Perubahan Gadis Culun

Perubahan Gadis Culun
Jahilin Orang


__ADS_3

"Berarti kamu tak akan lagi mengusik Fanie, bukan?" tanya Meylan menyelidik.


"Entahlah, nggak bisa di pastikan apakah aku akan berhenti mengusik Fanie atau tidak," jawab Meymey.


"Hem, sudah aku tebak pasti jawabanmu seperti itu. Tak ada jawaban yang lain." Meylan bangkit dan berlalu dari hadapan Meymey.


*******


Pagi menjelang, Fanie memutuskan untuk memperbaiki perkebunan yang berantakan. Namun dengan bantuan pekerja, karena dirinya akan ke kota untuk membeli bibit tanaman buat lahan perkebunan yang baru.


Fanie ke kota dengan memesan taxi on line. Setelah 30 menit perjalanan, sampailah Fanie di kota.


Saat Fanie sedang berjalan mencari toko bibit tanaman, tiba-tiba ada seorang pemuda berlari dan menabrak dirinya.


"Aduh," teriak Fanie.


"Ma-maaf nggak sengaja," pemuda itu menengadah menatap Fanie.


"Ya ampun cantiknya," gerutu pemuda tersebut dalam hati.


"Erik, ya ini kan Erik. Tapi aku nggak akan mengatakan jati diriku padanya," gerutu Fanie dalam hati.


"Eh ya nggak apa-apa kok," jawab Fanie singkat.


"Boleh nggak kenalan, namaku Erik. Siapa namamu cantik?" Erik mengulurkan tangannya.


"Namaku, Fanie." Fanie menerima jabatan tangan Erik.


"Maaf, aku sedang buru-buru jadi nggak bisa berlama-lama." Fanie berlalu begitu saja pergi meninggalkan Erik.


"Tunggu, aku belum selese ngomong," tiba-tiba Erik mencekal lengan Fanie.


"Mau ngomong apa lagi, sih?" Fanie menepis cekalan tangan Erik.


"Boleh nggak minta nomor ponselnya?" tanya Erik menaik turunkan alisnya.


"Apa aku kerjain saja ya, Erik. Biar tahu rasa," batin Fanie.


"Baiklah, ini nomor ponselku." Fanie menunjukkan ponselnya.


"Terima kasih, cantik." Erik mengedipkan matanya pada Fanie.


"Bolehkah aku bantu?" Erik terus saja mengikuti Fanie.

__ADS_1


"Oh mau bantu, boleh kok. Hem, aku kerjain saja Erik biar tahu rasa," batin Fanie geram.


Fanie memberikan semua barang belanjanya pada Erik untuk di bawakan. Erik merasa kewalahan, karena begitu banyak belanjaan milik Fanie.


"Kamu nggak bawa kendaraan apa, Fanie?" tanya Erik seraya kelelahan membawa banyak belanjaan milik Fanie.


"Nggak, aku kemari naik taxi on line," jawab Fanie singkat.


"Yah, cantik-cantik kok nggak punya kendaraan pribadi," batin Erik.


"Hem, tapi nggak apa-apa dech. Buat selingan selama belum dapat pacar baru, mau balik ke si culun Phanie sudah nggak tahu nomor ponselnya," batin Erik.


"Fanie, boleh nggak aku tahu rumahmu?" tanya Erik.


"Aku nggak punya rumah, aku kerja jadi asisten rumah tangga di suatu rumah milik sepasang kakek nenek," jawab Fanie bohong.


"Masa sih, apa kamu sedang tidak berbohong?" Erik mengernyitkan alis.


"Kalau nggak percaya ya sudah," Fanie menyetop taxi.


"Eh Fanie, tunggu aku ikut." tiba-tiba Erik ikut nyelonong masuk taxi on line pesanan Fanie.


"Lihat saja, Erik. Aku akan kerjain kamu habis-habisan," batin Fanie.


Tak berapa lama kemudian, turunlah Fanie.


"Lima puluh ribu, non." jawab sopir taxi singkat.


"Erik, aku pinjam uangmu dulu ya. Kebetulan uangku habis," kata Fanie.


"Pak, bayarnya sama dia ya." Fanie menunjuk pada Erik.


"Sialan, baru kenal malah kena palak begini. Tapi nggak apa-apa dech, aku berkorban dulu. Ntar aku porotin dia," batin Erik seraya merogoh kantong saku celananya mengambil uang lima puluh ribu.


"Yes berhasil, ini baru permulaan. Kalau kamu masih terus dekati aku, tak segan-segan aku mengerjai dirimu selalu. Sebagai pembalasan dulu atas apa yang pernah kamu lakukan padaku," batin Fanie.


"Fanie, tunggu dong. Masa aku di tinggal, kan mau tahu dimana tempat kerjamu." Erik berlari kecil mengejar Fanie.


"Tolong bawakan bisa nggak?" Fanie menyerahkan semua barang belanjanya pada Erik.


"Bisa dong, apa sih yang nggak bisa buatmu." Erik langsung membawakan semua belanjaan milik Fanie.


Tak berapa lama kemudian, sampailah Fanie dan Erik di depan pintu gerbang rumah grandpa.

__ADS_1


"Sudah sampai, di sinilah aku bekerja sebagai asisten rumah tangga. Kamu di sini dulu ya, aku nggak sama majikanku." Fanie meraih semua belanjaan miliknya, dan menutup pintu gerbangnya dari dalam.


"Fan, eh Fan. Lah kok malah di kunci dari dalam, katanya aku nunggu dulu di sini. Yaaaa, mungkin majikannya galak jadi Fanie ketakutan. Nggak apa-apa dech, lain kali bisa ajak jalan dia." Erik melenggang pergi meninggalkan rumah grandpa.


Sementara Fanie sedang cekikikan di balik pintu gerbang.


"Sukurin kamu, Erik. Aku kerjain dech, salah siapa pake nongol di depan mukaku." Gerutu Fanie seraya melangkah membawa belanjaannya.


"Fan, harusnya kamu ngomong sama aku. Jadi nggak kerepotan begini, berat pula." tiba-tiba Steven nongol langsung meraih belanjaan yang ada di tangan Fanie.


"Nggak enak juga, selalu merepotkanmu. Makanya aku sengaja pergi nggak pamit kamu maupun grandpa dan grandma." kata Fanie terkekeh.


Sementara Erik mendapatkan kesialan, karena uang yang di kantung telah habis tanpa dia sadari.


"Sial, aku baru ingat kalau uang yang buat bayar taxi on line tadi adalah uangku yang terakhir." Erik menggerutu seraya menepuk jidat sendiri.


"Bagaimana aku bisa pulang kalau seperti ini, apa aku harus jalan kaki? nggak banget, jarak jauh pula. Hem trik dech, pura-pura dompet ilang apa ketinggalan." Gerutu Erik seraya pesan ojek.


Tak berapa lama kemudian datanglah tukang ojek pesanan Erik. Namun ternyata kesialan memang benar-benar sedang berpihak pada Erik.


"Loh, bang. Kenapa berhenti, rumahku masih jauh kok," tegur Erik seraya mengernyitkan alis.


"Maaf, mas. Rodanya bocor, jadi nggak bisa antar sampai rumah mas, lihat itu rodanya." Sopir ojek menunjukkan roda motor depannya kempes.


Kempes bukan karena kurang angin, tapi karena memang bocor.


"Terus, bagaimana dengan saya?" Erik mendengus kesal seraya berkacak pinggang.


"Masih tanya, ya cari ojekan yang lain. Tapi jangan lupa bayar dulu ojek dengan saya." sopir ojek tersebut menengadahkan tangannya.


"Enak saja minta bayar, sampai saja nggak." Erik akan berlalu begitu saja.


Namun sopir ojek lekas mencekal jaket yang di kenakan Erik.


"Kamu mau lari dari tanggung jawab, biarpun nggak sampai rumahmu. Tapi kamu sudah sempat naik ojekku 3/4 jalan, motorku pake bensin, dan bensin beli pake uang nggak gratisan." Sopir ojek melotot sadis pada Erik.


Erik ketakutan melihat tampang seram sopir ojek tersebut.


"Ya, bang. Ampun dah, tapi aku benar-benar nggak ada uang." Erik berkata seraya menaham rasa takut.


"Apa kamu bilang, nggak ada uang? berarti kamu memang telah merencanakan ingin menipu saya." sopir ojek melotot seraya mencekeram kerah baju Erik.


"Bu-bukan begitu bang, niatnya saya bayar di rumah. Saya nggak ada niat untuk menipu abang sama sekali." Erik semakin ketakutan

__ADS_1


"Dasar penipu" sopir ojek menghajar Erik tanpa ada rasa belas kasihan.


🤯🤯🤯🤯🤯🤯🤠🤠🤠🤠🤠🤠🤠🤠🤠🤠


__ADS_2