
Fanie tak langsung menjawab pertanyaan dari Endrik. Dia malah menatap Steven seolah meminta saran.
Sejenak Steven tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Bukannya om sudah tak ingin lagi bertemu dengan grandma?" tiba-tiba Fanie berucap.
"Nggak Fanie, justru aku ingin sekali bertemu dengan grandma karena ingin meminta maaf atas segala dosaku selama ini." Jawab Endrik dengan tegas.
"Kalau begitu, om ikut kami sekarang juga ke rumah kami." Ajak Fanie.
Endrik merasa sangat lega, hingga langsung menyanggupi dan melupakan jika saat ini dia sedang di tunggu oleh Meymey di sebuah warung soto.
"Baiklah, Fanie. Om ikut kalian sekarang juga." Endrik sangat antusias.
Endrik mengikuti langkah kaki Fanie dan Steven menuju mobil mereka. Kemudian Steven segera melajukan mobilnya menuju rumah.
Hanya beberapa menit, mereka telah sampai di rumah. Grandma sangat antusias saat melihat kepulangan mobil Steven.
"Yah, akhirnya cicit-cicitku pada pulang. Baru di tinggal sebentar saja, aku sudah kangen sekali dengan mereka." Grandma langsung melangkah menghampiri mobil Steven yang berhenti tepat di halaman rumah.
Namun saat pintu mobil di buka dan Endrik turun, granfma merasa terkejut dan tidak suka akan kedatangan Endrik.
Berbeda dengan Endrik, saat melihat grabdma. Dia langsung memeluknya seraya menangis. Namun grandma meronta dan berusaha melepaskan pelukan dari Endrik.
"Untuk apa kamu kemari!" hardik grandma dengan nada tinggi."
"Mom, aku ingin meminta maaf atas segala dosaku pada momy juga daddy." Seketika itu juga air mata Endrik tertumpa.
Endrik berlutut tepat di hadapan grandma. Namun grandma sama sekali tak merasa iba saat melihat air mata Endrik.
"Sudah tidak ada maaf bagimu, jadi pergilah! karena aku sudah tidak menganggapmu sebagai anak, sejak berkali-berkali kamu menyakitiku dan suamiku! sejak saat itu pula, aku telah menganggap anakku telah mati!" grandma melangkah masuk rumah tanpa menghiraukan Endrik.
"Mom, tunggu dulu. Endrik benar-benar menyesal dengan semua kesalahan yang pernah Endrik perbuat padamu dan almarhum daddy." Endrik meraung menangis seraya terus saja bersimpuh di halaman rumah Steven.
Fanie merasa iba, hingga ingin berusaha mendamaikan Endrik dan grandma. Fanie melangkah masuk mencari keberadaan grandma yang ternyata berada di ruang tamu sedang menangis.
__ADS_1
"Grandma, Fanie minta maaf telah membawa papi kemari. Tadi Fanie nggak sengaja bertemu di alun-alun kota, dan papi yang terlebih dulu melihat Fanie serta meminta Fanie mempertemukan dengan grandma." Fanie bersimpuh di hadapan grandma.
"Grandma nggak menyalahkanmu, cu. Grandma cuma masih belum bisa memaafkan papimu." Katanya seraya terus menitikkan air mata.
"Terlalu banyak luka yang papimu toreh di hati grandma. Apa lagi saat grandma memohon kedatangannya waktu meninggalnya grandpa." grandma berkata seraya tertunduk lesu.
"Ya, sudah. Semoga suatu saat nanti, grandma bersedia memaafkan papi. Bukannya grandma sendiri pernah berkata, jika kita tidak boleh menghakimi atas kesalahan orang. Yang boleh menghakimi dan memberi hukuman hanyalah Tuhan. Bahkan kita di anjurkan untuk memaafkan kesalahan orang lain." Fanie mencoba mengingatkan grandma tentang semua yang pernah grandma ajarkan padanya.
"Iya, cu. Grandma tahu, tapi saat ini grandma belum bisa memaafkan papimu. Tolong jangan paksa grandma memaafkan papimu sekarang juga." Grandma bangkit dari duduknya dan berlalu pergi menuju ke kamarnya.
Sementara Fanie kembali ke halaman rumah, dimana masih ada Endrik yang tidak berkutik sama sekali dari posisinya.
"Bunny, hunny sudah berusaha membujuknya. Tapi dia bersikeras akan terus berlutut sampsi mendapatkan maaf grandma." Steven menghela napas panjang.
"Ya sudah, hunny. Biar bunny yang mencoba membujuk papi." Bisik Fanie.
Perlahan Fanie menghampiri Endrik.
"Om, sebaiknya sekarang pulang saja dulu. Lain kali om kemari lagi, kalau grandma benar-benar sudah tenang hatinya. Karena sampai sekarang, grandma masih bersedih atas meninggalnya grandpa." Fanie mencoba memberi pengertian pada Endrik.
"Baiklah, Fanie. Tapi om minta dengan sangat, bantu om untuk memberi pengertian pada grandma supaya grandma mau memaafkan om." Endrik bangkit dari bersimpuhnya.
Fanie meminta tolong pada Steven untuk mengantar pulang Endrik.
Sementara saat ini, Meymey sedang gelisah mencari keberadaan Endrik.
"Papi kemana sih, kok tiba- tiba menghilang begitu saja! ponsel nggak aktif pula, bagaimana aku bisa menghubungi dan tahu dimana saat ini, papih berada?" Meymey berulang kali mencoba menelpon ponsel Endrik, namun ponsel tidak aktif juga.
Hingga akhirnya, Meymey memutuskan untuk pulang kerumah.
" Mungkin papi sudah pulang duluan dan lupa tidak memberitahuku." Gerutunya seraya melajukan mobilnya menuju arah pulang.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya sampai juga Meymey di apartement Endrik.
Namun Meymey kecewa karena mendapati Endrik tidak ada di apartement.
__ADS_1
" Aduh, kok papi nggak ada di rumah? lalu kemana dia?" gerutu Meymey memijit pelipisnya seraya mondar mandir.
Meymey memutuskan untuk mencati Endrik, siapa tahu bertemu. Meymey melajukan mobilnya melintasi jalanan dengan laju lambat seraya tengok kanan kiri siapa tahu melihat Endrik.
Hingga tak terasa laju mobil Meymey begitu jauh.
"Ya ampun, bagaimana ini? sudah sejauh ini tapi aku sama sekali tak menemui adanya papi? jika lapor polisi harus menunggu 48 jam baru bisa melapor." Meymey mulai merasa panik dan khawatir akan kondisi Endrik.
Sementara saat ini, Endrik telah sampai di apartementnya.
" Loh, kok Meymey belum pulang juga? ya ampun, astaga! aku lupa, pasti saat ini,Meymey sedang gelisah mencariku" Endrik meraih ponselnya berniat akan telpon pada Meymey untuk memberitahukan jika saat ini, dirinya telah sampai di rumah.
"Sial, ponsel mati. Aku harus mengisi daya batrenya terlebih dulu, baru bisa buat menelpon." Endrik mengisi daya ponselnya.
Selagi menunggu daya ponsel penuh, dia membersihkan badannya di kamar mandi.
"Aku sedikit lega, karena telah tahu keberadaan mommy. Walaupun mommy belum juga bisa memaafkan atas segala kesalahanku." Batin Endrik.
Setelah membersihkan badan, dia merebahkan badannya di pembaringan hingga tak terasa terlelap dalam tidur.
1 Jam berlalu, Endrik terbangun dari tidurnya.
"Ya, Tuhan. Aku ketiduran." Endrik lekas bangkit.
Dirinya lekas mengambil ponselnya, berniat ingin menelpon Meymey. Namun dari luar terdengar Meymey berteriak memanggil dirinya.
"Papi, sudah pulangkah" teriak Meymey.
"Papi ada di kamar, Mey." Endrik berteriak pula membalas teriakan dari Meymey.
Nàmun Endrik juga melangkah mencari sumber teriakan Meymey. Setelah bertemu dengan Endrik, Meymey sempat ngomel- ngomel karena kesal.
"Papi, lain kali kalau pergi kasih kabar dulu! jangan buat panik aku, sudah ponsel nggak bisa di hubungi!" Meymey mendengus kesal.
"Papi minta maaf, saat itu papi sama sekali nggak kepikiran. Dan maaf ponsel papi juga habis batre, sampai sekarang saja daya batre belum penuh." Kata Endrik.
__ADS_1
******
Mohon dukungan like, vote, favorit..