Perubahan Gadis Culun

Perubahan Gadis Culun
Niat Jahat Yang Gagal


__ADS_3

"Sudah, dad. Kita langsung saja ngomong tentang tujuan kita kemari, biar nggak terlalu lama. Nggak usah berdebat terus, kalau mereka nggak mau menyajikan minum ya sudah biar saja," kembali lagi grandma berusaha menenangkan grandpa.


"Baiklah, mom." Grandpa menghela napas panjang.


"Perhatikanlah pergaulan si kembar di luaran sana, jangan sampai kelak kalian di buat malu." Ucap grandpa ketus.


"Apa maksud ucapan, daddy?" Papi Endrik geram.


"Begini, om. Kemaren sore saya tak sengaja melihat Meymey bergandengan tangan mesra dengan seorang lelaki seumuran om. Dan saya juga melihat Meylan bersama beberapa lelaki," ucap Fanie.


"Oh, jadi kamu ingin menghasut orang tuaku untuk membenci cucu kandungnya sendiri!" bentak Papi Endrik tiba-tiba bangkit dari duduknya seraya berkacak pinggang.


"Saya tidak ada niat seperti itu, om. Saya benar-benar melihat dengan mata dan kepala sendiri. Saya sudah anggap om seperti orang tua sendiri, makanya saya nggak ingin suatu saat ada hal yang tidak di inginkan terjadi yang membuat malu om dan tante," ucap Fanie panjang lebar.


"Pergi kalian dari sini! kalau hanya mengatakan hal buruk tentang anak saya!" bentak Papi Endrik.


"Jadi kamu juga mengusir kami, orang tua kandungmu?" ucap grandma nelangsa.


"Iya!" Papi Endrik berlalu pergi begitu saja.


"Sudahlah, mom. Ayok kita pergi dari sini, dan perlu kalian ingat. Jika suatu saat nanti terjadi hal buruk jangan meminta bantuan pada kami atau Fanie!" Grandpa bangkit dari duduknya dan berlalu keluar dari rumah tersebut.


"Sombong amat, dad. Kami juga nggak pernah minta tolong sama Fanie, dia yang berniat menolong kami," ucap ketus Mami Cindy.


"Grandma, baiknya kita pergi." Fanie menggandeng tangan grandma.


Mereka pulang dengan hati yang sangat kecewa.


"Grandma grandpa, maafkan Fanie. Gara-gara Fanie, malah jadi ribut seperti ini." Ucapnya seraya fokus menyetir mobil.


"Jangan menyalahkan diri sendiri, Fanie. Kamu itu benar, mereka saja yang nggak mau mendengar kita bicara. Mereka terlalu memanjakan si kembar." Kata grandpa.


"Tapi papi sama mami jadi membenci grandma dan grandpa," Fanie menghela napas panjang.


"Sudahlah, nggak usah terlalu di pikirkan. Biarkan saja apa maunya mereka, yang penting kita sudah berusaha memberi nasehat." Ucap grandma.


"Ya, Tuhan. Kalau aku tahu akan jadi seperti ini, pasti aku lebih baik diam. Kasihan grandpa dan grandma malah jadi di musuhi oleh mami dan papi," batin Fanie.


Setelah berapa menit perjalanan, sampailah mereka di rumah.

__ADS_1


Fanie langsung melangkah menuju kamarnya begitu pula dengan grandpa dan grandma.


Fanie terus saja merasa bersalah atas kejadian tadi. Dirinya terus saja termenung memikirkan peristiwa tadi.


Fanie sampai melupakan rencananya sepulang dari apartement Papi Endrik akan mengajak grandpa dan grandma bermain.


Sementara di apartement, Papi Endrik sedang emosi.


"Kurang ajar, bisa-bisanya Fanie menghasut daddy dan mommy dengan mengatakan hal buruk tentang si kembar!" Papi Endrik mendengus kesal.


"Pi, harus di beri pelajaran itu anak! biar nggak keterusan berbuat seperti itu!" Mami Cindy sengaja menambah emosi Papi Endrik.


"Benar yang kamu ucapkan, mi. Papi akan menghancurkan usaha perkebunan Fanie, supaya dia tahu rasa!" Papi Endrik mengepalkan tinjunya.


"Benar sekali itu, pi. Biar nggak mengulang lagi hal seperti ini!" Mami Cindy setuju dengan niat buruk suaminya.


"Pi, mi! ada apa sih! brisik banget, kami berdua jadi nggak bisa tidur!" tegur Meymey menjatuhkan pantatnya di sofa.


"Iya, Meylan lagi mimpi bertemu pangeran malah jadi mimpinya nggak karuan gara-gara kaget suara gaduh!" Meylan manyun.


"Fanie buat ulah, mengatakan kalau Meymey jalan dengan pria seumuran papi. Dan kamu Lan, jalan dengan beberapa pria." Kata Papi Endrik mendengus kesal.


"Ya nggaklah, kalau papi percaya pasti sudah memarahi kalian berdua. Justru papi ingin buat pelajaran pada Fanie. Karena grandpa dan grandma sangat percaya dengan Fanie," kata Papi Endrik.


"Hem, sukurlah kalau papi nggak terbawa omongan Fanie," batin Meymey.


"Mulai sekarang aku harus berhati-hati jika jalan dengan para pria hidung belang seusia papi," batin Meymey.


"Niat papi mau kasih pelajaran bagaimana ke Fanie?" Meylan merasa penasaran.


"Papi akan hancurkan semua perkebunan milik Fanie supaya dia tahu rasa!" jawabnya ketus.


"Bagus, kami sangat setuju. Biar tahu rasa dia, biar nggak turut campur urusan orang lain." Kata Meymey sumringah.


"Sekarang saja yuk, pi. Biar kita bantu berjaga-jaga." Ajak Meylan.


"Tapi ini masih pagi, masih rame banyak orang. Bagusnya tengah malam kita bakar perkebunannya." Papi Endrik menyeringai sinis.


"Bagus juga ide, papi. Ya sudah ntar malam kita bantu melakukan misi papi." Kata Meymey antusias.

__ADS_1


*****


Malam menjelang, inilah yang di nantikan oleh Papi Endrik. Dia segera melakukan misinya di bantu oleh Meymey dan Meylan.


"Yuk, kita berangkat sekarang. Perkebunan sebelah mana dulu yang mau kita bakar?" tanya Meymey penasaran.


"Yang jauh dulu, baru yang terakhir yang paling dekat supaya tidak ketahuan. Dan tidak meninggalkan jejak." Kata Papi Endrik.


Segera Papi Endrik dan si kembar pergi melancarkan misinya. Tanpa pamit pada Mami Cindy yang telah tertidur pulas.


Tak berapa lama kemudian sampailah Papi Endrik dan si kembar di salah satu perkebunan Fanie yang letaknya lumayan jauh.


Tanpa menunggu lama, Papi Endrik menyiramkan bensin. Namun saat akan menyalakan koreknya, tiba-tiba hujan lebat datang.


"Sialan, kenapa mesti hujan datang sih." Papi Endrik lekas lari masuk dalam mobil di ikuti oleh si kembar.


"Pi, bagaimana ini? mau menunggu terang atau pulang saja?" Meymey meminta saran.


"Pulang saja, sepertinya hujannya nggak akan reda bisa sampai besok pagi." Kata Papi Endrik.


Segera Meylan melajukan mobilnya arah pulang. Namun baru seperempat perjalanan, tiba-tiba mobil berhenti begitu saja.


"Pi, bagaimana ini? kok mobilnya mati sendiri nggak, sudah aku nyalakan nggak mau hidup juga," Meylan panik.


"Mungkin karena kena air hujan jadi mogok," Papi Endrik jawab sekenanya.


"Papi ini aneh, mobil baru mobil mahal nggak mungkin cuma kena air hujan saja langsung mogok, kemungkinan ban bocor atau kempes." Meymey berkata.


Papi Endrik dengan rasa malas turun dari mobil untuk memeriksa ban mobilnya. Namun mobil kondisi baik-baik saja.


Secara bergantian Papi Endrik dan Meylan yang pegang kemudi untuk mencoba menyalakan mesin, namun tidak juga hidup .


"Bagaimana ini, pi. Masa kita akan bermalam di jalan sepi ini?" Meymey mulai ketakutan.


"Iya, pi. Meylan juga takut." Meylan menutup mukanya dengan kedua tangannya.


"Terpaksalah, mau bagaimana lagi. Hujannya juga deras sekali, ya terpaksa tidur di dalam mobil. Nggak usah takut, kan ada papi." Papi Endrik mencoba menenangkan si kembar.


*******

__ADS_1


__ADS_2