Pernikahan Semalam

Pernikahan Semalam
Kehilangan Ponsel


__ADS_3

Part 70


Melihat Kayesa beberapa kali memeriksa layar ponsel, membuat Budi merasa kasian. Sebenarnya nomor kontak yang Kayesa hubungi adalah nomor kontak Tatia, atas perintah Zafran, Budi dan Tatia diminta untuk memainkan peran mengelabui Kayesa.


"Bagaimana?" Tanya Budi berpura prihatin.


"Nomor oma Mayumi tidak aktif," ujar Kayesa seraya mengangkat kedua bahunya. Wajahnya terlihat kecewa. Dia menarik nafas panjang.


"Tak biasanya nomor kontak oma Mayumi tidak aktif. Mungkin beliau sedang sibuk atau mungkin lagi meting," ujar Budi mengarang cerita.


Budi merespon ucapan Kayesa, berharap kekecewaan Kayesa bisa berkurang. Sekali lagi Kayesa menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Dia tak tahu lagi harus meminta tolong pada siapa.


"Begini saja. Nanti jika nomor kontak oma Mayumi aktif, saya akan kasih kabar ke nyonya," ujar Budi lagi.


Sejenak Kayesa menatap laki-laki yang menjadi supir Mayumi dan Zafran itu. Awalnya, Kayesa berpikir kalau Mayumi dan Zafran mempunyai hubungan. Namun pikiran itu segera ditepisnya.


"Mana mungkin Mayumi dan Zafran punya hubungan kekerabatan. Pasti hanya kebetulan saja Budi menjadi sopir dadakan selama di sini. Atau Budi hanya sopir sewaan," batin Kayesa menyanggah praduganya.


"Apa kamu sopir pribadinya Mayumi?"


"Iya! Kalau oma Mayumi lagi Bali." jawab Budi.


"Dan sopir pribadinya Zafran juga?" Tanya Kayesa lagi.


"E.. I-iya, maksudku sekarang iya. Tuan Zafran memintaku untuk menjadi sopirnya selama berada di Bali. Intinya semua pengunjung kota Bali, bisa memakai jasaku untuk menjadi sopir," jelas Budi.


Kayesa mencerna ucapan Budi, berarti Budi bukan sopir pribadi Zafran, hanya kebetulan saja, Zafran dan Mayumi di sopiri oleh orang yang sama.


"Baiklah, kalau begitu. Ini ponselmu, tolong jumpai aku lagi, jika nomor oma Mayumi aktif," ujar Kayesa seraya menyodorkan benda pipih itu dan mengembalikannya ke Budi. Budi mengambil ponselnya dan memasukkan ke dalam saku celana.


"Budi! Bolehkah aku memeriksa mobilmu. Mana tahu tadi malam ponselku jatuh di mobilmu," ujar Kayesa bermohon, dia berharap ponselnya ada di situ.


"Boleh! Ayok kita periksa," ujar Budi beranjak, mengajak Kayesa berjalan beriringan ke mobil.


Walaupun sebenarnya Budi tahu, akan sia-sia saja mencari ponsel Kayesa di mobilnya, karena dia tahu persia kalau tadi malam ponsel Kayesa dimasukkan Zafran ke dalam tas tangan Kayesa. Jika ponsel itu sekarang hilang, pastilah Zafran pelakunya. Namun, Budi tetap memenuhi keingin Kayesa, agar Kayesa tidak berpraduga jelek padanya.


Begitu sampai ke mobil, Budi membuka pintu mobil, menyalakan lampunya dan menyilahkan Kayesa masuk. Kayesa mulai mencari dari kursi depan, hingga ke kursi belakang dan bagian sudut-sudut yang terpencil. Budi pun ikut berpura-pura membantu mencari.


Tiga puluh menit Kayesa mengacak-acak mobil Budi. Tapi tak ditemukan juga benda pipih kesayangannya itu. Andai saja ATMnya tidak ikut raib, pasti dia sudah terbang kembali ke Jakarta hari ini.


Kayesa menyesap keringat yang terasa mengalir di dahinya, dia duduk di mobil Budi sambil menghadap ke luar dengan kaki menjuntai ke aspal. Dengan siku bertumpu ke paha, Kayesa menyangga dagunya dengan tapak tangan sebelah kanan, dia menarik nafas lelah, ada guratan kecewa di situ.


Setelah mengucapkan terima kasih, dengan langkah gontai dan ayunan tangan lemah tanpa gairah, Kayesa beranjak dari mobil Budi, dia melangkah kembali ke paviliun. Begitu berada di depan pintu, Kayesa memutar dan menarik handle pintu, lalu menguakkan daun pintu.

__ADS_1


Sebelum kakinya melangkah masuk, dia memindai seluruh ruangan paviliun, lalu melangkah menuju sofa dan mendudukkan bokongnya di situ. Tak ada harapan lain yang terbayang di wajah Kayesa, selain mengikuti apa maunya Zafran.


Tiba-tiba dalam lamunannya, melintas bayangan Kiano, wajah polos dengan polah laku yang selalu membuat lelah Kayesa itu menari jelas di matanya.


"Kiano dan Maeka pasti cemas memikirku. Jika aku tidak memberi kabar," keluh Kayesa, dia berpikir keras bagaimana bisa menghubungi Maeka.


Sepeninggalan Kayesa, Budi merogah saku celananya, mengambil ponselnya dan segera menelepon Mayumi, lalu melaporkan pekarjaannya pada hari ini.


"Awasi Zafran. Jangan sempat Zafran tahu, kalau semua ini ada hubungannya dengan oma," titah Mayumi pada Budi.


"Baik! Oma," ujar Budi lalu mengakhiri panggilan teleponnya.


Mendengar penjelasan dan laporan Budi, Mayumi menarik nafas lega, dia tidak terlalu khawatir kalau rencananya untuk menyatukan Kayesa gagal, karena Zafran sepertinya juga menginginkan Kayesa.


"Semoga saja semuanya berjalan dengan baik," batin Mayumi.


Sementara Budi yang baru saja mengakhiri sambungan teleponnya, segera beranjak menemui Zafran.


"Tuan! Apa masih ada yang tuan butuhkan?" Tanya Budi begitu sampai di ruangan dokter Zean.


"Tidak! Kamu boleh pulang dan istirahat," ujar Zafran. Budi pun pamit dan melangkah pergi.


Setelah kepergian Budi, Zafran kembali mengobrol dengan dokter Zean.


"Berapa hari kamu mau ngadem dab stay di sini?" Tanya Zean.


Zean dan Zafran adalah teman waktu berseragam putih abu-abu. Obrolan keduanya sangat serius, tapi santai, sesekali terdengar tawa canda mereka. Zafran menceritakan tentang Kayesa pada Zean.


"Kenapa kamu tidak berterus terang saja pada wanita itu?"


"Aku takut ditolak, karena kesalahanku masa lalu," ujar Zafran.


"Ternyata wanita itu, membawa perubahan banyak pada kehidupanmu. Bagaimana dengan Alena?" Tanya Zean. Waktu pernikahan Zafran dan Alena, Zean turut hadir.


Mendengar pertanyaan Zean, Zafran menarik nafas panjang, dia belum bisa menjawab pertanyaan Zean. Karena yang ada dipikirannya sekarang hanya ada Kayesa.


"Entahlah! Aku tak tahu apa kelanjutan hubuganku dengan Alena," ujar Zafran seraya meraup wajah dengan kedua tangannya.


"Ikuti saja hatimu. Semoga Kayesa pilihan yang tepat untukmu," ujar Zean.


Zafran dan Zean mengakhiri pertemuannya, kala seorang bapak-bapak berusia lanjut dan pasien tetap Zean datang. Zafran berpamitan dan diantar dokter Santi, masih dengan kursi rodanya menemui Kayesa di paviliun.


******

__ADS_1


Sementara Alena sudah sampai ke Bali, dia kembali ke hotel tempatnya menginap sebelum dia ke Surabaya.


"Nyonya Alena. Anda sudah kembali?" Tanya Tatia kaget, begitu melihat Alena memasuki pintu utama hotel.


Tatia menatap Alena dari kaki, hingga ke kepala. Wajah Alena terlihat sangat kusut, ada aura jahat memancar di sinar matanya, kala Tatia beradu pandang. Ihh... Bulu roma Tatia meremang.


"Kenapa kamu membohongiku? Hah!" Bentak Alena seraya menarik leher baju Tatia.


Tatia terkejut setengah mati, karena dia tak menduga, kalau Alena akan menyerangnya.


"Saya? Membohongi nyonya. Apa maksud nyonya?" Tanya Tatia tergagap.


Eksperi wajah Tatia yang tadi kaget, kini sudah normal kembali. Wajah itu dibuatnya sepolos mungkin, dia tahu kearah mana pembicaraan Alena. Kemampuan akting Tatia tidak diragukan lagi. Dulu dia sudah pernah menjadi artis sinetron, walaupun hanya pemain figuran.


"Mana Zafran dan wanita itu!" Alena menguatkan cekalannya, lalu mendorong Tatia, hingga Tatia mundur beberapa langkah dan punggungnya mentok ke dinding.


"Tuan Zafran dan wanita? Maksudnya wanita siapa? Apa tuan Zafran berselingkuh?"


Bukan menjawab pertanyaan Alena. Tatia malah memperjelas dengan beberapa pertanyaan, dia sengaja melakukan itu untuk memperlambat gerak Alena untuk mencari Zafran dan Kayesa.


"Iya! Sekarang di mana mereka!" Alena menambah ke kuatan, menarik leher baju Tatia.


"Hay! Ada apa ini?" Seru Budi yang baru datang.


Melihat Tatia dalam keadaan sulit dan terancam. Budi menarik tangan Alena, hingga cekalannya terlepas. Tatia terbatuk-batuk, akibat cekalan Alena, kini dia bisa terbebas dan bernafas lega.


"Jangan ikut campur! Urusanku dengan dia," Alena menatap marah ke arah Budi.


"Siapa pun yang berurusan dengan Tatia. Maka jadi urusanku," ujar Budi seraya menghalangi gerakan Alena yang masih bermaksud ingin menjangkau Tatia.


"Lepaskan!" Teriak Alena.


"Kau pasti sekongkol dengan Zafran untuk membohongiku!" Alena berteriak-teriak histeris.


"Kalau iya kenapa? Hah!" Tatia ikut berteriak.


Suasana menjadi heboh, Tatia sengaja memanas-manasi Alena, Alena terlihat sangat marah, apa lagi Budi menghalangi langkahnya untuk menghajar Tatia. Sekarang Alena makin yakin kalau Zafran dan Tatia sengaja mengerjainya


"Nyonya mau pergi dari sini dengan cara baik-baik, atau saya panggil pak satpam." Ancam Budi seraya menarik tangan Alena.


"Lepaskan! Aku bisa keluar sendiri," ujar Alena seraya menepis tangan Budi dengan kasar.


Dengan wajah ditekuk, Alena beranjak keluar dari hotel, wajahnya terlihat cemberut dan kusut. Alena mengambil ponsel di dalam tas tangannya, memcoba menghubungi nomor kontak Zafran. Namun, nomor kontak Zafran belum juga akrif.

__ADS_1


"Zafran! Kamu di mana. Kenapa dari semalam nomormu tak juga aktif," gumam Alena kesal sambil menghentakkan kakinya.


"Jangan bermain-main denganku Zafran. Kamu belum tahu sejahat apa Alena. Aku bisa memotong-motong tubuhmu dan wanita itu, jadi bagian-bagian kecil," gumam Alena dengan mata ******.


__ADS_2