Pernikahan Semalam

Pernikahan Semalam
Toko Perhiasan


__ADS_3

Part 87


"Iya. Aku mau melamar Kayesa malam ini," ujar Zafran mantap.


"Apa Tuan yakin Esa menerima lamaran Tuan?" Tanya Rayzad.


"Yakinlah," jawab Zafran dengan pedenya.


Rayzad tersenyum, dia sangat senang melihat perubahan sikap dari Zafran. Zafran yang dingin dan arogan, kini murah senyum dan lembut.


"Semoga Kayesa tidak mengecewakan Tuan," ujar Rayzad menepuk pundak laki-laki yang jadi atasannya itu.


Beberapa hari yang lalu, saat Zafran masih berada di Bali, dan sebelum kecelakaan itu terjadi. Zafran memerintahkan Rayzad ke toko perhiasan langganan keluarga mereka untuk memesan cincin dan kalung untuk Kayesa.


"Bagaimana Tuan. Apakah sudah sesuai pesanan?" Tanya pelayan toko pada Zafran yang sedang menilik kalung bertahta berlian itu.


"Sangat cocok. Semoga Kayesa menyukainya," jawab Zafran, seraya meletakkan kembali kalung itu ke dalam kotak. Lalu menyerahkan ke pelayan toko itu, agar segara di bungkus.


Pelayan toko mengambil dua buah paperbag mini berwarna abu-abu, dimasukkannya kedua kotak itu, dengan sangat hati-hati, seakan takut membuat kotak itu lecet dan rusak.


"Terima kasih sudah belanja di toko kami. Tuan," ucap pelayan toko, seraya menyerahkan paperbag kepada Rayzad.


Setelah menerima paperbag berisi perhiasan, Rayzad dan Zafran meninggalkan toko perhiasan itu, lalu keduanya beranjak menuju parkiran. Begitu sampai ke parkir, Rayzad membuka pintu mobil untuk Zafran, dan menutup kembali setelah bosnya itu masuk dan duduk manis.


Dari kejauhan sepasang mata Asaka memperhatikan kepergian Rayzad dan Zafran dari toko perhiasan itu. Setelah memastikan kedua laki-laki itu pergi, Asaka beranjak mendekat ke toko perhiasan langganan keluarganya.


"Silakan dilihat-lihat. Nyonya," sapa ramah penjaga toko.


"Suci! Aku mau tahu. Apa yang dibeli putra saya dari sini?" Tanya Asaka pada Suci yang sedang bertugas menjaga toko.


"Oh. Tuan memesan sebentuk cincin bertulisan nama Nyonya. Kata Tuan untuk hadiah ulang tahun Nyonya beberapa bulan lagi. Tapi ini rahasia Nyonya, jangan sampai tuan Zafran tahu. Bisa-bisa saya kena marah," ujar Suci, dia terpaksa berbohong, karena Zafran telah mewanti-wantinya, agar Suci tidak membocorkan pada siapa pun tentang pemesanan cincin itu.

__ADS_1


Senyum Asaka mengambang mendengar penuturan pelayan toko itu. Asaka beranggapan kalau Zafran pasti mau mengucapkan permintaan maaf padanya, karena telah mengasari dirinya tadi pagi.


"Apa Zafran sudah pulih kembali ingatannya," batin Asaka.


"Nyonya mau pesan yang mana?" Tanya suci membuyarkan lamunannya.


Mata Asaka menatap berbagai bentuk cincin yang tersusun rapi di estalase. Dia menunjuk sebuah cincin cantik bermata berlian, Suci mengambil dan mengeluarkan cincin itu, dan menyerahkan ke Asaka.


"Sangat cocok di tangan Nyonya." Suci memberi komentar, kala Asaka memasukkan cincin itu di jari manisnya.


"Aku mau membeli concin ini buat Alena. Mantuku," ucap Asaka, seraya menyerahkan kembali cincinnya kepada Suci.


Sambil menerima cincin dari tangan Asaka, Suci berpikir keras, setahu Suci, Asaka hanya punya satu putra. Tadi Zafran ke sini membeli cincin untuk calon istrinya, sekarang Asaka mamanya membelikan cincin untuk mantunya. Entahlah!


"Terserah merekalah." Suci menepis pikirannya, lalu menyerahkan cincin yang sudah di masukkan ke dalam kotak perhiasan dan paper bag mini.


Begitu menerima cincin itu, Asaka menyodorkan kartu kredit untuk membayar, lalu pergi meninggalkan toko perhiasan, dia akan pergi menyerahkan cincin ini, sebagai permintaan maaf pada Alena, karena tadi siang dia sempat kasar pada mantu sekaligus anak sahabatnya itu. Walaupun pada awalnya Asaka sudah tidak memutuskan tidak memperdulikan persahabatannya dengan Sarla. Namun Asaka merubah pikirannya.


"Tuan! Singgah dulu ke masjid ya. Aku mau shalat magrib," ujar Rayzad membelokkan mobil memasuki perkarangan masjid.


Tanpa ada kata iya dari Zafran, Rayzad memarkir mobil. Rayzad yang memang berada dan dibesarkan ditengah-tengah keluarga yang agamis, tak pernah meninggalkan shalat, walau dalam keadaan apapun. Rayzad membuka pintu mobil lalu menjulurkan kaki dan turun dari mobil.


"Tuan! Ayok turun. Shalat magrib," ajak Rayzad, seraya membuka pintu mobil untuk Zafran.


Sejenak Zafran menatap wajah Rayzad, ini bukan pertama kalinya Rayzad mengajaknya shalat, mungkin sudah yang kesepuluh kalinya. Walaupun ajakannya selalu ditolak, Namun, Rayzad tetap tak pernah berputus asa, di setiap kesempatan pasti dilakukannya.


"Aku tak pandai shalat," ujar Zafran, seperti biasa.


Di keluarga Zafran, tak ada satupun yang memberi didikan pada Zafran untuk melakukan kewajiban beribadah kepada Allah. Di keluarga Zafran hanya digembor-gemborkan, bagaimana mengembangkan usaha, hingga uang banyak dan harta melimpah. Menurut Mayumi dan Asaka, kebahagiaan hanya bisa di dapat, jika bisnis berjalan lancar dan menghasilkan uang yang banyak.


"Tuan harus bisa shalat. Bukannya sebentar lagi, akan jadi imam buat Kayesa."

__ADS_1


"Besok saja. Aku belajar denganmu."


Zafran menolak ajakan Rayzad, sejatinya dia ingin seperti Rayzad yang tak pernah meninggalkan shalat, hanya saja Zafran malu, karena dia hanya pernah belajar dan mempraktekkan shalat waktu dia duduk di sekolah taman kanak-kanak.


"Baiklah, kalau begitu," ujar Rayzad, lalu beranjak meninggalkan Zafran.


Dengan ekor matanya, Zafran memandang kepergian Rayzad, hingga menghilang di balik tempat wudhu. Sepuluh menit kemudian Rayzad kembali ke mobil, begitu masuk ke dalam mobil, Rayzad menekan pedal gas dan meluncur meninggalkan masjid, melaju ke jalan raya.


Sepersepuluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Rayzad sampai ke apartement. Setelah memarkir mobilnya, Rayzad turun dan membuka pintu mobil untuk Zafran.


"Tuan! Paper bag mininya tertinggal," ujar Rayzad, kala melihat Zafran meninggalkan paperbag mini itu di dalam mobil.


"Biar saja di mobilmu. Nanti jemput aku, setelah shalat isya," ujar Zafran.


Begitu Zafran turun dari mobil, Rayzad menutup kembali pintu mobil, lalu dia masuk dan duduk di belakang stir. Rayzad kemudian menekan pedal gas dan meluncur meninggalkan Zafran.


Sepeninggalan Rayzad, dengan langkah ringan Zafran memasuki gerbang, menyusuri koridor, kamudian masuk lift menuju apartementnya. Begitu sampai di depan pintu apartement, seperti biasa Zafran menekan beberapa angka, memasukkan pasword.


Pintu terbuka, suasana di apartement Zafran sepi, dengan berjingkat Zafran masuk, tak terdengar suara Asaka yang biasa berisik menyambut kedatangannya.


"Ke mana mama?" Sejenak Zafran menatap pintu kamar yang di tempati Asaka tertutup rapat.


Perlahan Zafran beranjak menuju kamarnya. Setelah berada di dalam kamar, dia bergegas ke kamar mandi, lima menit kemudian ritual mandinya telah selesai. Zafran mengambil satu stel pakaian yang menurutnya paling bagus, karena malam ini dia akan menemui Kayesa.


Kemeja warna abu rokok dipadu celana cardinal dengan bahan cotton spandex. Celana panjang ini didesain casual dengan button dan zipper opening, detail belt loop, dan dua side pockets dan back pocket itu, menambah penampilan Zafran menjadi sangat sempurna malam ini.


Zafran berdiri di depan cermin, memutar tubuhnya, memastikan kalau tidak ada yang kurang dengan penampilannya, setelah menyisir rambut, dia meraih jam tangan, ponsel dan kunci mobil. Sambil berjalan menuju pintu kamar, Zafran memasang jam tangan dan memasukkan kunci mobil di saku celana.


Sebelum keluar apartement Zafran memutuskan menemui mama dan Oma. Zafran beranjak menuju kamar dan mengetuk pintu kamar mamanya, tidak ada sahutan, Zafran membuka pintu kamar, dia tidak menemukan Asaka. Zafran menutup kembali pintu kamar mamanya, dia beranjak ke kamar Mayumi.


Tok... Tok... Tok... Zafran mengetuh pintu kamar oma, tak ada sahutan. Perlahan Zafran membuka pintu kamar Mayumi, pintu terkuak lebar.

__ADS_1


"Oma!" Teriak Zafran kaget kala mendapati Mayumi terbaring pingsan di lantai kamarnya.


__ADS_2