Perubahan Gadis Culun

Perubahan Gadis Culun
Kepikiran Selalu


__ADS_3

Fanie melangkah masuk pintu gerbang rumah grandpa. Dia masih saja memikirkan tingkah kedua adiknya.


"Ya, Tuhan. Kenapa kedua adikku jadi bersikap menjijikkan? sadarkan mereka Tuhan. Aku nggak mau mereka semakin terjatuh dalam dosa kemaksiatan," Fanie menghela napas panjang.


Fanie terus saja melamun sampe tak menyadari jika di depannya ada sebuah batu, hingga dirinya jatuh tersandung batu.


"Bug..Auhh..ya Tuhan.." Fanie lekas bangkit bangun.


"Dad, lihatlah cucumu. Nggak biasanya dia itu murung, apa ada masalah ya?" grandma menunjuk Fanie yang sedang berjalan mendekat.


"Coba nanti kita tanyakan padanya, semoga tidak ada masalah yang serius dengannya." Grandpa menjatuhkan pantatnya di kursi menunggu Fanie.


Sampailah Fanie di teras rumah, dia langsung duduk di dekat grandpa dan grandma.


"Kamu kenapa, cu? sepertinya kok nggak bahagia?" grandma mengusap lengan Fanie.


"Sebaiknya aku cerita atau tidak ya? tapi rasa ini sangat mengganjal di hati," batin Fanie.


Hingga akhirnya Fanie bercerita pada grandma dan grandpa tentang pertemuannya dengan adik kembarnya.


Fanie menceritakan semuanya tanpa ada yang di tutupi sama sekali.


"Fanie pengen sekali cerita hal ini pada papi dan mami, supaya mereka menasehati Meymey dan Meylan," Fanie tertunduk lesu.


"Kami tidak menyangka, kemiskinan orang tuamu membuat dua adikmu berbuat nekad demi mendapatkan apa yang mereka inginkan," ucap grandpa.


"Sebaiknya bagaimana grandma, grandpa? Jujur, bagaimanapun Fanie masih sangat menyayangi si kembar dan nggak mau melihat mereka semakin terjerumus," ucapnya lirih.


"Biarkan kami yang mencoba berbicara pada orang tuamu, siapa tahu mereka mau mendengarkan kami dan lekas menegur kesalahan si kembar." Saran grandpa.


"Sudah, nggak usah di bikin pusing. Mandilah biar segar dan kita makan cemilan bersama sambil duduk di kebun, kan serasa asik." Grandpa menghibur Fanie.


"Baiklah, grandma." Fanie melangkah masuk menuju ke kamarnya dan segera melakukan ritual mandi sorenya.


Namun kembali lagi pikirannya melayang pada pertemuannya dengan si kembar.


Setelah mandi, Fanie bercengkrama dengan grandma dan grandpa sembari memakan cemilan kesukaannya yakni pisang goreng.


Duduk di kebun, di sore hari. Merasakan semilirnya angin sore yang menggoyangkan dedaunan pohon di kebun.


Sejuk terasa menghilangkan rasa lelah di jiwa dan rasa penat di pikiran.

__ADS_1


******


Waktu malam telah tiba, Meymey sedang merasakan kegelisahan di rumah. Dia khawatir Fanie akan mengadu pada orang tuanya.


"Aduh, kok aku jadi nggak tenang seperti ini? aku takut si Fanie ngadu sama papi atau mami, terus apa yang harus aku lakukan?" Meymey mondar mandir di dalam kamar seraya memijit pelipisnya.


"Hem, gampanglah itu di pikirkan nanti. Toh jika Fanie ngadu, nggak akan mungkin orang tuaku percaya begitu saja pada gadis yang tak jelas asal usulnya itu. Pasti orang tuaku lebih percaya dan akan berpihak padaku," Meymey tersenyum riang.


Dia segera merebahkan badannya dan tertidurlah pulas. Berbeda dengan Fanie yang masih asik dengan berdoa, untuk keluarganya.


Selesai berdoa, dia merebahkan tubuhnya dan pandangan menerawang ke langit-langit kamar.


"Kapan, aku bisa membuka jati diriku ini? dan kapankah aku bisa di terima kehadiranku oleh orang tua dan dua adikku? hanya Tuhan yang tahu, aku cuma jalani semua ini bagaikan aliran sungai." batinnya.


Perlahan mata Fanie mulai terpejam, dan tertidurlah dia dengan sangat nyenyak.


**********


Pagi menjelang, kebetulan hari minggu hingga Fanie sedikit bersantai. Karena setiap minggu, semua buruh di perkebunan libur.


Seperti biasa setiap minggu pagi, Fanie jogging bersama Steven.Fanie ingin selalu menjaga kebugaran tubuhnya serta kerampingannya agar tidak menjadi gemuk kembali.


Jogging mereka menuju ke perkebunan-perkebunan, untuk sekalian menyirami kebun karena jika minggu para pekerja libur.


Pekerjaan mereka lakukan dengan selalu bersuka cita dan bercanda ria bersama. Hingga tak terasa waktu telah menunjukkan pukul sembilan pagi.


"Steve, sudah siang. Sebaiknya kita pulang, karena aku mau menemani grandma dan grandpa bertemu papi dan mami," Fanie lari menuju arah pulang.


Steven segera menyusulnya hingga kini mereka berlari berdampingan.


"Apa kamu akan bercerita pada orang tuamu tentang pertemuanmu dengan si kembar?" tanya Steven.


"Iya," jawabnya singkat.


"Apa kamu yakin?" Steven merasa ragu.


"Kenapa kamu berkata seperti itu?" Fanie bingung dengan maksud pertanyaan Steven.


"Secara dua adikmu itu pintar sekali bersilat lidah, yang ada ntar malah kamu di kira fitnah mereka," Steven mencoba menjelaskan.


"Iya aku paham, tapi apa salahnya jika di coba. Karena aku nggak mau kedua adikku semakin terjeremus ke lembah hitam," Fanie bersikeras dengan keinginannya.

__ADS_1


"Ya sudah, jika memang itu kemauanmu. Pesanku, cuma satu yakni hati-hati." Steven tersenyum.


"Baiklah, sayangku cintaku kasihku." Fanie menggelitik pinggang Steven.


Tak terasa mereka telah sampai di depan pintu gerbang rumah grandpa. Fanie lekas masuk, sedang Steven lekas pulang. Tapi keduanya telah sepakat ntar sore kebaktian bersama.


"Grandma grandpa, Fanie mandi sebentar ya? setelah itu langsung ke rumah papi." Fanie langsung melangkah ke kamar.


Hanya beberapa menit persiapan, mereka telah berada di dalam mobil. Segera Fanie melajukan mobilnya.


"Cu, sebenarnya jalan kaki juga nggak apa-apa. Lagi pula kan dekat," ucap grandma.


"Nggak apa-apa, grandma. Karena setelah dari rumah papi, Fanie akan mengajak pergi ke suatu tempat. Tempat yang sangat indah dan sejuk udaranya," Fanie menyunggingkan senyum.


Melajulah mobil menuju rumah Papi Endrik, hanya lima menit saja telah sampai.


Mereka lekas keluar dari mobil dan lekas ke pintu apartement.


"Dad, mom. Tumben kalian kemari, ada apa?" Papi Endrik menatap tidak senang akan kedatangan orang tuanya dan Fanie.


"Orang tua datang, bukannya di persilahkan masuk dulu. Malah langsung di interogasi." Grandpa nyelonong masuk dan menjatuhkan pantatnya di sofa.


Begitu pula dengan grandma dan Fanie, walaupun belum di persilahkan masuk untuk duduk. Papi Endrik menyusul duduk pula.


"Dad, mom. Tumbenan kemari." Mami Cindy melirik sinis.


"Sepertinya kalian berdua tidak senang jika kami kemari?" Grandpa mendengus kesal.


"Seperti biasa, daddy kemari hanya ingin mengajak berantem Endrik, iya kan?" Endrik menatap tajam grandpa.


"Sudah, kenapa setiap kalian berdua ketemu bukannya saling berpelukan malah saling mencela," grandma mencoba melerai.


"Siapa yang saling mencela, daddy kan menegur sikap Endrik yang sama sekali tak punya sopan santun pada orang tua," ucapnya ketus.


"Sudah, nggak usah banyak cingcong. Karena kami sebentar lagi akan pergi," ucap Endrik ketus.


"Jelaskan dan cerita apa maksud kalian kemari?" tanya Endrik menyelidik.


"Ada orang tua datang, kok sama sekali nggak di beri minuman," grandpa mendengus kesal.


**********

__ADS_1


__ADS_2