
Part 90
"Ya Tuhan. Jangan sampai Rayzad mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak mau Oma menyakiti Kayesa," batin Zafran khawatir, karakter Mayumi dengan mamanya Asaka begitu jauh. Mayumi juga selalu membanding kasta orang lain dari kedudukan dan kekayaan.
"Oma! Aku..."
"Jangan sela ucapanku! Aku bertanya pada Rayzad. Jadi kamu diam!" bentak Mayumi dengan nada suara lebih tinggi beberapa oktaf dari biasanya. Tapi cukup membuat Zafran yang biasa arogan terhenyak diam.
Hening sejenak. Zafran melirik Rayzad dengan ekar matanya, dia memberi isyarat agar Rayzad jangan mengatakan yang sebenar. Tapi Rayzad pura-pura tak mengerti dengan isyarat yang diberikan Zafran. Rayzad malah tersenyum tipis, kala melihat wajah Zafran pias tak seperti biasanya.
"Awas saja, kalau kamu membocorkan semua rahasiaku pada oma," batin Zafran dalam hati. Tapi matanya menatap tajam pada Rayzad.
"Maaf Oma! Aku hanya tahu kalau Esa dulu pernah menjadi clearning service pribadi tuan Zafran. Hanya itu yang ku tahu. Oma," ujar Rayzad melirik nakal ke arah Zafran.
Mendengar ucapan Rayzad. Mayumi terkikih, lalu menatap Zafran dan Kayesa secara bergantian. Sementara Zafran dan Kayesa menarik nafas lega, karena Rayzad tidak bicara yang sebenarnya.
"Oma! Apa oma memanggilku ke sini ingin membicarakan tentang bisnis kita?" Tanya Kayesa, dia berusaha mengalihkan pembicaraan.
Harap cemas, Kayesa memberanikan diri bertanya pada Mayumi, agar Mayumi tidak mengintrogasinya tentang hubungannya dengan Zafran.
"Sebelum kita membahas tentang bisnis kita. Tolong kamu jawab dulu pertanyaanku dengan jujur," ujar Mayumi lagi menatap intens ke wajah Kayesa.
"Apa kamu menyukai cucuku Zafran?" tanya Mayumi langsung ke intinya.
Deg... Detak jantung Kayesa tiba-tiba berpacu hebat. Keringat mulai mengucur di punggungnya, suasana ruang ful ac itu, seketika menjadi gerah. Kayesa mendadak kaku.
"Oma! Jangan buat Kayesa gugup," sela Zafran.
"Dasar laki-laki bodah. Kenapa kamu tidak pernah jujur dengan hatimu sendiri. Hah!"
"Aku hanya..."
"Sekarang lamar dia di depan Oma," ujar Mayumi seraya menyerahkan kotak cincin yang tadi di ambil Ruhi di mobil Rayzad.
"Cincin itu..."
Mata Zafran membola menatap kotak cincin miliknya. Bagaimana bisa ada di tangan Mayumi? Zafran melirik ke arah Rayzad, dia sudah tahu pelakunya, tak ada orang lain selain Rayzad.
"Oma tak butuh penjelasanmu! Sekarang sematkan dijari Kayesa."
"Oma! Merestui hubunganku dengan Kayesa?" tanya Zafran tak percaya.
Mayumi mengangguk pasti.
Zafran berteriak senang, dia memeluk erat Mayumi, lalu meraih kotak berbentuk hati itu, membuka tutupnya dan mengambil cincin yang bertulisan namanya, lalu meraih kedua tangan Kayesa
"Apa kamu mau menjadi istriku?" Zafran berjongkok di depan Kayesa. Kayesa menangguk malu-malu, lalu Zafran menyematkan cincin itu di jari manis kanan Kayesa. Karena di jari manis kiri Kayesa sudah tersemat cincin pemberian Zafran waktu menikahinya dulu.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, di depan pintu ruang rawat, seorang Shaga dengan hati terluka dan mata berkaca-kaca menyaksikan semuanya tanpa sepengetahuan Kayesa. Diam-diam Shaga merekam moment yang sangat menyakitkan itu diponselnya.
Setelah cukup mengambil video sebagai barang bukti, kalau Kayesa telah menerima cinta Zafran. Shaga mematikan rekamannya, lalu merogoh saku celananya, mengambil sebentuk cincin belah rotan, yang sudah enam tahun silam disimpannya, dan cincin itu tadi dibawanya, karena dia berniat mau melamar Kayesa setelah acara makan malam bersama Rizwan dan Ratih.
"Kay! Apa kamu tak punya sedikit pun rasa cinta padaku lagi," batin Shaga sambil menggenggam erat cincin belah rotan itu dengan perasaan yang teriris-iris.
Sekali lagi Shaga kalah mendapat cinta sejatinya. Begitu pedih takdir cinta Shaga, dulu Kayesa pergi tanpa pamit, sekarang Kayesa menerima lamaran laki-laki lain di depan matanya.
"Kenapa Kayesa lebih memilih Zafran. Apa karena Zafran lebih kaya dariku," batin Shaga lagi.
Perlahan Shaga memasukkan kembali cincin belah rotan itu ke dalam saku celananya. Cincin ini tidak berjodoh di jari Kayesa, begitu pula dengan Shaga. Shaga memutar tubuhnya membelakangi Kayesa, lalu menyeret kakinya menjauh dari situ
Tak dapat terkatakan bagaimana perasaan Shaga sekarang, rasa nyeri, sesak dan kesal menyatu di dalam hatinya. Bergegas Shaga menyusuri koridor rumah sakit menuju parkir. Shaga menyesap air mata yang membasahi kedua pipinya sebelum dia membuka pintu mobilnya.
Sejurus Shaga kembali menoleh ke arah di mana, dia tadi melihat Kayesa yang sedang tersenyum sumbringah. Shaga menarik nafas panjang lalu menghembuskan dengan kasar.
Masih dengan perasaan gundah. Shaga memutuskan untuk melupakan Kayesa kembali dan membiarkannya bahagia dengan Zafran. Shaga menarik handle pintu mobil, masuk dan duduk di belakang stir. Dengan kasar ditekannya pedal gas, mobil pun muncur meninggalkan rumah sakit.
Sementara di ruang rawat Mayumi, Kayesa yang tak menduga kalau Mayumi sengaja mengundang dan memberikan kejutan padanya, sangat senang. Merupakan suatu kehormatan bagi Kayesa mendapat perlakuan dari istimewa kali ini dari Mayumi.
"Oma mau kalian menikah dalam minggu ini," ujar Mayumi meraih tangan Kayesa dan Zafran lalu menyatukan dalam genggamannya.
"Minggu ini?" Tanya Kayesa memperjelas, dia takut kalau salah dengar.
"Iya! Minggu ini, kamu tidak keberatankan?" Mayumi menatap wajah Kayesa yang sedang bimbang.
Begitu juga Zafran, dia memandang Kayesa bersamaan dengan Mayumi, sedikit cemas menunggu jawaban dari wanita itu.
"Oma tidak mau mendengar penolakan," ujar Oma lagi.
"Aku harus bicara dulu dengan bang Rizwan," ujar Kayesa.
"Biar Oma yang menyampai berita ini pada abangmu. Kamu tidak usah khawatir," ujar Mayumi lagi seraya menepuk punggung Kayesa dengan lembut.
Huh... Zafran bernafas lega, melihat Mayumi begitu menyukai Kayesa, seketika matanya berbinar indah, dia merentangkan kedua tangan ingin memeluk Kayesa. Namun, Mayumi menghalanginya.
"Ntar kalau sudah sah baru peluk-pelukan. Enak saja langsung nyosor" ujar Mayumi seraya mendelek kearah Zafran.
Spontan ucapan Mayumi membuat Zafran salah tingkah dan membuat Kayesa malu. Keduanya saling diam, hanya lirikan mata mereka yang berbicara. Untungnya Ruhi datang membawa menu makan malam untuk mereka, hingga suasana yang kaku, hangat kembali.
Selesai menyantap makan malam, Kayesa berpamitan pada Mayumi untuk kembali ke rumah. Dan Mayumi meminta Ruhi yang mengantar Kayesa pulang. Zafran tidak diijinkan ikut.
"Tugas kamu di sini. Jaga Oma," ujar Mayumi kala Zafran terlihat ingin protes.
"Iya. Oma! Aku antar Kayesa ke luar dulu," ujar Zafran seraya mengiri langkah Kayesa.
"Sampai jumpa besok, miss you," bisik Zafran di telinga Kayesa.
__ADS_1
Lambaian tangan, dan binar indah mata Kayesa sudah merupakan balasan dari ucapan Zafran. Zafran menatap kepergian Kayesa bersama Ruhi, hingga punggungnya menghilang di belokan koridor rumah sakit. Zafran kembali masuk ke ruang rawat Mayumi.
*****
Di tempat lain, Shaga yang baru meninggalkan rumah sakit, dengan perasaan galau dan gundah, pergi kekediaman Alena.
Tok...Tok... Tok...
Shaga mengetuk pintu rumah Alena, beberapa menit kemudian terdengar seseorang menyeret langkah kaki mendekati daun pintu.
"Tuan Shaga!" Alena menatap Shaga yang berdiri di depan pintu.
"Apa yang membuat kamu sampai ke rumah ku?" Tanya Alena sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Siapa Alena?" Tanya Asaka sambil kekuar dari ruang tengah.
"Kamu! Ngapain malam-malam menemui Alena?" Asaka tidak menyukai, Alena menantunya menerima tamu laki-laki di malam hari.
Sepulang dari toko perhiasan tadi, Asaka langsung menemui Alena. Dia memberikan cincin yang tadi dibelinya sebagai permintaan maaf pada Alena atas kekesarannya tadi siang. Tentu saja Alena dengan senang hati menerimanya.
"Ada perlu bicara dengan Alena. Nyonya!"
"Panggil dia nyonya Alena. Kamu tahukan kalau Alena ini istri dari tuan Zafran." Asaka menohokkan jari telunjuknya ke bahu Shaga.
"Nyonya Alena! Bisa ikut aku sebentar. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan," ujar Shaga lagi, tak memperdulikan kesinisan Asaka.
"Bicara saja di sini." ketus Alena.
"Tidak bisa. Ini sangat penting, dan aku hanya ingin memberitahunya pada Nyonya," ujar Shaga lagi.
Shaga hanya ingin memperlihatkan Video tentang Zafran dan Kayesa yang direkamnya tadi pada Alena. Tapi Shaga tidak mau Asaka tahu, karena Asaka pasti tidak akan percaya, dan bisa saja menuduh Shaga merekayasa. Karena Shaga tahu betul bagaimana karakter Asaka.
"Kenapa? Aku ini mama mertua Alena. Jadi tak ada rahasia di antara kami berdua," ujar Asaka menantang keinginan Shaga.
"Ya sudah. Jika Nyonya Alena tidak mau ikut aku, aku tidak akan memberitahunya."
Sedikit kesal, Shaga memutar tubuhnya membelakangi Alena dan Asaka, lalu melangkahkan kakinya menuju ke mobil. Belum sempat Shaga menggapai handle pintu terdengar teriakan Alena.
"Tunggu! Aku akan ikut dengan mu," ujar Alena, seraya bergegas menyusul Shaga, dia tidak memperdulikan teriakan Asaka yang mencegahnya.
Shaga menoleh ke arah Alena yang berlari kecil menyusulnya. Shaga membuka pintu mobil, dan mentitahkan Alena masuk. Begitu Alena masuk ke dalam mobil, Shaga menekan pedal gas dan meluncur meninggalkan rumah Alena, lalu berhenti di tepi jalan sekitar seratus meter dari rumah Alena.
"Apa yang ingin kamu sampaikan padaku?" Tanya Alena.
Baru saja Shaga ingin membuka galeri, ponselnya berdering, ada panggilan masuk. Shaga mengangkat panggilan telepon tersebut. Setelah mendengar lawan bicaranya, Shaga menarik pedal gas kembali meluncur, lalu memutar balik mobilnya menuju rumah Alena.
"Turun!" Titah Shaga begitu sampai di pintu pagar Alena.
__ADS_1
"Hay...Bukannya tadi..."
"Turun kataku!" bentak Shaga