Perubahan Gadis Culun

Perubahan Gadis Culun
Fanie Melahirkan


__ADS_3

Endrik terus saja mencari informasi tentang keberadaan rumsh Fanie. Namun belum juga di ketemukan.


"Heran, masa aku sama sekali tidak tahu dimana saat ini Fanie tinggal?" Endrik mendengus kesal.


"Sebaiknya aku kerumah orang tua Steven, dengan begini aku bisa tahu dimana rumah Steven." Endrik melajukan mobil ke rumah orang tua Steven.


Namun Endrik telah sampai di rumah orang tua Steven, dia kembali harus menelan kekecewaan.


Karena saat ini orang tua Steven sudah tidak tinggal di rumahnya. Mereka tinggal bersama Steven dan Fanie.


"Sial sekali, hilang jejak. Harus bagaimana lagi supaya aku bisa bertemu dengan grandma," batin Endrik mendengus kesal.


Endrik melajukan mobilnya menuju arah jalan pulang.


********


Waktu berlalu begitu cepat, kini Fanie sedang dalam proses melahirkan. Situasi di dalam keluarga panik menunggu kelahiran anak Fanie.


Semua hadir di rumah sakit untuk menanti kelahiran anak Fanie, dari orang tua Steven, grandma dan juga Steven.


Steven dengan setia menemani proses melahirkan Fanie.


"Bunny, kamu yang sabar dan yang kuat demi anak kita." Steven tersenyum seraya menggenggam jemari Fanie.


"Iya, hunny. Janganlah khawatir, aku pasti kuat dan mampu," Fanie mengembangkan senyum tanpa ada sedikitpun rasa khawatir ataupun keluhan.


Setelah berucap, Fanie mengejan sesuai instruksi dokter. Hanya beberapa menit saja telah lahir bayi lelaki yang sangat tampan.


Kemudian Fanie merasakan mulas kembali, dan mengejan lagi. Lahirlah kembali seorang bayi perempuan yang cantik jelita.


"Puji Tuhan, kedua anak kalian telah lahir dengan selamat. Dan keduanya normal, cantik dan tampan." Kata dokter.


"Terima kasih ya, dok." Steven menyalami dokter.


"Sama-sama, Tuan Steve. Bayi kalian saat ini sedang di bersihkan terlebih dahulu," Dokter berlalu pergi keluar dari ruang bersalin.


"Bunny, terima kasih. Kamu telah memberiku sepasang bayi yang sehat dan normal." Steven mencium kening Fanie.


"Hunnya, harusnya kamu berterima kasih pada Tuhan jangan padaku." Fanie berkata lirih.

__ADS_1


"Kalau yang itu sudah pasti, aku beryukur dan berterima kasih pada Tuhan atas anugerah yang terindah ini. Tapi aku juga berterima kasih padamu dong." Kembali lagi Steven mencium kening Fanie.


Beberapa saat kemudian, Fanie di pindah ke ruang rawat setelah persalinan bersama dengan sepasang bayi mungilnya.


Orang tua Steven sangat bahagia saat melihat kedua cucunya yang sangat imut dan menggemaskan.


Begitu pula dengan grandma sangat senang saat melihat kedua cicitnya telah lahir.


"Jika suamiku masih hidup, dia akan sangat bahagia melihat kelahiran cicitnya." batin grandma seraya matanya berkaca-kaca.


Saat ini kebahagiaan telah meliputi keluarga ini. Semua merasa senang, bahagia, dan penuh suka cita karena ada dua malaikat kecil yang hadir dalam dunia.


**********


Setelah dua hari berada di rumah sakit, Fanie di ijinkan untuk pulang dengan kedua malaikat mungilnya.


Suasana bahagia menyelimuti keluarga Steven.


"Cu, apa kalian berdua telah mempunyai nama untuk kedua cicit mungil ini?" grandma sesekali mencolek gemas sepasang bayi mungil Fanie.


"Sudah, grandma. Untuk baby girl kita beri nama Abrina yang artinya anak perempuan yang membawa rejeki dan keberuntungan untuk keluarga. Untuk baby boy kita beri nama Andre yang artinya pemberani." Steven berkata dengan antusiasnya.


Berbeda situasi di apartement yang ditinggali oleh Endrik dan Meymey. Saat ini Endrik terus saja memikirkan keberadaan grandma.


"Pi, kenapa tiap hari melamun saja? apa papi sedang memikirkan usaha expedisi yang saat ini sedang sepi?" Meymey mengernyitkan kening.


"Papi memikirkan expedisi juga memikirkan grandma. Mungkin ini karma dari grandma sehingga para langganan expedisi pindah ke tempat lain gara-gara berita di surat kabar juga." Endrik memijit pelipisnya seraya menghela napas panjang.


"Sudahlah, pi. Nggak usah di sesali, karena semua sudah terjadi. Sekarang yang harus kita pikirkan bagaimana caranya kita bisa bertemu dengan grandpa untuk meminta maaf padanya. Juga kita pikirkan bagaimana caranya supaya usaha expedisi bisa maju dan berkembang kembali," Meymey berusaha menghibur Endrik.


"Entahlah, Mey. Dimana sekarang grandma dan bagaimana kondisinya, papi nggak tahu. Papi sudah putus asa mencari keberadaan grandma." Endrik tertunduk lesu.


"Sabar dan jangan putus asa, pi. Meymey nggak akan tinggal diam, tapi akan ikut mencari keberadaan grandma," kembali lagi Meymey memberi semangat dan penghiburan pada Endrik.


"Iya, nak. Semoga pencarianmu kelak membuahkan hasil supaya papi bisa segera meminta maaf pada grandma." Endrik menghela napas panjang.


Pagi menjelang, kebetulan hari minggu. Meymey bersantai ria, pagi-pagi melakukan aktifitas jogging sendirian.


"Pi, mobil di pakai nggak?" tanya Meymey

__ADS_1


"Nggak, Mey. Memangnya mau kamu pakai kemana?" tanya Endrik.


"Aku ingin jogging tapi di alun-alun desa sebelah, kan agak jauh jadi mau pakai mobil. Nanti kalau sudah sampai di alun-alun barulah aku jogging, mobil aku parkirkan. Apa papi mau ikut?" ajak Meymey.


"Nggaklah, Mey." Tolak Endrik sama sekali tak merespon ajakan Meymey.


"Ikut saja sih, pi. Dari pada papi di rumah yang hanya sedih, gelisah, mikir ntar malah jadi penyakit. Kira jogging sekalian refresing cuci mata, selain sehat membuat pikiram fres." Kembali lagi Meymey membujuk Endrik.


"Baiklah, papi ikut. Omonganmu ada benarnya juga, kalau di rumah yang ada mesti melamun memikirkan segala hal. Ya sudah, papi ganti baju dulu." Endrik bangkit dari duduknya melangkah ke kamar.


Sejenak Meymey menunggu Endrik berganti pakaian. Tak lama kemudian, Endrik telah siap dengan kostum untuk jogging.


Mereka segera pergi ke alun-alun di desa sebelah untuk melakukan aktifitas jogging. Hanya 20 menit perjalanan mereka telah sampai di alun-alun. Tak lupa Meymey memarkirkan mobilnya, setelah itu mengajak Endrik jogging memutar di dalam alun-alun.


Meymey dan Endrik berlari memutar alun-alun ada beberapa kali putaran. Setelah itu mereka istirahat di sebuah warung soto ayam untuk sarapan.


Selagi asik menunggu pesanan sarapan, Endrik tak sengaja melihat Fanie dan Steven melintas, masing-masing mendorong stroller baby.


"Mey, kamu tunggu di sini sebentar." Endrik beranjak bangkit.


Endrik lekas berlari kecil mengejar Fanie dan Steven.


"Fanie, tunggu." Endrik menghentikan langkah Fanie.


Fanie menghentikan langkahnya karena mendengar ada yang memanggilnya.


"Kenapa berhenti, bunny?" tanya Steven ikut menghentikan langkahnya juga.


"Barusan seperti ada yang memanggil namaku, memangnya hunny nggak mendengar?" Fanie balik bertanya.


"Dengar sayup-sayup," jawab Steven.


Kemudian keduanya mengamati di sekitarnya, dan saat mereka menoleh kebelakang, telah berdiri Endrik.


"Papi..eh maaf Om Endrik? apa om yang barusan telah memanggil saya?" tanya Fanie.


"Iya, Fanie. Aku ingin bertanya satu hal padamu. Apakah saat ini grandma tinggal bersamamu, dan dimana sekarang kamu tinggal?" tanya Endrik menatap sendu Fanie.


******

__ADS_1


__ADS_2