
Part 80
Kayesa terbangun dari tidur, kala mendengar ponsel bergetar. Dia meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Sejenak Kayesa menatap layar ponsel yang bercahaya tertulis nama Shaga sebagai pemanggil.
Sebelum menerima panggilan Shaga, Kayesa menarik nafas panjang, saat bangkit dari tidur, kepala Kayesa terasa berdenyut dan berat. getar ponselnya berhenti, beberapa detik kemudian bergetar lagi. Kayesa menggeser gagang telepon berwarna hijau, menerima panggilan Shaga.
"Hallo Key! Buka pintunya. Aku di depan pintu," terdengar suara Shaga dari panggilan telepon.
Setengah malas, Kayesa menjulurkan kaki turun dari tempat tidur, lalu beranjak menyeret kaki menuju pintu. Kayesa memutar handle dan menguakkan daun pintu.
"Kay!" Seseorang menubruk dan memeluk Kayesa dengan erat, hingga Kayesa terengah kaget.
"Maafkan Abang! Abang sudah berprasangka buruk padamu tentang ibu."
Rizwan mendekap erat adik perempuan satu-satu. Seakan takut kehilangan lagi.
"Maafkan Key juga. Key telah membuat abang kecewa, hiks, hiks, hiks." Kayesa menangis haru dalam pelukan Rizwan.
Tadi malam setelah mengantar Kayesa ke hotel. Shaga langsung menghubungi Rizwan, subuh-subuh Shaga menjemput Rizwan dan langsung menuju hotel tempat Kayesa menginap.
Lama abang adik itu berpelukan dan menumpahkan tangis bahagia, karena kesalahpahaman telah berakhir.
"Sekarang ikut pulang ke rumah Abang," ujar Rizwan mengurai pelukannya, menatap wajah adik yang dirindukannya dan menyeka air mata di pipi Kayesa.
Kayesa kembali menangis, dan memeluk Rizwan, lalu mengurai pelukan dan dia mengangguk tersenyum bahagia.
"Di mana putramu?" Tanya Rizwan.
Kayesa tidak langsung menjawab pertanyaan abangnya, dia menatap Shaga yang berdiri di samping Rizwan. Kayesa sudah menduga kalau Shaga pasti sudah banyak bercerita tentang dia dan Kiano dengan Rizwan.
"Di mana Abang ketemu dia?" Kayesa balik bertanya seraya menunjuk Shaga dengan ibu jarinya.
"Di pemakaman ibu."
"Pemakaman ibu. Maksud abang? Ibu..."
Manik mata Kayesa kembali berkaca-kaca, wajah Farhana ibunya tiba-tiba membayang jelas, wajah Farhana yang murka ketika dia ketahuan hamil.
"Ibu, hiks, hiks, hiks."
__ADS_1
Tangis Kayesa pecah lagi, dia tak perlu mendengar jawaban dan penjelasan Rizwan, dari tatapan mata abangnya saja, Kayesa sudah dapat mengartikan maksud yang tersurat.
Tangan kekar Rizwan, kembali merengkuh pundak adik perempuannya yang terlihat sangat rapuh. Air mata Kayesa deras menganak sungai di pipi, dadanya seketika sesak dan susah bernafas. Kayesa akhirnya luruh ke lantai.
"Ibuuu. Maafkan aku, aku belum sempat membahagiakan ibu." Tangisan Kayesa semakin kuat, hingga tubuhnya tergoncang hebat.
"Kay! Pengorbananmu lebih dari cukup. Ibu pasti sudah bahagia di sana." Rizwan berjongkok, lalu membingkai wajah Kayesa dengan ke dua tangannya, seraya mengusap sisa air mata di pipi Kayesa dengan kedua jari ibunya.
Rizwan kembali memeluk tubuh adiknya dan menbiarkan Kayesa menangis di dadanya hingga puas. Setelah memastikan tak ada lagi isak tangis Kayesa, Rizwan membantunya berdiri, kemudian mengemasi barang-barang Kayesa.
Setelah memastikan semua barang Kayesa terkemas, Rizwan menhajak Kayesa keluar dari kamar, menyusuri koridor hotel menuju parkir. Setelah Kayesa dan Rizwan masuk ke dalam mobil, Shaga menekan pedal gas, mobil pun meluncur meninggalkan hotel, melaju ke jalan raya.
Di dalam mobil, saat di perjalanan menuju rumah Rizwan, Kayesa menelepon Maeka, dia meminta Maeka membawa Kiano ke Jakarta. Shaga yang kebetulan punya teman yang menjalankan travel tujuan Jakarta, meminta temannya untuk menjemput Maeka dan Kiano.
"Terima kasih. Kamu telah mempertemukan Abang dengan Kayesa." Zafran berterima kasih pada Shaga, setelah Shaga sampai ke rumah.
Kedatangan Kayesa, Zafran dan Shaga disambut suka cita oleh Ratih istri Rizwan dan putri kecilnya. Ratih sudah menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Shaga masuk dan sarapan dulu," ajak Ratih.
"Maaf kak, saya mau ke kantor dulu. Ada meting pukul sembilan, setelah meting saya akan ke sini lagi," ujar Shaga, seraya pamit pada Rizwan dan Kayesa.
"Baiklah. Ayok kakak antar ke kamar," ujar Ratih.
"Siapa namanya cantik?" Tanya Kayesa, seraya mengulurkan tangan ingin menggendong ponakannya. Tapi gadis kecil itu dengan cepat mendekap ibunya, dia memberi isyarat kalau tidak mau ikut Kayesa.
"Dea! Ini tante Kay. Sayang!" Ratih berusaha mengenalkan Kayesa pada putrinya. Dea tetap tidak mau ikut.
"Dea memang susah akrab dengan orang baru, dua tiga hari lagi pasti sudah mau ikut," ujar Ratih.
"Ini kamarmu. Kalau ada apa-apa kasih tau kakak, jangan sungkan, anggap rumah sendiri. Habis mandi langsung ke dapur sarapan, kakak tunggu," ujar Ratih, lalu beranjak meninggalkan Kayesa.
Hari ini Tuhan telah membayar kesedihan Kayesa dengan memperbaiki hubungannya dengan Rizwan abang satu-satunya yang dimiliki. Semoga setelah ini tak ada lagi badai di hidupan Kayesa.
*****
Di rumah sakit.
Zafran ditemukan Rayzad dalam keadaan berlumuran darah dan tak sadarkan diri di jalan raya, karena kecelakaan tunggal. Zafran tidak bisa mengendalikan motornya, hingga dia menabrak trotoar jalan raya yang mengakibatkan dia koma dan dirawat inap di rumah sakit.
__ADS_1
Merunut kronologis terjadinya kecelakaan pada Zafran, membuat Mayumi marah dan meradang pada Asaka.
"Jika sampai terjadi apa-apa pada cucuku. Aku akan mencoret namamu di dalam daftar warisan," ancam Mayumi, seraya menatap intens wajah putrinya.
Diam seribu bahasa, hanya itu yang bisa Asaka lakukan, dia sama sekali tak berani membantah perkataan Mayumi, karena dia tahu betul bagaimana keras watak perempuan yang telah melahirkannya itu.
"Dok! Bagaimana keadaan cucu saya?" Tanya Mayumi begitu dokter yang memeriksa Zafran keluar.
"Belum ada perkembangan. Kita masih terus berusah, untung saja benturan keras di kepala Tuan Zafran, tidak sampai membuat tempurung kepalanya retak, karena helm yang dipakai cukup melindungi kepalanya," ujar dokter ahli penyakit dalam yang gantengnya sangat sempurna.
"Dok! Lakukan yang terbaik buat putra ku," Asaka ikut menyela pembicaraan Mayumi dan dokter.
"Puas kamu sekarang. Sudah membuat cucuku Zafran koma," cerca Mayumi, dia kembali menatap Asaka penuh amarah.
"Maafkan aku. Ma! Aku tak pernah bermaksud membuat Zafran celaka," ujar Asaka membela diri.
"Sudah bersalah. Masih berani membela diri," dengus Mayumi kesal.
Tarikan nafas panjang Mayumi, menandakan dia sangat marah pada Asaka. Mayumi tidak habis pikir, bagaimana seorang ibu, bisa mengorbankan anaknya, hanya demi sebuah persahabatan. Dan Asaka selalu memanfaatkan kelemahan Zafran yang terlalu sayang padanya, hingga Zafran tak bisa menolak apa pun permintaan dan keinginan wanita itu.
Zafran memang anak yang sangat berbakti pada mamanya. Mayumi mengakui itu, karena apa pun yang diinginkan Asaka, Zafran tak pernah menolaknya, walaupun itu bertentangan dengan hati dan perasaannya.
"Zafran! Ini oma. Kamu bisa dengar suara omakan?" Mayumi meraih dan menggenggam tangan Zafran.
"Mama! Mama! Bagaimana keadaan suamiku." Tiba-tiba terdengar suara berisik Alena yang baru datang.
Malam itu di saat Zafran pergi dari kamarnya, Alena masih berada di kamar mandi, mendinginkan dirinya yang sedang horny. Alena keluar dari kamar mandi setelah tubuhnya menggigil kedinginan dan kewarasannya mulai sadar. Begitu dia ke luar dari kamar mandi, dia sudah tak menemukan sosok Zafran dan pintu kamar setengah terbuka. Alena sempat mencari Zafran di sekitar hotel. Namun tak menemukannya.
"Abang! Sadarlah. Ini Alena istrimu," ujar Alena seraya menangis terisak sambil mengoyang bahu Zafran.
"Hay! Jangan berisik. Cucuku sedang beristirahat," ujar Mayumi, matanya menjeling pada wanita yang berdiri di sebelahnya.
Alena tak memperdulikan kemarahan Mayumi, dia terus menangia dan memanggil-manggil Zafran.
"Zafran tidak butuh tangisanmu. Dari pada berisik di sini, lebih baik kamu pulang, shalat dan berdoa, semoga suami itu cepat sadar," omel Mayumi panjang lebar.
"Tapi Oma! Aku ingin berada di sisi suamiku."
"Untuk apa? Kamu itu hanya akan menambah Zafran stres. Pergi sana!" Mayumi menarik tangan Alena dan menyeretnya ke depan pintu ruang rawat inap Zafran.
__ADS_1