
Part 40
"Shaga," batin Kayesa, dia menatap intens laki-laki yang sedang berdiri di depannya. Kayesa menyerahkan kunci kamar pada Maeka, lalu meminta Maeka dan Kiano masuk duluan.
Deg... Debar jantung Shaga berdetak kencang, dua kali lipat dari biasanya. Walaupun Kayesa sudah mengatakan, kalau mencintai laki-laki. Namun di hati Shaga rasa itu tak pernah berubah sedikitpun.
Kayesa sendiri tidak bisa membohongi perasaannya, setiap kali bertemu Shaga, dadanya terus saja berdebar dan bergemuruh, meskipun bibirnya mengatakan tak mencintai laki-laki itu lagi. Namun, hatinya tak bisa dibohongi. Cintanya masih terlaly besar untuk laki-laki putih abu-abunya itu.
"Kay! Shaga sudah punya istri dan kamu sudah punya Kiano. Jangan pernah berpikir tentang dia lagi," batin Kayesa dalam hati.
Kayesa menunduk dan membuang pandangannya dari tatapan Shaga, dia tidak ingin Shaga melihat kabut di matanya. Mengingat Shaga bersama wanita lain, membuat hatinya perih rasa teriris-iris.
"Shaga! Kayesa sudah mencintai laki-laki lain, biarkan dia bahagia dengan pilihannya," batin Shaga, mengingatkan dirinya.
Lama keduanya hanya saling diam, sibuk dengan pikiran dan dugaan masing-masing, hingga muncul seseorang mencari dan memanggil Shaga.
"Shaga! Di sini kamu rupanya." Suara wanita itu menyadarkan Shaga dan Kayesa. Keduanya spontan menatap wanita yang baru datang.
"Siapa dia?" Tanya wanita itu seraya menilik Kayesa dari kepala turun ke kaki.
"Hanya teman, yang kebetulan bertemu, karena dia menginap di sini," jawab Shaga, tanpa mengenalkan wanita itu pada Kayesa.
Wanita itu sepertinya tidak tertarik melanjutkan percakapannya tentang Kayesa. Nyatanya wanita itu langsung mengalihkan pandangannya pada Shaga.
"Yuk pulang," ajak wanita itu sambil meraih lengan Shaga dan bergamit manja.
"Kakak tunggu saja di mobil, bentar lagi Shaga menyusul, Shaga mau bicara dulu dengan teman," ujar Shaga menarik tangannya agar terlepas dari gamitan wanita itu.
"Jangan lama," ujar wanita itu, lalu pergi meninggal Shaga dan Kayesa keluar pintu utama, menuju mobil.
"Kakak? Jadi wanita itu kakak Shaga. Bukan istrinya," batin Kayesa. Masih jelas diingatan Kayesa, saat bertemu Shaga di rumah sakit, wanita itu sedang hamil besar.
"Dia kakakku," ucap Shaga kala melihat Kayesa menatap Arum masuk ke mobil.
"Oh." Hanya itu yang keluar dari mulut Kayesa.
"Kamu apa kabar?" Shaga mengalihkan pembicaraan, dengan menyodorkan tangan ke Kayesa.
"Baik," jawab Kayesa mengalihkan pandangannya ke wajah Shaga sambil menerima uluran tangan Shaga.
"Selamat datang di wisma saya, semoga tidurnya nyenyak ya," ujar Shaga lagi, lalu berpamitan.
__ADS_1
Hanya itu, tak ada kata-kata lain. Seakan kesannya Shaga sudah bisa move on dari wanita itu, dia tidak menunjukkan pada Kayesa, kalau dia masih punya rasa yang sama dengan enam tahun yang lalu.
Dengan sudut matanya Kayesa menatap punggung Shaga, hingga menghilang masuk ke dalam mobil. Tiba-tiba ada rasa yang sulit Kayesa terjemahkan beriring dengan kepergian mobil Shaga yang meluncur meninggalkan wisma.
Sakit! Tentu saja. Itu yang dirasakan Kayesa sekarang, saat Shaga menyapa hanya seadanya.
"Shaga sudah berubah, dia bukan Shaga yang dulu," batin Kayesa.
Kayesa menarik nafas panjang. Ada rasa sedih saat mendapati Shaga sudah menganggapnya seperti orang lain. Di sisi lain ada terbersit harapan, kala Kayesa mengetahui, kalau wanita yang ditemuinya di rumah sakit itu adalah kakak Shaga.
"Apa aku masih berharap bisa bersama dengan Shaga. Entahlah!" Kayesa mengusir khayalannya, lalu masuk ke kamar menemui Maeka dan Kiano.
"Hay! Anak bunda sudah mandi," ujar Kayesa saat melihat Kiano sudah memakai baju piayama, dan terlihat letih di atas kasur. Maeka yang sedang membacakan dongeng pun terlihat lelah.
"Apa Nyonya sudah punya tujuan kita akan ke mana besok?" Tanya Maeka, setelah memastikan kalau Kiano sudah tertidur.
"Aku tak tahu, yang ada dalam pikiranku sekarang aku harus pergi menjauhkan Kiano dari laki-laki itu."
"Tuan Zafran maksud Nyonya?"
"Iya," ujar Kayesa menarik nafas panjang.
"Entah! Aku hanya merasa Zafran punya niat ingin merampas Kiano dariku." Kayesa menarik nafas panjang, dia akan melakukan apa pun untuk mempertahankan putranya.
Mendengar ucapan Kayesa. Maeka ikut menarik nafas panjang, dia tahu bagaimana perasaan Kayesa. Wajar kalau Kayesa khawatir, Zafran berniat jelek pada Kiano, karena tak mungkin seorang Zafran yang terkenal dingin, bisa sangat baik pada seorang anak seusia Kiano, kalau tak menginginkan sesuatu.
"Atau tuan Zafran mencintai Nyonya. Dengan cara mendekati Kiano," ujar Maeka berspekulasi.
Mendengar ucapan Maeka, Kayesa tertawa. Mana mungkin seorang Zafran jatuh cinta padanya, sesuatu yang sangat mustahil menurut Kayesa.
"Khayalanmu terlalu tinggi Maeka," ujar Kayesa di sela tawanya.
Derai tawa Kayesa masih terdengar saat dia menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi. Sepeninggalan Kayesa, Maeka merebahkan tubuh letihnya di samping Kiano, beberapa detik kemudian dia pun terlelap.
Kayesa ke luar dari kamar mandi, dilihatnya Maeka sudah tertidur pulas. Kayesa mengeringkan rambutnya dengan handuk, tubuhnya terasa segar kembali, setelah diguyur air hangat. Kayesa memakai baju tidur yang tadi di belinya, kemudian berbaring di sebelah kanan Kiano.
Pikiran Kayesa membumbung tinggi, matanya lurus ke depan menatap langit-langit kamar. Sambil menumpu ke dua tangan di kepalanya, dia melirik putranya yang sedang tertidur pulas.
"Maafkan bunda ya sayang. Belum bisa membuatmu nyaman," batin Kayesa, lalu menarik tangannya, menyentuh dan mengusap kepala Kiano.
"Bunda berjanji akan membuatmu bahagia, walaupun tanpa sosok ayah," ujar Kayesa lagi seraya mengecup puncak kepala Kiano.
__ADS_1
Di pembaringan Kayesa gelisah, berkali dia mencoba memejamkan mata. Namun, tak juga terlelap. Kayesa merubah posisi tidurnya dari telentang, miring ke kiri dan miring ke kanan, tetap saja matanya tak terpejam. Bayangan Shaga menari menghantui pikirannya.
"Ya Tuhan. Kenapa aku kepikiran Shaga terus," batin Kayesa, seraya bangun dari tidurnya, lalu berdiri mondar mandir seperti setrikaan.
*****
Sementara Shaga baru sampai mengantar Arumi ke rumahnya. Arumi yang berprofesi sebagai menejer di beberapa wisma milik Shaga, biasanya dijemput antar suami, karena suaminya sedang dinas luar kota, tugas jemput antar berpindah pada Shaga.
"Kamu mau ke mana?" Tanya Arumi, kala melihat Shaga membalikkan tubuhnya.
"Kembali ke wisma," jawab Shaga seraya membuka pintu mobil.
"Besok pagi saja. Ini sudah larut," teriak Arumi seraya menatap jam di layar ponselnya, sudah menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh menit.
"Besok pagi-pagi mau brifeng dengan karyawan," ujar Shaga seraya menutup pintu mobil.
"Jangan lupa besok malam, keluarga Salina datang," teriak Arumi lagi.
"I-iya," sahut Shaga.
Salina adalah gadis ke lima yang dicari Arum untuk Shaga. Arum berharap gadis cantik dari Bali itu bisa membuat Shaga jatuh cinta. Arum khawatir melihat adik laki-laki semata wayangnya itu tidak pernah tertarik pada wanita.
Sementara Shaga, setiap Arum membawa seorang gadis padanya, hanya memberi tanggapan biasa saja. Menurutnya semua gadis yang ditawarkan kakaknya, tidak ada yang memiliki pesona seperti Kayesa.
Entah pesona Kayesa yang terlalu menarik hingga Shaga tidak bisa mencari pengganti atau Shaga yang terlalu naip, tidak ingin membuka hati untuk wanita lain, karena rasa kecewanya pada wanita yang bernama Kayesa.
Mengingat semua tentang Kayesa, membuat Shaga menarik nafas panjang. Sudah berkali dia berusaha melupakan Kayesa. Namun, jujur sampai saat ini belum bisa.
Pertemuannya tadi dengan Kayesa, kembali membuat pikiran Shaga dipenuhi wanita itu. Pada hal Shaga mendengar dengan jelas, kala Kayesa mengatakan, kalau cintanya bukan untuk Shaga lagi.
Shaga juga sudah berusaha belajar membenci Kayesa. Tapi tak bisa, semakin dia berusaha melupakan Kayesa, semakin bayangan wanita itu melekat di kepalanya.
"Aku harus menemui Kayesa. Aku harus bicara padanya," batin Shaga, seraya menekan pedal gas dan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Pukul dua belas lewat lima belas menit, Shaga memasuki area wisma, dia memarkir mobilnya dan turun, lalu bergegas masuk ke pintu utama wisma.
"Malam tuan Shaga," sapa resepsionis.
"Malam," balas Shaga, lalu dia melangkah masuk ke ruang kerja sekaligus kamar pribadinya. Begitu berada di kamar, Shaga mengecek cctv, dia memutar video rekaman cctv saat Kayesa baru datang di wismanya dengan mengendarai motor, di belakangnta ada dua penumpang, gadis remaja dan anak laki-laki kecil.
"Apa laki-laki kecil itu anak Kayesa," batin Shaga.
__ADS_1