
Part 57
"Apa dia bersama tuan Zafran" Batin Kayesa. Dia merasa gugup saat menyebut nama Zafran, dan semakin gugup, kala dia memastikan kalau wanita yang duduk sebelah Amora itu, benar Alena.
"Mungkin Zafran belum masuk," pikir Kayesa, seraya melongokkan kepala menatap ke depan. Namun sosok yang dicarinya tidak ada.
Kayesa yang merasa aman, karena sudah menyamarkan penampilannya, tidak perlu khawatir kalau Alena akan mengenalinya, dengan wig, kacamata hitam dan masker, sempurnalah penyamarannya.
Dengan sudut matanya, Kayesa melirik kursi yang berseberangan dengan Alena, masih kosong, pada hal dia berharap melihat Zafran duduk di situ. Namun, sampai pramugari memperagakan alat keselamatan, kursi itu tetap kosong.
Saat Alena beramah tamah dengan Amora, Kayesa memperjelas pendengarannya, ternyata Alena mau ke Bali juga.
"Jadi Alena mau ke Bali juga," batin Kayesa.
Saat take off pesawat akan lepas landas dan terbang. Dalam kondisi ini seluruh penumpang wajib mengikuti arahan dari cabin crew untuk memasang sabuk pengaman dan menonaktifkan data seluler. Kayesa pun memakai sabuk pengaman dan memode pesawatkan ponselnya.
Perlahan pesawat mulai bergerak, Kayesa yang baru pertama naik pesawat, menatap ke tepi jendela. Pesawat yang awalnya pelan, mulai melaju dan akhirnya meluncur lepas landas meninggalkan bandara. Saat berada diketinggian, Kayesa memejamkan matanya dan terus berdoa untuk keselamatan.
"Kay! Jangan lebay," gumamnya, di dalam hati, dia mentertawalan dirinya sendiri.
Dua jam kemudian terdengar suara awak kabin, yang memberitahukan kalau sebentar lagi pesawat akan Landing. Semua penumpang tetap diharapkan untuk menggunakan sabuk pengaman hingga pendaratan berakhir dan pesawat berhenti.
"Alhamdulillah, selamat sampai ke Bali," ucap Kayesa dengan penuh rasa syukur, kala pesawat sudah tidak bergerak lagi.
Semua penumpang berdesakan mau keluar dari pesawat. Alena beranjak dia menurunkan sebuah paperbag dari kabin, lalu ikut berdesakan dengan penumpang lain. Sementara Amora masih duduk manis, menunggu penumpang lain lewat, begitu juga Kayesa, dia tentu tak bisa ikut berdesakan, kalau Amora belum beranjak.
Setelah semua penumpang di belakang telah melewati kursi Amora, baru Amora dan Kayesa beranjak, jadilah mereka penumpang terakhir yang keluar dari pesawat. Setelah melewati Boarding Bridge, kayesa pun menarik nafas lega.
Beriringan dengan Amora, Kayesa menyusuri koridor bandara, naik eskalator turun ke bawah, berjalan kembali menysuri koridor, hingga sampa ke tempat pengambilan bagasi. Beberapa saat Amora dan Keyesa berdiri menunggu travelbagnya muncul di bagasi.
Setelah mendapatkan travelbag, Amora menelepon seseorang sambil melangkah berjalan keluar. Setelah memastikan orang yang diteleponnya sudah berada di bandara, Amora memutuskan panggilan telepon, lalu menyusuri koridor sambil menarik travelbag menuju parkir.
Sebuah BMW warna hitam berhenti tepat di depan Amora. Seorang laki-laki keluar dari pintu depan, lalu laki-laki itu membuka pintu dan menyilakan Kayesa dan Amora masuk, setelah Kayesa dan Amora masuk, sang supir menutup pintu kembali, kemudian memasukkan kedua travelbag ke dalam bagasi.
Begitu sang supir masuk. BMW hitam itu meluncur meninggalkan parkiran bandara, melaju ke jalan raya. Sepersepuluh menit kemudian BMW hitam itu, berhenti di sebuah restoran mewah.
__ADS_1
"Esa! Kamu sangat berbeda. Oma hampir tak mengenalimu," ujar Mayumi menatap intens ke arah Kayesa, yang sedang melangkah masuk ke restoran.
"Esa! Hanya ingin merubah penampilan oma, biar kelihatan kayak orang kota gitu," ujar Kayesa tersipu malu. Pada hal dia sengaja menyamarkan identitasnya, agar orang-orang tak mengenalinya. Semua itu dilakukannya, setelah mengetahui Shaga mengumumkannya sebagai orang hilang.
"Bagus kok, cocok sama kamu," ujar Mayumi lagi.
"Hooh, Kamu terlihat lebih dewasa," Amora ikut memberi penilaian.
"Yok! Kita makan dulu. Oma udah lapar nih."
Sambil menggandeng kedua tangan wanita itu, Mayumi membawa keduanya masuk kerestoran, dan mencari tempat duduk lesehan. Seorang pramusaji datang menyodorkan daftar menu.
"Antarkan saja semua menu andalan resto ini ke sini," ujar Mayumi, seraya menyerahkan kembali daftar menu ke pramusaji.
Sepersepuluh menit, dua orang pramusaji mendorong sebuah troli yang didesain berdinding kaca, dengan tiga lantai. Begitu sampai di depan meja Mayumi, pramusaji itu berhenti, membuka tutup troli mengeluarkan dua belas menu makanan dan menyajikan dengan rapi.
"Silakan Nyonya dan Nona," ujar Pramusaji, seraya membungkukkan tubuhnya hormat, lalu berpamitan.
Di atas meja sudah tersaji, nasi jinggo, sate lilit, rujak bulung, lempet, jukut ares, tipat cantok, telor basi genep, bebek batutu, lawar kuwir, tum ayam, serapah daging dan nasi sela. Semuanya ciri khas makanan Bali.
"Ayok makan. Kok dilihatin saja," ujar Mayumi kala melihat Kayesa hanya menatapi menu yang terhidang.
"Ini serapah daging, jenis lauk yang terbuat dari daging yang diberi bumbu dengan aneka rempah, santan, dan tepung beras. Rasanya enak dan renyah." Mayumi meletakkan sarapah daging ke piring Mayumi.
"Dan yang ini jukut ares artinya anak batang pisang. Sesuai dengan namanya, bahan utama dari hidangan ini yaitu batang pohon pisang. Disajikan berkuah dengan kaldu tulang hewan, rasa pedas gurih dari jukut ares cocok sekali dinikmati ketika musim hujan tiba seperti sekarang," ujar Mayumi lagi.
Kayesa mencicipi daging yang diletakkan Mayumi di piringnya, meksi kurang cocok rasa di lidah Kayesa, cukup lumayan daging empuk, tapi tak seenak rendang buatan ibunya. Ah.. Kayesa jadi ingat Farhana ibunya.
"Ayok! Coba yang ini," ujar Mayumi membuyarkan lamunan kayesa. Mayumi meletakkan sesuatu menu yang dibungkus daun pisang.
"Apa ini Oma?"
"Ini namanya tum ayam, olahan ayam yang diberi racikan bumbu dan dibungkus dengan daun pisang. Bumbunya merupakan campuran dari bawang putih, bawang merah, cabai, daun salam, jahe, serai, dan lain-lain." Mayumi menjelaskan sudah seperti koki profesional saja.
Kayesa hanya mengangguk-angguk seperti mengerti dan paham apa yang dijelaskan oleh Mayumi. Kayesa membuka bungkusan daun pisang, aroma dari bumbu tum ayam menggaur dipenciuman Kayesa, menggoda seleranya.
__ADS_1
"Hemm... Benar-benar sempurna enaknya. Oma!"
Perlahan Kayesa mengunyah, merasakan nikmat tum ayam yang gurih di mulutnya. Walaupun ini perdana, tapi cocok rasanya di lidah Kayesa.
Sambil ngobrol santai, Mayumi, Kayesa dan Amora menikmati hidangan makan siang, yang sudah telat tiga jam, biasanya jam makan siang pukul dua belas, kini sudah pukul tiga sore. Walaupun telat tak mengurangi kenikmatan makan mereka.
"Budi! Kamu antar Kayesa ke hotel. Amora ikut saya meting dengan Customer," titah Mayumi setelah mereka selesai makan.
"Baik Oma," ujar sang supir yang ternyata bernama Budi.
Mereka pun berpisah di parkir. Kayesa masuk ke mobil yang dikendarai Budi. Sementara Amora mengikuti langkah Mayumi.
"Abang! Travebag aku pindahkan ke mobil ini," titah Amora pada Budi, seraya meraih handle pintu.
Budi membuka bagasi, lalu mengeluarkan travelbag milik Amora, dan memindahkan ke mobil Mayumi.
"Sampai ketemu lagi nanti malam," ujar Amora melambaikan tangan ke arah Kayesa. Kayesa membalas lambaian Amora.
Kedua mobil meluncur keluar dari resto secara beriringan. Saat di simpang tiga, mobil yang membawa Kayesa berbelok ke kiri dan mobil yang membawa Mayumi dan Amora lurus ke depan.
Sepanjang perjalanan menuju hotel, Kayesa menatap kejalanan, sedikit pun dia tak pernah bermimpi bisa ke Bali. Karena dia sadar kalau kehidupan setelah ayahnya meninggal, jauh dari kata cukup.
"Terima kasih Tuhan, sudah mempertemukan aku dengan orang-orang baik. Sungguh ini merupakan anugrah yang tak ternilai harganya," batin Kayesa penuh rasa syukur.
Sepuluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Budi, memasuki area sebuah perhotelan. Budi menghentikan dan memarkir mobil, membuka pintu mobil dan keluar, lalu menuju bagasi menurunkan travelbag.
"Ayok. Non! Sudah sampai," ujar Budi seraya membuka pintu mobil. Kayesa pun turun.
Budi menarik travelbag, memasuki hatel, meminta Kayesa menunggu di lobi. Budi berjalan ke meja resepsionis, setelah mengurus administrasi, Budi kembali menghampiri Kayesa dan mengantarnya ke kamar.
"Terima kasih. Bang," ujar Kayesa, kala Budi mempersilahkan Kayesa masuk , setelah menyentuhkan kay card dan membuka pintu, lalu meletakkan di instalasi saklar hotel.
"Ada yang Non butuhkan lagi, sebelum saya pergi?" Budi bertanya. Kayesa hanya menggeleng. Walaupun dia belum pernah menginap di hotel berbintang. Insyaallah dia bisa menggunakan fasilitas hotel. Jika pun nanti butuh bantuan, dia bisa bertanya di google atau youtube.
Setelah memastikan tugasnya selesai, Budi pun berpamitan. Kayesa menatap kepergian Budi hingga punggungnya menhilang di balik tikungan. Dan saat Kayesa ingin menarik diri masuk, dia melihat bayangan seorang wanita. Kayesa menoleh ke arah wanita yang sedang membuka pintu kamar ketiga dari kamar Kayesa
__ADS_1
"Alena! Jadi dia menginap di sini juga," batin Kayesa.