
Part 88
Setelah mendapati Mayumi pingsan, Zafran menelepon Rayzad dan membawa Mayumi ke rumah sakit. Begitu sampai di rumah sakit, Mayumi dibawa ke ruang UGD, dan langsung ditangani oleh dokter Niko.
Zafran mondar mandir, seperti setrikaan di depan ruang UGD. Rasa cemas merasuki pikirannya, sambil berdoa komat kamit, sebentar-sebentar Zafran menatap ke ruangan di mana omanya ditangani.
"Bagaimana keadaan Oma. Dok!" Tanya Zafran setelah dokter Niko yang memeriksa Mayumi keluar.
"Kita berdoa saja, semoga oma baik-baik," jawab dokter Niko sambil menepuk dan mengusap pundak Zafran.
"Tolong lakukan yang terbaik buat oma, berapa pun biayanya," ujar Zafran lagi.
"Tim dokter akan melakukan yang terbaik. Ada sobekan dinding jantung oma, hingga tersumbatnya pembuluh darah koroner yang men-suplai makanan ke otot jantung, itu yang menyebabkan oma terkena serangan jantung," jelas dokter Niko.
"Bagaimana bisa oma kene serangan jantung?" batin Zafran dalam hati.
Setahu Zafran, dulu omanya pernah kena serangan jantung, puluhan tahun yang lalu, sudah lama sekali omanya tidak pernah kena serangan jantung.
"Banyak faktor yang membuat orang kena serangan jantung. Tapi Tuan tidak usah khawatir, masa kritisnya oma sudah lewat," jawab dokter Niko lagi, kala melihat ada kecemasan di wajah Zafran.
"Pemicu utama biasanya, emosi yang tak stabil," ujar dokter Niko lagi, lalu pamit beranjak mengunjungi pasien lain.
Mendengar penjelasan dokter Niko, Zafran merogoh saku celananya, mengambil ponsel dan menggeser layarnya memasuki aplikasi cctv. Zafran memeriksa apa yang terjadi di apartemennya.
Dari layar ponsel Zafran, terlihat jelas terjadi pertengkaran antara Asaka dan Mayumi. Asaka marah besar kepada Mayumi, karena Mayumi telah merubah isi dokumen wasiat, dulu isi wasiatnya, semua harta peninggalan Mayumi sepenuhnya akan diwariskan kepadanya, dan sekarang berubah, hanya Zafran satu-satunya pewaris tunggal itu.
"Mama! Kenapa mama selalu mencurangiku," teriak Asaka.
Asaka tidak terima dengan keputusan sepihak dari Mayumi. Walaupun Zafran merupakan putranya sendiri, tapi dia tidak terima Mayumi mengabaikannya. Pertengkaran hebat itu terjadi.
"Aku hanya ingin menyelamatkan perusahaan keluarga. Kamu setuju atau tidak aku tidak perduli," balas Mayumi.
"Terserah mama. Aku tahu kalau mama tak pernah menyayangiku, tak pernah menganggapku anak. Aku benci mama," ujar Asaka lagi, beranjak pergi, sebelum keluar dari apartement meninggalkan Mayumi. Asaka merampas dan merobek surat wasiat itu.
Terlihat nyata Asaka melemparkan sobekan kertas itu dan melemparkan kewajah Mayumi. Lalu mendorong tubuh Mayumi hingga terjatuh ke lantai, pada saat itulah Mayumi terkena serangan jantung dan Asaka pergi tanpa menoleh sedikit pun.
"Oh Tuhan. Jadi mama yang jadi penyebab oma terjatuh dan pingsan," batin Zafran.
Sejenak Zafran menatap sosok wanita yang sudah berusia tujuh puluh tahun itu. Mayumi terlihat tenang setelah alat pernafasan itu dipasang. Zafran mendekat dan meraih tangan omanya. Tangan yang dulu selalu menggendongnya.
"Oma! Apa oma mendengar suaraku." Zafran berbicara di tepi telinga Mayumi.
Mayumi merespon ucapan Zafran dengan menggerakkan jari tangannya. Melihat jemari Mayumi bergerak, Zafran berteriak memanggil perawat. Perawat datang dan memeriksa keadaan Mayumi.
__ADS_1
"Alhamdulillah," ucap perawat saat melihat Mayumi membuka matanya.
Tangan Mayumi bergerak mencabut vantilator dari hidungnya. Lalu dia pun bangun dari tidurnya, sesak nafas yang tadi sempat menghimpit dadanya, kini sudah tak terasa lagi.
"Oma! Apa yang oma lakukan." Zafran mencegah Mayumi yang ingin beranjak turun.
"Aku ingin pulang," ujar Mayumi, seraya ingin mencabut jarum infus di pergelangan tangan kirinya. Mayumi selalu saja begitu, membuat orang lain cemas.
Spontan Zafran mencegah tangan Mayumi, hingga Mayumi menghentikan gerakan tangannya. Sambil memegang tangan Mayumi, Zafran duduk di tepi ranjang, membujuk omanya, agar beristirahat dan tidak terlalu banyak gerak dan berpikir.
"Oma tidak mau dirawat. Oma mau pulang saja," ujar Mayumi menepis tangan Zafran yang menahannya.
"Oma! Oma baru saja sadar, kata dokter, Oma butuh istirahat beberapa hari, agar kesehatan Oma pulih kembali seperti semula." Zafran berusaha membujuk omanya.
"Oma lapar," ujar Mayumi seraya memegang perutnya.
"Aku panggil Rayzad dulu ya. Oma!"
"Tidak usah! Oma mau kamu yang belikan menu kesukaan Oma," ujar Mayumi.
"Oma mau omelette kornet di tempat biasa," ujar Mayumi lagi.
"Oma yakin. Kalau aku ke sana, pulang, pergi satu jam setengah," ujar Zafran.
"Pergilah! Oma hanya mau makan, kalau kamu yang pergi beli," ujar Mayumi.
Mendengar penuturan Mayumi. Zafran memanggil Rayzad agar menemani Mayumi, karena dia akan pergi membeli omelette kornet makanan kesukaan omanya. Seraya pamit, Zafran meraih dan mencium punggung tangan Mayumi, lalu meminta kunci mobil pada Rayzad.
Sepeninggalan Zafran, Mayumi meminta Rayzad menjemput kayesa dan membawanya ke rumah sakit. Mayumi ingin membuat kejutan untuk Kayesa dan Zafran. Dan Mayumi berpesan, agar secepatnya kembali ke rumah sakit, sebelum Zafran datang.
"Baik. Oma!"
Tanpa membantah sedikit pun, Rayzad segera beranjak meninggalkan Mayumi, seraya menyusuri koridor rumah sakit, Rayzad menelepon Ruhi, dia meminta Ruhi menjemputnya ke rumah sakit. Karena mobilnya dibawa Zafran.
"Tiga puluh menit lagi. Ku jemput," terdengar suara Ruhi dari panggilan telepon.
"Sekarang. Ruhi!" Titah Rayzad.
"Sekarang?"
"Iya! Ini perintah oma! Jika kamu tidak mau dipecat sama oma Mayumi," ancam Rayzad.
"Iya! Aku ke sana sekarang," ujar Ruhi.
__ADS_1
"Ku tunggu paling lama sepuluh menit," ujar Rayzad lagi.
Sementara di rumah Rizwan, Kayesa, Ratih dan Maeka sedang menunggu kedatangan Shaga dan Zafran untuk dinner bersama, karena tadi sore, Shaga dan Zafran sudah berjanji akan datang.
Tok... Tok... Tok, ada ketukan di pintu depan dan ucapan salam.
"Biar Mae yang buka. Nya!" Ujar Maeka beranjak dari duduknya, kala melihat Kayesa berdiri.
Maeka menyeret langkah kaki menuju ruang tamu, tangan kanannya bergerak menggapai handle dan menguakkan daun pintu, Maeka menjulurkan kepalanya keluar, dia tidak melihat sosok siapa pun.
Langkah kaki Maera ke luar dari pintu utama, Maeka melihat bayangan dari balik pohon mangga, yang dipantulkan cahaya lampu teras. Seorang laki-laki berdiri membelakanginya, sedang bicara di telepon.
"Iya! Aku akan segera menikah." hanya kata-kata yang terdengar, entah bicara dengan siapa, Maeka tidak tahu, karena Shaga tidak menyebut nama lawan bicaranya.
Deg... mendengar ucapan Shaga. Jantung Maeka berdetak kencang dua kali lipat dari biasanya. Maeka yang sudah berusaha membunuh rasa sukanya dengan Shaga, tetap sakit hati, kala mendengar Shaga akan menikah.
"Siapakah wanita beruntung yang akan menjadi pasangan hidup tuan Shaga," batin Maeka.
Kata-kata terakhir yang Shaga ucapkan dipanggilan telepon itu, mampu membuat netra Maeka mengembun, ada perasaan sedih, karena putus asa yang menjalar di relung hati Maeka yang paling dalam.
"Maeka! Sadarlah. Shaga bukan milikmu," batin Maeka dalam hati, dua bulir kristal bening, jatuh di sudut matanya tanpa diminta.
Shaga mengakhiri sambungan telepon. Dia memasukkan ponsel ke dalam saku celana, lalu memutar tubuhnya, beranjak mendekat ke arah Maeka.
"Maeka!"
Sapaan Shaga membuat Maeka tersadar, dengan cepat dia menyesap air mata dengan kedua tangannya. Dia khawatir Shaga mengetahui, kalau dia menangis karena mencuri dengar percakapan Shaga di telepon tadi.
"Kamu kenapa?" Shaga menilik menatap wajah Maeka intens, lalu menyentuh dan membingkai wajah itu dengan kedua tangannya.
"Nggak apa-apa," jawab Maeka, seraya menepis halus kedua tangan Shaga, yang membuatnya gugup.
"Kamu habis menangis. Apa kamu sakit?" Tanya Shaga, kali ini Shaga meraih kedua tangan Maeka.
Wajah Maeka memerah, perlakuan Shaga membuat Maeka salah tingkah, Maeka terbawa perasaan, air mata yang tadi di tahannya, malah berdesakan ingin ke luar, dengan cepat Maeka menggeleng, mengisyaratkan kalau dia baik-baik saja. Namun Shaga tak percaya.
"Katakan padaku, jika kamu dalam kesulitan," ujar Shaga lagi, dia memegang kedua jari tangan Maeka, lalu melepaskan pegangan tangan, perlahan kedua tangan Shaga terangkat, dia mengusap air mata yang masih bersisa di pipi Maeka.
Dari balik pintu, Kayesa yang menyusul Maeka ke luar, diam-diam memperhatikan Maeka dan Shaga. Kala melihat Shaga memegang kedua tangan Maeka dan menyentuh pipi Maeka dengan lembut, ada nyeri di ulu hatinya.
"Apa Shaga menyukai Maeka," batin Kayesa sambil berusaha menetralkan debar jantungnya yang tiba-tiba berdetakkan kencang.
Walaupun sudah berkali-kali Kayesa mengatakan pada Shaga, kalau dia sudah mencintai laki-laki lain. Namun, kala melihat Shaga sedang bersama wanita lain, Kayesa tidak bisa membohongi perasaannya, kalau dia masih mencintai laki-laki itu.
__ADS_1
"Nyonya!" Sapa Maeka, tiba-tiba suda berdiri di depan Kayesa.