
Part 53
Senyum Mayumi terkembang, kala dia menguping pembicaraan Asaka dan Alena yang sedang merencanakan bulan madu di Bali. Dia sudah curiga kalau Asaka dan Alena akan merencanakan sesuatu, makanya dia berpura-pura tidur dan waktu Alena keluar kamar. Mayumi ikut keluar kamar dan mengintip kala Alena masuk ke kamar Asaka.
"Hemm... Jangan harap kau bisa bersenang-senang Alena," batin Mayumi, lalu dia melangkah kembali ke kamar sambil menyusun rencana.
Mayumi mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas, kemudian dia menelepon teman lamanya, yang merupakan pemilik salah satu hotel terkenal di Bali.
Mayumi mengirim foto dan nomor kantak Zafran. Mayumi juga meminta pihak hotel menyiapkan dua kamar yang kosong, tiga kamar dari kamar yang disiapkan untuk Zafran. Lalu Mayumi memberikan nomor kontak Asaka.
"Jika nomor ini menghubungi, katakan saja jika putra Zafran sudah memboking kamar untuk istrinya, ujar Mayumi bicara pada resepsionis yang menerima teleponnya.
Setelah memastikan masalah kamar di Bali beres. Mayumi menggulir kembali layar ponsenya, mencari nomor kontak Kayesa dan menghubunginya.
"Hallo. Esa!" sapa Mayumi setelah mengucapkan salam.
"Iya! Oma!" balas Kayesa setelah membalas salam Mayumi.
"Besok pagi Tono akan menjemputmu. Dia akan mengantarmu ke Jakarta, kita ke ke suatu tempat untuk tanda tangan kontrak kerja kita," ujar Mayumi menjelaskan.
Kayesa tidak langsung menjawab permintaan Mayumi, dia sempat berdiskusi dulu dengan Sari. Sari mengijinkannya, karena ini merupakan peluang besar bagi Kayesa juga bagi UMKM miliknya.
"Baik. Oma!" Balas Kayesa, setelah ada kata sepakat dengan Sari.
Mayumi sempat khawatir, kala dia mendengar, kalau Kayesa menanyakan prihal keberangkatannya pada Sari sang pemilik UMKM tempat Kayesa bekarja.
"Kamu bisa bawa Maeka dan Kiano sekalian. Jika keberatan meninggalkan Kiano," ujar Mayumi lagi.
"Tidak. Oma. Saya berangkat sendiri saja. Kasian kalau Kiano ikut, perjalan jauh, nanti dia capek," ujar Kayesa, lalu memutuskan sambungan telepon setelah mengucapkan salam.
*****
Pagi-pagi sekali Mayumi meminta Rayzad menjemputnya. Mayumi keluar kamar sambil menarik travelbag berisi lima stel pakaian.
"Mama! Mama mau ke mana? Tanya Asaka heran kala melihat Mayumi dengan berpakaian rapi, sambil menarik travelbag. Pada hal baru semalam Mayumi pulang, hari ini mau pergi lagi.
"Mau menjelajah. Mama bosan di rumah," jawab Mayumi berbohong dan dia yakin kalau Asaka tidak mencurigainya.
"Oh. Baguslah kalau begitu. Mama bisa keliling-keliling. Lihat-lihat tempat wisata Indonesia, tidak kalah cantiknya dengan Thailand," ujar Asaka lagi, seraya mengambil alih travelbag dari tangan Mayumi, lalu menyeret ke luar apartement, Asaka mengantar Mayumi sampai ke parkiran.
Alena yang sempat mengitip kepergian Mayumi bersorak bahagia, Alena merasakan kebebasannya kemnali lagi. Dia menduga kalau Mayumi pulang ke Thailand.
__ADS_1
"Aku merdeka, semoga saja wanita tua itu tak akan pernah kembali lagi," gumam Alena, berlonjak kegirangan.
Sementara Asaka yang masih berada di parkir, menunggu mobil Rayzad meluncur membawa Mayumi.
"Hati-hati ma! Semoga perjalanannya menyenangkan," seru Asaka seraya melambaikan tangan.
Mobil Rayzad melaju meninggalkan apartement Zafran, meluncur ke jalan raya, menuju ke bandara. Mayumi lebih dulu berangkat ke Bali untuk menyusun strategi.
"Besok pagi kamu jemput Kayesa di hotel, atur penerbangannya," pesan Mayumi begitu turun dari mobil.
"Baik Oma!"
Mayumi beranjak memasuki bandara. Rayzad memutar tubuhnya kembali ke mobil dan meluncur meninggalkan bandara, langsung menuju kantor.
******
Sementara Shaga setelah mengetahui kalau hasil tes DNA Kiano dan Zafran negatif, karena hasil tesnya sudah dipalsukan oleh dokter Niko atas perintah Zafran. Merasa bersalah karena berprasangka buruk pada Zafran.
Begitu mengetahui Kiano bukan anak Zafran. Entah kenapa ada perasaan lega di hati Shaga. Paling tidak dia tidak bersaing dengan seorang Zafram yang terkenal tajir.
Shaga yang kehilangan jejak Kayesa, berusaha mencari ke segala penjuru kota Jakarta, hingga dia menemukan Rizwan abangnya Kayesa, saat Shaga berada dipemakaman, menziarahi kuburan ayahnya.
"Bang Rizwan," sapa Shaga hati-hati, saat melihat seorang laki-laki yang berdiri dengan posisi menyamping. Rizwan menoleh kala mendengar seseorang memangginya.
"Shaga. Kamukah itu?" Lama tak bertemu membuat Rizwan pangling. Dia menatap intens ke arah laki-laki yang tadi menyapanya.
"Iya. Bang! Ini aku," ujar Shaga mengangguk, dalam hati dia bersyukur, karena Rizwan masih mengenalinya.
"Kamu mengapa ada di sini? Makam siapa yang kamu kunjungi?" Tanya Rizwan seperti menyelidik.
"Saya mengunjungi makam ayah."
"Abang sendiri?" Shaga balik bertanya.
"Saya mengunjungi makam ibu," jawab Rizwan.
"Ibu?" Tiba-tiba wajah Shaga berubah. Terbayang wajah Farhana wanita baik dan lembut itu.
"Jadi ibu sudah meninggal? Sudah berapa lama ibu meninggal? Sakit apa. Bang?" Shaga memberondong Rizwan dengan beberapa pertanyaan. Dulu wanita itu sering menyuguhinya teh manis dan roti bakar, jika dia dan teman-teman sedang belajar bersama.
Banyak kenangan bersama wanita baik itu. Di malam tahun baru Farhana mengajarinya membakar ayam dan membuat sate. Semua itu masih terkenang jelas di benak Shaga. Rasa tidak percaya Shaga mendengar berita kalau Farhana telah tiada.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Shaga. Rizwan menarik nafas panjang, dia mulai menceritakan tentang penyakit jantung Farhana. Juga tentang pernikahan semalam Kayesa.
"Jadi Kayesa telah menikah. Berarti Kiano bukan anak luar nikah," gumam Shaga tanpa sadar.
Entah kenapa tiba-tiba Shaga kembali merasa cemas, jika laki-laki yang menikahi Kayesa tahu, kalau Kayesa melahirkan anaknya dan laki-laki itu meminta rujuk. Dia akan kehilangan Kayesa untuk kesekian kalinya.
"Kiano! Siapa Kiano?" Tanya Rizwan penasaran, karena pada saat Kayesa menemui, Kayesa tidak membawa siapa- siapa.
"Kiano anak Kayesa," jawab Shaga menatap heran pada Rizwan.
"Kamu yakin? Kalau itu anak Kayesa?"
"Sangat yakin," jawab Shaga.
"Ya Tuhan! Apa gara-gara ini. Ibu mengusirnya dari rumah," batin Rizwan seraya meraup habis wajah dengan kedua tangannya.
Masih terngiang dalam ingatan Rizwan, saat tetangganya mengatakan, sebelum Farhana dibawa ke rumah sakit dan koma. Dia mengatakan, kalau Kayesa diusirnya karena mencoreng nama baik keluarga. Pasti karena Farhana ibunya mendapati Kayesa hamil.
"Jadi Abang tidak tahu. Jika dari pernikahan semalamnya itu. Kayesa punya anak?"
Rizwan menggelengkan kepala. Pasti selama hamil, Kayesa menanggung semua penderitaan, hinaan dan bulyan orang-orang. Karena tidak tahu permasalahannya. Lagian Kayesa juga tak punya bukti, kalau dia telah menikah, karena Kayesa tak mengantongi surat apa-apa. Tiba-tiba menyeruak penyesalan di hati Rizwan, karena saat bertemu kemaren, dia salah paham dan mengusir Kayesa.
"Kay! Maafkan abang dek," sekali lagi Rizwan membatin, penuh penyesalan, karena tak memberi kesempatan pada Kayesa untuk menjelaskan masalahnya.
"Katakan padaku, di mana kamu terakhir melihat Kayesa."
Setelah menarik nafas panjang. Shaga mulai menceritakan, kalau dia sudah berkali-kali bertemu dengan Kayesa dan terakhir Kayesa menginap di wismanya.
"Sekarang aku kehilangan jejak. Dia pergi dari wisma tanpa pamit," ujar Shaga mengakhiri ceritanya.
Setelah mendengar penjelasan Shaga. Zafran meraup habis wajah dengan kedua tangannya. Penyesalan demi penyesalan menghimpit bergelayut di palung hatinya yang paling dalam.
"Abang macam apa aku ini. Hanya bisa membuat Kayesa sengsara," gumam Rizwan seraya *******-***** kesal rambutnya. Terbayang wajah Kayesa saat menemui waktu itu.
Tiba-tiba mata Rizwan berkaca-kaca, lalu tanpa di minta dua kristal bening meluncur di sudut netranya. Dia menangis karena tak bisa memenuhi janjinya untuk menjaga Kayesa.
"Abang kenal laki-laki yang menikahi Kayesa satu malam itu?" Tanya Shaga lagi penasaran.
"Tidak!" Rizwan menggeleng lemah. Waktu itu yang ada dipikiran Rizwan cuman dapat uang dan bisa membayar operasi ibunya. Dia sama sekali tidak memikirkan, kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, hingga begitu gampangnya dia menyerahkan Kayesa pada laki-laki asing.
"Bukannya abang yang menjadi wali nikah Kayesa waktu itu. Bagaimana bisa Abang tak memgenalnya?" Tanya Shaga lagi.
__ADS_1
"Iya! Waktu itu, kami hanya saling berjabat tangan, tidak saling tatap muka. Ada dinding pemisah yang menutupi wajah kami, hingga kami tak saling kenal," ujar Rizwan lagi dengan suara lirih.
"Siapa nama laki-laki itu? Abang pasti ingatkan?"