
Fanie melangkah masuk ke dalam ruangan di ikuti oleh Pak Bowo.
Di dalam ruangan, Pak Bowo mengutarakan niat hatinya.
"Begini, Nona Fanie. Saya ingin meminjam uang yang jumlahnya tidaklah sedikit, untung biaya pengobatan anak saya di rumah sakit. Sebenarnya saya malu, nggak enak juga karena saya kerja baru satu minggu tapi sudah lancang meminjam uang," Pak Bowo menutupi rasa gugupnya seraya tertunduk lesu.
"Memangnya anak bapak di rawat di rumah sakit mana, dan sakit apa?" tanya Fanie menyelidik.
"Sakit Demam Berdarah, di rawat di rumah sakit A tepatnya di ruang rawat Mawar," jawab Pak Bowo.
"Begini saja, pak. Kita ke rumah sakit sekarang, biar saya yang lunasi biaya rumah sakit anak bapak." kata Fanie tersenyum ramah.
"Non Fanie, serius?" Pak Bowo merasa tak percaya.
"Sangat serius, Pak Bowo.Mari kita ke rumah sakit sekarang dengan mobil saya saja." Fanie bangkit dari duduknya di ikuti oleh Pak Bowo.
"Sayang, semua sudah pulang. Mari kita pulang." Ajak Steven.
"Kita kerumah sakit dulu sebentar, jenguk anak Pak Bowo." Kata Fanie mencolek hidung Steven.
"Ok, yuk buruan masuk mobil." Steven lekas masuk ke mobil memegang kemudinya.
Di susul oleh Fanie dan Pak Bowo. Mobil di lajukan oleh Steven dengan sangat hati-hati. Hanya beberapa menit saja telah sampai di rumah sakit dimana anak Pak Bowo di rawat.
Lekas Fanie ke bagian administrasi untuk membayar lunas biaya rumah sakit anak Pak Bowo.
"Non Fanie, saya ucapkan terima kasih banyak atas pertolongannya. Saya janji tiap gajian saya angsur hutangnya." kata Pak Bowo.
"Nggak usah, Pak Bowo. Saya menolong ikhlas, bukan memberikan sebuah pinjaman. Jadi Pak Bowo tidak perlu mengangsurnya," ucap Fanie.
"Sekali lagi terima kasih ya, Non Fanie. Padahal saya kerja belum lama tapi Non Fanie sudah sangat baik pada saya," tak terasa air mata Pak Bowo menetes.
"Sekarang Pak Bowo fokus saja bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga bapak. Karena semua kebutuhan anak bapak selama di rawat di sini itu menjadi tanggung jawab saya saja," kata Fanie tersenyum ramah.
__ADS_1
"Baik, Non. Saya janji akan kerja lebih semangat lagi," kata Pak Bowo antusias.
Setelah itu Steven dan Fanie pamit pulang pada Pak Bowo, bahkan dengan suka rela mengantar Pak Bowo ke rumahnya terlebih untuk dia membersihkan badan karena sehabis kerja.
"Sayang, kok kamu baik banget jadi orang? padahal Pak Bowo itu kan belum lama kerja sama kita?" Steven mengerutkan alis.
"Steve, berbuat baik itu tidak memandang apakah kita telah mengenal orang itu lama atau tidaknya, tapi yang penting ketulusan hati." Jawab Fanie tersenyum.
"Aku nggak salah memilih calon istri sepertimu, berhati mulia suka membantu orang yang membutuhkan tanpa melihat kenal atau nggak pada orang itu," Steven tiba-tiba mendaratkan ciuman ke pipi Fanie, membuatnya bersemu merah pipinya bagaikan buah tomat.
Sejenak Steven mengajak Fanie untuk jalan-jalan.
"Sayang, aku ingin sesekali kita refresing sejenak. Kita makan di cafe yuk?" ajak Steven seraya menaik turunkan alisnya dan terus fokus mengemudi.
"Baiklah, terserah kamu saja." Fanie menuruti kemauan kekasihnya.
Steven berhenti di sebuah cafe favoritnya, namun saat akan turun dari mobil dia dan Fanie tak sengaja melihat Meymey berjalan bergelayut manja pada lengan seorang lelaki paruh baya.
"Hem, untung dulu aku nggak mau sama Meymey. Kelakuan kok murahan banget jalan sama lelaki seumuran papahnya," batin Steven melirik sinis pada Meymey.
Sementara tak sengaja, Meymey juga melihat sekilas ke arah Steven dan Fanie.
"Sialan, kenapa juga harus bertemu Steve di saat aku sedang bersama dengan lelaki tua ini! duh malunya aku," batin Meymey.
Segera Meymey mengajak pergi lelaki tua itu, karena merasa malu telah kepergok oleh Steven dan Fanie.
"Sayang, kamu yang sabar ya," Steven mengusap surai hitam Fanie dan merangkul bahunya menuju ke cafe.
"Iya, Steve. Tapi apakah perbuatan Meymey ini di ketahui oleh papi dan mami? kasihan juga orang tuaku jika mengetahui akan hal ini pasti sangat syok," Fanie tertunduk lesu.
"Sudahlah, sayang. Biarlah itu jadi urusan mereka, lagi pula dari dulu kamu kan tidak pernah di pedulikan oleh orang tuamu," kata Steven.
"Biar pun papi dan mami tidak pernah menyayangiku, tapi aku akan selalu menyayangi dan menghormati mereka. Karena jika tidak ada orang tuaku, tidak akan mungkin ada aku di dunia ini," Fanie masih saja tertunduk lesu.
__ADS_1
"Lantas, kamu akan mengadukan hal ini pada orang tuamu? mereka pasti tidak akan percaya apa lagi saat ini mereka belum tahu siapa kamu yang sebenarnya," Steven mengernyitkan alis.
"Iya juga, entahlah." Fanie menghela napas panjang.
"Sudah, nggak usah terlalu di pikirkan. Lebih baik sekarang kita makan saja, karena perutku sudah lapar sekali," Steven lekas memesan makanan.
Selagi asik menyantap makanan, kembali lagi Fanie harus melihat pemandangan yang tak enak.
Dimana Meylan juga saat ini sedang berada di cafe tersebut, namun dengan beberapa pria. Walaupun beberapa pria yang bersama Meylan masih muda, namun tingkahnya tidak etis.
Meylan berpenampilan kurang sopan dengan mengenakan rok pendek, sementara ada salah satu pria yang terus saja tangannya berada di rok Meylan.
Seseorang lagi melirik nakal pada belahan dada Meylan yang begitu terlihat. Dua pria ini memandang Meylan dengan wajah nakalnya.
"Ya, Tuhan. Kenapa aku punya dua adik perempuan tetapi keduanya tak bisa menjaga diri sendiri. Dimana harga diri kalian Meymey, Meylan. Sungguh memalukan," batin Fanie.
"Steve, lebih baik kita pulang saja. Kepalaku agak sedikit pusing," Fanie bangkit dari duduknya.
"Baiklah, sayang." Steven ikut bangkit namun sejenak tak sengaja melirik ke arah Meylan.
"Pasti ini, tingkah Meylan yang membuat Fanie tidak betah di sini dan mengajak pulang," batin Steven.
Fanie berjalan murung menuju mobilnya di ikuti oleh Steven. Segera Steven melajukan mobilnya untuk mengantarkan Fanie pulang.
Selama di dalam perjalanan wajah Fanie selalu murung dan pandangannya kosong. Steven tidak berani bertanya tentang apa yang saat ini sedang di pikirkan Fanie.
Steven hanya sesekali melirik dari kaca spion, tak berani berkata apa-apa pada Fanie.
Selama perjalanan pulang, keduanya hanya asik dengan pikirannya masing-masing. Hingga sampai di rumah grandpa, barulah Steven membuka suara.
"Sayang, jangan terlalu di fikirkan tentang apa yang barusan kamu lihat. Aku nggak ingin kamu jadi sakit," Steven mengusap surai hitam Fanie seraya mengecup punggung tangannya.
"Ya, Steve. Kamu nggak usah khawatirkan aku." Fanie tersenyum seraya turun dari mobil Steven.
__ADS_1
***********