Perubahan Gadis Culun

Perubahan Gadis Culun
Meylan Di Tangkap Polisi


__ADS_3

Meymey sangat senang saat mengetahui Om Alex masih mengingingkannya menjadi istri simpanannya.


"Om serius dengan apa yang tadi om katakan? apa hanya sekedar untuk membuatku bahagia sesaat?" Meymey bertanya lagi untuk memastikan apa yang telah di ucapkan Om Alex benar atau tidak.


"Siapa yang nggak mau mempunyai istri yang masih muda dan cantik sepertimu, semua pria pasti mau. Apalagi om," Om Alex mencolek hidung Meymey.


"Kalau kamu bersedia, secepatnya kita menikah siri. Dan aku akan memberikan sebuah apartement dan mobil untukmu, dan bukan hanya itu semua kebutuhanmu biar aku yang memenuhinya jadi kamu tak usah lagi cape-cape kerja di cafe," kata Om Alex untuk meyakinkan Meymey.


"Baiklah, om. Aku bersedia menikah dengan om, tapi aku ingin ada perjanjian hitam di atas putih. Yakni om benar-benar akan memberikan semua yang tadi om ucapkan," kata Meymey tersenyum manis.


"Baiklah, sayang. Apapun yang kamu inginkan akan om turuti, besok kita menikah ya?" kata Om Alex menaik turunkan alisnya.


"Besok, apa nggak terlalu cepat?" Meymey mengernyitkan alis.


"Lebih cepat lebih baik, sayang. Biar om bisa kapan saja meminta jatah padamu, apa lagi sekarang ini kan musim hujan. Tepat sekali untuk kita menikah, supaya kita lekas punya anak." Om Alex menyunggingkan senyum.


"Hem, aku nggak jadi aborsi berarti. Ya sudahlah nggak apa-apa yang penting ada yang mau menikahiku walaupun aku nggak cinta dia," batin Meymey.


"Sebenarnya aku juga sungkan untuk hamil, pasti rasanya nggak enak kan." batin Meymey kembali.


"Nggak apa-apa yang penting semua kebutuhanku tercukupi, dan aku nggak hidup susah. Intinya aku numpang hidup sama Om Alex," batin Meymey tersenyum bahagia.


Setelah cukup lama berada di kantor Om Alex, akhirnya Meymet berpamitan pulang. Dan akan mempersiapkan semua untuk pernikahan sirinya besok.


Secara tidak langsung, Meymey harus meminta supaya papinya yang menjadi wali nikahnya.


"Pasti akan marah hebat, jika tahu aku menikah dengan pria seumurannya. Tapi apa boleh buat, semua demi anak yang ada di perutku ini." batinnya seraya memesan taxi on line.


Hanya beberapa menit saja, Meymey telah sampai di apartement. Cindy merasa heran karena dia berpikir Meymey sedang berada di kamarnya.


"Loh, Mey. Bukannya kamu sedang istirahat di kamarmu?" Cindy mengernyitkan alis.


"Aku nggak bisa tidur, mi. Jadi pergi sebentar ke rumah teman." Meymey berjalan menuju ke kamar.


"Kok, aku merasa ada yang aneh dengan Meymey," batin Cindy.

__ADS_1


Sementara Meymey mencoba menelpon Meylan, namun saat ini ponsel Meylan sedang tidak aktif.


"Kemana sih, Meylan. Disaat aku butuh teman curhat malah nomor ponsel tidak aktif." Meymey menulis pesan untuk dikirimkan ke ponsel Meylan.


Setelah itu Meymey membaringkan tubuhnya sambil menunggu balasan notifikasi chat pesannya pada Meylan.


"Kok tumben Meylan lama balas chat dariku, nggak seperti biasanya." Gerutu Meymey menghela napas panjang.


Sementara di teras apartement, tiba- tiba ada dua aparat polisi bertamu.


"Sepertinya di luar ada tamu, tumben ada tamu ke rumah ini." Meymey bangkit dari pembaringan dan melangkah keluar.


Sementara saat ini Cindy sedang menemui dua aparat polisi tersebut.


"Apa benar ini kediaman dari saudari Meylan?" tanya salah satu aparat polisi pada Cindy.


"Iya, pak. Benar sekali, saya maminya Meylan. Kiranya ada apakah dengan anak saya Meylan?" Cindy mulai panik dan gemetar.


Belum juga aparat polisi menjawab, tiba-tiba Meymey datang dan bertanya.


"Ada apa ini, mi?" tanya Meymey penasaran.


"Begini, Nyonyah. Bisakah anda sekarang juga ke kantor polisi untuk kami minta keterangan menyangkut apa yang telah anak anda lakukan?" tanya seorang aparat polisi.


"Memangnya anak saya telah berbuat apa, pak?" Cindy semakin penasaran juga panik.


"Lebih baik anda ikut kami saja, biar kami jelaskan di kantor saja." Kata salah satu aparat polisi.


Cindy ke kantor polisi di temani oleh Meymey. Hanya beberapa menit saja, mereka telah berada di kantor polisi.


"Meylan, kesalahan apa yang sebenarnya telah kamu lakukan hingga harus berada di sini?" Cindy menatap lekat Meylan.


"Maafkan, Meylan." Ucapnya tertunduk lesu.


"Begini, Nyonya. Anak anda telah tertangkap sebagai salah satu sindikat pengedar narkoba." Kata salah satu aparat polisi.

__ADS_1


"Ya, Tuhan. Meylan?" Cindy terhenyak kaget mendengar penjelasan salah satu aparat polisi.


"Apa selama ini anda sebagai ibunya tidak tahu apa saja yang di kerjakan di luar rumah, dan apa anda tidak pernah bertanya apa saja aktifitas putri anda jika di luar rumah?" tanya salah satu aparat polisi.


"Selama ini, jika di tanya putri saya menjawab kerja di sebuah cafe. Makanya saya tidak curiga, karena selama di rumah juga tidak ada sedikitpun gelagat aneh pada putri saya," jawab Cindy.


"Memang aktifitas jual beli di lakukan di beberapa cafe, dan saat kami menangkap putri Nyonya juga sedang melakukan jual beli di sebuah cafe. Putri anda salah satu bandar narkoba yang selama ini kami cari. " Kata salah satu aparat polisi.


Cindy sangat syok mendapati Meylan akan di penjara karena kasus narkoba. Dia bingung, harus bagaimana cara menjelaskannya pada Endrik.


Apa lagi selama ini, Endrik juga tak pernah bertegur sapa padanya. Sejak dirinya ketahuan selingkuh.


Cindy dan Meymey pulang dengan rasa sedih dan bingung.


"Mey, mami bingung bagaimana cara menjelaskan semua ini pada papimu." Cindy melangkah keluar dari kantor polisi dengan langkah gontay.


"Bagaimana aku meminta ijin untuk menikah dengan Om Alex, sementara ada peristiwa seperti ini," batin Meymey.


"Mey, mami bicara padamu kok malah kamu nggak merespon ucapan dari mami?" Cindy menyikut lengan Meymey dan membuatnya terhenyak kaget.


"Meymey juga nggak tahu, mi. Bagaimana cara ngomong ke papi." Jawab Meymey gugup.


Tak berapa lama kemudian, Meymey dan Cindy telah sampai di rumah. Keduanya hanya diam saja, satu sama lain sedang asik dengan pikirannya masing-masing.


Hingga menjelang malam, barulah Meymey dan Cindy menghadap Endrik.


Belum juga Meymey atau Cindy berkata, Endrik telah berkata terlebih dulu.


"Mana Meylan, dari papi pulang kok nggak kelihatan?" tanyanya menatap Cindy dan Meymey.


Cindy dan Meymey tak langsung menjawab, mereka malah salimg berpandangan. Membuat Endrik semakin geram.


"Kalian di tanya malah saling pandang, dan nggak jawab. Mulut kalian untuk apa?" Endrik menghardik sikap Cindy dan Meymey.


"Meylan ada di kantor polisi, pi." Serentak Meymey dan Cindy berucap.

__ADS_1


"Apa, di kantor polisi?" Mata Endrik melotot, tangannya berkacak pinggang dan dirinya bangkit dari duduknya karena kaget dengan perkataan Cindy dan Meymey.


*******


__ADS_2