
Segera Fanie mengetuk pintu rumah Bu Nilam.
"Tok tok tok, permisi."
Keluarlah seorang wanita paruh baya, membukakan pintu rumahnya, yang tak lain adalah Bu Nilam.
"Maaf, ade-ade siapa dan ada perlu apa ya?" tanya Bu Nilam menatap curiga pada Fanie dan Meymey.
"Maaf, bu. Apa benar ini rumahnya Ibu Nilam?" tanya Fanie sopan.
"Ya benar, saya sendiri Bu Nilam. Memangnya ada apa ya?" tanyanya penasaran.
"Mohon maaf, ibu. Bisakah kita bicara di dalam saja?" Fanie tersenyum ramah.
"Baiklah, mari silahkan masuk." Bu Nilam mempersilahkan masuk Fanie dan Meymey.
Setelah mereka nyaman dengan duduknya, Fanie mulai mengutarakan niatnya datang pada Bu Nilam seraya perlahan-lahan.
"Perkenalkan, nama saya Fanie dan ini adik saya Meymey. Kami anak dari Bu Cindy yang waktu dulu melakukan kesalahan pada ibu." Kata Fanie dengan sangat hati-hati.
"Oh, jadi kalian berdua anak dari wanita yang dulu menukar bayi saya dengan bayi cucunya yang telah meninggal! pergi kalian, untuk apa datang kemari?" Usir Bu Nilam seraya mendengus kesal.
"Ibu, tolong jangan emosi dulu. Kami datang kemari karena ingin memberi penawaran pada ibu, dan kami ini berniat baik." Fanie mencoba meluluhkan hati Bu Nilam.
"Heh, penawaran apa dan niat baik apa yang kalian maksud?" Bu Nilam sedikit mereda emosinya.
"Tolong, ibu. Bantu kami untuk membuat sebuah laporan pada para aparat polisi, jika ibu telah memaafkan mami kami. Sehingga mami kami bisa di bebaskan." Rayu Fanie seraya menatap sendu Bu Nilam.
"Jangan mimpi kalian, sampai kapanpun aku nggak akan bersedia membantu supaya mami kalian di bebaskan."
"Enak saja kalian memintaku untuk melepas Cindy begitu saja, setelah apa yang di lakukanya padaku!" Bu Nilam mendengus kesal.
"Ibu, hampir dua tahun mami kami berada di penjara. Apa itu belum cukup untuk menebus kesalahan mami kami pada ibu? lagi pula anak ibu bukannya baik-baik saja?"
__ADS_1
"Bu, tolonglah kami. Kami juga akan memberikan imbalan buat ibu, jika bersedia membantu kami."
Fanie tak pantang menyerah untuk membujuk Bu Nilam, bahkan dia sudah bertekad akan melakukan apapun untuk bisa membebaskan Cindy. Tapi Fanie tidak akan menggunakan cara yang licik.
Setelah mendengar penuturan dari Fanie, sejenak Bu Nilam terdiam seolah sedang mempertimbangkan kata-kata Fanie.
"Memang apa yang akan kalian berikan jika aku bersedia membantu Cindy untuk bisa lepas dari penjara?" Bu Nilam mulai terpancing dengan penawaran Fanie.
"Jika ibu bersedia bantu kami, dan sampai berhasil. Saya akan memberikan ibu salah satu apartement yang saya miliki untuk berpindah tangan menjadi milik ibu."
"Saya juga berjanji setiap bulannya saya akan mentransfer sejumlah uang pada ibu untuk kebutuhan ibu sehari-hari."
Demikian penawaran yang di berikan oleh Fanie pada Bu Nilam.
"Wah, apartement dan jatah bulanan. Sangat menggiurkan, lagi pula kalau di pikir memang sudah cukup waktu dua tahun untuk menghukum kesalahan Cindy. Kecuali Cindy telah menyakiti anakku, dia pantas mendapatkan hukuman yang lebih lama lagi," batin Bu Nilam.
"Baiklah, saya akan bantu kalian. Namun apa penawaran kalian ini tidak main-main?" Bu Nilam masih belum percaya.
"Kami serius dengan penawaran kami, jika perlu bisa dilakukan perjanjian hitam di atas putih, supaya Bu Nilam percaya pada kami." Fanie mencoba meyakinkan Bu Nilam.
"Apa suami ibu saat ini sedang berada di rumah?" tanya Fanie.
"Kebetulan suami saya sedang bekerja, dan pulangnya malam." Jawab Bu Nilam.
"Begini saja, ibu. Saya akan meninggalkan nomor ponsel saya, jika ibu sudah mendapat suatu keputusan, ibu langsung saja hubungi saya." Fanie meletakkan kartu namanya yang berisikan nomor ponselnya di meja.
"Kalau begitu kami permisi, kami sangat menunggu kabar dari ibu secepatnya." Fanie bangkit dari duduknya, di ikuti oleh Meymey.
Tak lupa mereka menyalami Bu Nilam, setelah itu mereka langsung masuk dalam mobil.
"Ka, apa kakak serius dengan penawaran yang kakak berikan untuk Bu Nilam? Apa kakak sudah merundingkannya dengan suami kakak?" Meymey mengernyitkan alis.
"Justru penawaran ini adalah ide dari suamiku, setiap memutuskan suatu perkara, kami selalu berunding bersama. Kami tak pernah memutuskan apapun seorang diri saja." Kata Fanie seraya melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Ka, apa kakak yakin akan memberikan cuma-cuma salah satu apartementnya dan setiap bulan akan menstranfer sejumlah uang pada Bu Nilam?" Meymey masih saja tak percaya.
"Sangat yakin, harta bisa di cari. Tapi suatu hubungan keluarga susah di dapatkan, apa lagi dia adalah seorang ibu. Ini aku lakukan sebagai baktiku pada mami, semoga saja Tuhan mrmpermudah jalanku untuk bisa membebaskan mami dari penjara." Kata Fanie panjang lebar.
"Apa kakak nggak memikirkan masa depan anak kakak. Apa nggak buat tabungan saja untuk masa depan si kembar?" kembali lagi Meymey berkata.
"Mey, aku mempercayakan semua kehidupan si kembar pada Tuhan. Segala apapun aku berserah pada Tuhan, dengan penuh keyakinan. Satu apartement tidak akan membuatku miskin. Aku anggap semua ini untuk bersedekah pada Nu Nilam." Ucap Fanie panjang lebar.
"Aku salut dan kagum pada kakak yang mempunyai hati bak malaikat. Padahal kami sudah sangat jahat, tapi kakak malah selalu membantu di saat kami susah," mata Meymey berkaca-kaca.
"Mey, aku nggak pernah mengingat-ingat kesalahan kalian. Karena aku sendiri juga kerap kali tak luput dari salah. Jadi aku minta, mulai sekarang nggak usah ingat masa lalu. Nggak usah menengok ke belakang lagi." Fanie mencoba menasehati Meymey.
"Ka, terima kasih sudah menjadi seorang kakak yang baik. Aku bangga punya kakak sepertimu." Meymey tiba-tiba memeluk Fanie.
"Mey, jangan seperti ini. Aku kan sedang menjalankan mobil." Fanie kesusahan dalam mengemudi.
"Eh, maaf ya kak." Meymey segera melepaskan pelukannya.
Sementara di rumah Bu Nilam, kebetulan suaminya pulang lebih cepat.
"Huh, tahu begini tadi anak-anak Cindy jangan suruh pulang dulu." Bu Nilam menghela napas panjang saat melihat kepulangan suaminya.
Segera Bu Nilam menyambut kepulangan suaminya.
"Sebaiknya aku bercerita pada suamiku nanti saja, setelah suami benar-benar sudah santai dan rileks," batin Bu Nilam.
Segera dia menyiapkan air mandi dan pakaiannya. Setelah itu menghangatkan semua masakannya.
30 Menit berlalu, saat ini suami Bu Nilam sedang bersantai di ruang tengah sembari menonton televisi.
Barulah Bu Nilam berani bercerita mengenai kedatangan Fanie dan Meymey. Dengan seksama suaminya mendengarkan cerita dari Bu Nilam. Dan setelah Bu Nilam selesai bercerita. Suaminya sangat setuju dengan penawaran yang di berikan oleh Fanie.
*******
__ADS_1
Mohon dukungan like, vote, favorit..