Pernikahan Semalam

Pernikahan Semalam
Plin plan


__ADS_3

Part 67


Setelah kepergian ketiga gadis itu. Zafran bernafas lega. Jika ketiga gadis itu kembali mengacaukannya, Zafran pasti akan membuat hidup mereka hancur.


Berbeda dengan Kayesa, wajahnya tiba-tiba berubah murung, dia merasa bersalah pada Alena, karena membiarkan hati dan perasaan terjebak dalam situasi yang tak seharusnya.


"Kamu kenapa?" Tanya Zafran seraya menggeser kursinya mendekat.


"Tuan kenapa memperlakukan Alena seperti itu. Bukannya dia sudah jadi istri. Tuan!"


Zafran menarik nafas panjang, lalu menghempaskannya perlahan. Tadi dia sudah meminta Kayesa untuk tidak memanggilnya dengan sebutan tuan. Namun, Kayesa masih melakukannya.


"Pertama aku tidak ingin berdebat dengan kawan-kawan Alena. Kedua aku mencintamu Kayesa."


"Jika Tuan mencintaiku. Kenapa Tuan mau menikahi Alena?"


"Pertama karena mama yang memaksa. Kedua karena aku baru menyadari, setelah menikahi Alena, ku kira aku bisa melupakanmu, ternyata tidak.


"Aku terpaksa menikahi Alena, karena menjaga keselamatanmu dari ancaman mama." batin Zafran di dalam hati. Zafran terlalu pengecut untuk mengakui kesalahan masalalunya, hanya karena dia takut dibenci Kayesa.


"Tapi... Aku merasa berdosa dalam hal ini," ujar Kayesa seraya memainkan jemari tangannya.


"Esa! Aku tak bisa hidup tanpamu," ujar Zafran seraya meraih tangan Kayesa.


Lama Kayesa memandang wajah Zafran, dia tidak menemukan keraguan di sinar mata laki-laki dingin yang tiba-tiba berubah romantis itu. Apa mungkin Kayesa yang salah menilai Zafran, hingga Kayesa memberi peluang padanya untuk tidak setia pada istrinya.


"Tapi apa yang kita lakukan ini salah. Tuan!" Kayesa menarik tanganya dari genggaman Zafran, lalu melepas cincin dan menyerahkannya kembali ke Zafran.


Baru saja Zafran merasa lega, karena Kayesa menerima lamarannya. Kini Kayesa malah mengembalikan cincin yang baru satu jam disematkannya.


"Sa! Apa yang kamu lakukan? Bukannya, tadi kamu sudah berjanji untuk tetap bersamaku," ujar Zafran meraih tangan Kayesa dan menahan langkah kakinya yang ingin beranjak.


Dengan segenap rasa, Zafran menarik tubuh Kayesa, membawanya ke dalam pelukan. Dia tak tahu lagi bagaimana caranya meyakinkan wanita itu untuk tidak pergi meninggalkannya.


"Aku harus melakukan sesuatu agar Kayesa tetap bersamaku." batin Zafran.

__ADS_1


Kayesa mengurai pelukan Zafran, lalu menatap wajah laki-laki yang terlihat sedikit lelah. Kayesa bimbang, dia bigung. Ingin meninggalkan Zafran, tapi hatinya berkata jangan, ingin tetap bertahan tapi perasaan merasa tidak nyaman.


"Ya Tuhan. Aku harus bagaimana," gumam Kayesa ambigu.


"Aku akan membuat hidupmu tidak tenang. Jika kamu pergi selangkah saja dariku," ancam Zafran lalu melepaskan pelukannya.


Kelembutan Zafran seketika hilang, wajahnya kembali dingin tidak sehangat tadi. Zafran yang berusaha merubah sikafnya, merasa sia-sia, karena Kayesa tetap tak menganggap dan menerimanya.


"Jangan pernah lepaskan cincin ini," ujar Zafran dengan kasar meraih tangan Kayesa, dimasukkannya kembali cincin itu ke jari manis Kayesa.


Seorang pramusaji mengantar pesanan Zafran, meletakkan di atas meja. Setelah menyilakan pramusaji itu pun beranjak. Zafran menyeduh iced chocolate cream, tanpa menawari Kayesa. Hatinya masih kesal dan dongkol dengan sikap Kayesa.


Suasana menjadi canggung, Kayesa hanya memandang menu yang tersaji tanpa menyentuh. Hatinya pun ikut dongkol dan kesal dengan sikap Zafran yang mengancamnya, seolah-oleh sekarang Zafranlah yang menjadi penentu hidupnya.


"Minumlah!" Titah Zafran, seraya menyodorkan gelas iced chocolate cream kepada Kayesa.


Sejenak Kayesa menatap gelas itu, lalu pandangannya beralih ke wajah Zafran. Melihat Kayesa bergeming, Zafran mendekatkan bibir gelas ke bibir Kayesa. Sekali lagi Kayesa menatapnya.


"Cepat minum, dan makan red velvet cake dan almond croissant, habis itu minum obatnya," ujar Zafran, seraya mengambil obat di dalam tas Kayesa.


Tanpa bicara sepatah pun, Kayesa menerima obat dan air mineral dari tangan Zafran. Dan menenggak lima obat seksligus, serta merta meminum air mineral.


"Ayok kita pulang," ajak Zafran seraya meraih dan menarik tangan Kayesa, agar mengikutinya.


Tak ada pilihan, Kayesa terpaksa mengikuti saja apa maunya Zafran, percuma dia menolak dan berdebat, karena Zafran akan tetap dengan pendiriannya.


Begitu sampai di parkir, Budi membuka pintu mobil untuk Zafran dan Kayesa. Mobil melaju meninggalkan pantai menuju jalan raya.


Hawa dingin dari ac mobil, dan efek obat yang baru minum Kayesa, membuatnya mengantuk, berkali dia menguap dan menutup mulut dengan tapak tangan, lalu menumpukan kepala ke sandaran kursi.


Tangan kanan Zafran terulur, meraih bahi Kayesa, lalu menarik kepala Kayesa agar bersandar di bahu, karena lelah dan ngantuk Kayesa pun tertidur.


Mobil yang dikendarai Bumi berjalan pelan, karena padatnya lalu lalang.


"Di depan macet. Tuan," ujar Budi seraya melirik kaca spion samping, ternyata di belakang sudah banyak kendaraan, dia sudah tidak bisa mundur lagi.

__ADS_1


Zafran hanya bisa berdetak kesal, harus bagaimana lagi, tak ada yang bisa dilakukan selain menunggu, mau mundur juga sudah tidak bisa.


"Biasanya di sini tidak pernah macet," ujar Budi ikut bergumam kesal.


Budi mengeluarkan separoh kepalanya dari kaca mobil dan bertanya pada seorang bapak yang sedang membawa dagangan jajan.


"Di depan sana ada kecelakaan mas," jawab si bapak.


"Oh, pantasan macet," gumam Budi lagi.


Sang bapak pun mulai menceritakan kronologis kecelakaannya, karena banyak para pengendara menanyainya.


Hampir tiga mereka terjebak macet, dari berita yang akurat terjadi tabrakan beruntun, gara-gara ada mobil yang remnya blong. Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi, karena remnya blong, sang supir lepas kendali, hingga terjadi tabrakan beruntun, lima buah mobil dan dua pengendara sepeda motor menjadi korban.


Mobil yang melaju itu terus melaju dengan sangat kencang, tanpa bisa dikendalikan, dan ketika menabrak trotoar pembatas jalan, mobil itu terpelanteng ke jalur kanan, naasnya bersamaan dengan kejadian itu, datang mobil dari arah kiri, menghantam mobil itu, dan mobil pun berhenti setelah terdengar bunyi hantaman yang sangat dahsyat.


"Ada korban yang meninggal tiga orang," ujar si bapak mengakhiri ceritanya.


Budi berpamitan pada bapak yang baru bercerita. Mobil kembali meluncur, Kayesa yang tadi tertidur, terusik gara-gara merasakan ada pergerakan. Perlahan dia membuka kedua kelopak mata, dan terkejut kala mendapati dirinya berbaring di pangkuan Zafran.


"Apa kita belum sampai?" Tanya Karesa sambil bangkit dari tidurnya.


Kayesa melihat keluar lewat kaca jendela, dia merasa heran, tadi saat masuk mobil masih siang, dan sekarang sudah gelap. Karena penasaran, Kayesa merogoh tas dan mengambil ponselnya. Jam di layar ponsenya sudah menunjukkan pukul delapan malam.


"Kalau masih ngantuk tidur saja. Masih jauh," ujar Zafran seraya meraih bahu Kayesa dan memintanya kembali tidur.


Tak ada bantahan, Kayesa hanya diam dan menuruti keinginan Zafran, sejatinya dia memang masih mengantuk, karena pengaruh obat yang diminum, selain itu dia juga terlihat lelah. Kayesa kembali berbaring di pangkuan Zafran, lalu memejamkan mata dan kembali tidur.


Satu jam kemudian, mobil yang dikendari Budi memasuki area hotel, setelah memarkir mobil, dia pun turun membuka pintu untuk Zafran.


Setengah berdiri Zafran mengangkat kepala Kayesa, dan meletakkannya di atas kursi sementara dia beranjak, lalu Zafran turun dari mobil sambil memggendong Kayesa ala bridal style.


"Nyonya kenapa. Tuan?" Tanya Tatia saat melihat Zafran menggendong Kayesa.


"Tidur," jawab Zafran.

__ADS_1


__ADS_2