Perubahan Gadis Culun

Perubahan Gadis Culun
Di Usir


__ADS_3

Endrik gelisah berada di kamar, dia sungguh tidak percaya dengan apa yang terjadi.


Dua putri yang sangat di banggakan malah kini sangat mengecewakan. Istrinya tega berhianat.


"Kenapa akhir-akhir ini banyak sekali permasalahan yang terjadi di dalam keluargaku? apakah salah dan dosaku ya, Tuhan. Sehingga harus mengalami semua ini. Sampai detik ini aku belum bisa memaafkan kesalahan istriku, tapi malah datang lagi masalah baru," gerutunya memijit pelipisnya.


"Aku sangat malu, bagaimana aku berkata pada orang? jika tahu satu anakku masuk penjara dan satu anakku menikah dengan pria yang lebih pantas jadi papahnya?" kembali lagi Endrik menggerutu.


"Sudah tak ada harapan bagiku untuk bisa berbahagia, serasa dunia ini telah kiamat. Aku sungguh malu," batinnya kembali.


****


Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa sudah berganti hari. Dimana saat ini akan di adakan akad nikah di apartement Endrik.


Sebenarnya dia tak ingin menjadi wali nikah Meymey karena malu. Namun dia juga nggak akan mungkin membiarkan Meymey memakai wali hakim.


Apa yang di katakan Alex ternyata benar, jika istrinya dalam kondisi sakit. Dia juga ikut hadir di acara pernikahan suaminya.


Istri Alex lumpuh dan tubuhnya sangat kurus karena termakan penyakitnya. Istri Alex ikhlas menerima Meymey sebagai madunya, karena dia menyadari hidupnya sudah tidak akan lama lagi.


Acara ijab qabul berjalan lancar tidak ada halangan apa pun. Alex juga memenuhi janjinya dengan memberikan sebuah apartement dan mobil untuk Meymey.


Bahkan memberikan mahar pernikahan yang sangat mahal. Pernikahan tidak mengadakan resepsi sesuai permintaan Endrik.


Kini Meymey telah sah menjadi istri siri Alex. Dan tinggal di apartement yang lebih mewah dari apartement yang di tempati Endrik.


"Pi, mau sampai kapan kamu seperti ini sama mami? padahal kita sekarang cuma tinggal berdua, berdamailah denganku, pi ." Cindy mencoba membujuk Endrik.


Namun Endrik tidak merespon ucapan Cindy, dia malah berlalu pergi begitu saja tanpa berpamitan pada Cindy.


"Di masa tuaku, malah hidupku seperti ini. Sepi sendiri, tidak sesuai dengan apa yang sering aku impikan dan aku bayangkan," Cindy menghela napas panjang.


"Apa selamanya aku akan kesepian seperti ini sampai aku mati?" tiba-tiba keluar buliran bening dari pelupuk mata Cindy membasahi pipinya.


Baik Cindy maupun Endrik sama-sama merasa kesepian dan kecewa pada kedua putri kesayangannya.


Namun semua sudah menjadi suratan takdir, yang harus mereka jalani. Di masa tua mereka, bukannya menjadi bahagia tapi malah menderita karena ulah kedua putri kesayangan mereka.


*****

__ADS_1


Berbeda situasi di rumah grandpa, Fanie semakin sukses saja. Saat ini Steve terus saja meminta untuk meresmikan hubungan mereka dengan ikatan suci pernikahan.


"Grandma, grandpa. Fanie sedang bingung," Fanie menghela napas panjang.


"Bingung kenapa, cu?" tanya grandma.


"Steve ingin kita segera menikah," jawab Fanie singkat.


"Loh, bukannya itu bagus? kenapa kamu harus bingung?" tanya grandpa mengerutkan alis.


"Fanie ingin menikah dengan restu papi dan mami," Fanie menahan dirinya untuk tidak menitikkan air mata.


Sejenak grandpa dan grandma saling berpandangan satu sama lain. Mereka juga bingung harus berkata apa pada Fanie, harus memberi saran apa padanya.


"Fanie, kami juga bingung harus memberi saran bagaimana. Apa sebaiknya kita ke sana dan mengatakan jati dirimu yang sebenarnya?" grandpa membeti suatu saran.


"Iya, sepertinya langkah yang tepat seperti itu," sela grandma.


"Baiklah, mengenai diterima tidaknya Fanie itu urusan belakang. Kita ke sana sekarang saja apa grandma grandpa?" tanya Fanie menatap grandpa grandma.


Fanie segera mengajak grandma dan grandma ke apartement yang di tempati oleh Endrik.


Hanya beberapa menit saja, mereka telah sampai.


"Untuk apa lagi mereka kemari, setelah membuat masalah? apa mereka akan berulah lagi?" gerutu Cindy bangkit dari duduknya, masuk ke dalam rumah untuk memanggil Endrik yang kebetulan baru pulang.


"Pi, keluarlah sebentar. Karena di luar ada orang tuamu kemari," Cindy menghampiri Endrik yang sedang bersantai di ruang tengah.


Endrik tak berkata, namun bangkit dari duduknya untuk menemui orang tuanya dan Fanie.


"Untuk apa lagi kalian kemari?" tiba-tiba Endrik melotot dan berkacak pinggang.


"Endrik, kami ini orang tua kandungmu. Tapi kamu bersikap tidak sopan pada kami!" Grandpa melotot pula dan mendengus kesal.


"Kenapa kamu belum berubah juga, masih angkuh dan keras kepala! dasar kepala batu!" kembali lagi grandpa mengumpat.


"Endrik, tidak bisakah kamu bersikap manis pada kami? dan sedikit menghargai kami?" mata grandma berkaca-kaca.


"Sudahlah, nggak usah banyak bicara. Katakan saja untuk apa kalian kemari?" Endrik berkata kasar sekali.

__ADS_1


"Grandma, grandpa. Sebaiknya kita pulang saja. Percuma kita kemari," Fanie mengajak grandma dan grandpa beranjak pergi.


"Tapi, Fanie..


Belum juga Grandma menyelesaikan ucapannya, Fanie telah menyela.


"Sudahlah, grandma. Kita bicara di rumah saja." Fanie mencoba tersenyum.


"Baguslah, pulanglah kalian bertiga dan aku harap jangan kembali lagi kemari!" bentak Endrik berbalik masuk ke dalam rumah.


Grandma tak bisa menahan air matanya, hingga kini tertumpah di pipi yang telah keriput.


Fanie merasa iba melihat grandma menangis.


"Grandma, maafkan Fanie. Semua ini gara-gara Fanie. Harusnya kita nggak usah kemari," Fanie mengusap air mata grandma.


Mereka lekas ke mobil dan Fanie lekas melajukan arah pulang.


Setelah sampai di rumah, mereka duduk di ruang tamu.


"Fanie, belum apa-apa papimu sudah marah-marah. Heran sekali sifat kerasnya tak berubah dari dulu sampai sekarang," grandpa menghela napas panjang.


"Mau bagaimana lagi, sepertinya Fanie akan tetap menikah walaupun tanpa papi dan mami. Dan Fanie akan menikah dengsn identitas baru Fanie," Fanie mencoba tersenyum walau hati sangat sakit.


"Ya sudah, mau bagaimana lagi. Kita berniat baik datang ke rumah orang tuamu. Tapi malah sudah di usir terlebih dulu," grandma mengusap surai hitam Fanie.


"Kamu yang sabar ya, cu. Kelak kamu pasti akan hidup bahagia bersama suami dan anak-anakmu," hibur grandpa.


"Sekarang saja Fanie juga bahagia kok, ada kalian di sisi Fanie. Nggak usah menunggu kelak, saat ini Fanie sangat bahagia memiliki grandpa dan grandma yang selalu ada di setiap kondisi Fanie," tiba-tiba air mata Fanie menetes karena terharu.


"Besok kita bicarakan masalah pernikahanmu pada keluarga Steve. Akan di langsungkan kapan dan dimana," kata grandpa.


"Iya, grandpa. Besok aku akan menemui Steve." Jawab Fanie.


Sejenak mereka bangkit dari duduknya, dan mereka kembali ke kamar masing-masing


Fanie merenung sendiri di kamar,mengingat kata-kata kasar papinya.


"Aku pikir, jika aku menikah. Orang tuaku akan ikut menyaksikan pernikahanku, dan ikut merasaksn kebahagiaan. Semua tidak sesuai harapanku," batin Fanie.

__ADS_1


******


Mohon dukungan like, vote,favorit..


__ADS_2