesa naik ke tempat tidur, sambil berbaring telentang, mata Kayesa menatap langit-langit kamar.


Sekelibat bayangan Zafran dan Alena mengusik kembali pikiran Kayesa. Air mata Kayesa kembali bergulir, padahal dia sudah berjanji pada dirinya untuk tidak menangisi Zafran lagi. Namun, air mata yang dengan susah payah dibendung, gagal dipertahankan.


Kayesa meraih bantal guling, menutup rapat wajahnya, berusaha menepis bayangan Zafran dan Alena, semakin dia ingin menghilangkan bayangan dua makhluk itu, semakin muncul, seakan Zafran dan Alena sedang mentertawakannya.


"Ya Tuhan. Amnesiakan ingatanku tentang Zafran," guman Kayesa, lamat-lamat bibirnya melantunkan doa-doa, hingga Kayesa terlelap dalam tangisan.


******


Sementara Zafran yang sedang berusaha menekan angka-angka, untuk mereka pasword pintu tak juga berhasil. Tanpa sengaja, Zafran terpandang telepon hotel di atas nakas, bergegas Zafran mendekat, mengangkat gagang telepon, dan menekan beberapa angka menelepon resepsionis.


Beberapa menit kemudian seorang karyawan hotel datang dan mereset ulang pasword pintu yang sudah dikacaukan Zafran. Begitu pintu terbuka, Zafran ke luar kamar seraya mengucapkan terima kasih.


Secepat kilat Zafran ke luar dari kamar, bagai orang yang terlepas dari penjara, dia berlari ke cafe, tanpa menghiraukan Alena, menuju meja tempat dia dan Alena makan, mencari-cari ponselnya. Namun sudah tidak ada di sana.


"Apa ponselku masih sama mama," batin Zafran seraya mengingat-ingat.


"Tuan Zafran! Apa Tuan sedang mencari ponsel Tuan?" Tanya seorang office boy yang sedang membersihkan meja.


"Iya," jawab Zafran.


"Tadi saya titip di resepsionis. Tuan," ujar office boy itu.


Setelah mengucapkan terima kasih, Zafran berlari ke resepsionis. Begitu mendapatkan ponselnya, Zafran langsung mengecek whatsapp, ada beberapa panggilan masuk, termasuk panggilan Kayesa. Zafran segera menghubungi Kayesa.

__ADS_1


"Esa! Kenapa ponselmu tidak aktif," gumam Zafran berdecak kesal.


"Aku harus segera pulang," gumam Zafran seraya melangkah menyusuri koridor hotel, menuju lift dan turun kelantai dasar.


Begitu keluar dari hotel, Zafran baru ingat kalau mobilnya masih di kantor, karena waktu ke hotel dia menumpang mobil mamanya. Zafran menggulir layar ponselnya, mencari nomor kontak Rayzad.


"Ray! Angkat teleponnya," guman Zafran.


Berkali Zafran menghubungi Rayzad, tak juga teleponnya terhubung, aktif tapi tak diangkat. Zafran menatap jam di layar ponselnya, menunjukkan pukul tiga dini hari. Pastinya Rayzad sedang terbuai mimpi.


Zafran masuk kembali ke hotel, menemui resepsionis dan meminta salah satu karyawan hotel mengantarnya pulang. Resepsionis menelepon salah satu karyawan hotel dan meminta Zafran menunggu beberapa menit.


Dreet... Dreet... Dreet, ponsel Zafran bergetar, Zafran menatap layar ponselnya yang menyala di sana tertera nama.


"Hallo Tuan. Ada apa malam-malam menelepon?" Tanya Rayzad, begitu sambungan telepon terhubung.


"Jemput saya sekarang, dalam hitungan sepuluh menit, jika tidak sampai, siap-siap besok kehilangan pekerjaan " ancam Zafan.


"Astagfitullah. Tuan! Hari hujan," sanggah Rayzad membela diri.


Setelah mendapat telepon dari Zafran, Rayzad melompat dari tempat tidur, memakai jas hujan dan helm, lalu mengambil kunci motor. Rayzad mengeluarkan motor dari garasi, menerobos hujan lebat, memacu motornya dengan kecepatan tinggi, sepuluh menit kurang dua detik, Rayzad berhenti di tepat depan pintu utama hotel.


Begitu melihat Razyad datang, Zafran langsung naik dan duduk di boncengan motor Rayzad. Dia sudah tak memperdulikan karyawan hotel yang sudah stay mau mengantarnya.


"Tuan pakai jas hujan dan helmnya dulu," ujar Rayzad menyerahkan jas hujan dan helm.


"Tidak usah, berangkat sekarang," titah Zafran.


"Pakai! Nanti Tuan sakit." Rayzad turun dari motornya.


Melihat Rayzad turun, Zafran membawa kabur motor Rayzad, tak diperdulikannya teriakan Rayzad yang memanggil-manggil dirinya, Zafran terus melaju pulang ke rumah oma Fatma.


Maryam berlari keluar, menyingkap tirai jendela, memeriksa siapa yang datang. Dia terkejut saat melihat Zafran turun dari motor dengan baju basah kuyup.


"Ya Tuhan. Tuan! Kenapa main hujan malam-malam begini," sapa Maryam, setelah membuka pintu, dia memberikan handuk bersih.


Sambil mengambil handuk, mengelap wajah dan kepalanya. Zafran berjalan ke kamar Kayesa.

__ADS_1


"Non Esa, sudah pergi Tuan,"


"Pergi? Ke mana bik? Kenapa bibik biarkan dia pergi?" Tanya Zafran menatap tajam ke arah Maryam.


"Saya sudah mencegahnya. Tuan."


"Ah... " Zafran berteriak kesal.


Handuk di tangan dilemparkannya ke wajah Maryam. Zafran memutar tubuhnya berbalik arah, keluar dari rumah dan menunggangi kembali motor Rayzad yang dibawanya kabur.


Tit, tit... sebuah mobil masuk, menghalangi motor yang sedang ditunggangi Zafran. Rayzad keluar dari mobil, lalu menarik tangan Zafran.


"Lepaskan!" Teriak Zafran.


Rayzad tidak memperdulikan teriakan Zafran, dia terus menyeret Zafran, hingga masuk ke rumah dan mendudukkan bokongnya di sofa.


"Ray! Lepaskan. Aku mau pergi mencari Kayesa."


Baju basah dan tubuh yang dingin tak dirasa Zafran, yang ada dipikirannya sekarang hanya Kayesa, dia harus secepatnya menemukan Kayesa dan menjelaskan semuanya.


"Tuan! Tolong hargai diri Tuan sendiri. Coba Tuan lihat bagaimana keadaan Tuan sekarang. Baju basah dan wajah acak-acakan,


"Aku tak perduli. Aku hanya ingin bertemu Kayesa sekarang. Minggir!"


Dengan tangan kokohnya, mendorong tubuh Rayzad, hingga laki-laki itu oleng, lalu Zafran kembali melangkah keluar menerobos hujan, naik ke motor dan meluncur meninggalkan rumah oma Fatma dan melaju di jalan raya.


"Dasar keras kepala," batin Rayzad.


Dengan langkah tergesa, Rayzad menemui Maryam, meminta baju ganti Zafran kepada Maryam, Maryam masuk ke kamar dan kembali lagi dengan stelan lengkap baju ganti, cd dan handuk.


Setelah mendapatkan baju ganti Zafran. Rayzad melangkah ke luar rumah, masuk ke dalam mobil, mobil bergerak meninggalkan rumah oma Fatma, menerobos hujan lebat, melaju ke jalan raya. Rayzad mengaktifkan aplikasi pencarian di ponselnya, hingga dengan mudah dimelacak keberadaan Zafran.


Jam sudah menunjukkan pukul lima subuh, hujan pun sudah mulai mereda. Rayzad memacu mobilnya dengan kecepat tinggi. Namun, dia juga kunjung menemukan jejak Zafran, pada hal sudah satu kilo jarak tempuh yang dia lalui.


Rayzad menurunkan gas, dia memelankan jalan mobilnya, kala melihat dua puluh meter didepannya, ada kerumunan beberapa orang, dan di samping ke rumunan tersebut, tergeletak sebuah sepeda motarnya.


"Tuan Zafran," gumam Rayzad, segera memarkir mobilnya dengan perasaan gugup.

__ADS_1


__ADS_2