
Meo langsung menelpon Meta.
π±" Sayang, kenapa semua kartuku di bekukan olehmu?"
π±" Biar kamu nggak menghabiskan uangku untuk wanita lain."
π±" Apa maksud ucapanmu? selama ini aku sibuk kerja, nggak ada waktu untuk jalan dengan wanita lain."
π±" Kamu kira aku nggak tahu kelakuanmu di belakangku, saat ini saja kamu sedang bersama wanita yang kerja di bar. Kamu bawa dia ke hotel, iya kan?"
Setelah itu telpon di matikan sepihak oleh Meta. Sejak Meta tahu suaminya selingkuh, tanpa sepengetahuan suaminya. Dia menyeaa detektif untuk selalu mengawasi setiap gerak gerik Meo, sehingga apapun yang Meo lakukan, Meta selalu mengetahuinya.
"Darimana Meta tahu jika saat ini aku sedang bersama wanita lain?" Meo menggaruk kepala yang tak gatal.
"Nggak mungkin juga Meta mengawasi setiap gerak gerikku," batinnya.
Meo menghampiri wanitanya.
"Sayang, maaf kita cansel dulu bersenang-senangnya," ucapnya menahan rasa malu.
"Uh, bagaimana sih om! nggak punya uang lagaknya sok kaya!" wanita ini melangkah pergi begitu saja meninggalkan Meo.
Sementara Meo melajukan mobilnya menuju arah pulang. Hanya beberapa menit saja telah sampai di rumah.
"Sayang, sebenarnya ada apa sih? semua rekeningku di bekukan olehmu?" Meo menghampiri Meta yang sedang bersantai membaca tabloid wanita.
"Masih bertanya kenapa, bukankah dari dulu sudah aku tegaskan! jika sekali saja aku tahu kamu selingkuh, jangan harap aku memaafkanmu!" Meta melirik sinis.
"Tapi aku kan tidak selingkuh?" Meo masih saja membela diri.
"Kemasi seluruh barang- barangmu sekarang juga." Meta melempar surat cerai dan semua bukti perselingkuhan Meo.
"Ini apa?" Meo perlahan membukanya.
"Darimana Meta tahu semua ini, mati aku!" batin Meo.
"Sayang, ini kan bisa di edit. Mungkin ada salah satu saingan bisnisku yang ingin menghancurkan rumah tangga kita dengan melakukan hal ini," Meo mencoba mengelak kembali.
__ADS_1
"Sudahlah, tak usah membela diri terus! cepat kemasi semua barang- barangmu dan lekas pergi dari rumahku!" Meta menatap tajam Meo.
"Sayang, tolong jangan perlakukan aku seperti ini. Aku bisa menjelaskan semuanya, bahkan jika perlu aku bawa wanita yang di foto itu untuk menjelaskan kesalah pahaman ini," Meo berlutut di hadapan Meta.
Namun Meta tak menghiraukannya.
"Cepat pergi dari rumahku, atau aku akan bertindak kasar dengan menyuruh security mengusir paksa dirimu!" bentak Meta.
"Aku tidak akan bangun sampai kamu mau mendengarkanku " Meo terus saja berlutut.
Hingga akhirnya Meta bangkit dan pergi dari ruangan tersebut. Tak berapa lama kemudian Meta datang dengan membawa koper besar.
"Pergilah, ini semua barang-barangmu! mana kontak mobilnya!" Meta menyerahkan koper tersebut dan menengadahkan tangan meminta kontak mobil.
"Sayang, tolong maafkan aku. Bukan aku yang memulai, tapi wanita itu dulu yang terus merayu dan menggodaku." Meo mencoba meluluhkan hati Meta.
"Dasar lelaki tak punya pendirian, berapa kali kamu berucap tetapi selalu ucapanmu berbeda-beda. Entah yang mana yang sebenarnya," Meta tersenyum sinis.
"Sayang, apa kamu telah melupakan cinta kita berdua?" kembali lagi Meo merayu.
"Persetan dengan cinta, selama ini aku terlalu bodoh. Karena sekarang aku sadar kalau kamu sama sekali tidak pernah mencintaiku tapi hanya cinta dengan hartaku saja!" Meta mendengus kesal seraya kedua tangannya di silangkan di dada.
"Sudahlah, nggak usah kamu terus merayuku! karena aku nggak akan terpancing oleh rayuanmu apa lagi luluh, cepat pergi jangan sampai hilang kesabaranku dan aku menyuruh security menyeretmu keluar dari rumahku!" bentak Meta.
"Baiklah, tapi jika kamu telah berubah pikiran. Aku akan selalu membuka hatiku untukmu lagi. Jaga dirimu baik-baik ya sayang, selama tak ada aku di sampingmu." Meo meletakkan kontak mobil di meja dan menyeret kopernya melangkah pergi dari rumah Meta.
"Aku harus kemana kalau sudah seperti ini?" gerutu Meo seraya melangkah pergi.
"Aku sama sekali tak punya uang, karena semua uang di rekeningku di bekukan oleh Meta. Apakah suami Cindy yang telah membongkar perselingkuhanku dengan Cindy?" Meo mencoba menelpon Cindy.
Namun Cindy tak mengangkat telpon dari Meo, dia malah memblokir nomor ponsel Meo.
"Sial, kok malah nomor ponselku di blokir!" gerutunya kesal.
Sementara Endrik mencabut surat gugatan cerainya. Namun dia akan membalas perbuatan Cindy dengan dia juga aksn selingkuh teranga-terangan di hadapan Cindy.
"Kalau aku cerai Cindy, memang terlalu enak buatnya. Lebih baik aku cabut gugatan ceraiku tapi aku akan membalas perselingkuhannya dengan aku juga akan selingkuh," batin Endrik.
__ADS_1
"Pi, terima kasih telah mencabut gugatan cerainya. Aku janji akan perbaiki kesalahanku," Cindy tersenyum bahagia.
"Jangan senang dulu dan jangan kepedean. Aku sengaja mencabut gugatan ceraiku bukan karena aku masih cinta kamu, tapi aku ingin kamu juga merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Aku ingin kamu merasakan bagaimana rasanya sakit hati jika di selingkuhin apa lagi sampai tidur bersama selingkuhan," Endrik tersenyum sinis.
"Pi, tolong jangan lakukan itu. Nanti masalah kita nggak akan ada selesainya malah jadi panjang ceritanya," Cindy meminta Endrik tidak membalasnya dengan selingkuh juga.
Namun Endrik tak menjawab perkataan Cindy, dia berlalu pergi meninggalkannya sendiri.
Malam pun datang, disaat semua berkumpul di ruang tengah melihat acara televisi. Endrik pulang, namun tidak sendiri. Dia pulang dengan membawa dua wanita muda yang sangat cantik.
"Pi, apa-apaan ini! kenapa papi membawa wanita ke rumah?" Cindy geram.
"Seperti apa yang kamu lakukan, kamu bisa melakukan dengan pria lain. Aku malah bisa melakukan dengan dua wanita sekaligus." Endrik merangkul kedua wanitanya mengajaknya ke kamar.
"Jijik banget! semua gara-gara mami!" Meymey bangkit dari duduknya berlalu pergi.
"Iya, kalian nggal jadi bercerai tapi malah semakin parah!" Meylan juga bangkit berdiri meninggalkan Cindy.
Meymey dan Meylan pergi ke kamar masing-masing. Sementara Endrik sedang bermesraan di kamar dengan dua wanita sekaligus.
"Ya, Tuhan. Sakit sekali rasanya melihat suamiku bersama wanita lain. Mungkin seperti ini juga yang di rasakan suamiku saat melihatku dengan pria lain waktu itu," perlahan air mata Cindy menetes.
Sementara di rumah grandpa, Fanie sedang melamun sendiri. Memikirkan orang tua dan kedua adiknya.
"Cu, tumben sudah larut malam kok kamu belum tidur?" grandma berdiri di pintu kamar Fanie yang kebetulan masih terbuka.
"Masuklah, grandma. Fanie ingin ngobrol sejenak." Fanie melambaikan tangan pada grandma.
Grandma menghampiri Fanie dan duduk di sampingnya.
"Ada apa, cu?" grandma mengusap surai hitam Fanie.
"Fanie sedang kepikiran mami, papi, dan si kembar." Jawab Fanie tertunduk lesu.
"Fanie kangen mereka, tapi mereka pasti nggak mau bertemu Fanie." Ucapnya kembali.
******
__ADS_1
Mohon maaf jika karya masih remahan rengginangπππππ