
Part 48
Sementara Rima menyodorkan minuman menu spesial untuk tamu istimewa yang terpilih. Rima menghampiri Kayesa, saat dia melihat kalau Kayesa dan Maeka sudah mengakhir makannya.
"Silakan Nyonya dan adik. Ini minuman spesial kami suguhkan untuk tamu jauh seperti Nyonya," ujar Rima menaroh nampan di atas meja.
Kayesa mengucapkan terima kasih pada Rima, karena mendapat suguhan jus buah, jusnya terlihat sangat menggoda, jus biasa yang di tambahkan topping whipped cream dan potongan buah di atasnya.
"Silakan dicicipi. Nyonya," ujar Rima menyodorkan gelas jus dan meletakkan di depan Kayesa dan Maeka.
"Hay! Adik ganteng. Kenapa diam saja?" Tanya Rima saat melihat anak laki-laki kecil yang berada di pangkuan Kayesa.
"Ini karena ngantuk. Tante," Maeka mewakili menjawab pertanyaan Rima.
"Di dalam ada tempat istirahat. Si adiknya bisa tidur di sana. Nyonya dan adik juga bisa istirahat. Ayok saya antar ke tempat istirahat saja, biar siganteng tidurnya nyaman dan saya bawakan juga jusnya ke sana," ujar Rima mengajak Kayesa dan Maeka.
"Baiklah. Ayok kita istirahat dulu Mae," ujar Kayesa seraya bangkit dari duduknya.
Maeka mengambil alih menggendong Kiano yang sudah ngantuk berat, matanya sudah redup seperti lampu lima watt. Kayesa dan Maeka mengikuti langkah Rima masuk ke dalam warung.
Saat melewati sekatan lemari kaca yang berisi barang-barang antik. Kayesa dan Maeka memasuki sebuah cafe dengan halaman yang sangat luar, dihiasi berbagai aneka macam bunga yang bermekaran.
Mata Kayesa dan Maeka membola, warung yang terlihat kecil dan sudah tua dari depan, ternyata di dalam sungguh jauh berbeda, suasana interior di dalam sangat elegan dan mewah.
"Pantas saja pelayanannya menggunakan alat canggih," batin Kayesa, matanya menikmati setiap sudut Cafe. Penataannya sangat adem di pandang, pasti yang mendekor bukan orang sembarangan.
"Ayok Nyonya, lewat sebelah kiri," ajak Rima, kala melihat Kayesa dan Maeka terkagum-kagum.
"I-iya," ujar Kayesa tersadar dari kekagumannya.
Kayesa dan Maeka beranjak mengikuti langkah wanita itu, hingga masuk ke sebuah ruangan yang terdapat beberapa kamar. Wanita itu membuka salah satu pintu kamar.
"Silakan Nyonya. Nyonya boleh istirahat di sini tanpa dipungut biaya," ujar Rima seraya meletakkan nampan berisi jus di atas nakas.
Sekali lagi Kayesa dan Maeka terkejut. Kamar yang besarnya hampir sepuluh meter persegi itu, memiliki fasilitas lengkap. Ada dua tempat tidur, sepasang sofa, lemari, televisi dan tempat shalatnya.
"Jangan lupa jusnya diminum Nyonya." Rima mengingatkan.
"Terima Kasih. Dik.. siapa.."
"Rima! Nyonya." Rima menyebut namanya, karena memang dari tadi mereka belum berkenalan.
"Jangan panggil saya Nyonya. Panggil kak Esa saja," ujar Kayesa mengenalkan diri.
"Baik kak Esa. Kalau adik siapa namanya?" pertanyaan Rima ditujukan ke Maeka.
__ADS_1
"Aku Maeka pengasuh Kiano," sahut Maeka seraya meletakkan Kiano di atas tempat tidur. Kiano sudah tertidur pulas.
"Adik kecil sepertinya sangat lelah." Rima menatap wajah Kiano yang menggemaskan.
"Iya. Kami baru melakukan perjalanan jauh," ujar Kayesa seraya mengusap rambut Kiano yang sudah terlelap.
Setelah saling kenal dan ngobrol sebentar. Rima kemudian pamit keluar meninggalkan Kayesa dan Maeka.
Sepeninggalan Rima. Kayesa dan Maeka menyantap jus yang dibawa Rima. Rasa jus yang lembut dan enak membasahi tenggorokan yang terasa kering. Lima menit setelah menghabiskan jus, Kayesa dan Maeka tertidur.
"Baguslah mereka sudah tertidur," batin Rima yang sedang memantau keberadaan Kayesa dan Maeka, lewat cctv.
Sesusai arahan Tono yang bermaksud menahan Kayesa dan Maeka di kampung itu. Rima diperintahkan untuk memberi obat tidur pada kedua tamunya. Obat tidur yang Rima masukkan diminuman itu memang mujarab, tak menunggu lama, mangsanya pun tertidur dan dipastikan akan terbangun lima jam kemudian.
"Bagaimana?" Tanya Tono.
"Sudah beres, mereka akan tertidur selama lima jam," ujar Rima.
Setelah memastikan pekerjaannya sudah beres. Tono menelepon Rayzad, memberi kabar kalau Kayesa, anak dan pengasuhnya sedang beristirahat.
Kayesa terbangun dari tidur lelapnya. Perlahan dia menggeliat sempurna, rasa kantuk masih menyerang, hanya saja dia teringat untuk segera meneruskan perjalanannga. Perlahan tapi pasti Kayesa membuka matanya. Dia terkejut kala tanpa sengaja matanya menatap ke dinding jam yang tergantung di sana menunjukkan pukul enam belas lewat empat puluh menit.
"Ya Tuhan. Bagaimana bisa aku tertidur sampai jam segini," batin Kayesa seraya mengucek matanya, dia meraih ponsel menatap layarnya, memastikan kalau jam di dinding itu benar. Ternyata sama.
Kayesa turun dari tempat tidur, lalu memindai kesegala penjuru kamar. Namun, sosok Kiano belum ditemukan. Kayesa melihat pintu kamar yang tidak tertutup rapat.
"Mungkin Kiano bermain di luar," batin Kayesa, lalu menarik handle dan menguakkan daun pintu.
Di luar sepi, tak ada siapa-siapa, Kayesa bergegas menuju halaman cafe. Dari kejauhan Kayesa melihat Rima sedang berbicara dengan seorang office boy. Kayesa beranjang melangkah menuju ke arah Rima.
Menyadari kedatangan Kayesa, Rima membalikkan tubuhnya dan tersenyum ramah.
"Kak Esa sudah bangun. Apa kak Esa sedang mencari Kiano?" Tanya Rima, kala melihat Kayesa menoleh ke kiri dan ke kanan.
Belum sempat Kayesa melontarkan ucapannya. Rima sudah membrondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan. Kayesa hanya bisa mengangguk.
"Putra kakak ada di sebelah sana bersama tuan Tono," ujar Rima lagi seraya menunjuk ruangan di sebelah kiri cafe.
Mendengar penuturan Rima, Kayesa bernafas lega. Rasa khawatir dan cemas yang tadi sempat melanda hatinya, sirna saat melihat Kiano sedang tertawa riang dengan dua gadis kembar seusianya. Kayesa pun beranjak mendekat.
"Bunda. Ini teman balu (baru) Kiano," ujar Kiano saat melihat Kayesa mendekat ke arahnya.
"Maaf Nyonya. Tadi saya melihat Kiano sendirian bermain di depan kamar, makanya saya bawa ke sini," ujar Tono.
"Saya yang minta maaf, karena sudah merepotkan Abang," sela Kayesa.
__ADS_1
"Ini putri saya. Eka dan Eki," ujar Tono mengenalkan, saat Kayesa menatap dua putri cantik dengan rambut di kepang.
"Oh! Anak-anak yang canti," Kayesa menyentuh pipi kedua gadis kecil itu.
"Tante juga cantik," ujar Eka membalas ucapan Kayesa.
"Wah. Kamu sudah lancar bicaranya, tidak seperti Kiano yang masig cadel, masih ada beberapa kata yang belum bisa diucapkannya dengan sempurna," puji Kayesa.
"Tapi Kiano sangat ganteng tante," Eka kembali menyeletuk. Kayesa hanya tertawa mendengar ucapan polos dari Eka. Sementara Eki hanya diam sambil bersandar di pangkuan ayahnya.
"Eka dan Eki emang beda. Eka suka bawel. Kalau Eki pendiam dan penurut," Tono menjelaskan.
"Pasti enak ya Bang. Punya anak kembar."
Obral mereka nyambung, hingga Kayesa menghabiskan waktu tiga puluh menit di situ, menyadari hari beranjak petang, Kayesa pun pamit seraya menggendong Kiona membawanya kembali ke kamar. Di dalam kamar terlihat Maeka masih tertidur.
Tok.. Tok.. Tok, Baru beberapa detik Kayesa berada di kamar, terdengar bunyi ketukan di daun pintu, Kayesa menyeret kakinya melangkah mendekati pintu, menarik handle dan menguakkan daun pintu setengah lebar, di depan pintu sudah berdiri Rima sambil membawa tiga buah paperbag.
"Ini dari tuan Tono," ujar Rima menyodorkan paperbag kearah Kayesa.
"Apa ini?" Tanya Kayesa.
"Baju ganti untuk kakak, Maeka dan Kiano."
"Tapi saya tidak memesannya," ujar Kayesa lagi, dia menolak paperbag dari tangan Rima.
"Tadi tuan Tono pesan. Kakak di suruh siap-siap. Katanya ingin dibawa bertemu ke rumah tuan Badrun," jelas Rima.
Rima kembali menyodorkan paperbag itu ke Kayesa, setelah meyakinkan dengan memberi penjelasan panjang lebar, akhirnya Kayesa mau menerima pemberian dari Tono. Dan Rima begitu berhasil meyakinkan Kayesa, dia pun berpamitan.
"Mae! Maeka! Bangun!" Kayesa menggoyang tubuh Maeka.
"Agggrh." Maeka menggeliat sempurna.
"Masih ngantuk," ujar Maeka seraya memeluk bantal guling, dia kembali ngorok sambil iliran.
"Ya Tuhan. Gadis, tapi jorok," ujar Kayesa, menarik bantal guling dari pelukan Maeka. Perlahan Maeka membuka matanya yang redup, perdetik berikutnya dia tertidur lagi.
"Bangun! Sudah pukul lima sore," ujar Kayesa seraya menepuk pipi Maeka.
"Masih ngantuk," rengeknya, persis anak kecil.
"Pak Badrun ingin bertemu denganmu," bisik Kayesa di telinga Maeka. Spontan Maeka langsung bangkit dari tidurnya, lalu duduk, matanya langsung melek.
"Benaran?" Tanya Maeka, mata yang tadi ngantuk, berbinar indah membayangkan sebentar lagi akan bertemu dengan paman, adik dari almarhumah ibunya.
__ADS_1