Pernikahan Semalam

Pernikahan Semalam
Salah Paham


__ADS_3

Part 89


Tentu saja Kayesa kaget, kala mendapati Maeka dan Shaga sudah berdiri di depannya, dengan cepat Kayesa mengusai dirinya, dia tidak boleh terlihat sedih. Dan jika memang Shaga menyukai Maeka, dia harus mendukungnya.


"Ihhh... kalian bikin kaget saja, tiba-tiba muncul," seru Kayesa, seraya tersenyum tipis, berusaha menutupi gundah hatinya.


"Kamu yang melamun. Lagi mikirin aku ya," ujar Shaga menyeletuk, sambil tertawa cekikikan bersana Maeka.


Mendengar celetukan Shaga, mata Kayesa membola, dia menatap ke arah Shaga, lalu beralih ke Maeka, kedua seperti sengaja mempermainkannya, apa itu hanya perasaan Kayesa saja. Entahlah! Yang jelas Kayesa merasa begitu, untuk mengimbangi candaan Shaga, Kayesa ikut tertawa, walaupun terdengar sumbang.


"Kamunya sich! Ganteng habis malam ini, janjian ngedet ya? Tak biasa pakai stelan seperti ini," Kayesa mencerocos, tak perduli dengan wajah Shaga yang berubah, karena salah tingkah. Bagi Kayesa sudah impas dari apa yang Shaga lakukan tadi padanya.


Ups.. Kayesa sengaja menutup mulut dengan kedua tangannya. Seakan bari menyadari apa yang baru dia lakukan. Kayesa melirik ke arah Maeka, yang tiba-tiba tertunduk.


"Iyakan. Mae? Kalau tuan Shaga malam ini ganteng banget. Kamu sspendapatkan dengan aku," ujar Kayesa bertanya pada Maeka. Dia ingin penguatan dari Maeka, kalau bukan dia saja yang mengagumi kegantengan Shaga tapi Maeka juga.


"I-iya," jawab Maeka gugup. Lalu melirik ke arah Shaga.


"Serius aku ganteng?" Shaga menunjuk dirinya dan menatap ke arah Maeka. Itu sengaja Shaga lakukan, hanya ingin melihat reaksi Kayesa.


Tentu saja Maeka semakin gugup kala Shaga menatap ke arahnya. Maeka tak berani memandang Shaga, dia takut kalau Shaga mendengar debaran jantungnya berdetak hebat. Melihat rona wajah Maeka berubah pias, Shaga malah tertawa lepas.


"Jangan kepedean," celetuk Kayesa lagi sambil mencibir ke arah Shaga, hingga bibirnya berbentuk kerucut.


"Kay! Aku tahu kau pasti cemburu," batin Shaga sambil menatap manik mata Kayesa.


"Ayok masuk! Kita sudah ditunggy sama abang dan kak Ratih," ujar Kayesa mengalihkan pembicaraan, sambil meraih tangan Maeka dan Shaga.


Tit...Suara kelakson menghentikan langkah Kayesa, Maeka dan Shaga, ketiganya spontan menoleh ke belakang, dan menatap sebuah mobil memasuki pintu gapura pagar pekarangan rumah Rizwan.


Sejenak Kayesa berpikir, berusaha mengingat mobil yang berhenti di depan rumah abangnya, milik siapa, sepertinya tidak asing bagi Kayesa. Tapi dia gagal menemukan jawabannya.


Tatapan mata Kayesa fokus menatap ke pintu mobil yang mulai bergerak terbuka. Saat pintu mobil terkuat, sepasang kaki wanita menjulur. Pandangan Kayesa beralih ke kaki yang memakai celana panjang dan sendal wanita.


Di dalam hati Kayesa bertanya-tanua, siapa gerangan wanita yang ada di mobil. Kayesa tidak beranjak dari tempatnya, rasa penasarannya terjawab kala wanita itu ke luar dari mobil dan berdiri.


"Ruhi," seru Kayesa kaget, dia baru ingat kalau mobil itu milik Ruhi, karena dia sama sekali tidak menduga kalau Ruhi akan berkunjung ke rumah Rizwan abangnya. Makanya dia tak bisa menemukan pemilik mobil itu.


Begitu Ruhi muncul, dari pintu sebelah kiri ke luar sosok laki-laki yang tidak asing bagi Kayesa. Rayzad dan Ruhi beranjak mendekati Kayesa.


"Apa yang membawa kalian berdua sampai ke sini?" tanya Kayesa, walaupun sebenarnya Kayesa sudah menebak, kalau Ruhi dan Rayzad datang, pasti ada hubngannya dengan Zafran.


"Kami ke sini diperintahkan menjemputmu," ujar Ruhi.


"Menjemputku? Siapa yang memerintahkan? Zafran?"

__ADS_1


"Bukan!"


"Lalu Siapa?"


"Oma Mayumi," jawab Ruhi


Mata Kayesa membulat mendengar Ruhi menyebut nama wanita baik itu. Kayesa merogoh ponselnya, mencari nomor kontak Mayumi lalu menelepon. Setelah mengucap salam Kayesa menanyakan prihal Ruhi dan Rayzad.


"Iya. Oma yang meminta mereka berdua menjemputmu."


"Kenapa harus dijemput. Oma tinggal telepon saja, saya pasti menemui oma."


Wanita itu selalu membuat Kayesa tersanjung, Karena kebaikan-kebaikan Mayumi, telah memberi Kayesa rasa nyaman, hingga kayesa merasa Mayumi selalu mengistimewakannya.


"Ikutlah bersama mereka sekarang. Oma tunggu," ujar Mayumi, terus mengucap salam dan menutup panggilan telepon.


"Kalian tunggu sebentar ya. Aku ambil tas dulu," ujar Kayesa.


Kayesa beranjak menyeret kakinya, melewati Maeka dan Shaga masuk ke rumah, lalu menuju kamarnya. Sepeninggalan Kayesa tidak ada percakapan yang terjadi, semua mata menatap ke arah pintu kamar, menanti Kayesa ke luar.


"Shaga! Maaf ya. Aku tinggal dulu," ujar Kayesa tidak memperdulikan ada biasan kecewa di mata Shaga.


Dengan ekor matanya, Shaga menatap Kayesa yang keluar dari kamarnya menuju ke dapur berpamitan dengan Rizwan dan Ratih, lalu kembali ke luar, penampilan Kayesa telah berubah dari tadi. Dia mengganti daster malamnya dengan dres warna abu bunga-bunga. Kayesa terlihat sangat cantik dan anggun. Mata Shaga lekat menatap ke arah Kayesa.


"Kay! Kamu serius mau ikut mereka dan meninggalkan ku bersama keluarga abangmu?" Shaga meraih tangan Kayesa, hingga langkah Kayesa terhenti. Shaga berharap Kayesa membatalkan niatnya dan lebih memilih tinggal bersama dia dan keluarganya untuk makan malam bersama.


"Tapi Kay!"


"Kita masih punya banyak waktu untuk makan malam bersama," ujar Kayesa lagi, lalu melangkah ke luar.


"Oh iya Mae! Kamu ajak Shaga masuk ya. Aku pergi dulu," ujar Kayesa seraya berhenti sebentar, menatap ke arah Maeka, lalu memalingkan tubuhnya mengikuti langkah Ruhi masuk ke mobil.


Tatapan mata Shaga fokus tak lepas, ke arah mobil yang membawa Kayesa, seakan Shaga tak rela Kayesa pergi tanpa dia. Begitu mobil yang membawa Kayesa menghilang di balik pintu gerbang, Shaga pun menarik nafas kecewa.


"Ayok Tuan. Abang Rizwan dan kak Ratih sudah menunggu kita," Maeka meraih tangan Shaga mengajaknya masuk. Dia berharap Shaga tidak memutuskan menyusul Kayesa sebelum makan siang.


"Shaga sini," Rizwan menarik sebuah kursi dan meminta Shaga duduk di sampingnya. Kala melihat Shaga ke ruang makan bersama Maeka.


Perasaan Shaga sangat tidak nyaman, dia ingin pergi menyusul Kayesa tapi tidak enak, jika harus meninggalkan undangan dari Ratih. Akhirnya Shaga memutuskan untuk makan malam dulu bersama keluarga Rizwan, setelah itu baru menysul Kayesa.


Sementara mobil yang membawa Kayesa meluncur di jalan raya. Rayzad yang bisa menjadi raja jalanan, jarak tempuh tiga puluh menit bisa timbus hanya lima belas menit. Dan dia sudah berjanji pada Mayumi akan sesegera mungkin membawa Kayesa kehadapan Mayumi, sebelum Zafran datang.


Seperlima belas menit kemudian, mobil yang dikendarai Rayzad, membawa Kayesa membelok ke arah kiri, masuk area parkir rumah sakit. Kayesa yang dari tadi asik bermain dengan layar ponselnya tak menyadari, kalau mobil yang dibawa Rayzad, sudah berhenti dan parkir.


"Yuk turun," ajak Ruhi seraya mencolek bahu Kayesa. Kala melihat Kayesa belum bergerak.

__ADS_1


Masih ponsel di tangan, Kayesa berinsut mengikuti Ruhi dan begitu turun dari mobil, dia baru sadar dan merasa heran kenapa Ruhi dan Rayzad membawanya ke rumah sakit.


Sejenak Kayesa menatap bangunan di depannya, sekali lagi, dia memastikan, kalau yang dilihat tidak salah dan benar ini rumah sakit.


"Ini tidak salah tempat? Masa iya di rumah sakit?" Tanya Kayesa, dia menghentikan langkah yang ingin mengikuti Ruhi. Mendengar ucapan Kayesa, Ruhi berhenti melangkah dan menoleh ke arah Kayesa.


"Ya nggaklah. Oma Mayumi lagi di rawat di sini," jelas Ruhi.


"Apa! Emangnya oma Mayumi lagi sakit?"


Anggukan Ruhi sudah cukup membuat Kayesa khawatir. Dia bergegas mengajak Ruhi menemui Mayumi, sambil menarik tangan Ruhi, Kayesa menyusuri koridor rumah sakit dengang langkah lebar.


"Oma!" Sapa Kayesa begitu masuk ke ruang inap, dia beranjak masuk dan berdiri di samling hospital bad.


Pada saat yang sama Zafran masuk, seraya membawa pesanan Mayumi. Dahi Zafran berkerut saat melihat Kayesa berada di kamar Omanya.


"Zafran! Kamu sudah pulang?" tanya Mayumi.


"Tuan Zafran!" Kayesa terkejut, kala mendengar suara langkah kaki dan suara Mayumi memanggil nama Zafran, dia menoleh mendapati Zafran sudah berdiri di belakangnya.


"Esa! Kamu kenapa bisa bersama Oma?"Tanya Zafran.


Kecemasan Zafran tergambar dari raut wajahnya, dia takut kalau Mayumi akan berlaku kasar pada Kayesa seperti Asaka. Drama apa lagi yang harus dibuatnya agar Kayesa aman dari ancaman yang tak diinginkannya.


"Apa dia oma Tuan?" Kayesa balik bertanya.


Kenapa bisa kebetulan begini, dahi Kayesa berkerut. Dia menatap Mayumi dan Zafran secara bergantian. Seketika ada rasa cemas yang berlebihan di pikiran Kayesa.


"Oma Mayumi pasti marah, jika..."


"Kamu dan Zafran sudah saling kenal?" Pertanyaan Mayumi membuat Kayesa menghentikan pikiran buruknya.


"I-iya Oma, kenal hanya sebatas atasan dan bawahan," ujar Mayumi seraya menunduk.


"I-iya Oma, dulu Kayesa pernah bekerja di kantorku."


Perasaan Zafran dan Kayesa tidak beda jauh. Keduanya terdiam hanya saling lirik, mereka merasa cemas, seakan sebentar lagi akan ada kejadian yang akan membuat mereka terpisah.


"Tuhan! Bantu lunakkan hati oma agar mau menerima Kayesa," doa Zafran dalam hati.


Mayumi bangun dari tidur, lalu duduk di tepi ranjang, dia menatap Zafran yang berdiri di sebelah kiri, lalu berpindah menatap Kayesa yang berdiri di samping Zafran.


"Rayzad! Sini kamu," Mayumi melambaikan tangannya ke arah Rayzad yang dari tadi berdiri di samping pintu.


Suasana semakin mencekam bagi Zafran dan Kayesa. Tapi tidak bagi Rayzad, karena dia sudah tahu apa rencana Oma selanjutnya.

__ADS_1


"Tolong katakan pada Oma. Apa cucuku mencintai wanita ini?"


__ADS_2