
Part 69
Sekilas Zafran melirik Kayesa yang baru keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Kayesa sudah rapi dan berganti pakaian. Dres warna navy yang dikenakan Kayesa sangat cocok membalut tubuhnya yang ramping.
Kayesa tidak memperhatikan Zafran atau pun menyapanya. Dia mengambil mukena melaksanakan shalat subuh. Walaupun Kayesa masih sering bolong-bolong menuaikan kewajibannya sebagai umat Islam. Namun, dia terus berusaha untuk memperbaikinya dirinya.
Setelah shalat subuh, Kayesa mengambil kotak obat, mengoleskan salep luka, mengganti kain kasa dan perbennya. Setelah selesai dia mendekati Zafran. Dan menanyakan apakah pinggang Zafran masih terasa sakit.
"Kamu harus bertanggung jawab atas musibah ini," ujar Zafran.
"Aku? Aku tidak sengaja melakukannya. Jadi tolong maafkan aku," ujar Kayesa seraya mengambil tas tangannya di atas nakas. Kayrsa sibuk mencari sesuatu dalam tasnya.
Zafran melirik Kayesa yang sedang sibuk mengacak-acak tasnya dan berpura-pura cuek. Kayesa menumpahkan isi tasnya, kala tak menumukan benda pipih yang dicarinya.
"Pasti dia lagi mencari ponselnya," batin Zafran tersenyum.
"Tuan! Apa tuan melihat ponselku?"
Zafran menggeleng.
"Coba kamu ingat lagi, terakhir megangnya kapan dan di mana?"
Sejenak Kayesa diam, dia mengingat-ingat kembali, di mana dia meletakkan ponselnya, waktu di cafe ponsel itu ada di tangannya. Saat masuk ke mobil, rasanya Kayesa sudah memasukkan ponsel itu ke dalam tasnya. Tapi kenapa sekarang tidak ada.
"Apa ponselku tertinggal di mobil," batin Kayesa.
"Tuan! Boleh pinjam ponselnya?"
"Untuk apa?"
"Tolong miscall ponselku."
"Miscall saja sendiri," ujar Zafran seraya menyerahkan ponselnya.
Kayesa mengambil ponsel di tangan Zafran. Sejenak dia terdiam, menatap wallpaper layar depan Zafran, fatonya bersama Kiano.
"Kenapa Zafran menjadikan fotoku dan Kiona wallpaper ponselnya," batin Kayesa.
Melihat Kayesa tertegun menatap layar ponselnya. Zafran sudah bisa menerka, kalau Kayesa sedang memperhatikan foto dan anaknya.
"Tuan! Kenapa fotoku dan Kiano yang Tuan jadikan wallpaper?"
"Kenapa? Tidak boleh ya?"
"Bukan. Nanti istri Tuan bisa salah paham."
Mendengar Kayesa bicara begitu, Zafran tertawa, dia tidak merespon ucapan Kayesa kali ini. Zafran melirik ke arah wanita yang sedang mencari-cari nomor kontaknya di situ. Tentu saja Kayesa tidak akan menemukan nomor kontaknya di ponsel itu, jika dia menggunakan kata kunci Esa.
__ADS_1
Berkali Kayesa mengetik namanya di pencarian, dengan menuliskan nama panggilan. Namun tidak ada satu pun nomor kotak atas nama Esa atau Kayesa. Kayesa mencoba mengingat nomor kontaknya. Tapi gagal, karena nomor kontaknya baru satu bulan di ganti. Jadi dia belum hafal.
"Tuan! Apa di ponsel ini ada nomor kontak Maeka?"
"Apa kamu ada memberikan nomor Maeka ke aku?" Zafran balik bertanya.
Kayesa menggeleng, lalu menyerahkan kembali ponsel Zafran.
"Kenapa tidak jadi. Kamu tidak ingat nomormu?"
Lagi-lagi Kayesa menggeleng.
"Makanya jangan sering-sering ganti nomor," ucap Zafran seraya mengambil kembali ponselnya.
Kayesa tidak tahu sekarang harus berbuat apa, di dalam dompetnya cuman ada uang cash dua ratus ribu. Biasanya dia tak butuh uang cash, cukup pakai mbanking, sekarang ponselnya hilang.
Kayesa kembali meraih tasnya, lalu mengeluarkan dompetnya dan mencari-cari sesuatu.
"Tuan! Apa Tuan melihat ATM ku," ujar Kayesa seraya mencari-cari benda tipis itu di dalam dompet.
"Apa kamu menuduhku mengacak-acak tas dan dompetmu?" Lagi-lagi Zafran balik bertanya.
"Kalau bukan Tuan siapa lagi, satu harian ini aku hanya bersama Tuan," sahut Kayesa. Kayesa curiga kalau yang melakukan semua ini adalah Zafran. Bagaimana bisa posel dan ATMnya bisa hilang bersamaan. Tapi Kayesa tak punya bukti untuk menjatuhkan tuduhan ke laki-laki itu.
"Yakin?" Tanya Zafran seraya tersenyum misterius.
"Tadi yang menggendongmu dari mobil ke kamar. Siapa?" Terbersit di hati Zafran untuk mengerjai wanita itu.
"Tuan," jawab Kayesa dengan percaya dirinya.
"Aku... hahaha. Mana sudi menggendongmu," ujar Zafran seraya tertawa lepas.
Seketika ekpresi wajah Kayesa berubah pias. Dia menjadi malu, karena yang dengan sepenuh hati percaya, kalau Zafranlah yang telah menggendongnya ke kamar.
"Jadi siapa yang menggendongku tadi malam. Apa Budi?" Gumam Kayesa bertanya dalam hati.
Bersamaan dengan pikiran Kayesa. Budi muncul di depan pintu seraya membawa sebuah kursi roda. Melihat Budi datang membuat Kayesa salah tingkah, karena dia berprasangka, kalau memang Budi yang tadi malam menggendongnya.
"Budi! Apa kamu melihat ponselku?" Tanya Kayesa.
Budi tidak menjawab pertanyaan Kayesa, dia menatap Zafran. Zafran memberi isyarat dengan bahasa tubuh, agar Budi mengatakan tidak tahu. Budi pun menggeleng. Kayesa menarik nafas panjang, terlihat wajahnya sangat kecewa.
"Tuan! Apa kita akan berangkat sekarang?" Tanya Budi pada Zafran. Zafran mengangguk.
"Esa! Kamu ikut atau tetap di sini?" Tanya Zafran.
Sejenak Kayesa berpikir, uang cash di dompetnya tinggal dua ratus ribu, ATM dan ponsel hilang. jika tetap tinggal di sini. Pada siapa dia minta tolong. Adakah orang yang mau meminjaminya uang dan membayarkan sewa hotel.
__ADS_1
"Emang Tuan mau ke mana?" Tanya Kayesa. Dia takut kalau Zafran membawanya jauh, lalu meninggalkan.
"Mau cari tukang urut," jawab Zafran seraya meminta Budi mendekatkan kursi roda, lalu mendudukkan bokongnya di kursi roda, semua itu dilakukannya, hanya ingin menyempurnakan kebohongannya pada Kayesa, agar Kayesa merasa bersalah, kalau Zafran sakit gara-gara didorong olehnya.
"Kemasi berang-barangmu, ku tunggu di parkir. Jika sepuluh menit belum muncul, aku tinggal," ujar Zafran, lalu menggerakkan tangannya menekan remote kursi roda, kursi roda pun meluncur meninggalkan kamar. Sementara Budi meraih gagang travelbag dan membawa keluar menyusuri koridor hotel.
Kayesa bergegas bergerak, memasukkan sembarang barang-barangnya ke dalam travelbag. Setelah memastikan tidak ada lagi barang yang tertinggal, Kayesa menarik resleting travelbag, dan bersegera pergi meninggalkan kamar menyusuri koridor hotel dan melangkah menuju parkir.
"Kenapa Tuan membohongi nyonya Kayesa dengan berpura-pura sakit?" Tanya Budi, saat melihat Zafran baik-baik saja, ketika tadi masuk ke dalam mobil.
"Supaya wanita itu tidak meninggalkanku."
"Apa Tuan mencintanya?"
"Settt. Dia datang," ujar Zafran meminta Budi menghentikan ucapannya.
Di dalam mobil, Zafran tersenyum penuh kemenangan, saat melihat Kayesa berjalan mendekat. Budi membuka pintu mobil, lalu menyilahkan Kayesa masuk. Setelah meletakan travelbag di bagasi, Budi masuk dan duduk di kursi belakang stir, menekan pedal gas, mobil pun meluncur meninggalkan hotel.
Sepanjang perjalanan, tidak ada obrolan antara Zafran dan Kayesa. Zafran fokus ke layar ponselnya. Sementara Kayesa pandangan hanya menatap keluar dari kaca jendela. Kayesa sedang berpikir bagaimana caranya dia pulang tanpa harus minta bantuan Zafran.
"Bagaimana kalau aku minta bantuan oma Mayumi," batin Kayesa.
"Tapi bagaimana cara menghubungi Oma?" Batinnya lagi.
Mobil yang membawa Kayesa dan Zafran berhenti di sebuah rumah. Budi membuka pintu mobil dan turun, lalu ke belakang membuka bagasi, menurunkan kursi roda, serta travelbag.
Kayesa membuka pintu mobil dan turun, lalu mengambil kursi roda di belakang mobil, mendorong ke arah pintu mobil sebelah kanan. Kayesa membuka pintu, menyodorkan kursi roda ke samping pintu mobil, lalu membantu Zafran turun.
Perlahan Kayesa mendorong kursi roda memasuki sebuah rumah, kedatangannya disambut seorang wanita cantik berpakaian putih.
"Dokter Zean menunggu Tuan di dalam," ujar wanita itu, ternyata dia seorang perawat.
"Esa! Kamu ikuti Budi, pergi ke kamar dan beristirahatlah," ujar Zafran.
"Tapi Tuan. Siapa yang akan menjaga Tuan."
"Saya bisa ditemani suster Santi," ujar Zafran.
Suster Santi mengambil alih kursi roda. Sebelum masuk ke ruang prakter dokter Zean, Zafran menelepon Budi. Sementara Kayesa berdiri sepuluh meter dari Budi, dia menunggu Budi yang sedang menerima telepon.
Budi mengakhiri teleponnya, setelah Zafran menjelaskan tugasnya, lalu Budi beranjak kearah Kayesa dan mengajaknya ke paviliun. Kayesa mengikuti langkah Budi menyusuri teras samping menuju ke belakang rumah, di sana ada beberapa paviliun.
"Silakan nyonya," ujar Budi seraya membuka pintu paviliun, lalu memasukkan travelbag Zafran dan Kayesa.
"Budi! Bolehkah aku meminjam ponselmu? Aku ingin menelepon oma Mayumi."
Budi merogoh saku celananya, lalu menggeser layar ponselnya, mencari nomor kontak Mayumi. Begitu nomor kontak Mayumi ditemukan, Budi memberikan ponselnya ke kayesa. Kayesa menggeser gambar gagang telepon warna hijau memanggil nomor yang tertera.
__ADS_1
"Kenapa nomor oma Mayumi tidak aktif," gumam Kayesa, setelah mencoba berulang kali.