Pernikahan Semalam

Pernikahan Semalam
Cinta pertama


__ADS_3

Part 94.


"Sadar Kay! Sadar! Zafran itu sudah menikah dengan Alena." Shaga menggoncang tubuh Kayesa.


Suasana hati Shaga sedikit kesal, kala Kayesa mengatakan akan tetap memilih Zafran, walaupun Shaga sudah memaparkan bagaimana anggapan orang pada Kayesa, jika dia menikah dengan Zafran. Namun, sedikitpun tidak menggoyahkan pendirian Kayesa.


"Zafran sudah berjanji padaku, dia akan segera menceraikan Alena." Sela Kayesa.


"Kamu tega melihat wanita lain diceraikan suaminya, demi mendapatkan ambisimu. Kamu tak wanita tak berperasaan. Di mana hati nuranimu. Kay!" ujar Shaga seraya menatap tajam ke wajah Kayesa.


Perasaan Kayesa sedikit terusik, mendengar petuah yang dicurhatkan oleh Shaga.


"Kay! Kamu dan Alena itu sangat berbeda. Alena wanita karir dan tajir saja, bisa ditinggalkan Zafran. Apa lagi kamu. Aku tidak mau kamu tersakiti, kamu belum tahu siapa Zafran sebenarnya," lanjut Shaga kembali meyakinkan Kayesa.


Rumor Zafran tukang kawan cerai, sebenarnya sudah sampai ke telinga Shaga, hanya saja dia belum tahu kebenarannya, karena dia belum mendapat berita yang akurat tentang itu. Shaga mendapat kabar hanya dari mulut ke mulut.


Mendengar ucapan Shaga, hati Kayesa menjadi bimbang, apa yang dikatakan Shaga benar, kalau dia dibanding Alena, bagai langit dan bumi. Alena cantik, seksi, modis, wanita karir, kaya dan sempurna. Wanita seperti itu saja ditinggalkan Zafran.


"Apa aku terlalu kepedean," batin Kayesa, selama ini dia tidak pernah kepikiran tentang itu.


Sejenak Kayesa mencerna apa yang diucapkan Shaga, dia berpikir keras, antara hati dan perasaannya kini ada pro dan kontra.


"Kay! Jika alasanmu karena Kiano. Aku juga bisa jadi ayah Kiano. Aku janji akan menjadi ayah yang baik buat Kiano." Shaga kembali membujuk Kayesa.


Sejurus Kayesa menatap wajah Shaga, di mata Shaga dia menemukan keseriusan itu. Tapi entah kenapa, Kayesa malah ragu dengan perasaannya sendiri. Seketika dia menatap jari manisnya, di kedua jari manisnya sudah tersemat dua buah cincin pemberian dari Zafran.


Kala melihat cincin di jari manisnya, tiba-tiba saja wajah Mayumi melintas di benak Kayesa. Wanita tua yang baik itu, sangat berharap Kayesa menikah dengan cucunya.


"Aku tidak bisa mengecewakan oma," batin Kayesa lagi, dia membulatkan hati tetap akan menikah dengan Zafran.


"Maafkan aku Shaga! Aku tetap akan menikah dengan Zafran." Tegas Kayesa.


"Tapi Kay!.."

__ADS_1


"Aku memilih Zafran, bukan karena dia lebih tajir dari kamu, dan bukan karena tak percaya padamu. Aku memilih Zafran, karena menjaga banyak hati," ujar Kayesa.


"Menjaga banyak hati? Hati siapa? Hatimu? Atau hati Zafran?" Tanya Shaga, seraya menatap intens pada Kayesa, lalu menarik nafas panjang.


Raut wajah Shaga terlihat sangat putus asa, berkali dia meraup wajah dengan kedua tangannya, berusaha menepis rasa galau di hatinya, lalu Shaga kembali menatap wajah Kayesa yang sama gelisah dengannya.


"Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu?" Shaga bertanya kembali.


"Iya." Tegas Kayesa sambil mengangguk.


Wajah Shaga menegang. Tiba-tiba emosinya meletup-letup, seakan meluap di ubun-ubun, Karena Kayesa menjatuhkan pilihannya pada Zafran, setelah melalui fase perdebatan panjang.


"Apa masih ada yang perlu kita bicarakan? Jika tidak, aku sudah bisa pergi dari sini," ujar Kayesa seraya beranjak dari duduknya.


Spontan Shaga meraih dan menarik tangan Kayesa, Shaga menyerat Kayesa dengan kasar menaiki anak tangga, hingga sampai ke lantai dua.


"Masuk. Aku tak akan membiarkanmu keluar dari sini," ujar Shaga, membuka pintu kamar dan mendorong tubuh Kayesa, hingga terduduk di tempat tidur.


Setelah Kayesa masuk, dengan cepat Shaga menarik kembali pintu kamar dan memutar anak kunci, hingga pintu tertutup rapat dan membiarkan anak kunci tergantung di pintu, agar Kayesa tidak bisa memasukkan sesuatu di lobang kunci, jika dia berupaya untuk membuka pintu.


Shaga beranjak menjauh dari pintu kamar. Dia tak memperdulikan teriakan Kayesa, walaupun bunyi gedoran di pintu semakin kuat.


"Shaga! Aku mohon! Tolong lepaskan aku, Kiano pasti sedang mencariku," ujar Kayesa lagi, kali ini suaranya semakin lantang.


Sejenak Shaga menatap pintu kamar yang bergerak-gerak karena digedor oleh Kayesa. Lama kelamaan teriakan Kayesa semakin mengecil. Kayesa terus berteriak. Namun, semua yang Kayesa lakukan, tidak membuat Shaga berubah pikiran.


Beberapa menit kemudian, suasana menjadi lengang, tak terdengar lagi ada berisik langkah Shaga yang menuruni anak tangga. Itu artinya Kayesa tinggal sendiri di lantai atas.


"Ya Tuhan! Aku harus bagaimana," batin Kayesa, seraya meraup habis wajah dengan kedua tangannya. Kayesa memindai ruang kamar yang berukuran lima kali lima meter itu.


Mata Kayesa tertuju pada sebuah gorden pink yang tergantung, Kayesa menyingkap gorden itu, di balik gorden ada jendela kaca berukuran sekitar satu meter. Kayesa membuka kaca jendela yang di pagar dengan terali. Jangankan mau keluar dari jendela itu, mau melihat ke bawah saja tidak bisa.


Dari kejauhan di lantai atas, Kayesa melihat mobil Shaga ke luar dari pagar, melaju di jalan raya. Kayesa berteriak memanggil Shaga. Namun suara hanya menggema di dalam kamar, karena terhalang terali besi, membuat Kayesa tidak bisa leluasa mengeluarkan suaranya.

__ADS_1


"Ke mana Shaga? Aku harus melakukan sesuatu," batin Kayesa.


Kayesa berusaha menjulurkan kedua tangan dari terali besi, sambil berteriak Kayesa melambaikan tangan, berharap ada yang melihat dan mendengar suaranya. Namun, hingga suaranya habis, tak ada yang menggubrisnya.


Setengan putus asa, tubuh Kayesa melorot ke lantai kamar, matanya nanar menatap kosong, netranya kembali memanas dan berair. Kayesa meraup habis wajah dengan ke dua tangannya, lalu menarik nafas panjang, seraya menyandarkan kepala ke dinding. Dua bulir kristal jatuh di sudut netranya.


"Esa!"


Tiba-tiba ada suara memanggil namanya dari luar, lalu terdengar anak kunci diputar, pintu kamar terbuka, sosok Rayzad berdiri di depan pintu yang terkuak lebar.


"Rayzad."


"Ayok kita pergi dari sini. Mumpung Shaga lagi keluar," ujar Rayzad seraya menarik tangan Kayesa membantunya berdiri.


Bergegas keduanya ke luar dari kamar, menuruni anak tangga, berlari ke ruang tengah dan keluar dari rumah itu. Setelah ke luar pagar, Rayzad setengah berlari, mengajak Kayesa menyeberang jalan, karena mobilnya sengaja di parkir jauh sekitar tiga puluh meter dari rumah Shaga.


Begitu sampai di tempat Rayzad memarkir mobil, Rayzad membuka pintu mobil untuk Kayesa. Setelah Kayesa masuk, Rayzad memindai keadaan di sekitarnya, lalu dia duduk di depan stir mobil, menarik pedal gas dan meluncur.


Kayesa menarik nafas lega, sejenak dia menoleh ke rumah Shaga. Kayesa tak habis pikiran, kenapa Shaga bisa senekad itu.


"Esa! Kamu tidak ingin melaporkan Shaga ke polisi?" Tanya Rayzad, begitu sudah jauh dari rumah Shaga.


"Tidak!"


"Kenapa? Apa kamu masih mencintai laki-laki itu?" pertanyaan Rayzad, membuat mata Kayesa membulat.


Tadi waktu Shaga menyeret Kayesa masuk ke mobilnya dengan paksa. Rayzad yang diperintahkan Mayumi menjemput Kayesa untuk fitting baju pengantin, sedang berada di dalam mobil, Rayzad berhenti di samping kiri pintu gerbang rumah Rizwan, kala melihat Shaga membawa Kayesa, Rayzad mengikuti mobil Shaga, sampai ke rumahnya.


Dari kejauhan, Rayzad memperhatikan gerak gerik Shaga yang menyeret Kayesa masuk. Diam-diam Rayzad menyelinap masuk dan bersembunyi di balik dinding pembatas, Rayzad mendengar semua pembicaraan Shaga.


Kala Shaga menyeret Kayesa ke lantai atas, Rayzad mencari sesuatu yang bisa menjadi senjatanya untuk melawan Shaga. Namun kala Rayzad ingin beranjak dari persembunyiannya. Rayzad mendengar suara langkah kaki menuruni tangga. Shaga yang tidak menyadari kehadiran Rayzad, keluar rumah tanpa mengunci pintu utama, karena dia hanya ingin pergi membeli makanan untuk Kayesa.


Begitu memastikan Shaga masuk mobil dan meluncur ke luar dari pekarangan rumah, Rayzad bergegas menaiki anak tangga, untungnya Shaga mengunci Kayesa di dalam kamar, kuncinya masih tergantung di depan pintu.

__ADS_1


"Iya! Shaga memang cinta pertamaku," jawab Kayesa seraya menoleh ke arah Rayzad.


"Lalu kenapa kamu menerima lamaran tuan Zafran?" Rayzad kembali bertanya. Tentu saja Rayzad tidak suka mendengar jawaban Kayesa.


__ADS_2