
"Untuk apa kamu membujuk Fanie kerja di butikmu, sedangkan dia punya usaha sendiri." Sindir grandpa ketus.
"Kenapa sih, daddy dan mommy peduli banget sama Fanie? bukannya dia cuma numpang di sini, harusnya kalian suka jika aku berusaha menyingkirkannya dari sini!" Mami Cindy bangkit dari duduknya berlalu pergi begitu saja.
"Hemm, jelas kami peduli karena Fanie adalah cucu kandung kami yang tak di anggap anak oleh kalian berdua," batin grandpa.
"Mau sampai kapan kalian berdua akan selalu seperti itu?" batin grandpa kembali seraya geleng-geleng kepala.
Sementara Mami Cindy melenggang dengan cepat masuk ke arah mobilnya. Berbeda dengan Fanie yang melanjutkan kembali mengurus perkebunannya.
Dirinya tak lagi mempedulikan kepergian Mami Cindy, tidak seperti saat Mamy Cindy datang.
"Fanie, tumben kamu diam saja?" Steven menepuk bahu Fanie, membuatnya terlonjak kaget.
"Nggak apa-apa kok, Steve." jawabnya singkat.
"Aku tau saat ini kamu sedang memikirkan Tante Cindy, sabar ya Fanie. Aku janji akan selalu membuatmu tersenyum, dan bahagia. Aku yakin suatu saat nanti kamu akan membuka hatimu untukku," batin Steven seraya menyunggingkan senyum.
Berbeda dengan Mami Cindy, sampai di rumah wajahnya murung.
"Mami, pagi-pagi sekali darimana?" tanya Papi Endrik menyeledik.
"Dari rumah daddy dan mommy," jawabnya seraya menghempaskan pantatnya di sofa.
"Untuk apa, mami. Pagi benar ke sana?" Papi Endrik penasaran.
"Ya karena ingin jenguk kedua mertualah, memang untuk apa lagi." jawab Mami Cindy sekenanya.
"Hem, padahal istriku ini selalu nggak aku sama kedua orang tuaku. Kok ada yang aneh," batin Papi Endrik.
Tidak ada yang tahu untuk apa Mami Cindy mendekati Fanie. Pastinya hanya dia yang tahu, karena saat ini dia masih menutupi maksud dan tujuan mendekati Fanie.
Berbeda dengan Papi Endrik yang semakin penasaran tentang kepergian Mami Cindy barusan.
"Apa sebaiknya aku ke rumah daddy, bertanya untuk apa Cindy ke sana ya?" batin Papi Endrik.
"Ntar saja kalau pulang kerja, aku mampir. Kalau saat ini pasti Cindy curiga padaku," batin Papi Endrik kembali.
Papi Endrik bergegas bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Begitu pula Mami Cindy bersiap-siap berangkat ke butik. Sementara si kembar telah berangkat kuliah beberapa menit yang lalu.
********
__ADS_1
Waktu bergulir begitu cepatnya, tak terasa sudah menjelang sore. Papi Endrik lekas menjalankan aksinya pergi ke rumah grandpa.
Setelah menempuh 30 menit perjalanan, sampailah Papi Endrik di rumah grandpa.
"Dad, mom. Kalian ada dimana?" tanyanya saat memasuki halaman rumah grandpa.
"Kami sedang ada di kebun samping rumah, sedang menyirami." jawab grandpa sedikit berteriak.
Papi Endrik menyusul ke samping rumah.
"Ada apa kamu kemari?" tanya grandpa seraya asik menyirami.
"Cuma mau tanya saja, untuk apa tadi pagi Cindy kemari?" tanya Papi Endrik.
"Kamu yang suaminya Cindy, kok malah tanya sama daddy?" cibir grandpa ketus.
"Mau sampai kapan, daddy selalu seperti ini sama Endrik?" Papi Endrik sedikit geram akan jawaban grandpa.
"Sudah nggak usah pada debat, yang jelas Cindy kemari bukan menemui kami. Tapi menemui Fanie, kamu tanya saja sama dia. Anaknya sedamg di dapur," kata grandma melerai perdebatan antara grandpa dan Papi Endrik.
Papi Endrik lekas melangkah ke dapur untuk menemui Fanie yang sedang sibuk memasak untuk makan malam.
"Bisa, Om." Fanie lekas mencuci tangan dan berpamitan pada si bibi.
Fanie melangkah menuju ruang tamu, di ikuti oleh Papi Endrik. Keduanya sama-sama menghempaskan pantat di sofa.
"Ada apa ya, Om. Mencari Fanie?" tanyanya seraya menatap lekat Papi Endrik.
"Apa tadi pagi istriku kemari bertemu denganmu, kalau iya untuk apa dia kemari?" tanya Papi Endrik.
"Iya benar, tadi pagi Tante Cindy kemari. Menawarkan saya bekerja di butiknya," jawab Fanie sekenanya.
"Ada hal lain yang di bicarakan denganmu, tidak?" tanya lagi.
"Nggak ada kok, Om. Cuma itu saja," jawab Fanie singkat.
"Baiklah, Fanie. Terima kasih, hanya itu yang om tanyakan." Papi Endrik bangkit dan berlalu pergi begitu saja tanpa pamit pada Fanie.
Bahkan tak menghampiri orang tuanya yang ada di samping rumah hanya untuk sekedar pamit pulang.
"Kamu lihat, mom. Anak kita semakin tua bukannya semakin lebih baik, tapi malah semakin tak punya etika dan sopan santun. Datang nggak permisi, pulang nggak pamit." Grandpa menghela napas panjang.
__ADS_1
"Suatu saat nanti, pasti Endrik dan istrinya serta si kembar akan berubah," jawab grandma sekenanya.
"Sudahlah, dad. Ngga usah terlalu di pikirkan, masa tua kita jalani dengan ucapan rasa syukur dan membantu usaha perkebunan Fanie. Yang bikin sakit kepala nggak usah terlalu di pikirkan," saran grandma.
"Iya, mom. Bener yang mommy bilang, untuk apa masa tua kita buat berpikir hal yang tidak penting yang hanya buat sakit kepala," kata grandpa terkekeh.
Setelah selesai menyirami perkebunan milik Fanie, grandpa dan grandma segera masuk rumah untuk melakukan ritual mandi sore.
Beberapa jam kemudian, mereka makan malam bersama Fanie. Dengan sesekali di iringi gelak canda tawa.
"Puji Tuhan, di saat orang tua dan kedua adikku tak mengakuiku. Tuhan mengirim grandpa dan grandma yang sangat sayang dan peduli padaku. Satu doaku untuk mereka ya, Tuhan. Berilah selalu kesehatan dan panjang umur serta murah rejeki," batin Fanie.
Setelah selesai berkutat dengan makan malamnya, grandpa dan grandma masuk dalam kamar.
Sementara Fanie membersihkan meja makan di bantu si bibi.
**********
Pagi menjelang, sinar matahari masuk lewat celah jendela kamar Fanie. Segera Fanie bangkit untuk melakukan ritual mandi paginya.
Pagi ini Fanie sengaja tidak membantu di dapur, karena akan mengurus para pekerja yang mengerjakan perkebunannya di lahan tanah milik grandpa lainnya.
Fanie sudah tak memikirkan untuk kuliah, dirinya hanya ingin berkebun dan menemani hari tua grandpa dan grandma.
*****
Satu tahun telah berlalu, kini Fanie benar-benar telah menjadi orang sukses. Perkebunannya dimana-mana.
Bahkan bukan cuma satu jenis sayuran, tapi bermacam-macam sayuran dan palawija atau bumbu dapur.
Selama satu tahun itu, Steven juga selalu menemani Fanie sesuai janji di dalam hatinya.
"Aku sudah buktikan janjiku padamu, Fanie. Selama satu tahun terakhir ini, aku selalu ada di sampingmu. Semoga kali ini, aku bisa mendapatkan hatimu dan cintamu," batin Steven.
"Aku tidak akan pernah lelah untuk menunggumu, sampai kamu berkata Ya padaku," batin Steven kembali.
"Satu tahun ini bahkan aku tak memikirkan tentang diriku sendiri, setelah kamu sukses. Barulah aku akan mulai bekerja di perusahaan papah, tapi aku juga akan selalu memantaumu, Fanie." gerutu Steven.
🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳
Mohon dukung like, vote, favoritnya
__ADS_1