Perubahan Gadis Culun

Perubahan Gadis Culun
Honeymoon


__ADS_3

Steven mengajak Fanie untuk pergi honeymoon ke negara Jepang. Fanie sangat antusias karena negara Jepang, adalah salah satu negara yang ingin di singgahinya.


"Bunny, bagaimana kalau kita honeymoon ke Jepang?" Steven menaik turunkan alisnya.


"Serius, hunny?" mau banget dech kalau ke Jepang." Fanie memeluk erat Steven.


"Kita akan berangkat secepatnya, karena aku sudah memesan tiket pesawat. Yuk, kita berkemas-kemas sekarang juga," Steven mengecup lembut bibir Fanie.


Fanie dan Steven berkemas-kemas untuk persiapan pergi honeymoon ke negara Jepang. Keduanya sesekali bercanda ria bahagia.


Setelah semua siap, segera mereka menuju ke bandara. Namun terlebih dulu berpamitan pada grandma dan grandpa serta pada orang tua Steven.


"Grandpa, grandma. Kita pamit, mau honeymoon ke Jepang." Fanie memeluk erat grandma dan mencium pipinya.


"Iya, cu. Kamu hati-hati ya, semoga setelah honeymoon kalian berdua lekas punya anak. Biar grandma bisa main sama cicit." Grandma terkekeh.


Fanie juga memeluk grandpa seraya mengusap punggungnya.


"Hati-hati ya, cu. Bahagia selalu buat rumah tangga kalian berdua," doa dan pesan grandpa.


Setelah berpamitan dengan grandpa dsn grandma, kini mereka berpamitan pada orang tua Steven.


"Pah, mah. Kita pamit pergi untuk honeymoon ke negara Jepang. Doakan kami supaya selamat sampai tujuan dan pulang dalam kondisi selamat pula," Steven memeluk Mamah Grace dan Papah Edward secara bergantian.


"Ya nak, kalian berdua hati-hati dan jangan lupa selalu berkabar walaupun kalian ke Jepang hanya untuk honeymoon," kata Papah Edward.


"Semoga pulang dari honeymoon, lekas dapat kabar bahagia. Karena kami sudah tak sabar ingin menimang cucu," kata Mamah Grace.


"Mah, pah. Selagi kami pergi, kalian juga jaga diri baik-baik. Jaga kesehatan kalian," Fanie memeluk Mamah Grace dan Papah Edward secara bergantian pula.


"Iya, sayang. Kami pasti akan selalu menjaga kesehatan, supaya kami bisa merasakan indahnya hidup punya cucu banyak," goda Mamah Grace terkekeh.


"Hati-hati ya, nak. Jika Steve bandel, tarik saja kupingnya." Goda Papah Edward terkekeh.


Setelah berpamitan dan doa bersama, Fanie dan Steven segera berangkat.

__ADS_1


Mereka sangat menikmati suasana di dalam pesawat. Fanie bersandar di dada bidang Steven seraya memejamkan mata.


Steven memeluk erat Fanie seraya memejamkan mata pula. Keduanya tertidur di dalam pesawat. Hingga tak terasa telah sampai di tempat yang telah di tuju yakni Jepang.


Mereka berhenti di bandara Tokyo yakni di Tokyo Kokusai Kuko.



Mereka telah di jemput oleh salah satu saudara Steven yang tinggal di Tokyo.


Saudara Steven mengantarkan Steven dan Fanie ke sebuah hotel yang ternama di Tokyo yakni Hotel Gajoen Tokyo.


Rasa lelah mendera, walaupun selama di dalam pesawat tertidur. Namun setelah sampai di hotel, mereka juga tidur kembali.


Hingga di tengah malam, mereka terbangun karena merasakan lapar. Steven segera memesan makanan di hotel tersebut, karena tengah malam enggan untuk keluar mencari makanan.


Setelah semua makanan tersaji, mereka makan dengan lahapnya. Barulah mereka tak lupa melakukan aktifitas ranjang. Hingga beberapa kali mencapai *******.


"Hunny, aku lelah sekali. Kita tidur yuk?" Fanie menyandarkan kepalanya di dada Steven.


Terlelaplah mereka dalam mimpi indah. Hingga pagi menjelang, mereka berniat untuk jalan pagi-pagi.



"Bunny, apa kamu senang berada di sini?" Steven mengedipkan matanya.


"Sangat sangat sangat senang, hunny." Fanie mencubit pipi Steven.


"Auw, sakit tahu." Steven mengusap pipi yang barusan di cubit oleh Fanie.


Kedua berjalan berdampingan melihat di sekelilingnya. Fanie dan Steven sangat menikmatinya.


Hingga siang hari, barulah mereka memutuskan untuk istirahat kembali di dalam hotel.


Berbeda situasi di apartement mewah yang saat ini sedang di tempati oleh Meymey dan Alex.

__ADS_1


Kehamilan Meymey telah memasuki usia tiga bulan. Meymey sering mual muntah bahkan tak mau makan. Ngidamnya parah, hingga beberapa kali harus di infus supaya di dalam tubuh Meymey bisa masuk asupan makanan.


"Sayang, bagaimana kondisimu? apa sudah merasa lebih baik?" Alex merasa iba melihat istri sirinya.


"Kalau sudah di infus merasa lebih baik, tapi aku lelah juga. Harus sesekali di infus, tanganku sakit karena harus di masuki jarum infus berkali-kali," Meymey berkata lirih.


"Sabar ya, sayang. Nanti kalau usia kehamilanmu sudah memasuki empat bulan sudah tidak akan seperti ini lagi," Alex mencoba menghibur Meymey yang tergolek lemas.


Meymey hanya mengangguk lemas seraya menghela napas panjang.


"Tidurlah, aku akan ke kantor. Aku sudah menelpon mamimu untuk menemanimu selama aku bekerja. Supaya kamu tidak kesepian." Alex menyunggingkan senyum.


"Kamu yang hati-hati kerjanya, sebenarnya nggak usah telpon mami juga nggak apa-apa. Kan ada Bi Ika dan Bi Imas," kata Meymey lirih.


"Ya bedalah, sayang. Kalau sama mami, kamu nggak akan sungkan minta bantuan. Tapi kalau sama bibi ntar kamu malu," Alex terkekeh.


Setelah sejenak ngobrol, Alex segera berangkat ke kantor. Tak berapa lama kemudian, Mami Cindy datang ke apartement.


"Nak, bagaimana kondisimu? tadi mami di telpon suamimu, katanya kamu sedang sakit?" Mami Cindy mengusap lengan Meymey.


"Mey sudah merasa lebih baik kok, mi. Maafkan Mey ya, mi." Tiba-tiba air mata Meymey tertumpah.


"Loh, kok kamu malah nangis dan minta maaf segala?" Mami Cindy mengusap air mata Meymey.


"Meymey baru sadar, mi. Kalau jadi seorang ibu itu nggak mudah, baru hamil saja sudah seperti ini rasanya. Apalagi kelak kalau anak sudah lahir, pasti lebih merepotkan. Selama ini Meymey nggak pernah peduli dan perhatian sama mami. Padahal mami telah berjuang demi Meymey dari Mey di dalam perut sampai Mey dewasa." Meymey masih saja menitikkan air mata.


"Nak, sudahlah. Memang sudah kewajiban seorang ibu untuk mengurus dan merawat anak-anaknya. Kamu juga jangan mengeluh, tetapi bersyukurlah. Karena tidak semua wanita bisa merasakan nikmatnya hamil. Jadi kamu bersabar saja, jangan mengeluh dan bersungut-sungut." Mami Cindy mencoba menasehati Meymey.


"Ya, mi. Makasih mami masih mau perhatian sama Mey walaupun Mey telah banyak mengecewakan mami," kembali lagi air mata Meymey tertumpah.


"Nak, kamu nggak boleh sering bersedih seperti ini. Kasihan janinmu pasti juga ikut merasakan sedih.Wanita hamil harus banyak tersenyum, nggak boleh banyak pikiran juga." Mami Cindy mengusap lengan Meymey.


"Banyaklah berdoa, dan yang paling utama banyak makanan yang bergizi. Paksa makan walaupun sedikit demi sedikit, supaya anak di dalam kandunganmu tidak kekurangan asupan gizi," Mami Cindy menyuapi bubur untuk Meymey.


Walaupun enggan, Meymey mau membuka mulutnya dan memakan suapan dari tangan Mami Cindy.

__ADS_1


**********


__ADS_2