
Dua hari telah berlalu, orang tua Steven telah berada di rumah.
"Nak! coba ceritakan pada kami, kiranya siapa gadis yang sangat beruntung yang kamu cintai itu?" tanya Papah Edward seraya menatap lekat Steven.
"Iya, nak. Jujurlah pada kami" sela Mamah Grace.
"Steve cinta sama Stephanie" jawabnya singkat.
"Stephanie yang jelek banget, cucu grandma dan grandpa?" Mamah Grace melotot kaget.
"Mah, janganlah suka melihat fisik. Tapi lihatlah hati, kalau menurut papah, Stephanie itu gadis yang sangat baik" sela Papah Edward.
"Iya, pah. Mamah kan cuma bertanya, mamah juga nggak larang kok misalkan memang gadis yang di maksud Steve itu adalah cucu grandpa" kata Mamah Grace.
"Iya, mah. Memang Stephanie cucunya grandpa, tapi sudah beberapa bulan ini menghilang begitu saja. Terakhir pamit ke LA, tapi malah nggak ada kabar lagi" kata Steven seraya menghela napas panjang.
"Apa kamu ngga bertanya sama grandpa dan grandma tentang keberadaan Stephanie?" tanya Papah Edward.
"Grandpa dan grandma selalu menjawab tidak tahu" kata Steven singkat.
"Kok seperti ada yang di sembunyikan oleh mereka, ntar papah yang cari tahu. Kamu nggak usah khawatir, Steve. Pasti kamu akan bisa bersatu dengan Stephanie" Papah Edward mencoba menghibur Steven.
"Apa kamu yakin, nak? dengan perasaanmu itu? apa bukan karena rasa iba padanya?" Mamah Grace mengernyitkan alis.
"Yakin, mah. Steve benar-benar mencintainya bukan karena iba padanya. Bagiku, dia gadis yang istimewa karena hatinya bagaikan malaikat" kata Steven seraya senyum-senyum sendiri.
Sejenak Steven membayangkan saat bersama Stephanie. Dimana Stephanie selalu memberikan kebahagiaan pada Steven, dengan tingkah lucunya dan segala keunikannya.
"Steve, hey? lihat itu pah, sebegitu besarnya cinta anakmu pada Stephanie sampai senyum-senyum sendiri" Mamah Grace menatap Papah Edward seraya geleng-geleng kepala.
"Biarlah, mah. Mau bagaimana lagi, kaya mamah nggak pernah muda saja" goda Papah Edward terkekeh seraya beranjak bangkit dari duduknya berlalu dari hadapan Mamah Grace dan Steven.
Mamah Grace mengikuti langkah suaminya, meninggalkan Steven yang sedang asik berhayal tentang Stephanie.
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa telah sore. Papah Edward menyambangi rumah grandpa bersama Steven.
"Shalom, Mom Dad" sapa Papah Edward.
__ADS_1
"Shalom, Nak Edward. Wah, sudah balik Indo rupanya" jawab grandpa seraya menyalami Papah Edward.
Begitu pula dengan grandma, ikut menyalaminya.
"Sudah beberapa hari yang lalu, cuma baru sempat kemari" kata Papah Edward.
Tak berapa lama kemudian, Stephanie yang telah beralih nama Fanie datang menyuguhkan minuman dan cemilan.
"Loh, gadis cantik ini siapa mom, dad?" tanya Papah Edward seraya melirik pada Fanie.
"Oh, ini Fanie. Cucu juga, ceritanya panjang. Dulu dia pernah terpisah dari orang tuanya, kita kebetulan menemukannya. Sekarang orang tuanya telah tiada, jadi Fanie tinggal di sini bersama kami" jawab grandpa sekenanya.
"Oh begitu, lalu dimana Stephanie?" Papah Edward bertanya seraya menatap grandma dan grandpa secara bergantian.
"Entahlah, kami juga bingung. Terakhir kw La, untuk berobat tapi terus hilang komunikasi begitu saja" jawab grandma seraya menghela napas panjang.
"Lah kok bisa begitu?" Papah Edward seraya tak percaya.
"Ya, mungkin dia merasa putus asa karena di tolak oleh keluarganya" kata grandpa berbohong.
"Kebetulan kami kehilangan kontak mereka, sehingga tidak bisa menghubungi mereka," jawab grandpa.
"Sepertinya ada yang di sembunyikan oleh daddy dan mommy, aneh. Kenapa Stephanie ngga ada, terus tiba-tiba muncul Fanie?" gerutu Papah Edward dalam hati.
"Hem, tapi paras mereka sungguh jauh berbeda. Fanie cantik bak model, sedang Stephanie gendut berjerawat," gerutu Papah Edward dalam hati.
Sementara Steven asik di kebun bersama Fanie yang aslinya adalah Stephanie.
Mereka asik menyirami kebun tersebut bersama-sama. Sesekali bercanda ria layaknya kedua sahabat baik.
"Fan, sini dong siramnya. Kenapa cuma di bagian situ saja?" Steven melambaikan tangan.
"Nggak ah, kamu suka usil. Ntar aku sudah sampai di situ di semprot pula seperti tadi." Fanie mencibirkan bibirnya.
Steven menghampiri Fanie, dan apa yang di khawatirkan Fanie terjadi. Steven menyemprot Fanie dengan air untuk menyiram kebun.
"Tuh kan, sifat usilmu itu yang nggak bisa hilang dari dulu," Fanie manyun.
__ADS_1
"Dari dulu, kita bareng saja belum lama. Dari mana kamu tahu jika sejak dulu aku suka usil seperti ini?" Steven menyelidik menatap Fanie yang sedang sibuk menyeka mukanya yang basah karena air.
"Ma-maaf, cuma mengira-ngira saja," Fanie menutupi rasa gugupnya.
"Kenapa kamu terlihat gugup, Fanie?" Steven semakin menatap lekat Fanie.
"Gugup apa, mukaku basah bajuku basah. Sudah dulu, aku mau mandi sekalian." Fanie berlalu begitu saja meninggalkan Steven yang masih terpaku menatap kepergian Fanie.
"Fanie, seandainya saja kamu adalah Stephanie. Aku akan sangat bahagia sekali, dan aku akan segera mengungkap rasa cintaku yang telah lama aku pendam," gerutu Steven seraya menghela napas panjang.
"Jika aku rasakan, sebagian yang ada pada diri Fanie sangatlah mirip dengan Stephanie. Dari tingkah laku, tutur kata, hingga cara berjalan. Semua mirip sekali, hanya paras mereka saja yang berbeda," kembali Steven menggerutu.
Selagi asik melamun, bahu Steven di tepuk oleh Papah Edward.
"Nak, yuk kita pulang. Sudah menjelang petang," ajak Papah Edward.
"Ya Tuhan, papah bikin Steve jantungan saja." Steven melonjak kaget seraya mengusap dadanya.
"Kamunya saja yang terlalu asik melamun, apa kamu melamunkan Fanie? apa cintamu pada Phanie telah berpindah pada Fanie?" goda Papah Edward terkekeh.
"Bukan itu, pah. Steve merasa banyak sekali persamaan yang ada pada diri Fanie dan Phanie. Hanya paras mereka saja yang berbeda," Steven menghela napas panjang.
"Apa mungkin jika Fanie itu adalah Stephanie? terakhir saat Phanie pergi, pamitnya ada urusan apa?" tanya Papah Edward seraya berjalan berdampingan menuju pulang ke rumah.
"Terakhir pamit mau merubah diri, pah. Apa mungkin jika Fanie yang sebenarnya adalah Stephanie ya, pah?" kata Steven seraya manggut-manggut.
"Bisa jadi seperti itu, Steve. Phanie sengaja menyembunyikan jati dirinya karena sesuatu hal," kata Papah Edward.
"Iya, pah. Selama ini keluarganya kan membencinya, makanya mungkin setelah berhasil merubah diri, dia menyembunyikan jati dirinya," kata Steven.
"Ya sudah, kamu kan tiap hari bersama Fanie mengurus perkebunannya. Sambil kamu selidiki pelan-pelan kan bisa, Steve." Papah Edward memberi saran.
"Ya, pah. Steve akan menyelidiki apakah Fanie adalah Stephanie," ucapnya sangat antusias.
Tak berapa lama, mereka berdua telah sampai di rumah. Segera Steven menuju ke kamar untuk melakukan ritual mandi sorenya.
🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤯
__ADS_1