
"Kenapa Meylan bisa ada di kantor polisi?" Kembali lagi Endrik bertanya seraya mendengus kesal.
"Kasus narkoba, pi. Meylan tertangkap saat bertransaksi jual beli narkoba, dia salah satu bandar narkoba." Jawab Meymey dengan tertunduk.
"Lihat! hasil didikanmu, Cindy! kamu selalu asik dengan selingkuhanmu hingga kamu teledor dalam mendidik Meylan! bikin malu saja, pada semua rekan bisnisku. Padahal usahaku sudah mulai maju," bentak Endrik mendengus kesal.
"Jika sudah terjerat kasus narkoba, pasti hukumannya lama. Nggak setahun atau dua tahun," Endrik mengacak-acak rambutnya seraya menghela napas panjang.
Sementara Meymey dan Cindy tidak berani berkata apa pun. Jika Endrik sudah marah, mereka hanya bisa diam dan tertunduk lesu.
"Bagaimana nech, aku padahal telah berniat untuk meminta papi menjadi wali nikahku. Malah pake acara Meylsn tertangkap polisi, terus aku harus bagaimana?" batin Meymey bingung.
Selagi bingung, ponsel Meymey berdering yang ternyata dari Om Alex. Meymey lekas bangkit dari duduknya dan lekas menjauh untuk menerima telpon tersebut.
📱" Hallo, Om. Ada apa telpon?"
📱" Om cuma ingin tahu, apakah kamu telah bercerita pada orang tuamu tentang pernikahan kita?"
📱" Belum sempat, om. Karena kebetulan di rumah sedang ada masalah yang serius."
📱" Om nggak mau, gara-gara permasalahan keluargamu kita gagal menikah."
📱" Bukan nggak jadi om, tapi sepertinya di undur saja bagaimana, om?"
📱" Nggak, aku minta besok kita menikah. Jika kamu menolak, kita akhiri hubungan kita. Dan aku akan mencari gadis lain saja yang mau aku nikahi secepatnya!"
📱" Tolong jangan berkata seperti itu, om. Tolong mengertilah situasi dan kondisi di rumahku sedang tidak kondusif."
📱" Sebenarnya sedang ada masalah apa di rumahmu. Siapa tahu aku bisa bantu menyelesaikannya?"
" Aduh, bagaimana ini? apa sebaiknya aku bercerita pada Om Alex tentang Meylan yang sedang berada di kantor polisi?" batin Meymey.
📱" Mey, kok kamu diam saja?" tolong jawab."
Meymey akhirnya menceritakan sejujurnya tentang Meylan pada Om Alex. Bahkan dia bersedia membantu Meymey untuk membebaskan Meylan.
Om Alex yang akan ke kantor polisi untuk memberi jaminan pada aparat polisi supaya Meylan di bebaskan.
__ADS_1
Bahkan Om Alex rela membayar jaminan dalam jumlah besar asal Meylan bisa di bebaskan dan dia lekas menikah dengan Meymey.
Om Alex mengajak bertemu untuk bersama ke kantor polisi bersama Meymey.
Namun kenyataan tak seperti yang di harapkan oleh Om Alex. Karena pihak polisu tetap akan memproses kasus Meylan. Dan akan tetap memberikan hukuman kurungan penjara pada Meylan.
"Om minta maaf, jika om tidak bisa membantumu untuk membebaskan saudara kembarmu," ucap Om Alex.
"Iya nggak apa-apa, om." Jawab Meymey singkat.
"Tapi aku harap, rencana kita tetap di jalankan," kata Om Alex.
"Kamu nggak usah khawatir, biar om yang akan menghadap orang tuamu." Om Alex meyakinkan Meymey.
Meymey hanya diam saja, sudah tak bisa berkata-kata lagi.
"Mau bagaimana lagi, biarlah Om Alex yang menjelaskan sendiri pada mami dan papi," batin Meymey.
Setelah dari kantor polisi, Meymey mengajak Om Alex ke rumah untuk bertemu papi dan mami.
Bahkan Endrik telah kenal dengan pria ini. Yang tak lain adalah teman masa kuliahnya dulu saat satu kampus.
"Endrik?"
"Kamu Alex kan?"
Keduanya langsung berpelukan, saling tersenyum dan saling menepuk punggung satu sama lain.
"Jadi Endrik ini papimu, Mey?" tanya Om Alex.
"Iya, om." Jawabnya singkat.
"Kebetulan sekali," Om Alex malah tertawa riang.
"Lex, kok kamu bisa kemari bersama putriku? padahal setahuku tadi Meymey ijinnya ke kantor polisi menemui saudara kembarnya?" tanya Endrik mengerutkan kening.
"Aku memang sengaja kemari untuk bertemu denganmu. Memang tadi Meymey bersamaku ke kantor polisi, aku mencoba membujuk polisi untuk membebaskan Meylan, tapi polisi menolak. Padahal aku sampai mengiming-imingi uang yang banyak, tetap polisi akan memproses Meylan. Endrik, maafkan aku jika usahaku gagal." Om Alex menepuk bahu Endrik.
__ADS_1
"Kamu nggak perlu minta maaf, yuk kita masuk. Biar mgobrolnya lebih nyaman dan leluasa," Endrik merangkul Om Alex.
Alex, Endrik, Cindy serta Meymey semua duduk manis di ruang tamu. Setelah merasa nyaman, Alex mengungkapkan maksud kedatangannya.
"Begini, Endrik. Aku kemari ingin meminta restu. Aku ingin menikahi Meymey, tapi untuk sementara jadi istri siri," kata Alex.
"Apa? yang benar saja, apa kamu nggak mikir istrimu? aku nggak setuju jika anakku di cap sebagai pelakor!" Endrik mendengus kesal.
"Tenanglah dulu, Endrik. Jangan emosi dulu. Dengarkan penjelasanku dulu. Saat ini istriku sedang sakit keras, dan memintaku untuk menikah lagi dengan harapan aku bisa memiliki keturunan untuk kelak mewariskan semua hartaku. Aku sudah terlanjur mencintai anakmu. Bahkam hubungan kita sudah terlampau jauh. Aku nggak ingin kelak ada apa-apa dengan Meymey kalian jadi malu. Sebelum itu terjadi, aku ingin menikahinya." kata Alex panjang lebar.
"Maksudmu ada apa-apa bagaimana? aku nggak ngerti dengan apa yang tadi kamu ucapkan," Endrik mengernyitkan kening.
"Kita sudah sering melakukan hubungan intim, aku khawatir Meymey hamil. Sebel itu terjadi aku ingin menikahinya, dan aku akan bertanggung jawab sepenuhnya pada Meymey. Bahkan nanti saat kita menikah, aku juga akan membawa istriku sebagai saksi nikah." Kata Alex meyakinkan Endrik.
Sejenak Endrik menghela napas panjang, dan diam seperti sedang memikirkan sesuatu. Hingga beberapa detik kemudian, Endrik baru berkata.
"Ya sudah, menikahlah kalian. Aku sudah tidak bisa melarang lagi, karena hubungan kalian yang sudah kelewat batas. Tapi nggak usah mengadakan pesta, aku malu. Terus kapan kalian akan menikah?" tanya Endrik ketus.
"Besok, Endrik." Jawab Alex singkat.
"Apa, sebegitu cepatnya?" Endrik terperangah.
"Kamu nggak usah khawatir, biar semua aku yang urus. Kamu hanya datang dan menjadi wali nikah Meymey," Alex menyunggingkan senyum.
"Hem, ya sudah terserah kamu saja." Endrik beranjak dari duduknya.
"Kalau sudah tidak ada yang di bicarakan, aku pamit. Karena aku ngantuk sekali dan kepalaku sakit sekali. Aku akan tidur." Endrik melangkah pergi berlalu begitu saja.
"Maafkan suami saya, Tuan Alex. Karena sedang banyak masalah sehingga dia sedikit tidak ramah," Cindy mencoba mencairkan masalah.
"Ya nggak apa-apa, Nyonya. Saya sudah paham dengan sifat Endrik, karena dia dulu teman kuliah saya." Alex menyunggingkan senyum.
Setelah itu Alex berpamitan pulang, dan Cindy lekas melangkah ke kamar tamu untuk merebahkan badannya.
"Aku nggak menyangka, dua anak gadis yang selalu aku manja dan selalu aku banggakan malah akhirnya seperti ini. Yang satu bakal di penjara, yang satu bakal menikah dengan pria beristri yang seusia papinya," gerutu Cindy menghela napas panjang.
******
__ADS_1