
Part 107
Sejak kehilanga jejak Zafran, Mayumi dan orang-orangnya, membuat Kayesa pasrah, kala Rizwan memutuskan, untuk menutupi rasa malu, karena sudah terlanjur mengundang kerabat dan keluarga, Kayesa terpaksa menyetujui permintaan Rizwan, menikah dengan Shaga.
Kayesa tak bisa menolak, sama waktu dia dinikahkan Rizwan lima tahun yang lalu. Cinta Kayesa pada Shaga masih utuh, hanya saja dia merasa tak bahagia, karena Kiano putranya, tidak menginginkan Shaga untuk jadi ayahnya.
"Abang minta maaf. Semua ini abang lakukan demi kamu, Abang tidak mau keluarga kita akan merendahkanmu, gara-gara kamu ditinggal sebelum pernikahan terjadi," ujar Rizwan memberi penjelasan.
Tak terasa, dua bulir kristal bening luruh di sudut mata Kayesa, di depan cermin Kayesa menatap wajahnya yang sudah dirias dan tubuhnya yang sudah dibalut dengan kebaya putih. Kayesa menilik matanya yang terlihat sembab.
"Kay! Apa kamu sudah siap?" Ratih masuk ke kamar penganten.
Mendengar suara sapaan lembut kakak iparnya, secepat kilat Kayesa menyesap air matanya, lalu menoleh ke arah wanita yang sudah berdiri di sampingnya. Kayesa menarik nafas panjang, lalu mengangguk.
"Apa kamu masih memikirkan laki-laki brengsek itu?" Tanya Ratih menyelidik seraya menatap manik mata Kayesa, yang berair.
Sambil menarik nafas lagi, Kayesa membuang muka. Ada perih menyayat ulu hati, sesuatu menyesak tiba-tiba, seraya menggigit bibir bawahnya. Dua bulir kristal bening itu kembali meluncur.
"Kay! Lupakan Zafran. Dia tidak pantas untuk wanita sebaik kamu," ujar Ratih lagi, seraya menyentuh dagu Kayesa, agar Kayesa menatap ke arahnya.
Tanpa bicara buliran kristal itu kembali mengalir menganak sungai, Ratih meraih tisu, lalu mengelap air mata Kayesa yang tak terbendung. Tangisan tanpa suara. Sebagai seorang wanita, Ratih tahu apa yang dirasakan Kayesa sekarang. Ratih merengkuh wanita itu dalam pelukannya.
"Dek! Seharusnya kamu jangan membiarkan hatimu sakit, karena laki-laki itu, kamu tidak boleh berlarut seperti ini. Kakak yakin Shaga akan membuatmu bahagia." Ratih meyakinkan bias keraguan di mata Kayesa.
Sekali lagi Kayesa menarik nafas panjang, lalu mengurai pelukan Ratih. Wanita yang berstatus kakak ipar itu, sangat perduli pada Kayesa.
"Maafkan aku kak. Aku terlalu cengeng dan bodoh," ujar Kayesa, sambil menarik beberapa lembar tisu, mengusap pelan sisa air mata di pipi, lalu merapikan rias wajahnya yang sedikit berantakan.
Atas bantuan Ratih, Riasan di wajah Kayesa kembali seperti semula. Setelah memastikan kalau hatinya telah siap menerima Shaga, Kayesa beranjak dari duduknya, dengan digapit Ratih dia keluar dari kamar menuju ruang tengah.
Sejurus Kayesa menoleh ke arah Kiano yang sedang berada dalam gendongan Maeka. Tiba-tiba saja bayangan Zafran melintas.
__ADS_1
"Maafkan bunda sayang," batin Kayesa, dia tidak bisa memenuhi keingin Kiano untuk memjadikan Zafran ayahnya.
"Kay! Ayok duduk," bisik Ratih membuyarkan lamunan Kayesa.
Sebelum mendudukkan bokongnya. Mata Kayesa tertuju pada Shaga, wajah laki-laki itu tersenyum simbringah, menyambut kedatangannya. Shaga meraih tangan Kayesa dan meminta duduk di sampingnya.
Perlahan Kayesa mendudukkan bokongnya di sebelah kiri Shaga. Ratih meletakkan sebuah selendang panjang berwarna putih di atas kepala kedua mempelai, pertanda keduanya sudah siap untuk dinikahkan. Penghulu dan kedua orang saksi pun sudah hadir.
"Shaga! Apa kamu sudah siap untuk melaksanakan ijab qabul?"
"Insya Allah siap." Shaga menjawab pertanyaan penghulu dengan tegas.
Rizwan duduk berhadapan dengan Shaga, Rizwan satu-satunya keluarga Kayesa yang bisa menjadi wali nikahnya. Rizwan menyodorkan tangan menyalami Shaga.
"Shaga Algifari bin Khusyairi, saya nikahkan kamu dengan Kayesa Artha binti Rasmudi dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan sepuluh gram emae dua puluh empat karat dibayar tunai." Rizwan mengucapkan ijab.
"Hentikan!"
"Zafran," gumam Kayesa seraya berdiri.
Shaga tersentak kaget, dia pun bangkit dari duduk memandang Kayesa dan Zafran secara bersamaan.
"Esa! Kamu akan menikah denganku. Bukan dia," ujar Zafran meraih kedua tangan Kayesa.
"Tidak! Lepaskan!" bentak Kayesa, seraya menarik tangannya dengan kasar hingga terlepas.
"Kenapa kamu baru datang sekarang?" Tanya Kayesa seraya menatap Zafran dengan tajam.
"Sa! Dengar aku," ujar Zafran lagi dia kembali meraih tangan Kayesa, dan menarik tubuh Kayesa hingga berada dalam dekapannya.
"Kebohongan apa lagi yang harus ku dengar dari mulutmu itu," ujar Kayesa, seraya mendorong tubuh Zafran, hingga pelukannya terlerai, dan Kayesa mundur beberapa langkah.
__ADS_1
Dor... tiba-tiba terdengar bunyi tembakan, bersamaan dengan itu, Shaga menarik tangan Kayesa dengan kencang, hingga Kayesa terjerembab ke lantai dan Shaga luruh terkulai berlumuran darah. Peluru yang seharusmya mengenai dada Kayesa, malah bersarang di dada Shaga.
Semua mata menoleh ke arah asal tembakan. Seorang wanita dengan berpakaian pasien rumah sakit dan kepala masih diperban, berdiri sambil mengacungkan senjatanya. Matanya yang sembab dan kurang tidur terlihat garang menatap ke arah Zafran.
"Jangan bergerak dan mendekat. Aku bisa memuntahkan isi peluru ini pada siapa pun!" Cerca Alena saat Rayzad bergerak maju
"Alena! Apa kamu sudah gila!" Teriak Zafran, seraya berjongkong merengkuh bahu Kayesa, membantunya berdiri.
Melihat kepedulian Zafran pada Kayesa, membuat darah Alena semakin meluap-luap, amarahnya memuncak ke ubun-ubun, seperti berdesakan ingin dimuntahkan.
"Iya! Aku gila karena kamu dan wanita itu," teriak Alena lantang, lalu melangkah maju beberapa langkah.
Tubuh Kayesa gemetar, dia trauma dengan bunyi ledekan tadi. Apa lagi saat melihat Shaga terkapar bersimbah darah. Kayesa hanya bisa menyilangkan kedua tangan di dada, mendekap tubuhnya sendiri dan berlindung di belakang Zafran.
"Alena! Sadar Alena! Apa yang kamu lakukan akan membuatmu mendekam di penjara," ujar Zafran lagi, berusaha menenangkan Alena yang semakin mendekati dia dan Kayesa.
"Aku tidak perduli! Aku mau kalian berdua mati hari ini, hahaha," Alena menatap intens ke arah Zafran sambil tertawa. Dia sudah tak sabaran untuk melihat Zafran dan Kayesa tergeletak tak bernyawa.
Dengan tangan lurus ke depan dan mata menatap nanar ke depan. Awalnya Alena hanya ingin menginginkan harta Zafran. Namun, beriring waktu Alena, tak bisa Alena pungkiri, kalau dia sakit hati saat mengetahu kalau Zafran akan menikah dengan Kayesa. Dan Alena bertekad alena bertekad untyk menghabisi keduanya.
"Alena! Hentikan Alena, semuanya bisa kita bicarakan," ujar Zafran ingin menenangkan Alena yang sudah siap-siap menarik pelatuk pistolnya.
"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Zafran! Aku lebih rela kamu mati dari pada jadi milik wanita itu," ujar Alena terus maju.
Tangan Zafran bergerak cepat dia menggeser tubuh Kayesa agar terlindung dari ancaman Alena. Zafran tidak akan membiarkan Alena menyakiti Kayesa. Dia akan melindungi Kayesa bagaimana pun caranya.
"Hentikan Alena!"
Tiba-tiba Asaka masuk, dia menyerang Alena dari belakang dan merampas pintol yang ada di tangan Alena.
Dor...Bunyi tembakan kembali terdengar. Sebuah peluru menembus dada kiri Asaka. Asaka yang berusaha merampas pistol.di tangan Alena, tanpa sengaja tertekan pelatuk pistol yang mengarah kedadanya.
__ADS_1
"Mama!" Teriak Zafran dan dia pun segera berjongkok.