
Part 56
Mendengar Mayumi menyebut penerbangan. Kayesa menghela nafas panjang, berarti dia akan pergi ke luar Jakarta dan tentu membutuhkan waktu berhari-hari.
"Kenapa oma Mayumi tidak mengatakan dari semalam," batin Kayesa, jika dari semalam dia tahu, tidak mungkin Kayesa hanya mengantongi dua stel baju.
"Sekarang Oma ada di Bali. Jadi Esa susul Oma ke Bali," ujar Mayumi lagi menjelaskan sekaligus menjawab pertanyaan Kayesa.
"Tapi! Saya..."
"Semua hal yang berhubungan dengan keberangkatanmu, sudah diurus oleh asisten Oma. Oma kirim nomor asisten Oma di whatsappmu" ujar Mayumi, seakan tahu kerisauan Kayesa, lalu menutup panggilan telepon.
Kayesa menarik nafas lega, kaka Mayumi mengatakan, kalau semuanya diurus asisten. Jika tidak tentu sangat merepotnya, karena Kayesa belum pernah berpergian dengan pesawat. Tidak tahu bagaimana memesan tiket pesan, tidak cara check in dan sebagainya.
"Syukurlah. Oma paham keadaanku," batin Kayesa lagi.
Begitu panggilan terputus, Kayesa menggulir layar ponsel, membuka aplikasi whatsapp, mengecek pesan Mayumi, menyimpan dan menambah kontak baru untuk asisten oma Mayumi.
(Hallo! Asisten oma Mayumi. Ini Esa) Kayesa mengirim pesan pada pemilik nomor yang baru disimpannya.
(Iya. Non! Saya Amora. Nanti saya jemput non pukul sebelas tiga puluh) balasan masuk beberapa menit kemudian.
(Non Amora, kalau ke sini nanti. Tolong belikan saya, wig warna pirang, kacamata hitam dan masker) Kayesa mengirim balasan, beberapa menit kemudian.
(Siap. Non!) Balas Amora.
Kayesa mengakhiri chatingannya dengan Amora.
Setalah membaca status yang berseleweran di beranda facebook Shaga. Kayesa jadi berpikir dua kali untuk keluar, dia khawatir kalau Shaga bekerjasama dengan Zafran untuk mengambil Kiano.
"Aku harus menyamarkan penampilan dan wajahku," batin Kayesa
"Apa aku harus ke salon," batin Kayesa, seraya menatap jam yang tergantung di dinding.
"Dua puluh menit lagi, terlalu singkat," gumamnya.
Kayesa masih berdiri di depan cermin. Jika dia memakai wig pirang, kacamata hitam dan masker, pasti orang-orang di luar sana tak mengenalinya. Kecuali orang yang memang sudah sangat dekat dengannya.
Sejenak Kayesa menatapi foto yang dishare Shaga di beranda facebook. Foto waktu Kayesa masih berseragam putih abu, foto yang sudah jauh berbeda dengan dia sekarang. Dulu dia terlihat kurus dan langsing, sekarang sudah berisi.
Tok... Tok... Tok..
__ADS_1
Terdengar ketukan di pintu membuyarkan lamunan Kayesa. Kayesa mengintip dari lobang pintu. Seorang laki-laki memakai kemeja abu-abu.
"Siapa dia? Batin Kayesa.
Kayesa bersandar di daun pintu, lalu berbalik dan sekali lagi dia mengintip dari lobang pintu.
"Non! Saya membawakan pesanan Non dari nona Amora," terdengar suara dari luar di sela ketukan pintu.
Mendengar suara tersebut. Kayesa bernafas lega, perlahan ditarik dan dikuakkannya daun pintu selebar satu jengkal, dia hanya mengulurkan tangan untuk mengambil pesan yang diantar laki-laki itu.
"Terima kasih," ujar Kayesa seraya menutup pintu kembali dan menguncinya. Dia sama sekali tak menampakkan wajah.
Kayesa menenteng dua buah paperbag dari laki-laki tadi, dia mendudukkan bokong di tepi tempat tidur, lalu membuka salah satu paperbag, berisi wig, kacamata, masker dan sepatu. Dan paperbag yang satunya berisi sweter berwarna hitam.
"Aku kan tidak pesan sepatu dan sweter," batin Kayesa.
"Jangan-jangan laki-laki tadi salah antar," batin Kayesa lagi, lalu meraih ponselnya yang sedang di cas.
(Nona Amora! Saya tidak pesan sepatu dan sweter) Kayesa mengirim pesan whatsapp.
(Sweter dan sepatu itu untuk nona Esa. Oma Mayumi yang memberikan, katanya sekarang musim hujan dan di luar cuacanya dingin) balasan dari Amora masuk.
(Baiklah. Terima kasih) Kayesa mengirim chat kembali.
Kayesa meletakkan ponselnya kembali. mengganti piyama dengan dres warna coklat kaki, lalu Kayesa beranjak ke depan cermin, dia memasang wig di kepala dan menyisir rambut barunya yang berwarna pirang dengan perlahan. Setelah itu memakai kacamata hitam.
Sambil berputar-putar di depan cermin, Kayesa memastikan, kalau tak seorang pun yang mengenalinya sekarang. Apa lagi jika dia menggunakan masker. Penampilannya berubah sembilan puluh persen.
Sepuluh menit kemudian, ponsel Kayesa berbunyi, dari layar yang bercahaya, panggilan masuk dari asisten Mayumi.
"Hallo non Amora," sapa Kayesa begitu panggilan terhubung.
"Nona Esa, saya sudah sampai di hotel, saya tunggu anda di lobi."
"Baiklah! Dalam lima menit saya turun," ujar Kayesa, lalu menutup panggilan telepon.
Tangan kanan Kayesa meraih sweter, memakainya agar lebih hangat, tadi diluar baru hujan dan masih menyisakan dinginnya. Setelah memakai sweter dengan sempurna, Kayesa mengambil tas, lalu memasukkan ponsel dan casnya, seraya mencantolkan tas di bahu, Kayesa meraih dua paperbag, satu berisi baju kotor dan piyama, satu lagi berisi sendal dan satu dres bersih.
Sebelum meninggalkan kamar, Kayesa meminda seluruh penjuru kamar, memastikan kalau semua barang tidak ada yang tertinggal. Lalu perlahan Kayesa menyeret kakinya menuju pintu.
Sementara tangan kiri Kayesa memegang paperbag, tangan kanannya menarik handle dan menguakkan daun pintu. Kayesa beranjak ke luar kamar, menyusuri koridor hotel menuju lift, begitu lift terbuka, masuk lift dan turun ke lantai dasar.
__ADS_1
Begitu keluar dari lift, Kayesa beranjak menuju resepsionis, dia menyerahkan kunci kamar dan chek out. Kayesa menoleh kearah loby di sana berdiri seorang gadis cantik yang memakai dres berwarna navy tua, sedang menatap ke arahnya.
Gadis cantik dengan kaki jengang itu, melangkah dengan gemulai beranjak maju, begitu juga dengan Kayesa, sama-sama maju saling mendekat.
"Apa anda nona Esa?" Tanya gadis itu sambil memperbaiki letak kacamatanya.
"Iya! Dan anda Amora."
Keduanya saling melempar tersenyum, gadis itu terlihat semakin cantik dan manis dengan lesung pipinya. Kayesa menyukai senyum gadis itu.
"Amora benar-benar cantik dan berkelas," batin Kayesa, kala melihat penampilan modis dan elegan.
"Hay! Kamu Esa kan?"
Kayesa hanya mengangguk.
"Sederhana dengan kecantikan yang natural," ujar Amora, seraya menyodorkan tangan bersalaman hangat.
"Senang bertemu kamu. Esa!"ujar Amora, lalu menggamit tangan Kayesa mengajak beranjak meninggalkan ruang loby, ke luar hotel menuju parkir.
Di parkir sebuah mobil mercy putih dan seorang supir sudah menunggu. Begitu melihat Amora dan Kayesa ke luar dari hotel, seorang laki-laki memakai kemeja biru, berdiri membungkuk hormat, lalu membuka pintu mobil, menyilakan Amora dan Kayesa masuk.
Setelah Amora dan Kayesa masuk, laki-laki itu menutup kembali pintu mobil, lalu memutar, membuka pintu depan dan duduk di belakang stir. Tanpa bertanya dan bicara, laki-laki itu menekan pedal gas, mobil pun meluncur meninggalkan hotel, menuju jalan raya.
Sepuluh menit perjalanan, mobil mercy yang membawa Kayesa, berbelok memasuki pintu pagar sebuah rumah yang bercat abu rokok. Mobil berhenti, laki-laki yang menjadi supir, membuka pintu mobil, lalu turun.
"Tunggu sebentar ya. Saya masuk dulu," ujar Amora seraya membuka pintu dan turun, beberapa menit kemudian Amora kembali ke luar seraya menarik dua travelbag yang sama, lalu menyerahkan pada supirnya.
Amora menutup kembali pintu rumah, beranjak ke dalam mobil. Sementara sang supir memasukkan ke dua travelbag ke bagasi. Setelah menutup bagasi, laki-laki itu kembali duduk di posisi awal di belakang stir, mercy pun kembali meluncur.
Sepanjang jalan menuju bandara, Kayesa dan Amora ngobrol dengan santai, dua wanita yang kenal baru puluhan menit itu sangat akrab, terlihat seperti mereka sudah kenal bertahun-tahun. Ternyata kedua wanita itu, punya hoby yang sama, sama-sama penyuka kuliner.
Dua puluh menit kemudian, mobil sudah memasuki area bandara. Jujur ini pertama kali Kayesa ke bandara, karena seumur hidup dia belum pernah naik pesawat.
Begitu mobil berhenti. Supir menurunkan dua travelbag, satu diserahkan ke Amora dan satunya ke Kayesa. Saat pertama Kayesa menjejakkan kaki di koridor bandara, ada perasaan gugup. Namun, dia berusaha santai agar tidak terlihat lebay.
Kayesa mengikuti ke mana langkah Amora, berlagak seperti orang kebanyakan, supaya terlihat kalau dia tidak bodoh-bodoh amat. Saat check in, Amora meminta Kayesa mengeluarkan KTP, dan Kayesa terus mengekor Amora dari belakang sampai masuk ke ruang tunggu.
Tiga puluh menit berada di ruang tunggu, terdengar suara dari intercom yang mempersilakan penumpang untuk memasuki pesawat lewat pintu dua. Kayesa dan Amora beranjak dari tempat duduknya, berjalan di koridor menuju garbarata untuk memasuki pesawat.
Kayesa mengecek boarding pass, di sana tertulis nomor kursi dua puluh satu A. Setelah menemukan posisinya, Kayesa masuk dan duduk di samping jendela, kemudian disusul Amora di posisi dua puluh satu B. Beberapa menit kemudian seorang wanita datang, dan posisi duduknya di samping Amora.
__ADS_1
"Alena," batin Kayesa, saat melirik wanita itu yang duduk di sebelah kanan Amora.