
Part 103
Berkali-kali ditelepon. Tapi tak diangkat, Rayzad kemudian mencoba menelepon ke nomor pribadi Zafran yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu. Namun, usahanya tetap sia-sia.
"Bagaimana?" tanya Rizwan cemas.
"Tidak diangkat juga," ujar Rayzad seraya mengangkat kedua bahunya.
"Kita cari disekitar sini saja dulu," usal Rayzad.
Rizwan pun mengikuti usulan Rayzad, dia menjalankan mobil dengan perlahan, sambil menoleh ke kiri dan ke kanan, memperhatikan satu persatu, orang yang lalu lalang.
Sementara Rayzad sibuk dengan ponselnya, dia menghubungi beberapa rekan kerjanya dan terakhir, menghubungi Ruhi sang asisten, menanyakan apakah Zafran sudah kembali ke kantor.
"Dari tadi belum ada tuan Zafran pulang ke kantor," sahut Ruhi dari panggilan telepon.
"Baiklah kalau begitu, kalau kamu lihat tuan Zafran ada di kantor, kabari ya," ujar Rayzad seraya menutup panggilan telepon, wajah Rayzad terlihat kecewa.
"Ke nama dia? Kenapa ponselnya aktif, tapi tak diangkat. Apa Zafran sengaja melakukan ini," gumam Rayzad tak jelas.
Mobil yang dikendarai Rizwan bergerak pelan, sudah dua kali melalui jalan yang sama. Namun, tak juga menemukan sosok Zafran. Sementara Rayzad, sudah berusaha menelepon berkali-kali, nada dering tersambung, tapi tetap tak diangkat.
"Semoga saja tuan Zafran tidak apa-apa" batin Rayzad, seraya berdoa di dalam hati.
Dreet... Dreet... Dreet... Tiba-tiba ponsel Rizwan bergetar, Rizwan menepikan mobil dan berhenti, dia merogoh ponsel di saku celananya. Di layar ponsel tertera nama istrinya.
"Iya! Ada apa Ratih?" Tanya Rizwan, setelah mengucapkan salam.
"Abang! Kok lama sekali ke pasarnya." Sahut Ratih.
"Mana belanjaan yang Ratih pesan," ujar Ratih lagi.
"Astahfirullah," gumam Rizwan seraya memegang jidatnya, dia baru ingat kalau tadi barang belanjaan belum di keluarkan dari mobil.
"Iya! Abang pulang sekarang."
Sejenak Rizwan menoleh ke belakang, di kursi belakang mobil masih menumpuk pesanan Ratih. Tadi Ratih meminta Rizwan berbelanja sayur dan beberapa bahan untuk resep Capcay dan seafood tumpah, karena tadi Rizwan melihat Zafran dan fokus ingin menjaukannya dari Kayesa, hingga Rizwan lupa dengan barang belanjaannya.
Mobil yang dibawa Rizwan memutar arah ke selatan, lalu meluncur dengan kecepatan tinggi, menuju rumahnya. Lima belas menit kemudian mobil Zafran sudah terparkir di samping pintu gerbang. Rizwan bergegas turun, diiringi oleh Rayzad.
__ADS_1
Rizwan mengeluarkan barang belanjaan dari dalam mobil, dibantu oleh Rayzad. Rizwan bergegas masuk ke dalam rumah sambil membawa beberapa plastik kresek, begitu juga dengan Rayzad, saat melewati ruang tamu, Rizwan berpapasan dengan Kiano yang sedang mengambil bola kecil, yang menggelinding dan berhenti tepat di bawah kaki Rizwan.
Sambil meraih bola miliknya, Kiano menengadahkan kepala, menatap ke arah Rizwan, lalu mengalihkan pandangan ke wajah Rayzad yang brrdiri di belakang Rizwan.
"Om Ray!" sapa Kiano girang, ada binar indah memancar di wajah Kiano.
"Hay ganteng," Rayzad membalas sapaan Kiano.
"Ayah Zafran tak ke sini?" Tanya Kiano, masih lekat memandangi wajah Rayzad.
Rayzad menoleh ke arah Rizwan. Sejenak dia menatap laki-laki yang menyebabkan Zafran tidak ada kabarnya. Mendapat tatapan tajam dari Rayzad, Rizwan merasa bersalah.
"Nanti ayah Zafran ke sini. Kamu main saja dulu dengan Dea dan kak Mae ya." malah Rizwan yang memjawab pertanyaan Kiano, dia sengaja menyela dengan berbohong, takut kalau Rayzad mengatakan pada Kiano, jika ayah Zafrannya menghilang, akhirnya Rizwan mengarang cerita bohang, dan dia berharap ucapannya membuat Kiano tidak bertanya lagi tentang Zafran.
"Benaran Om?" Kiano bertanya lagi, dia menatap Rayzad, seakan mencari kebenaran jawabannya pada Rayzad.
"Iya! Ayah Zafran masih kerja. Kalau kerjaannya selesai, dia ke sini." Rayzad menguatkan kebohongan Rizwan.
Rayzad dan Rizwan saling berpandangan, tanpa disengaja mereka berdua sepakat membohongi laki-laki kecil itu.
"Eh...Abang! Lama kali pergi belanjanya. Sini belanjaannya," Ratih menggerutu, tiba-tiba sudah berdiri di depan Rizwan.
Ucapan Ratih menyadarkan Rizwan yang sedang termagu, Rizwan pun masuk ke dapur sambil membawa tentengan beberapa kresek asoy, dan meletakkan di atas meja dapur.
"Oma! Oma duduk saja. Biar Kayesa saja yang membersihkannya," ujar Ratih, kala melihat Mayumi, ikut mengupas kulit udang.
Dulu pada masanya. Mayumi seorang koki handal, bisnis awal ysng dilakoninya adalah bidang kuliner, hingga dia memiliki resto terkenal di kota beberapa kota.
"Iya kak! Tadi sudah ku larang. Tapi tetap pingin ikutan," ujar Kayesa.
"Kalian berdua meragukanku," Mayumi menyela ucpan Kayesa dan Ratih.
Suasana menjadi sangat hangat, ada obrolan ringan yang sekali-kali diselangi dengan tawa. Siapa yang sangka seorang Mayumi pembisnis handal yang sukses, mau berbaur dengan rakyat biasa seperti Kayesa dan Ratih.
Kesederhanaan dan kehangatan keluarga Ratih membuat Mayumi memaknai kehidupan, bahwa kebahagian tidak selamanya memikirkan uang dan harta. Nyatanya mereka yang bisa bersyukur akan selalu merasa cukup.
Sejenak Mayumi mengingat pertengkaran dia dengan Asaka, hanya gara-gara surat warisan. Asaka putrinya tega memarahi dan memakinya, pada hal selama hidupnya Mayumi memenuhi kebutuhannya.
"Ya Tuhan. Pasti caraku mendidiknya selama ini salah," batin Mayumi.
__ADS_1
Asaka yang biasa hidup dengan bergelimangan harta, setiap keinginan selalu dikabulkan. Jika tidak Asaka selalu mengancam ingin pergi dari rumah. Hingga Mayumi terus membenarkan perbuatan Asaka, walaupun sejatinya itu salah.
"Eh... Oma ikut masak juga," sapa Rayzad, kala masuk ke ruang dapur, sambil meletakkan di atas meja, sisa barang belanjaan Rizwan yang di bawanya.
Sapaan Rayzad membuyarkan lamunan Mayumi yang sedang mengenang masalalunya. Sejurus Mayumi menoleh ke arah Rayzad.
"Mana Zafran?" Tanya Mayumi seraya memindai ruang tengah, mencari-cari sosok cucunya.
"Tuan Zafran ... Anu..." Rizwan menjawab pertanyaan Mayumi yang dilontarkan ke Rayzad, dia menggantung ucapannya, lalu menoleh ke arah Rayzad.
"Tuan Zafran masih ada tamu penting di kantor. Oma!" Rayzad berbohong lagi.
Rizwan menarik nafas lega, kala mendengar jawaban dari Rayzad.
"Oh!" Hanya itu yang keluar dari mulut Mayumi, lalu dia melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Rayzad dan Rizwan segera pamit dan beranjak ke ruang tamu. Keduanya duduk di sofa tamu, Rizwan meminta Maeka mengajak Kiano dan Dea bermain ke teras samping, karena dia dan Rayzad ingin membicarakan sesuatu.
"Jika terjadi sesuatu dengan tuan Zafran. Tuan Rizwan harus bertanggung jawab," kecam Rayzad.
Rizwan meraup habis wajah dengan kedua tangannya, lalu meremas rambutnya dengan kasar. Sementara Rayzad kembali menghubungi nomor kontak Zafran, kali ini ke dua ponsel Zafran tidak bisa dihubungi.
"Hallo! Tolong kamu lacak keberadaan pemegang nomor ponsel ini," titah Rayzad, sambil mengeja angka-angka milik Zafran. Begitu menghubungi nomor kontak Zafran tidak aktif lagi. Dia meminta anak buahnya yang ahli IT, untuk melacak keberadaan Zafran.
****
Sementara Zafran, begitu mobil Rizwan melaju meninggalkannya dan hilang di tikungan jalan, sebuah mobil mercy warna putih berhenti mendadak di samping Zafran, dalam hitungan detik, dua orang laki-laki kekar turun dari mobil.
Bukkk... Tiba-tiba, satu orang dari laki-laki tak di kenal itu, memukul tengkuk Zafran dengan kuat, hingga Zafran terhuyung. Saat menyadari apa yang terjadi, dia bersiap akan membalas serangan laki-laki tadi. Namun, Zafran terlambat, satu dari orang tak dikenal itu membekapnya dengan sapu tangan yang sudah dikasih obat bius.
Tubuh Zafran terkulai dan luruh tersandar pada laki-laki yang membekapnya, untung saja laki-laki itu menyanggahnya, jika tidak sudah pasti tubuh Zafran luruh ke aspal jalan.
"Sial! Berat banget," gerutu laki-laki itu.
"Cepat! Bantu aku," titah laki-laki sambil mata liar menatap sekitar.
Kedua orang itu menyeret tubuh Zafran, yang sudah tidak sadarkan diri masuk ke dalam mobil, lalu kedua laki-laki itu pun masuk ke dalam mobil, dan melaju di jalan raya, menuju ke arah barat.
"Nyonya! Tuan Zafran sudah bersama kami. Siapkan uangnya, kami sedang melaju ke tempat nuonya," salah satu dari laki-laki itu berbicara lewat panggilan telepon.
__ADS_1
"Kerja bagus! Bawa tuan Zafran ke ruang penyekapan. Ingat! Jangan sampai tuan Zafran tahu siapa yang menculiknya."
"Beres! Nyonya!"