
Part 81 baru
Setelah kepergian Alena. Mayumi kembali masuk ke ruang rawat, duduk di samping Zafran. Mayumi menatapi tubuh cucunya yang tak sadar selama empat jam.
"Zafran! Apa kamu mendengar suara Oma," Mayumi terus melakukan intraksi dengan cucunya.
"Esa," terdengar desisan lirih suara Zafran.
"Zafran.. kamu..."
"Suster! Suster!" Mayumi berteriak memanggil suster.
"Ada apa Oma?"
"Cucuku, dia..."
Suster menatap ke arah Zafran, lalu memeriksanya, masih seperti tadi, tak ada pergerakan. Zafran masih seperti empat jam yang lalu, hanya dadanya yang turun naik menandakan kalau dia masih bernafas.
"Bagaimana. Sus?" Tanya Mayumi.
"Belum ada perkembangan," jawab suster.
"Tadi aku mendengar suara Zafran. Apa itu hanya halusinasi ku," batin Mayumi, dia menatap intens ke wajah Zafran.
Jari jemari Zafran bergerak perlahan. Sejenak Mayumi menatap dengan seksama jari jemari itu. Benar, kali ini pasti dia tidak salah lihat.
"Dok! Aku melihat tangan cucuku bergerak," seru Mayumi pada dokter yang baru saja masuk.
Dokter Niko memeriksa Zafran, tiba- tiba kelopak mata Zafran perlahan terbuka, sejenak mata itu memindai menatap dinding dan langit-langit kamar.
"Esa! Kamu di mana." Suara Zafran terdengan lirik, sambil menatap dokter Niko dan Mayumi secara bergantian.
"Ya Tuhan. Terima kasih, Alhamdulillah, akhirnya cucuku sadar juga," gumam Mayumi girang.
"Di mana aku? Kamu siapa? Kenapa aku bisa berada di sini" beberapa pertanyaan keluar dari bibir Zafran, dia seperti orang kebingungan seperti orang linglung yang tak ingat apa-apa.
Mendengar beberapa pertanyaan dari Zafran, membuat Mayumi menatap cucunya itu dengan intens, lalu memandang ke arah dokter, seakan meminta penjelasan. Niko mendekati ke arah Zafran, lalu menanyakan sesuatu.
"Aduh... aku tidak bisa ingat apa-apa. Dok!" Zafran memegang kepala dengan kedua tangannya.
"Dokter ada apa dengan cucuku?" Tanya Mayumi sedikit panik.
"Cucu? Apa aku cucumu? Kenapa aku tidak ingat sama sekali pada mu?" Zafran kembali bertanya pada Mayumi.
__ADS_1
Dokter melakukan pemeriksa secara mendeteil terhadap Zafran. Lalu menjelaskan kepada Mayumi, kalau Zafran mengalami amnesia, karena terjadinya kerusakan pada bagian otak yang berfungsi untuk membentuk sistem limbik. Sistem limbik tersebut berperan dalam mengatur emosi dan juga ingatan seseorang.
"Amnesia. Dok!"
"Iya. Efek dari benturan yang sangat kencang mengenai sistem sarafnya." Jelas dokter Niko lagi.
"Esa! Di mana Esa ku?" Tanya Zafran dia kembali memindai ruang rawat.
"Kamu bisa mengingat perempuan itu? Apa hanya Esa yang kamu ingat" Tanya Mayumi, memperlihatkan foto Kayesa dari layar ponselnya, Mayumi menilik ke arah Zafran. Zafran mengangguk pasti.
Ada perasaan lega di hati Mayumi, kala mengetahui kalau Zafran mengingat Kayesa. Zafran saja yang merasa heran, Bagaimana bisa Mayumi kenal Kayesa dan memiliki foto wanita itu. Zafran jadi khawatir kalau omanya akan menghalangi hubungannya pada wanita yang tak berkelas itu.
"Apa kamu ingat juga dengan wanita ini?"
Mayumi menunjuk foto Alena dari layar ponselnya. Sejenak Zafran menatap gambar dua wanita itu.
"Dia wanita yang paling kubenci, aku tak akan pernah bisa melupakannya, wanita ini suka mengganggu hubunganku dengan Kayesa," ujar Zafran, lalu memegang kepalanya.
"Aku tidak mau bertemu dengannya," ujar Zafran lagi seraya menggeleng dengan lemah.
Suasana hati Mayumi tentu saja sangat senang mendengar pengakuan Zafran. Dia dan Zafran sama-sama tak menyukai wanita itu. Mayumi percaya kali ini dia bisa menyingkirkan Alena dari kehidupan Zafran cucunya.
"Kalau yang wanita ini, apa kamu kenal?" Mayumi menunjukkan foto Asaka, ibunya Zafran.
"Aku seperti pernah lihat wanita ini, tapi di mana, aku lupa," ujar Zafran lagi, seraya memegang kepala, seakan berpikir keras.
Layar ponsel Mayumi, kali ini menayangkan foto ganteng Kiano yang sedang digandeng oleh Kayesa. Mayumi menunjukkan Foto Kayesa dan Kiano dan bertanya pada Zafran. Apakah dia mengenalnya.
"Dia wanitaku. Dan anak laki-laki itu siapa dia?" Zafran berpikir hingga dahi berkerut.
"Caba katakan padaku. Apa saja yang kamu ingat tentang dirimu dan orang lain?" Tanya Dokter Niko.
Sejurus Zafran merenung, lalu dia mengatakan, kalau namanya Zafran Alfaro, dia seorang CEO di perusahaan Pelangi Nusantara, dengan orang kepercayaan bernama Rayzad. Dan Memiliki pacar bernama Keyesa. Selain itu dia tidak tahu.
"Hanya itu yang bisa ku ingat," jawab Zafran seraya gumam lirih.
"Jadi kamu tidak ingat siapa aku?" Tanya Mayumi seraya menunjuk dirinya, wajahnya terlihat sangat sedih, kala Zafran mengangguk.
Bagaimana bisa, cucu yang disayanginya sepenuh hati, tak mengenalinya. Syukurnya Zafran juga melupakan kalau dia sudah menikah dengan Alena. Semoga saja Zafran tidak akan pernah ingat kalau Alena istrinya. Itu yang ada dipikiran Mayumi.
"Aku Omamu, yang menjagamu dari bayi, hingga kamu menyelesaikan S2."
"Kalau Oma yang menjagaku. Ke mana papa dan mama ku?"
__ADS_1
"Papa dan mamamu. Mereka ada kok, akan menghabiskan waktu jika Oma menceritakannya padamu," ujar Mayumi.
"Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku bisa berada di sini?" Tanya Zafran lagi pada Mayumi.
Secara detiel, Mayumi menceritakan apa yang terjadi dengan Zafran, kalau dia kecelakaan motor, waktu mencari sang kekasih, dan sedikit memberi bumbu. Kalau Alena yang telah menyebabkan Kayesa pergi meninggalkannya.
"Zafran! Akhirnya kamu sadar juga. Nak!" Asaka yang mendapat kabar, kalau Zafran sudah sadar, segera kembali ke ruang rawat Zafran.
Sambil duduk di tepi ranjang Zafran, Asaka meraih dan menciumi tangana. Dia senang sekali melihat putranya sudah sadar.
"Kamu siapa?" Tanya Zafran menatap intens wanita yang dari tadi ngoceh tak jelas.
Memdengar pertanyaan Zafran. Asaka menatap Mayumi mamanya dan dokter Niko, secara bergantian, lalu tatapannya kembali ke wajah Zafran yang terlihat datar.
"Tuan Zafran amnesia, akibat benturan di kepalanya," jelas dokter Niko.
"Apa? Putraku hilang ingatan?" Asaka memperjelas ucapan dokter Niko.
"Sayang! Ini mama." Asaka mendudukkan bokongnya di tepi ranjang, lalu merengkuh bahu Zafran.
Mayumi mendekat, meraih tangan Asaka dan mengajaknya ke luar dari ruang rawat Zafran. Zafran hanya tersenyum menatap kepergian dua wanita itu.
"Maafkan aku. Mama!"
Pada malam kejadian itu, kala Zafran dan Rayzad sampai ke rumah sakit. Zafran meminta dokter Niko untuk bekerjasama dengan mengatakan kalau dia Amnesia, semua itu Zafran lakukan ingin mendapatkan cinta Kayesa dan membuat mamanya menerima keberadaan Kayesa.
Di teras ICU, Mayumi meminta Asaka menyembunyikan tentang pernikahan Zafran dengan Alena.
"Tapi Ma! Alena itu istri Zafran. Kita harus memberitahunya, biar ingatan Zafran kembali pulih."
"Tidak! Ku bilang tidak! Jangan pernah menanbah beban pikiran Zafran. Jika kamu ingin Zafran cepat sembuh. Ingat itu! Jika kamu macam-macam dan terjadi sesuatu dengan cucuku. Aku tak akan memaafkanmu," ancam Mayumi.
Hati Asaka kesal dengan ocehan Mayumi. Mayumi selalu menganggap salah apa yang dilakukannya. Kala mendengar Mayumi menelepon Rayzad untuk membawa Kayesa ke rumah sakit. Asaka menjauh dari Mayumi dan menelepon Alena untuk segera ke rumah sakit.
Alena yang dikabari Zafran hilang ingatan, merasa senang, dengan hilangnya ingatan Zafran, dia berharap Zafran bisa dikuasainya dan Zafran tentu akan bergantung padanya, sebagai istri Zafran pasti akan mempercayai apa-apa yang akan dikatakannya nanti.
"Aku akan membuat Zafran, hanya mempercayai ucapannya," batin Alena dengan senyum mengambang penuh percaya diri.
Sementara Rayzad yang mendapat tugas membawa Kayesa, segera menelepon Tono orang kepercayaannya yang diberi tugas untuk mengawasi Kayesa. Dan Tono memberitahu kalau dia sedang berada diperjalanan mengantar Maeka dan Kiano ke Jakarta untuk menemui Kayesa.
"Baik Tuan Rayzad. Saya sudah memasuki wilayah Jakarta. Jika sudah bertemu dengan nyonya Esa akan segera saya kabari," ujar Tono, seraya kembali masuk kedalam mobilnya. Kebetulan waktu ditelepon Rayzad, Tono sedang berhenti di rumah makan.
Satu jam kemudian, Tono sampai sampai ke rumah Rizwan, terjadilah pertemuan yang sangat mengharukan antara Rizwan dan Kiano. Rizwan memeluk Kiano dengan erat, dan berkali-kali menciumi Kiano.
__ADS_1
"Bunda!" Kiano menggapai-gapai tangannya menarik bahu Kiano, dia memberontak dari gendongan Rizwan.
"Kiano mau tuyun (turun), hiks, hiks, hiks." Kiano menangis.