
Part 47
Setelah menempuh perjalanan dua hari dua malam, dan dua kali singgah di wisma untuk beristirahat, akhirnya Kayesa sampai di sebuah perkampungan, atas rekomendasi Maeka pengasuh Kiano.
"Kamu yakin ini kampungnya?" Tanya Kayesa sambil menepikan motornya.
"Yakinlah. Cuman saya lupa rumah paman saya itu ke arah mana, kiri atau kanan," ujar Maeka mengingat kembali masa kecilnya di kampung ini.
"Nya! Bagaimana kalau kita bertanya di warung itu, sambil singgah isi perut dan rehat," usul Maeka, yang dari tadi sudah merasa pegal, karena harus memangku Kiano yang tertidur.
"Boleh juga." Kayesa pun menjalankan motornya menuju warung nasi sederhana, lima meter di depan sana. Begitu sampai dan memarkir motor, dia pun turun dari motor, setelah melepaskan helm, beranjak menuju warung.
"Silakan masuk Nyonya, Adik," ujar seorang wanita cantik menyambut kedatangan Kayesa dan Maeka. Wanita itu tersenyum manis ke arah Kayesa, dilihat dari pakaian dan penampilannya, dia bukan seorang pelayan, mungkin pemilik warung ini.
"Nyonya mau duduk di sini atau ke dalam juga boleh," ujar wanita itu lagi dengan bahasa sopan dan lembut.
Kayesa memindai ruangan warung, hanya ada delapan meja dan setiap meja ada empat kursi. Saat ini warung terlihat sepi. Ada satu meja yang berpenghunu, meja paling sudut di sebelah kiri, duduk seorang laki-laki setengah baya. Laki-laki itu sepertinya tidak terusik dengan kedatangan Kayesa, nyatanya dia asik saja bermain ponsel dan menikmati secangkir kopi.
"Di sini saja," ujar Kayesa memilih meja nomor dua.
"Silakan Nyonya," wanita cantik itu menarik kursi untuk Kayesa, Maeka dan Kiano.
"Boleh dilihat-lihat dulu menunya," ujar wanita cantik itu menyodorkan daftar menu.
Kayesa dan Maeka saling berpandangan, kala daftar menu berada di tangan, keduanya tak menyangka saja, kalau rumah makan yang terlihat sederhana, kecil dan sudah tua itu, memiliki menu beraneka ragam.
"Saya tinggal dulu, kalau pilihannya sudah ada, bisa langsung ke kasir dan tekan saja di layar itu, menu nomor barapa yang dipilih dan dipesan" ujar wanita itu lagi, lalu pergi meninggalkan Kayesa dan Maeka.
Sepeninggalan wanita itu, Kayesa dan Maeka menatap serius ke daftar menu, dua puluh menu masakan dan dua puluh menu minuman tertera di situ. Belum lagi snack juga beraneka ragam.
"Apa Nyonya yakin, kalau semua menu ini ada di warung kecil seperti ini?" Tanya Maeka seraya melongok kepala memandang ke dalam warung, tidak terlihat jelas, karena tersekat lemari kaca yang berisi barang-barang antik.
Seperlima menit kemudian, datang pengunjung lima orang, sepertinya pelanggan yang sudah sering ke warung ini, karena kelima orang tersebut langsung masuk ke dalam warung. Bahkan salah satu dari mereka menyapa ramah laki-laki yang duduk di sudut itu.
__ADS_1
Setelah memastikan menu yang dipesan. Kayesa bangkit dari duduknya, dan langsung berjalan ke arah kasir, tidak ada siapa-siapa di sana, hanya ada sebuah layar komputer yang bertulisan klik nomor menu yang ingin di pesan.
Kayesa pun mengikuti perintah. Setelah semua nomor pesanan diklik, keluar angka jumlah total dan tertera tulisan bayar di sini. Kayesa membuka dompetnya mengambil dua lembar uang ratusan dan meletakkan di bawah tulisan. Otomatis uang tertarik dan masuk, keluar uang kembalian enam puluh ribu.
Kayesa meraih uang kembalian, lalu muncul tulisan terima kasih sudah mempercayakan makan siang anda di sini, tiga puluh menit lagi, menu pesanan akan segera ready dan ambil di meja kasir. Silakan kembali ke meja anda.
"Warung kecil tapi menggunakan alat canggih," batin Kayesa tak habis pikir.
Saat Kayesa memutar tubuhnya ingin kembali ke tempat duduk, kursi-kursi yang tadi kosong sudah hampir penuh di isi oleh pelanggan yang baru datang. Mata Kayesa membola memindai ruangan yang sudah padat pengunjung.
Tiga puluh menit kemudian terdengar suara intercom yang memberitahu kalau pesanan meja delapan sudah ready dan bisa diambil. Kayesa bangkit dari duduknya beranjak mau menuju kasir.
"Nyonya tunggu di sini saja. Biar saya ambilkan." Tiba-tiba laki-laki yang duduk di kursi sebelah kiri tadi, sudah berdiri di samping Kayesa.
Belum sempat Kayesa merespon ucapannya, laki-laki itu beranjak menuju kasir, kemudian kembali lagi dengan membawa menu pesan Kayesa.
"Silakan disantap," ujar laki-laki itu, seraya mengambil piring dan meletakkan di depan Kayesa.
"Abang pelayan di warung ini?" Tanya Maeka.
"Adik dari mana? Sepertinya saya tidak pernah melihat di kampung ini," ujar laki-laki itu lagi.
"Kami..."
"Kami dari kampung sebelah." Kayesa menyela, dia tak membiarkan Maeka menjawab, karena takut kalau Maeka mengatakan yang sejujurnya.
Mendengar jawaban Kayesa, terlihat laki-laki itu menarik nafas, karena dia tahu, kalau Kayesa sudah melakukan pembohongan.
"I-iya Bang! Saya mau mencari paman saya yang bernama Badrun. Dulu beliau tinggal di perepatan jalan mau menuju ke sekolah Ibtidaiyah. Apa Abang kenal?" Seraya menjelaskan Maeka bertanya.
Sejenak laki-laki itu terdiam, dia seperti sedang berpikir.
"Apakah pak Badrun yang nama istrinya Sari?" Tanya laki-laki itu seraya menyodorkan layar ponselnya ke Maeka. Laki-laki itu memperlihatkan foto seorang laki-laki tua.
__ADS_1
"I-Iya! Benar. Beliau orangnya," ujar Maeka dengan wajah berbinar.
"Apa Abang mengenalnya?" Maeka mengulang pertanyaannya. Laki-laki itu mengangguk.
"Selesaikan saja makannya dulu. Nanti saya ke sini lagi. Saya akan mengantar adik ke rumah pak Babrun," ujar laki-laki itu, lalu berpamitan dan beranjak masuk ke dalam warung.
Laki-laki itu menghilang di balik warung. Dia bergegas menemui wanita cantik tadi.
"Tono! Apa kamu yakin, wanita itu nyonya Kayesa?" Tanya wanita cantik yang tadi menyambut kedatangan Kayesa.
"Yakinlah. Coba kamu lihat foto yang dikirim tuan Rayzad. Sama kan." Tono menunjukkan layar ponselnya pada wanita itu.
"Rima! Sekarang kamu temui mereka dan antarkan minuman ini, lalu tawarkan pada mereka tempat istirahat," ujar Tono pada wanita yang ternyata bernama Rima.
Tono adalah pemilik warung, dan dia orang terkaya dan berkuasa di kampung ini. Tono dan Rayzad merupakan teman lama, selain teman Rayzad, Tono juga merupakan rekan kerja Zafran dalam bisnis.
Sementara Rima menemui Kayesa. Tono keluar warung lewat pintu samping, lalu memacu mobilnya menemui pak Badrun dan Istrinya yang sedang menjemur padi di halaman rumah.
"Tu-tuan Tono," sapa pak Badrun kaget saat melihat Tono menghampirinya. Selama ini dia tidak pernah di datangi Tono.
"Pak Badrun. Saya ke sini mau menagih hutang yang sudah lama bapak pinjam dan sudah jatuh tempo berkali-kali," ujar Tono seraya menepuk bahu Badrun.
"Maafkan saya tuan," Badrun bersimpuh di kaki Tono.
"Bangun," ujar Tono menarik kerah baju Badrun.
Tubuh Badrun bergetar, dia sangat takut kalau Tono meratakan rumah reotnya sama dengan tanah. Karena selama ini sudah banyak kejadian yang di dengarnya, kalau Tono menghabisi orang-orang yang tak mau membayar hutangnya.
"Ampun Tuan! Saya akan menyecil hutang saya, setelah padi ini saya jual," ujar Badrun seraya menangkupkan kedua tangannya. Tubuh rentanya samakin menggigil.
Tono terkikih melihat karingat Badrun mengucur di dahi, kaki Badrun bergoyang menggigil, karena ketakutan. Tono menarik baju Badrun, mamaksanya bangun.
"Aku akan memaafkan mu. Jika kamu dan istrimu mau ikut saya sekarang." Tono berbisik di telinga Badrun.
__ADS_1
"Benar Tuan!" Badrun mengajak istrinya mengikuti langkah Tono dengan tertatih-tatih.
"Masuk!" Titah Tono pada sepasang suami istri yang sudah tua renta itu.