Perubahan Gadis Culun

Perubahan Gadis Culun
Di Hukum


__ADS_3

Esok harinya di rumah Sasa dan Doni, datanglah tamu yang tak lain adalah beberapa aparat polisi.


"Maaf, apa anda yang bernama Nyonya Sasa dan anda yang bernama Saudara Doni?" tanya anak buah Johan.


"Iya benar, saya Sasa dan ini anak saya Doni. Memangnya ada apa ya, pak?" Sasa penasaran.


"Sekarang juga kalian ikut kami." Beberapa aparat polisi menyeret paksa Sasa dan Doni.


"Pak, apa salah kami? kenapa tiba-tiba kami di tangkap seperti ini?" Doni meronta-ronta dan berkata dengan lantangnya.


"Nanti akan kalian juga tahu jika telah berada di kantor!" Jawab salah satu aparat polisi.


"Tidak bisa seenaknya menangkap orang seperti ini, tanpa ada alasan yang jelas." Kembali lagi Doni berkata lantang.


"Kami menangkap kalian atas tuduhan pembunuhan berencana!" jawab salah satu aparat polisi.


"Memang siapa yang melaporkan kami?" tanya Doni penasaran.


"Sudahlah, kamu nggak usah banyak tanya. Nanti juga kalian tahu siapa yang melaporkan kalian." Hardik salah satu aparat polisi dengan lantangnya.


Hingga akhirnya Doni diam tak berkata lagi. Sementara Sasa terus saja bertanya-tanya dalam hati karena penasaran.


"Siapa sebenarnya yang melaporkanku, apa aksiku menghabisi Reynold ada yang tahu?" batin Sasa.


Tak berapa lama, sampailah di kantor polisi. Doni dan Sasa membola dan mulutnya terperangah saat melihat siapa yang ada di kantor polisi.


"Hah, Wirya? belum juga rencanaku berhasil, malah dia terlebih dulu melaporkanku. Tapi nggak ada bukti yang kuat, jadi untuk apa aku mesti panik. Hanya membuat para aparat polisi curiga." Batin Sasa menenangkan diri sendiri.


"Kenapa kalian berdua diam, dan menatapku seperti itu? kaget ya, aku melaporkan kejahatan kalian?" Wirya menyeringai sinis.


"Ya kagetlah, atas dasar apa kamu melaporkan kami dengan tuduhan pembunuhan berencana? hati-hati, Wirya. Kamu bisa aku laporkan balik dengan tuduhan pembunuhan berencana." Cibir Sasa menatap sinis pada Wirya.


"Sudah, anda nggak usah berdebat. Duduklah, jadi anda mengerti." Perintah Johan.


Setelah Doni dan Sasa duduk, Johan memutar flasdisk yang masih terpasang di laptop.


Doni dan Sasa membelalakkan matanya saat melihat vidio yang di putar di dalam laptop.


"Bagaimana Wirya bisa mendapatkan bukti ini?" batin Sasa panik.

__ADS_1


"Apa alasan anda menghabisi sepasang suami istri tersebut?" Tanya Johan menyelidik tatapannya membunuh.


Sejenak baik Doni maupun Sasa hanya diam. Membuat Johan geram dan bertanya kembali.


"Jawab! kenapa kalian berdua diam saja!" Tiba-tiba Johan menggebrag meja.


Semua yang hadir tersentak kaget, begitu pula dengan Wirya. Hingga akhirnya Sasa berani berkata.


"Saya dendam, dulu almarhum Papinya Reynold telah membuat usaha almarhum suami saya bangkrut."


"Makanya saya sengaja menyingkirkan almarhumah Maminya Reynold supaya saya bisa menikah dengan almarhum Papinya Reynold."


Demikian pengakuan dari Sasa dengan rasa gugup dan panik serta takut.


"Oh, jadi anda sengaja menyingkirkan istrinya terlebih dulu, setelah itu baru suaminya? dan kalian juga berusaha menyingkirkan anaknya juga?" Bentak Johan.


"Pak, saya nggak ikut-ikutan kok. Jadi bapak jangan menyebut dengan kalian." Doni protes.


"Diam! apa saya menyuruh anda untuk berbicara!" Bentak Johan melotot pada Doni.


Doni ketakutan dan tertunduk lesu. Setelah itu tak berani berkata kembali. Johan melanjutkan penyelidikannya terhadap Sasa.


"Untuk sementara sampai di sini proses penyelidikan, kamu bisa datang kemari besok pagi bersama Reynold. Karena aku akan segera berdiskusi saat ini juga dengan hakim dan pengacara serta para petugas persidangan lainnya." Kata Johan pada Wirya.


"Baiklah, Johan. Terima kasih atas bantuanmu, karena telah mempercepat proses penyelidikan terhadap kasus orang tua Reynold." Wirya menjabat tangan Johan.


"Sama-sama, sobat. Jangan khawatir, mereka pasti akan mendapatkan hukuman yang setimpal." Johan meyakinkan Wirya.


Sementara di dalam sel, Doni menggerutu.


"Sial, padahal aku tidak ikut serta dalam merencanakan pembunuhan itu. Kok aku jadi harus terkena imbasnya." Batin Doni.


Berbeda dengan Wirya yang saat ini bisa bernapas lega, karena semua kebusukan Sasa dan anaknya telah terbongkar.


"Syukurlah, pada akhirnya kejahatan terbongkar juga. Dan kebenaran yang menang. Tapi aku lupa, belum membawa bukti-bukti kejahatan Doni yang telah menyelewengkan dana perusahaan." Gerutunya seraya melajukan mobilnya ke apartement Meymey.


Wirya ingin memberi tahu kabar gembira tersebut pada Reynold. Hanya beberapa menit perjalanan, sampailah Wirya di apartement.


"Rey, usaha kita telah berhasil. Dengan bukti darimu, saat ini Sasa dan anaknya telah berada di dalam sel. Besok pagi, kamu ikut om untuk menjadi saksi di pengadilan."Wirya sumringah dan sangat antusias.

__ADS_1


"Syukurlah, om. Dengan begini arwah orang tuaku akan tenang. Aku berharap mereke berdua di hukum seberat-beratnya." Reynold mengepalkan tinjunya.


********


Tak terasa pagi menjelang, persidanganpun siap di mulai. Doni dan Sasa sempat kaget saat melihat kedatangan Reynold.


"Loh, kok Reynold masih hidup? berarti anak buahku tidak melaksanakan tugasnya dengan benar. Beraninya mereka berbohong padaku, padahal aku telah bayar mahal mereka." Gerutu Sasa dalam hati.


Segera persidangan di mulai, semua bukti-bukti di berikan pada hakim. Setelah itu, barulah giliran Reynold bersaksi. Selain sebagai saksi, dia juga sebagai korbannya.


Reynold menguak semua kejahatan yang di lakukan oleh Tante Sasa, sedangkan Wirya menguak kejahatan Doni yang menggelapkan dana perusahaan.


Setelah semua bukti memberatkan Sasa dan Doni. Mereka tidak bisa mengelak lagi, hanya bisa tertunduk pasrah.


Hakim telah memutuskan hukuman seumur hidup untuk Sasa dan Doni yang telah bekerja sama menghabisi dua nyawa sekalian.


Lega rasanya setelah sekian lama tertekan hati karena tidak juga bisa membongkar kebusukan Sasa dan Doni.


"Om, terima kasih. Berkat bantuan om, akhirnya Tante Sasa dan Doni mendapatkan hukuman yang setimpal." Reynold sangat sumringah.


"Sama-sama, sekarang hidupmu nggak akan ada yang mengganggu.Dan bisa menjalankan perusahaan dengan tenang pula. Segeralah menikah dengan gadis yang telah menolongmu." Goda Wirya terkekeh.


"Om, ngomong apa sih? kenal saja belum lama kok tahu-tahu di suruh menikah." Reynold mengerucutkan bibirnya.


"Hem, jaman sekarang niksh dulu baru pacaran." Canda Wirya terkekeh.


Kebahagiaan telah berpihak pada Reynold. Dia bisa tersenyum riang, dan saat tersenyum dia terbayang wajah cantik Meymey.


Semakin lama senyumnya semakin mengembang, membuat Wirya terkekeh saat melihat expresi wajah Reynold.


"Semoga hidupmu selalu berbahagia setelah apa yang selama ini kamu rasakan. Om cuma bisa mendoakan, semoga kamu lekas bertemu dengan jodohmu." Gerutu Wirya di dalam hati.


Reynold menyambangi apartement Endrik untuk mengucapkan terimakasih.


"Om, tante, Meymey. Terima kasih atas kebaikan kalian yang telah bersedia memberi tumpangan. Kini semua masalah telah tuntas, dan aku bisa bernapas lega." Ucap Reynold.


******


Mohon dukungan like, vote, favoritnya.

__ADS_1


__ADS_2