
"Ya jelas, mam. Kalau belum benar-benar ada mayat Reynold." Kata Doni singkat.
"Terus kita harus bagaimana, supaya cepat bisa memiliki harta warisan almarhum Papi nya Reynold?" Sasa mondar mandir bingung.
"Aku juga bingung, mam. Karena aku juga nggak bisa sembarangan masuk ruang kerja Reynold. Pasti di ruangannya kan banyak aset atau surat-surat penting yang bisa kita jadikan uang." Doni menghela napas panjang.
"Masa sih, kamu kerja di kantor sama sekali nggak bisa masuk ruang kerja Reynold? kok mami baru tahu?" Sasa mengernyitkan alis.
"Sudah lama kok, mam. Cuma aku nggak pernah cerita ke mami, karena pikirku suatu saat aku bisa masuk ruang kerja Reynold. Tapi selalu gagal, walaupun dengan cara kasar seperti seorang pencuri mencongkel-congkel pintu. Selalu saja alarm bunyi." Kata Doni.
"Alarm, maksudmu jika ada yang berniat jahat, baru sampai di pintu ada alarm bunyi?" Sasa merasa tak percaya.
"Iya, mam. Semua ulah Om Wirya, hanya dia yang bisa masuk sesuka hatinya." Doni mendengus kesal.
"Apa, kenapa begitu banyak hal penting yang kamu sembunyikan dari mami? dasar bodoh!" Sasa menekan kepala Doni dengan jari telunjuknya.
"Iya maaf, mam. Pikirku, aku bisa menyelesaikan semua. Tapi nyatanya nggak bisa, makanya aku cerita ke mami." Doni tertunduk lesu.
"Hem, punya anak satu pria. Tapi nggak bisa bertindak apapun, layaknya seperti anak wanita yang kerjanya sangat lambat!" Sasa geleng-geleng kepala.
"Mami, sama anak sendiri kok berkata seperti itu?" Doni mengerucutkan bibirnya.
"Lah, terus mami harus bilang apa? memang kenyataannya seperti itu kan?" Kata Sasa ketus seraya melirik sinis pada Doni.
"Harusnya mami mencari solusinya, bagaimana cara menghadapi Om Wirya. Bukan malah menghakimi aku terus." Doni masih saja murung.
"Hanya satu cara menyingkirkan Om Wirya, yakni menghabisi nyawanya. Dengan begitu sudah tidak ada lagi halangan untuk kita bisa mengusai harta almarhum Papinya Reynold." Kata Sasa menyeringai sinis.
"Hem, apa mami yakin akan melakukan hal yang sama yang pernah mami lakukan pada Reynold, akan mami lakukan juga pada Om Wirya?" Doni merasa ragu.
"Ya, bagaimana lagi. Karena hanya itu satu-satunya jalan yang tepat." Jawab Sasa singkat.
"Apa nggak terlalu bahaya, mam?" tanya Doni ragu.
"Kamu itu pria apa wanita, penakut sekali!" Sasa berlalu pergi dari hadapan Doni.
Dia segera menghubungi orang kepercayaanya untuk membantunya menyingkirkan Om Wirya.
Sementara saat ini Om Wirya sudah berapa di dalam ruang kerja Reynold. Dia sedang mencari flasdisk yang di maksud oleh Reynold.
"Aku harus bergerak cepat, jika aku tidak buru-buru menyeret Sasa dan anaknya masuk dalam penjara, bisa jadi saat ini mereka yang akan menyingkirkanku." Batin Om Wirya terus saja mencari flasdisk.
"Akhirnya ketemu juga." Om Wirya menyunggingkan senyum seraya mengamati flasdisk tersebut.
"Aku jadi penasaran isinya apa?" Om Wirya langsung memasang flasdisk tersebut di sebuah laptop.
__ADS_1
Dia menyalakan laptopnya dan dengan seksama melihat isi flasdisk tersebut, yakni vidio percakapan antara Sasa dan Doni.
"Jadi yang telah membunuh orang tua Reynold adalah Sasa. Ini nggak bisa dibiarkan." Om Wirya langsung melepas flasdisknya.
Dia segera membawa flasdisk tersebut ke kantor polisi.
"Aku akan menemui Johan yang saat ini sedang bertugas di kantor polisi setempat. Supaya membantuku untuk segera membekuk Sasa dan Doni." Om Wirya melajukan mobilnya menuju kantor polisi terdekat dimana saat ini temannya sedang bertugas.
"Hay, Wirya. Tumben datang kemari, apakah ada yang bisa saya bantu?" Sapa Johan menyalami Wirya.
"Ada." Wirya menjatuhkan pantatnya di kursi di hadapan Johan.
"Lihatlah isi flasdisk ini, dan kamu akan mengerti apa yang aku inginkan darimu." Wirya memberikan flasdisknya pada Johan.
Sejenak Johan mengamati isi yang ada di flasdisk tersebut. Setelah itu dia barulah berkata.
"Ini masalah serius, kita harus segera meringkus mereka." Kata Johan antusias.
"Benar sekali, Jo. Karena mereka juga yang telah mencelakai keponakanku. Mereka pikir, usaha mereka telah berhasil. Bahkan Sasa belum lama ini memintaku untuk balik nama surat warisan. Semua jatuh pada ponakanku Reynold. Dan Sasa mencelakai Reynold dengan harapan bisa mengusai semua harta peninggalan almarhum Papinya Reynold." Kata Wirya panjang lebar.
"Berarti saat ini ponakanmu masih hidup?" tanya Johan menyelidik.
"Masih, dia saat ini sedang bersembunyi karena kondisinya belum pulih benar pasca pencobaan pembunuhan terhadap dirinya beberapa hari lalu." Jawab Wirya.
"Hem, bagus. Ponakau juga bisa menjadi saksi sekaligus korban dari kebiadaban mereka. Aku akan segera menangkap mereka sebelum mereka bertindak lebih jauh lagi." Kata Johan dengan sangat antusias.
"Ini bisa kita gunakan untuk memancing mereka dan membuka kedok mereka. Kamu tak perlu khawatir, aku akan mengirim beberapa anak buahku untuk selalu mengawalmu dari jauh. Jadi jika sewaktu-waktu ada yang ingin berniat jahat padamu, langsung anak buahku menangkapnya." Kata Johan mencoba menenangkan Wirya yang sedang gelisah.
"Terima kasih, Jo. Dari dulu kamu memang sahabat terbaikku." Wirya menepuk bahu Johan.
"Kamu baru sadar, kalau aku sahabat terbaikmu." Canda Johan terkekeh.
"Terus, sekarang aku harus bagaimana?" tanya Wirya mengernyitkan alisnya.
"Kamu berpura-pura seolah tidak tahu menahu tentang kejahatan mereka. Bersikaplah biasa di hadapan mereka, seolah tidak ada masalah apapun." Saran Johan.
"Baiklah, Jo. Bagaimana dengan Reynold ponakanku?" tanya Wirya kembali.
"Biarkan untuk sementara waktu Reynold tetap di tempat persembunyiannya. Nanti jika pelaku telsh di tangkap, dan saat akan di sidang untuk masa hukuman. Barulah ponakanmu suruh datang ke persidangan." Kata Johan panjang lebar.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi. Sekali lagi terima kasih." Wirya menyalami Johan.
"Hari ini juga, aku telsh menyiapakan empat orang anak buahku untuk standby menjagamu." Johan menyunggingkan senyum.
"Siap komandan, laksanakan." Canda Wirya terkekeh seraya hormat pada Johan.
__ADS_1
Setelah itu Wirya melangkah pergi dari kantor polisi tersebut diantar oleh Johan sampai halaman depan.
Wirya menjalankan mobilnya menuju ke apartement Meymey dimana saat ini Reynold bersembunyi.
Hanya beberapa menit saja, Wirya telah sampai. Dia langsung menemui Reynold.
"Om, bagaimana? ketemu kan flasdisknya?" tanya Reynold.
"Ketemu, kamu nggak usah khawatir. Om juga baru saja ke kantor polisi menemui teman, om. Saat ini flasdisk ada di tangan Om Johan, teman om yang bekerja di kepolisian." Jawab Wirya sumringah.
"Syukurlah kalau begitu, terima kasih telah membantuku." Reynold memeluk Wirya seraya menepuk-nepuk punggung Wirya.
"Om, maafkan aku. Telah merepotkan, om." Kembali lagi Reynold berkata.
"Sudahlah, tak perlu sungkan. Om ini adik almarum papi, om sudah anggap kamu anak sendiri. Terakhir sebelum meninggal, almarhum papimu juga menitipkanmu pada, om." Wirya melonggarkan pelukannya, seraya menepuk bahu Reynold.
"Kini kita tinggal tunggu beberapa saat lagi, pasti Sasa dan Doni akan segera di tangkap oleh aparat polisi. Dan kamu, untuk sementara waktu tetap bersembunyi. Nanti kalau mereka telah tertangkap dan saat memasuki persidangan, barulah kamu muncul sebagai saksi dan sekaligus korban kejahatan mereka." Kata Wirya panjang lebar menjelaskan.
"Baiklah, om. Aku akan menuruti kemauan, om." Reynold menyunggingkan senyum.
"Papi, mami. Sebentar lagi dendam kalian akan terbalaskan, Tante Sasa dan Mas Doni akan membusuk di dalam penjara." Batin Reynold seraya tersenyum dan menghela napas panjang.
Tak berapa lama, Meymey datang dengan membawa minum dan cemilan untuk Reynold dan Wirya.
"Terima kasih, nona. Dan maafkan keponakanku merepotkanmu di sini." Kata Wirya tersenyum pada Meymey.
"Sama-sama, om. Saya nggak merasa di repotkan, malah kehadiran Mas Reynold sangat berarti. Jadi bisa buat teman ngobrol papiku." Meymey tersipu malu.
"Oh, Iya. Jangan panggil aku, nona. Panggil saja, Meymey ya, om." Kembali lagi Meymey menyungingkan senyum.
"Baiklah, Mey." Jawab Wirya singkat.
Saat Meymey menghidangkan minum dan cemilan, pandangan mata Reynold tak berkedip menatap Meymey.
"Kalau di lihat lebih seksama, paras Meymey sangatlah cantik," batin Reynold.
Hal itu bisa terlihat oleh Wirya.
"Ehem, awas itu mata entar keseleo loh. Karena nggak ada tukang urut mata." Canda Wirya terkekeh.
"Om, apaan sih." Reynold gugup dan tersipu malu.
Begitu pula dengan Meymey, pipinya bersemu merah bak kepiting rebus. Setelah menghidangkan minuman dan cemilan, Meymey langsung berlalu masuk. Dia malu jika berlama-lama ada di dekat Reynold dan Wirya.
*******
__ADS_1
Mohon dukungan like,vote,favorit.