
Part 91
"Dasar laki-laki tak jelas," gerutu Alena.
Dengan kasar Alena menarik handle pintu, turun dan keluar dari mobil. Dengan kasar pula Alena menutup pintu mobil, hingga menimbulkan bunyi gaduh. Tentu saja Alena jengkek, tadi kata Shaga ingin memberiyahunya sesuatu, begitu dia ikut, malah diperlakukan tidak baik.
Bukan Alena saja yang kesal, Shaga pun ikut kesal, seharusnya dia bisa melibatkan Alena, malah gagal. Shaga terpaksa menyimpat deritanya sendiri.
Begitu Alena turun dari mobilnya. Shaga kembali meluncur merambah di jalan raya. Hampir saja dia kehilangan ratusan juta, untung dia belum memberikan video itu ke Alena.
"Sial! Kenapa aku bisa tidak menyadari kalau Razyad melihatku," batin Shaga seraya memukul stir mobil. Rayzad ternyata diam-diam telah mengetahui kalau Shaga telah merekan kejadian di rumah sakit tadi.
Begitu Shaga keluar dari rumah sakit, Rayzad menelepon anak buahnya dan meminta memata-matai Shaga. Dan apa yang ada dipikiran Rayzad, kalau Shaga akan menemui Alena, ternyata benar.
Rayzad menelepon Shaga dan mengancamnya, jika menyerahkan video itu ke Alena, dia akam meminta Zafran memutuskan kerjasama yang selama ini sudah terjalin. Tentu Shaga akan berpikir ratusan kali, untuk memberikan rekaman itu ke Alena, jika perusahaannya terancam rugi besar.
"Zafran tak bisa dianggap remeh, dia dikelilingi orang-orangnya," gumam Shaga seraya kembali memukul-mukul stir mobilnya dengan kesal.
Shaga meraup wajah dengan tangan kirinya. Dia berusaha menepis bayangan wajah Kayesa, mungkin dengan mengikhlaskan Kayesa hidup bahagia dengan Zafran, dia bisa lebih tenang menghadapi kenyataan pahit ini.
"Shaga! Kamu tidak boleh cengeng, mungkin Kayesa bukan yang terbaik untukmu," ujar Shaga mengingatkan dirinya sendiri, tanpa disadarinya, kristal bening itu kembali meluncur di sudut netranya.
Ah... Lagi-lagi Shaga mengeluarkan air mata demi Kayesa, wanita yang dicintainya, sejak zaman putih abu-abu itu dan hingga kini, dia belum bisa melupan Kayesa.
*****
Sementara Kayesa sudah sampai di depan pintu gerbang rumah Rizwan. Setelah mengucapkan terima kasih pada Ruhi, Kayesa turun dari mobil, melambaikan tangan ke arah Ruhi.
Setelah mobil Ruhi menghilang di balik tikungan, barulah Kayesa melangkah masuk ke pekaran rumah, perlahan Kayesa memutar handle pintu, setelah masuk, dia menutup kembali pintu dan menguncinya.
Suasana rumah sudah sepi, jam pun sudah menunjukkan pukul dua puluh tiga, lewat tiga puluh enam menit. Kayesa melangkah memuju kamar Kiano, membuka pintunya setengah lebar, Kiano dan Maeka sudah tidur dengan lelap.
Di ruang tengah terdengar pelan suara televesi. Di sofa ada Rizwan yang masih duduk menonton flim laga. Saat mendengar langkah kaki Kayesa, Rizwan menoleh.
__ADS_1
"Sudah pulang. Key!" Ucap Ridwan seraya melirik jam tangan di pergelangannya.
"I-iya. Bang! Abang belum tidur?" Kayesa balik bertanya.
"Sengaja nunggu kamu pulang, ada yang ingin abang bicarakan," ujar Rizwan, seraya menepuk sofa di sampingnya, meminta Kayesa duduk.
"Kay! Tadi abang sama Ratih sepakat menjodohkanmu dengan Shaga," ucap Rizwan langsung ke intinya.
Rona wajah Kayesa langsung berubah, dia beranjak dari duduk, lalu menggeleng. Kayesa tak habis pikir, bisa-bisa Rizwan menjodohkannya lagi, setelah apa yang dilakukannya dulu, telah merusak masa depannya.
"Kenapa tidak? Bukannya kamu dan Shaga dulu pernah saling mencintai?"
"Aku sudah tak mencintai Shaga. Bang! Aku mencintai laki-laki lain," ujar Kayesa, dia beranjak.
"Shaga sangat mencintaimu. Kay!"
"Iya! Aku tahu itu dari dulu, hingga kini Shaga terus mencintaiku. Tapi aku tak bisa menerima cinta Shaga, aku tak pantas untuknya. Shaga terlalu baik," ujar Kayesa seraya menatap intens ke wajah abangnya.
"Kay! Semuanya bisa dimulai dari awal lagi."
Ada nyeri di hati Kayesa saat mengatakan itu. Dulu Rizwan yang meminta Kayesa melakukan pernikahan semalam, hingga dia harus merelakan hubungannya dengan Shaga hancur. Apa Rizwan sudah melupakannya, hinggga kini dengan gampang dia mengatakan untuk memulai lagi dari awal.
"Tapi Shaga hanya menginginkanmu." Rizwan masih meyakinkan Kayesa.
"Sudah ku katakan pada Shaga, kalau aku mencintai laki-laki lain," ucap Kayesa dengan mata berkaca-kaca, dia seakan tak mampu meneruskan ucapan itu.
Sebelum kristal bening itu meluncur di pipi Kayesa, dengan cepat dia memalingkan wajah dari pandangan Rizwan, lalu Kayesa pamit pada Rizwan dan beranjak masuk ke kamarnya. Setelah menutup pintu kamarnya dengan rapat, Kayesa duduk di tepi ranjang, mengusap habis wajah dengan kedua tangannya sambil menangis terisak.
"Ya Tuhan. Semoga keputusan yang ku ambil ini, baik untuk aku, Shaga, Kiano dan Zafran," gumam Kayesa.
Sambil menarik nafas panjang, Kayesa menyesap air matanya, lalu dia beranjak, melepaskan tas tangan yang masih bertengger di bahu, lalu mencantolkan di gantungan baju samping lemari. Kemudian Kayesa mengganti dres dengan baju tidur, menyambar handuk kecil, masuk ke kamar mandi membersihkan diri.
Setelah keluar dari kamar mandi, Kayesa duduk di dapan meja rias mengahap ke cermin, membersihkan sisa make up yang masih menempel tipis di wajahnya. Begitu merasa wajahnya sudah terbebas dari make up, dia beranjak naik ke tempat tidur.
__ADS_1
Di atas tempat tidur Kayesa membaringkan tubuh dengan posisi telentang, pandangan lurus ke atas menatap langit-langit kamar, dia memikirkan ucapan Mayumi yang memintanya untuk menikah dengan Zafra dalam minggu ini. Pada hal kemaren dia sudah mengatakan pada Zafran, kalau dia akan menikah dengan Zafran, jika dia sudah berpisah dengan Alena.
"Aku harus bagaimana sekarang," batin Kayesa bimbang.
Kayesa merubah posisi tidurnya dengan menghadap ke tembok, berpikir bagaimana caranya membatalkan permintaan Mayumi, agar menunda pernikahannya dengan Zafran.
Pikiran Kayesa buntu, dia tak menemukan jalan keluar dari permasalahannya. Kayesa meraih ponsel yang tadi diletaknya di atas nakas, sejenak melupakan masalahnya. Kayesa menggeser layar ponsel, masuk ke aplikasi whatsapp, ada dua pesan masuk dari Zafran.
(Selamat malam calon istri, selamat rehat) Kayesa membaca pesan dari Zafran sambil membolakan matanya, rasa tidak percaya dengan apa yang tertulis, Kayesa kembali mengeja tulisan Zafran, hingga dia yakin kalau itu benar.
Ada getaran aneh kala Kayesa membaca tulisan calon istri, Kayesa menggenggam ponselnya, mendekap di dada dan memejamkan mata. Dia berusaha menetralkan jantungnya yang tiba-tiba ikut bergetar.
"Apa aku sudah jatuh cinta pada Zafran," batinnya.
"Bahagiakah aku sekarang." Kayesa bertanya pada dirinya sendiri, seraya membuka mata dan menatap kembali kelayar ponsel, membaca pesan berikutnya.
(Sampai bertemu besok. I love you) di akhir pesannya ada emiji love.
"Terima kasih sudah mencintaiku," batin kayesa, yang tak bisa menterjemahkan rasa yang sekarang melanda hatinya.
"Aku masih harus belajar memahami karaktermu. Zafran! Sikapmu terlalu unik, kadang baik, kadang arogan" guman Kayesa tak habis pikir.
Bayangan Zafran melayang di pikiran Kayesa. Dulu yang ada di benak Kayesa, Zafran adalah sosok monster yang menakutkan, dingin, jutek dan arogan, hingga semua karyawan di kantor takut kalau sudah berurusan dengannya. Seiring berjalan waktu, penilaian Kayesa pun berubah tentang Zafran.
(Cuman dibaca. Kenapa tak dibalas) pesan dari Zafran masuk lagi.
Pesan Zafran menyadarkan Kayesa, kalau dari tadi dia hanya sibuk membandingkan Zafran yang dulu dan Zafran yang sekarang.
"Semua orang berhak berubah, begitu juga dengan Zafran, dan aku percaya kalau Zafran bisa menjadi ayah sambung Kiano yang baik," gumam Kayesa berkhayal.
Tatapan Kayesa kembali tertuju ke layar ponsel, dia menekan beberapa hurup di atas kaybord ponselnya, walapun terlihat gemetar, dia bisa menulis lima kata, dengan ibu jarinya.
(Selamat tidur. Love you too) Kayesa menekan send, pesan pun terkirim. Satu detik kemudian sudah centang dua biru.
__ADS_1
"Terima kasih. Esa! Aku berjanji akan menjadikanmu wanita terakhir dalam hidupku," batin Zafran seraya mengecup layar ponselnya, seakan memberikan kecupan pada Kayesa sang calon istri.
Tanpa Zafran sadari, sepasang Mata Mayumi melirik ke arahnya dan tersenyum melihat kelakuan Zafran.