Pernikahan Semalam

Pernikahan Semalam
Pindah Kamar


__ADS_3

Part 63


Dokter Ni luh Ayu menjelaskan Kayesa seperti memilki beban hidup di masa lalu atau kejadian yang membuat trauma seumur hidup. Dan jika kejadian itu terulang lagi, maka dia bisa stres, depresi bahkan bisa bunuh diri.


"Ya Tuhan! Apa Kayesa trauma gara-gara pernikahan semalam itu," batin Zafran.


"Apa dia begitu terluka," batin Zafran lagi.


"Apa kamu tahu yang barusan dilaluinya. Hingga dia seperti itu? Tanya dokter Ni luh Ayu, seraya melanjutkan langkahnya.


"Kamu harus memberitahu keluarganya, agar mereka bisa menjaga perasaan dia, supaya emosinya seimbang dan bisa dikendalikan," ujar Dokter Ni Luh Ayu, seraya berpamitan.


Dokter Ni luh Ayu melangkah menuju parkir. Sementara Zafran menatap punggung dokter cantik itu, hingga menghilang masuk mobil. Zafran kembali ke kamar Kayesa. Dia menatap iba pada wanita yang telah melahirkan putranya itu.


"Esa! Mulai hari, aku berjanji akan menjagamu," batin Zafran, sampai detik ini, Zafran belum punya keberanian untuk mengakui kalau dia laki-laki yang telah menikahinya lima tahun lalu.


"Maafkan aku Esa. Aku akan mengatakannya nanti di waktu yang tepat." lagi-lagi Zafran hanya membatin.


Seorang office boy masuk dan bertanya pada Zafran. Apakah kamar yang di tempatinya mau dibersihkan.


"Atau baju tuan saja yang dipindah ke sini?" Tatia menyela ucapan office boy.


Dahi Kayesa berkerut kasar saat mendengar Tatia berbicara mau memindahkan pakaian Zafran ke kamarnya.


"Jangan. Non! Bagaimana bisa aku satu kamar dengan orang asing," sanggah Kayesa.


"Pindahkan saja baju saya ke sini," titah Zafran pada Tatia, tanpa memperdulikan keberatan Kayesa. Kayesa menggerutuk dalam hati.


"Baik Tuan," ujar Tatia seraya beranjak, sambil menarik tangan office boy mengajaknya keluar.


"Eh tunggu, tolong kamu tebuskan obat ini ke apotek." Zafran menyerah resep obat yang diberikan dokter Ni Luh Ayu kepada Tatia dan dua lembar uang ratusan.


Tatia menghentikan langkah, dan membalikkan tubuhnya kembali ke posisi awal. Setelah menerima kertas resep dan uang, Tatia pun melenggang ke luar kamar, meninggalkan Kayesa dan Zafran.


"Kenapa Tuan mau pindah ke kamar saya?" Tanya Kayesa dengan suara lirih, seraya menatap intens wajah Zafran.


"Kenapa? Kamu tidak suka atau takut jatuh cinta sama aku," bisik Zafran dengan percaya diri sambil berjongkok dan menyentuh lembut pipi wanita itu.

__ADS_1


Seketika wajah Kayesa memerah, bagai kepiting rebus, ucapan Zafran bagai menelanjanginya. Zafran seakan mengetahui semua yang sedang ada di dalam pikiran Kayesa.


"Ya Tuhan. Apa Zafran bisa membaca hati orang," batin Kayesa seraya menarik nafas panjang, lalu mata Kayesa mendelek menatap wajah Zafran.


"Kamu terlihat semakin cantik, jika begitu," puji Zafran seraya mendudukkan bokongnya di samping Kayesa.


Deg... Jantung Kayesa berdetak kencang dua kali lipat dari biasanya. Kayesa ingin menapikan kalau semua ucapan Zafran hanya candaan. Lagi-lagi tak bisa dia pungkiri, kalau kata-kata sanjungan itu, membuat hatinya berbunga-bunga.


"Kamu mau sarapan di luar. Apa di sini saja?" Tanya Zafran seakan tak terjadi apa-apa kalau dia baru saja membuat jantung Kayesa berantakan.


Tak menunggu jawaban dari Kayesa, Zafran merogoh saku celana, mengambil ponselnya, lalu menelepon Tatia, agar mengirim sarapan ke kamar. Beberapa menit kemudian dua orang office girl datang membawa menu sarapan.


"Permisi tuan. Ini sarapannya Tuan dan Nyonya," ujar salah seorang office girl.


"Letakkan saja di atas nakas," kata Zafran.


"Tolong travelbag saya, segera bawa ke sini," ujar Zafran lagi, kala office gils itu, mau meninggalkan kamar.


"Baik Tuan." Kedua office girl itu berpamitan.


Bersamaan dengan itu, Tatia datang seraya mententeng kresek asoy berwarna hitam, berisi lima tablet pil yang baru ditebus dan menyerahkan ke Zafran. Setelah itu Tatia ke luar kamar, menarik handle dan menutup rapat pintu kamar.


Sambil membawa mangkok berisi bubur ayam, Zafran mendudukkan bokongnya di samping Kayesa. Zafran menyendok sesendok bubur dan menyodorkan ke mulut Kayesa.


Kayesa bergeming menatap sendok yang berisi bubur ayam yang sudah menyentuh bibir. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Zafran. Zafran memberi isyarat dengan bahasa tubuh, agar Kayesa membuka mulut.


Gelengan kepala Kayesa menandakan dia tidak mau disuapi Zafran. Kayesa mengambil sendok yang menggantung di udara. Namun, Zafran tak memberikannya.


"Kasih aku kesempatan berbuat baik padamu. Agar dosa-dosaku berkurang," ujar Zafran meminta Kayesa membuka mulutnya.


Kayesa kembali menatap Zafran, keraguan yang bergayut di hatinya sedikit tentang Zafran mulai memudar. Dari sinar mata Zafran, Kayesa merasakan ada ketulusan di situ. Perlahan Kayesa membuka mulutnya.


Tok... Tok... Tok... terdengar ketukan di daun pintu, spontan Zafran menghentikan gerakannya, dia menoleh ke arah pintu. Terdengar sekali lagi ketukan di pintu.


"Masuk!" Titah Zafran.


Perlahan daun pintu terkuak, Tatia muncul lagi, sambil menarik travelbag Zafran, dan meletakkannya di samping tempat tidur. Sekilas Tatia melirik aktifitas Zafran yang kembali menyuapi Kayesa. Diam-diam Tatia mengambil foto Zafran yang sedang menyuapi Kayesa dan mengirimnya ke whatsapp Mayumi.

__ADS_1


"Tuan! Saya pamit. Jika masih ada yang dibutuhkan telepon saja," ujar Tatia, kemudian berlalu.


"Sudah," Kayesa menolak suapan keenam yang diberikan Zafran.


"Kalau makannya dikit gini, kapan sehatnya? gimana mau pulang," ujar Zafran, seraya menyodorkan kembali sendok bubur ayam.


Kayesa menggeleng, dia sudah tidak berselera lagi, melihat bubur ayam itu. Melihat Kayesa bersekeras, membuat Zafran mengalah dan meletakkan mangkok bubur ayam, yang baru seperempat berkurang di atas nakas.


"Sekarang minum obatnya." Zafran membuka kulit pil dan memberikan pada Kayesa.


Setelah meminum obat, Zafran meminta Kayesa istirahat. Dan menjanjikan pada Kayesa, jika dia pulih dan bugar hari ini, besok pagi Zafran akan mengantarnya pulang. Mendengar kata-kata Zafran, semangat Kayesa naik beberapa oktap.


Kayesa meluruskan kakinya, lalu menumpukan kepala di sandaran tempat tidur, dia mencoba rileks dan santai, mengistirahat pikiran dan hatinya. Rasa pusing dan lemas sudah mulai beransur pulih, hanya tinggal pegal-pegal saja lagi.


Zafran beranjak turun dari duduknya, menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi, dia sudah merasa gerah karena dari bandara, hingga sekarang dia belum mandi dan ganti baju.


Seperlima menit kemudian, Zafran ke luar dari kamar mandi, dengan dada bidang terpampang dan handuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Melihat Zafran tak berbaju, secepat kilat Kayesa memalingkan wajahnya. Zafran hanya tersenyum saat melihat tingkah Kayesa, timbul niatnya untuk menggoda wanita itu.


"Kenapa? Apa aku kelihatan jelek?" Tanya Zafran seraya mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah dengan tangan, hingga percikan airnya tempias ke Kayesa.


"Iya! Jelek bangat," ucap Kayesa, tanpa melihatnya.


Kalau boleh jujur, Kayesa suka sekali melihat dada bidang Zafran, tubuh Zafran yang berotot terlihat sangat sempurna, prawakan Zafran yang tinggi dengan rahang yang kokoh, membuatnya menjadi laki-laki sejati. Sebebarnya Kayesa ingin sekali mengatakan, kalau Zafran sangat tampan. Tentu saja itu tak akan dilakukannya, karena Zafran pasti akan besar kepala dan bangga.


Mendengar ucapan Kayesa, Zafran yang semula mau membuka travelbagnya, mengurungkan niat, lalu mendekat ke arah Kayesa dan berdiri di hadapan Kayesa. Kayesa menutup wajah dengan kedua tangan, saat melihat Zafran berdiri tegak di depannya.


Tawa Zafran membahana, membuat Kayesa membuka tapak tangan yang tadi digunakan untuk menutup wajahnya, lalu Kayesa menatap wajah Zafran yang masih terkekeh.


"Apa tuan pamer dan yakin kalau aku jatuh cinta pada suami orang," ujar Kayesa dengan wajah datar dengan bibir bergetar.


Spontan Zafran menghentikan tawanya, kala mendengar Kayesa menyebut suami orang. Tiba-tiba timbul rasa khawatir Zafran.


"Kamu sudah tahu kalau aku menikahi Alena?" Tanya Zafran seraya berjongkok.


"Emang aku perduli. Tuan mau nikah sama siapa," ujar Kayesa, kali ini Kayesa suara terdengar serak.


Zafran melengos kesal, kala melihat Kayesa tidak cemburu sedikit pun pada Alena. Zafran mengambil kesimpulan, kalau Kayesa benar-benar tak tertarik padanya. Tapi Zafran tak perduli, Kayesa mau suka atau tidak, itu urusan nanti, yang dia mau sekarang, Kayesa tetap berada di sisinya sampai kapan pun.

__ADS_1


Sementara Kayesa, dengan sekuat tenaga menutupi perasaan hatinya, agar tak terbaca oleh Zafran. Dengan cepat Kayesa kembali membuang muka.


"Ada apa dengan hatiku?" Tanya Kayesa gelisah.


__ADS_2