
Part 65
Tiga puluh menit kemudian, Alena keluar kamar sambil menarik travelbagnya.
"Saya mau check out," ujar Alena menyerahkan kunci kamar.
"Terima kasih sudah menginap di hotel kami. Nyonya," ujar resepsionis seraya menangkupkan kedua tangan di dada.
Alena tak merespon ucapan resepsionis, dia melenggang keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Begitu keluar dari hotel Alena langsung masuk ke sebuah taxi online yang dipesannya.
"Antar saya ke bandara," ujar Alena seraya masuk dan menutup pintu mobil, mobil pun meluncur meninggalkan hotel.
Kepergian Alena diawasi sepasang mata Tatia. Begitu mobil yang membawa Alena hilang di balik pintu gerbang hotel, Tatia merogoh saku roknya mengambil ponsel.
"Hallo Oma. Rencana sesuai misi, sekarang Alena menuju bandara mau ke Surabaya."
"Bagus! Kamu dan tim memang hebat," terdengar suara Mayumi tertawa bahagia dari panggilan telepon.
"Cucu dan cucu mantuku mana?" Tanya Mayumi.
"Lagi ke pantai Kuta," jawab Tatia.
Setelah memberikan beberapa laporan tentang perkembangan hubungan Kayesa dan Zafran, Tatia mengakhiri panggilan teleponnya dengan salam.
*****
Sementara mobil yang ditumpangi Zafran dan Kayesa sudah sampai di parkiran. Budi turun dan membuka pintu untuk Zafran dan Kayesa.
Baru saja Kayesa menjejakkan kakinya ke aspal, ponselnya bergetar. Kayesa merogoh tas tangan mengeluarkan benda pipih itu. Dari layar ponsel yang bercahaya tertera nama Maeka sedang melakukan panggilan video call.
"Bunda!" Panggil Kiano, wajah gantengnya nongol di layar ponsel, begitu panggilan Kayesa terima.
"Kiano sayang!" Zafran merampas ponsel Kayesa.
Rasa rindu Zafran pada Kiano, membuatnya tak sadar, kalau telah membuat kesalahan pada Kayesa dengan merampas ponselnya.
"Ayah!" Kiano berlonjak girang saat melihat wajah Zafran di layar ponsel bundanya.
"Anak ayah tambah ganteng, tambah pintar juga," ujar Zafran, seraya menatap buah hatinya tak berkedip.
"Kangen nggak sama ayah?" Tanya Zafran dengan mata berbinar.
Zafran dan Kiano asik bercerita dilewat video call, sampai-sampai Kayesa terlupakan.
__ADS_1
"Ayah! Mana bunda?" Tanya Kiano beberapa saat kemudian.
Pertanyaan Kiano menyadarkan Zafran, kalau dia kesitu bersama Kayesa. Zafran memindai di sekitar tak ditemukannya Kayesa. Ternyata wanita itu sedang duduk di sebuh kursi di bibir pantai.
Kayesa menutuskan menjauh dari Zafran. Saat dilihatnya Zafran dan Kiano asik bercerita, Kiano yang meluapkan rasa rindunya pada laki-laki yang sebenarnya ayah kandungnya. Hanya saja Zafran belum berani mengatakan, karena dia sebenar sangat takut dibenci oleh Kayesa.
Melihat Zafran begitu bahagia saat bicara dengan Kiano, begitu juga sebaliknya, membuat Kayesa tak tega merampas ponselnya dari tangan Zafran. Dia pergi menjauh, agar dia tidak mendengar percakapan lebih lanjut antara Zafran dan Kiano, hingga emosinya bisa terkontrol.
"Bunda!" Teriak Zafran.
Sambil berteriak memanggil Kayesa, Zafran berlari-lari kecil mendekati Kayesa yang lagi duduk di sebuah kursi dan menikmati sebotol teh sosro. Kayesa sama sekali tidak menoleh ke arah Zafran, karena dia tidak menyadari kalau Zafran menanggilnya dengan sebutan bunda.
Mata Kayesa menatap lurus ke arah pantai, sejenak dia berusaha melupakan tentang Zafran yang telah merampas ponsel dan haknya untuk berbicara pada Kiano. Kayesa menikmati deburan ombak samudra yang membiru.
"Kiano! Ini bunda." Tiba-tiba Zafran sudah memdudukkan bokongnya di samping Kayesa. Kehadiran Zafran mengagetkan Kayesa.
Bukannya memberikan ponsel pada Kayesa. Zafran malah merengkuh bahu Kayesa, lalu mengarahkan layar ponsel kewajah Kayesa dan dia yang saling berdempetan. Kayesa menjadi serba salah. Jika dia memaksa Zafran menjauh, dia takut putranya kecewa, akhirnya Kayesa hanya bisa pasrah.
"Bunda! Bunda kapan pulang?"
"Eh...Bunda pu..."
"Besok bunda dan ayah pulang ya. Nak!" Zafran menyela ucapan Kayesa. Begitu entengnya Zafran bicara, seakan-akan dia, Kayesa dan Kiano adalah sebuah keluarga lengkap.
"Hore! Hore! Hore. Ayah dan bunda mau pulang."
"Lucu banget anak ayah," ucap Zafran tertawa senang dan lepas.
Kayesa menoleh menatap wajah Zafran yang begitu bahagia. Wajah Zafran begitu berbeda, dia terlihat sangat tampan jika tertawa lepas begitu, sangat berbeda, jika Zafran serius dan dingin, wajahnya terlihat galak dan sangar.
"Ternyata seorang Zafran terlihat manis. Jika tertawa," batin Kayesa, pikirannya mulai ngelantur.
Sementara Zafran tak tahu kalau diam-diam Kayesa memperhatikannya. Dia terlalu sibuk dengan perasaan bahagianya, karena bisa bertemu dengan putranya, walaupun hanya lewat layar ponsel. Rasanya Zafran sudah tak sabaran menunggu besok. Dia ingin segera memeluk Kiano, yang sudah satu bulan lebih dijauhkan Kayesa darinya.
"Sayang kangen bunda nggak?" Kayesa mengambil ponselnya, berusaha memindai rengkuhan tangan Zafran. Namun, Zafran tak melepaskan rengkuhannya, malah semakin kuat mendekap bahu Kayesa.
"Kangenlah! Bunda jangan lupa beliin Kia mobil truk yang becal (besar)," ujar Kisno seraya mengkat tangannya, memberi isyarat dengan bahasa tubuh.
"Iya! Nanti ayah beliin." Lagi-lagi Zafran yang menjawab.
Kayesa menoleh ke arah laki-laki yang duduk di sampingnya. Mata Kayesa menukik menatap Zafran, sinar mata itu memberitahu Zafran, kalau Kayesa tak menyukai apa yang baru saja Zafran lakukan.
"Maaf sayang! Aku terlalu senang," bisik Zafran seraya merengkuh bahu Kayesa semakin erat.
__ADS_1
"Sayang." Zafran kaget saat menyadari ucapan sayang keluar dari mulutnya secara spontan.
"Zafran memanggil ku dengan sebutan sayang," Kayesa pun tak kalah kagetnya, hampir saja detak jantungnya berhenti, gara-gara rasa geernya berterbangan.
Secepat kilat Kayesa menepis pikirannya. Pasti tadi dia salah dengar atau sedang halu, Kayesa kembali fokus pada layar ponsel.
"Benaran ya. Yah!" tanya Kiano dengan mata berbinar indah.
"Iya. Pasti ayah belikan," ujar Zafran lagi.
Kayesa kembali membiarkan Zafran dan Kiano berbincang, hingga ada suara Maeka yang meminta mengakhiri telepon, karena Kiano harus makan siang dan tidur.
"Dadah sayangku," ujar Zafran sambil melambaikan tangan ke arah layar ponsel. Dan panggilan pun berakhir.
"Ke sana yuk." Zafran mengajak Keyesa lebih dekat ke bibir pantai.
Zafran beranjak dari duduk dan meraih tangan Kayesa, dia menggenggam erat jemari itu. Hay.. Ada perasaan aneh di dada Zafran, debaran jantungnya, kenapa tiba-tiba berdetak kencang seperti orang yang habis pacuan kuda.
"Ada apa ini. Apa karena aku terlalu bahagia," batin Zafran seraya melirik wanita yang berjalan di sisinya.
Tidak jauh beda dengan Kayesa, saat Zafran meraih dan menggenggam erat tangannya, debar jantung malah bergemuruh. Kayesa juga merasakan hal yang berbeda di dalam hatinya.
"Kay! Apa yang kamu pikirkan. Ingat! Zafran itu suami orang. Yahh... Suami Alena," batin Kayesa menyadarkan dirinya. Spontan ditarik tangannya dari genggaman Zafran.
"Sa! Kamu kenapa?" Zafran terkejut kala merasakan Kayesa menepis tangannya dengan kasar.
"Tuan! Aku..."
Kayesa tidak melanjutkan ucapannya, tiba-tiba matanya berkaca-kaca. Kayesa memalingkan wajahnya, berharap Zafran tidak melihat kerapuhan hatinya.
"Jangan ganggu aku. Ku mohon menjauhlah," ujar Kayesa lalu melangkah meninggalkan Zafran.
"Sa! Kenapa kamu bicara seperti itu." Zafran mengejar dan kembali meraih tangan wanita itu.
"Lepaskan! Aku..."
Kayesa tidak kuasa lagi membendung air matanya, beberapa bulir kristal bening itu berjatuhan dan meluncur di pipi mulusnya. Entah kenapa dia begitu sedih dengan nasib malang yang menimpa dirinya. Kenapa dia merasa bahagia berada di sisi Zafran yang seharusnya tidak terjadi.
"Ini tidak boleh terjadi. Aku harus melawan perasaan ini," batin Kayesa dia meraup habis wajah dengan kedua tangannya.
"Maafkan aku Tuan. Aku harus pergi," ucap Kayesa lalu menepis tangan Zafran yang berusaha menghalangi langkahnya.
"Sa! Tidak sa! Aku tak akan membiarkan mu pergi lagi," ujar Zafran seraya meraih tubuh Kayesa dan mendekapnya erat.
__ADS_1
"Tuan! Lepas aku! Aku mohon," Kayesa berusaha memberontak dengan memukul-mukul dada Zafran.