Perubahan Gadis Culun

Perubahan Gadis Culun
Kebakaran


__ADS_3

Sementara saat ini Alex sangat emosi, karena usahanya gagal.


"Dasar bodoh, masa menyingkirkan satu orang saja kalian nggak bisa. Kalian lima orang, masa kalah sama satu orang!" bentak Alex.


"Sepertinya tarjet orang berkuasa, bos. Karena tiba-tiba muncul 10 orang menyerang kami secara membabi buta. Secara kami kalah telak." Bela salah satu anak buah Alex.


"Nggak usah mencari alasan!" bentak Alex.


"Benar kok, bos. Apa yang teman saya barusan ucapkan. Lawan kami lebih banyak 2x lipat, jelas saja kami kalah." Ucap anak buah Alex yang lain.


"Hem, ya sudah. Kalian pergilah, dan kembali bertugas di tempat yang biasa. Pastikan ponsel salah satu dari kalian aktif, supaya suatu waktu aku hubungi aktif!" Perintah Alex pada ke lima anak buahnya.


Ke lima anak buah Alex lekas pergi dan kembali ke tempat mereka biasa bertugas.


"Aku pikir, pemuda yang bersama Meymey adalah seorang karyawan biasa. Ternyata dia orang penting, sehingga mempunyai banyak anak buah."


"Aku harus menyelidikinya kembali, supaya benar-benar tahu keabsahan berita yang di sampaikan oleh para anak buahku."


Demikian gerutuan Alex seraya mendengus kesal.


Sementara saat ini Om Wirya sedang berada di rumah Reynold.


"Nak, apakah kamu baik-baik saja? bagaimana kalian bisa di serang segerombolan orang? apakah selain Sasa dan Doni, kamu juga musuh yang lain?" serentetan pertanyaan dari Om Wirya pada Reynold.


"Seingatku nggak ada loh, om. Musuh terbesarku cuma Tante Sasa dan Mas Doni, nggak ada yang lain lagi." Jawab Reynold.


"Coba besok kamu tanyakan pada Meymey, apa mungkin dia yang punya musuh atau orang yang nggak suka padanya." Saran Om Wirya.


"Iya, om. Besok aku tanyakan pada Meymey." Jawab Reynold singkat.


"Untuk berjaga-jaga, mulai sekarang kamu harus selalu membawa beberapa anak buah. Jangan sekali-kali pergi sendiri." Saran Om Wirya.


"Baiklah, om. Rey akan menuruti saran dan nasehat dari, Om Wirya." Kembali lagi Rey berkata hanya seperlunya saja.


Pikirannya sedang travelling entah ada dimana. Dia masih kurang percaya dengan apa yang telah terjadi siang hari.


Setelah percakapan tersebut, Om Wirya pamit pulang. Reynold melangkah ke kamar dan memejamkan matanya.

__ADS_1


Hari yang melelahkan dimana harus berkejar-kejaran dengan segerombolan pengendara bermotor.


Sementara di tengah malam pukul dua dini hari, ponsel Endrik berdering.


📱"Maaf, Tuan Endrik. Malam-malam mengganggu, hanya ingin memberi kabar jika kantor expedisi anda kebakaran."


Orang tersebut langsung mematikan panggilan telponnya pada Endrik.


Endrik lekas bangkit dan akan bergegas ke kantor untuk mengecek kebenarannya. Namun Cindy ikut terbangun pula.


"Pi, sepertinya tadi ada yang telpon? ada apa?" tanya Mami Cindy seraya menguap.


"Ada yang menelpon memberi tahu jika kantor kebakaran.Papi pergi dulu ya, mi." Endrik melangkah keluar dari kamar.


Namun Cindy mengejar, meminta ikut serta ke kantor. Hingga Endrik mengijinkan Cindy ikut serta.


Setelah sampai, kantor sudah berubah menjadi serpihan abu. Dan tinggal puing-puing saja yang tersisa, itupun sudah runtuh.


Bukan cuma itu, gudang penyimpanan barang-barang expedisi juga habis terbakar.


"Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini?" Endrik menitikkan air mata seraya memijit pelipisnya karena pening.


"Habis sudah, mi. Aku harus bagaimana, semua barang-barang konsumen yang belum sempat di kirim di simpan di gudang! aku rugi besar dan harus mengganti semua barang konsumen yang habis terbakar." Endrik berkeluh kesah seraya terus memukul-mukul kepalanya sendiri.


"Sudahlah, pi. Iklaskan saja, mungkin semua ini belum di takdirkan menjadi milik, papi. Sabar, pi. Pasti ada jalan keluarnya untuk mengganti kerugian para konsumen, papi." Kembali lagi Cindy mencoba menghibur Endrik.


Sesaat Endrik tak bisa berpikir, dia tak sadar tertidur di mobil. Begitu pula dengan Cindy. Hingga jam lima pagi, mereka terbangun.


"Pi, biar mami saja yang mengemudikan mobilnya." Cindy menawarkam diri.


Endrik menuruti kemauan Cindy, mereka berganti tempat duduk. Kembali lagi Endrik tertidur, sementara Cindy fokus mengemudi.


Tak berapa lama, sampailah mereka di apartement. Ternyata Meymey telah bangun dan saat ini berada di teras halaman.


"Darimana mereka pagi-pagi sekali?" Meymey mengernyitkan alis.


Sampai sekarang Meymey belum tahu jika kantor dan gudang telah terbakar.

__ADS_1


"Mi, pi. Darimana kalian pagi-pagi sekali?" tanya Meymey menyelidik.


Endrik tidak menjawab pertanyaan dari Meymey, dia melangkah masuk rumah menuju kamarnya. Hanya Cindy yang menjawab pertanyaan dari Meymey.


"Jam dua dini hari, ada yang menelpon memberi kabar jika kantor terbakar. Kami akhirnya kesana untuk mengecek kebenarannya, ternyata memang terbakar habis tak bersisa. Bahkan gudang penyimpanan barang yang belum di kirimkan juga ikut terbakar." Jawab Cindy panjang lebar.


Setelah mendengar itu, Meymey tak bisa berkata mulutnya terperangah matanya membola. Seolah dia tak percaya dengan penuturan Mami Cindy.


"Sepertinya ada yang sengaja melakukan ini, mami. Kita harus menyelidikinya, mi." Kata Meymey mendengus kesal.


Cindy tidak berkata apapun, dia malah bangkit dari duduknya dan melangkah masuk rumah menuju ke kamar.


"Ya Tuhan, kasihan sekali papi. Siapakah yang begitu tega melakukan hal ini?" batin Meymey.


Dia juga penasaran ingin melihat sendiri kebakaran tersebut. Dia melajukan mobilnya menuju ke kantor Endrik. Saat sampai dia baru percaya akan semua yang di katakan oleh Cindy.


"Oh, My God. Separah ini, pantas papi sangat syok." Gerutu Meymey.


Setelah melihat semuanya , Meymey melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah.


Sementara saat ini Alex sedang tertawa bahagia.


"Bagus, coba kemarin kalian melakukan tugas sebagus ini. Pasti aku akan memberikan bonus yang banyak buat kalian," Alex tertawa renyah.


"Apa kalian sudah pastikan jika kantor dan gudang milik tarjet terbakar habis?" Alex masih sedikit ragu.


"Bos, bisa cek langsung ke lokasi jika kurang percaya." Jawab salah satu anak buahnya.


Alex hanya menganggukkan kepalanya, dan dia langsung memerintah sopir pribadinya untuk mengantarnya melihat kantor dan gudang milik Endrik.


Tak berapa lama, Alex telah sampai di lokasi. Dia senyum-senyum sendiri.


"Hem, rasakan kamu Mey. Sekarang usaha papimu dan kamu hancur tak bersisa, dan kalian juga rugi besar karena harus mengganti barang para konsumen yang masih tersimpan di gudang." Gerutu Alex tertawa riang.


Setelah puas melihat kekacauan tersebut, Alex memerintahkan sopir pribadinya untuk melajukan mobil arah pulang.


Dendam yang di tujukan untuk Meymey menimpa pada Endrik juga. Endrik terkena imbas dari balas dendam yang di lakukan oleh Alex.

__ADS_1


***********


__ADS_2