Pernikahan Semalam

Pernikahan Semalam
Salah Kamar


__ADS_3

Part 72.


Setelah menghitung sampai tiga, perlombaan pun dimulai. Terlihat sangat konyol bagi Zafran, dikeluarganya hal seperti ini tentu pastinya sangat memalukan. Berbeda dengan Kayesa, hal seperti ini sangat menyenangkan.


Kayesa mencomot paha ayam dengan tangan kanannya, dia menyingkirkan sendok dan garfu yang menurutnya hanya bikin lambat saja. Mulut Kayesa gembung bagaikan bakpao, penuh berisi daging ayam, sangat terlihat lucu dan menggemaskan.


Melihat Kayesa makan, membuat Zafran menghentikan suapannya, dia malah lebih memilih memperhatikan tingkah polah wanita itu. Gaya Kayesa yang berusaha menghabiskan sisa nasinya di piring sangat menarik bagi Zafran, hingga terpana menatap wanita itu. wajah Kayesa yang berlepotan dengan nasi, membuat Zafran tanpa sadar senyum-senyum sendiri.


Sementara Kayesa sibuk dengan aktifitasnya, sedikit pun dia tak tahu kalau Zafran sedang memperhatikannya, yang ada dipikirannya, bagaimana menghabiskan makannya dengan cepat dan bisa pulang besok, tanpa memikirkan biaya.


"Aku menang! Tuan kalah!" Seru Kayesa mengakhiri suapannya, lalu mencuci bersih tangannya. Teriakan Kayesa menyadarkan Zafran dari keterpanaannya.


"Kamu memang juaranya. Hahaha," Zafran terkekeh, kala melihat ekspresi wajah Kayesa.


Spontan Kayesa menutup mulut dengan telapak tangan kirinya, dia pun ikut tertawa. Senang tentunya, dia tak perlu bayar tiket pesawat untuk pulang besok. Kalau tanding makan memang dari dulu Kayesa selalu juaranya. Waktu TK saja dia sudah pernah juara kala lomba makan kerupuk.


"Kamu terlihat lucu sekali," ujar Zafran masih di sela tawanya, dia menarik beberapa lembat tisu, lalu tangan terangkat, ingin menyeka butiran nasi yang menempel di pinggir dagu Kayesa.


"Apa aku terlihat rakus?" Tanya Kayesa, seraya mengelak, agar tangan Kayesa tidak mendarat du wajahnya, dia menarik tissu yang ada di tangan Zafran dan mengelap wajahnya.


"Iya! Sangat rakus, seperti orang yang takut makanannya diambil orang," ujar Zafran lagi terkekeh, membayangkan wajah Kayesa.


Tawa lepas Zafran terdengar sangat ringan, sepertinya beban hidup Zafran lepas dan terbang dari pikirannya. Sungguh ini merupakan pengalaman pertamanya, melihat pemandangan yang sangat lucu menurut persinya.


Ditertawa oleh Zafran, tidak membuat Kayesa marah dan kesal, dia malah ikut terpingkal-pingkal tertawa. Begitu juga dengan Zafran.


"Dia terlihat sangat tampan, jika tertawa begitu," batin Kayesa seraya menatap Zafran secara seksama dan menghentikan tawanya, dia memperhatikan Zafran tak berkedip.


Selama Kayesa bekerja di kantor Zafran, rumor yang didengarnya.


Zafran adalah CEO yang dingin, sadis dan galak. Jangankan tertawa, senyumnya saja sangat mahal. Wajar semua karyawannya stress jika berhadapan dengannya. Tapi kali ini Zafran bisa tertawa lepas, itu artinya Kayesa orang satu-satunya yang bisa membuatnya berubah.


"Kenapa menatapku begitu?" Tanya Zafran mengakhiri tawanya.


"Tuan sangat tampan," pujian meluncur begitu saja dari bibir Kayesa, tanpa di sadarinya. Pujiannya benar-benar ke luar dari hati yang paling dalam.


"Kamu serius?" Tanya Zafran meyakinkan, dia ikut menghentikan tawanya, lalu menatap bola mata Kayesa, mencari kebenaran ucapannya. Dan Kayesa mengangguk.


Tanpa sadar Zafran menggeser kursinya, hingga dempet dengan kursi Kayesa. Zafran meraih tubuh Kayesa dan membawanya ke dalam pelukan. Entah kenapa dia merasa bahagia mendengar pujian dari wanita itu. Pada hal dia sudah biasa dapat pujian dari para wanita cantik dan berkelas. Tapi kali ini sangat berbeda.

__ADS_1


Ketulusan Kayesa begitu berasa dan mengetuk pintu hati Zafran. Hingga kewarasan Zafran terkikis. Sementara Kayesa pun memiliki perasaan yang sama, kala Zafran mendekapnya erat, dia merasa debar jantungnya semakin kuat, ada rasa khawatir, kalau- kalau Zafran mendengarnya.


Zafran menguraikan pelukannya, lalu membelai rambut Kayesa. Kemudian dia menekuk leher Kayesa, wajah Kayesa berhadapan sangat dekat dengan wajah Zafran, hingga hembusan nafas Zafran terasa di kulit pipi Kayesa.


Wajah Kayesa tersipu malu, dia berusaha melepaskan tangan Zafran yang memegang tengkuknya. Kayesa menunduk, dia tak kuasa menahan gejolak hatinya, kala matanya beradu pandang.


"Esa! Aku..." Zafran menggantung ucapannya, kala ada bayangan seseorang.


"Nyonya Esa! Ini ponselnya. Aku temukan, di bawah jok mobil," Seru Budi, seraya mengangkat tangan kanannya yang memegang ponsel Kayesa.


Kedatangan Budi, membuat Zafran menghentikan ucapannya. Kayesa menoleh ke arah Budi, lalu beranjak dari duduknya, maju dua langkah, dia meraih ponselnya yang ada di tangan Budi.


"Alhamdulillah," ucap Kayesa menciumi benda pipih keramatnya itu dan di akhir drama, Kayesa mengucapkan terima kasih.


Tadi Zafran menelepon Budi, saat dia dan Kayesa sudah berada di resto. Zafran menyuruh Budi, agar mengambil ponsel Kayesa yang disimpannya di dalam travelbag, dan Zafran meminta Budi akting seolah-oleh ponsel itu baru ditemukan.


"Ya Tuhan. Aku telah menuduh Zafran yang mengambil ponselku. Ternyata pradugaku salah," batin Kayesa seraya menatap ponsel yang sudah berada ditangannya.


"Tuan! Maaf ya. Aku sudah berpraduga menuduh Tuan yang ambil ponselku."


Spontan Budi melirik ke arah Zafran, bola mata Zafran menatap tajam, mengisyaratkan agar Budi jangan memandang ke arahnya. Bisa-bisa kecurigaan Kayesa semakin kuat.


"Mana mungkin Tuan Zafran mau mengambil ponsel nyonya. Iyakan Tuan?"


Pertanyaan Budi malah mengagetkan Zafran. Zafran tahu kalau Budi sebenarnya memang lagi menyindirnya. Zafran jadi kesal saat melihat Budi nyengir kuda mentertawakannya.


"Dasar supir sialan," umpat Zafran dalam hati.


"Kenapa? Takut ketahuan, hehehe," bisik Budi seraya terkekeh.


"Sialan!" Maki Zafran seraya berdiri dan menonjokkan tinjunya ke bahu Budi, untungnya Budi lebih gesit, hingga sasaran Zafran meleset.


Masih terdengar suara tawa Budi, kala dia beranjak meninggalkan Zafran dan Kayesa. Zafran mengumpat, memaki dan mengacam dalam hati, akan menghajar Budi jika ketangkap.


"Awas lho," ujar Zafran seraya mengangkat tinjunya mengarahkan ke Budi. Budi tak memperdulikan Zafran, dia menghilang di balik dinding pembatas.


Sementara Kayesa yang sudah terlanjur senang, karena ponselnya sudah ditemukan, tidak peduli dengan kelakaran Budi dan Zafran. Kayesa langsung mengabari Maeka, kalau ponselnya sudah ketemu. Setelah menelepon Maeka, Kayesa juga menelepon Mayumi dan memberitahunya kalau Kayesa akan kembali ke Jakarta besok.


"Udah ya Oma," ujar Kayesa seraya menutup panggilan telepon setelah mengucapkan salam.

__ADS_1


"Kayesa teleponan sama siapa? Oma siapa?" Zafran bertanya-tanya dalam hati.


Senyum Kayesa sumbringah, setelah memutuskan panggilan teleponnya. Kayesa terlihat sangat senang, dia kembali mendudukkan bokongnya di kursi. Begitu juga dengan Zafran.


"Tuan! Makannya dilanjutin, tuh nasinya masih banyak," Kayesa menunjuk piring di depan Zafran.


"Aku sudah kenyang," ujar Zafran, seraya menggelengkan kepalanya.


"Kalau gitu, kembali ke paviliun yuk. Aku mau rehat," ujar Kayesa.


Tak menunggu persetujuan Zafran, Kayesa beranjak melangkahkan kaki meninggalkan Zafran. Zafran berlari kecil dengan langkah panjang, mengejar dan mengiringi ayunan kaki Kayesa.


"Tunggu! Cepat kali jalannya," ujar Zafran seraya meraih tangan Kayesa, hingga Kayesa menghentikan langkah kakinya.


Sambil bergandengan tangan, Zafran dan Kayesa sampai di depan pintu paviliun. Zafran memasukkan dan memutar anak kunci, lalu menguakkan daun pintu dan menyilakan Kayesa masuk. Kayesa menghempaskan bobot tubuhnya di sofa. Begitu juga dengan Zafran, dia mendudukkan bokongnya di sebelah kiri Kayesa.


"Ke kamar yuk. Rehat," ajak Zafran, seraya beranjak, dia meraih dan menarik tangan Kayesa.


"Ke kamar? Berdua sama Tuan? Nggak mau," ujar Kayesa menarik tanganya dari genggaman Zafran.


"Kalau nggak mau, kamu tidur di sofa saja," sahut Zafran.


"Tapi kamarnya ada dua. Tuan yang ini, aku yang sana," ujar Kayesa sambil menunjuk kedua kamar dengan ibu jarinya.


Mata Zafran mengikuti jari tangan Kayesa. Zafran baru lihat kalau kamar di paviliun ini ada dua, tadi dikiranya cuman satu kamar. Zafran meraih gagang travelbagnya, lalu beranjak menuju kamar pertama, Zafran menghilang di balik pintu kamar.


Begitu juga dengan Kayesa, dia menarik gagang travelbag, beranjak menuju kamar kedua. Kayesa mengulurkan tangan menggapai dan memutar handle pintu, saat pintu terbuka ruangan sangat gelap, Kayesa tidak bisa melihat apa-apa.


Klik, Kayesa menekan saklar lampu. Lampu menyala remang-remang.


Brak... Sesuatu terjatuh, Kayesa kaget, matanya membola saat melihat makhluk kecil yang bergerak lincah.


"Hiiiih! Tikus!" Teriak Kayesa ketakutan, sambil berlompatan berlari keluar.


Teriakan Kayesa terdengar hingga ketelinga Zafran. Zafran yang sudah rebahan di atas tempat tidur, kaget! Sponta dia beranjak, berlari kecil keluar kamar.


Melihat Zafran, Kayesa berlari kearahnya, menubrukkan tubuh dan memeluk Zafran dengan erat, tuhuhnya menggigil ketakutan. Zafran membiarkan Kayesa memeluknya beberapa saat.


"Ada apa?" Tanya Zafran seraya mempererat dekapannya, lalu membelai kepala Kayesa, memberi isyarat dengan bahasa tubuhnya, kalau Kayesa aman bersamanya.

__ADS_1


"Ada tikus," sahut Kayesa dengan suara lirih dan bergetar.


"Apa! Kamu takut dengan tikus," ujar Zafran mengurai pelukannya, menatap wajah Kayesa, yang terlihat pucat, lalu Zafran terkekeh, Kayesa sebel.


__ADS_2